
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Perlengkapan maharan sudah lengkap, menurut versiku. Tentu saja karena aku tidak berharap mendapat mahar yang mewah dan sangat komplit seperti mbak Nia dulu. Aku sadar siapa calon pasanganku. Dulu Mas Bayu juga biasa saja sesuai kemampuannya. Meskipun mbak Risma orang berada tapi dia nggak suka berlebihan.
" Ini mau ditaruh di tempatku atau di tempat kamu, sayang ? " tanya Mas Raka saat kita baru selesai mengecek semua barang.
" Taruh di sini aja lah, nanti yang menghias juga aku sama mbak Nia," sahutku.
" Terserah kamu deh. Tapi bener itu sudah cukup, nggak mau nambah lagi ? "
" Sudah cukup Mas. Peralatan sholat plus Alquran, baju gamis plus jilbab, kain batik, pakaian dalam, handuk, seprai, sendal, kosmetik dan cincin. Ini aja udah lengkap, makasih ya Mas," ucapku terharu.
" Sama-sama sayang, ini juga kain batiknya nenek yang beli, terus gamisnya juga dari ibu. Kalau aku semua tentu tak cukup, bisa-bisa tahun depan baru bisa nikah, hehe." Mas Raka tertawa miring.
" Wajar dong kalau orang tua ikut andil, itu tanda kasih dari mereka buat kita. Dulu waktu Mas Bayu menikah ibu juga membelikan kain batik buat mbak Risma. Mbak Nia juga dikasih sama mertuanya."
" Iya padahal nggak dipakai juga ya. Jaman sekarang mana ada cewek yang memakai kebaya sama kain, kecuali acara tertentu." Mas Raka menimpali.
" Kalau kebaya mending nyewa ke periasnya. Tapi kalau kain biasanya orangtua pasti membelikan. Soalnya kayak wajib gitu, tiap wanita harus punya. Buktinya kepakai saat melahirkan." Mas Raka manggut-manggut mendengar keteranganku.
" Oh iya, uangnya mau dibentuk hiasan apa dimasukin amplop aja? " tanya dia menawari.
" Masukin amplop saja semua, memang mau dipakai kan. Kita bukan orang kaya yang menjadikan uang buat hiasan, bener nggak," kataku seraya beringsut duduk di sampingnya.
" Ya sudah. Tapi maharannya mau dibikin sendiri apa kita suruh orang saja, takutnya ngerepotin mbak Nia nanti." Mas Raka nampak ragu.
" Kan tadi aku udah bilang mau bikin sendiri. Tenang aja mbak Nia kan pernah kursus rias pengantin, termasuk diajarin juga membuat maharan sama seniornya. Nanti Eva juga bisa bantu, bisa ngamuk dia kalau nggak kukabari." Aku meyakinkannya.
Akhirnya mas Raka menyerahkan semua padaku. Maklum dia juga nggak punya saudara perempuan. Hanya Winda tapi masih SMP, paling bisanya bungkus kado saja.
" Sebentar ya Mas, aku chating Eva dulu. Sepertinya dia pulang Sabtu ini," kataku sama mas Raka. Ia hanya mengangguk mengiyakan.
[ Hai bestie, kamu pulang kan tadi sore. Kok nggak pernah ngechat aku sih 😛 ] Send. Kebetulan dia lagi online. Tak berselang lama Eva membalas.
[ Bukannya nggak mau ngechat , tapi kamunya yang tiap malam minggu selalu sibuk berduaan. Aku cukup tahu diri dong ]
[ Huuh alasan, biasanya juga ke sini main sama Arkana ]
[ Iya kalau pas balik, aku kan banyak tugas akhir-akhir ini jadi jarang pulang. Ini lagi persiapan KKN makanya mau minta uang saku 😀 ]
[ Kalau urusan duit baru pulang. Besok ada acara tidak, kalau santai bantuin bikin maharan ya ]
__ADS_1
[ Maharan buat kamu ya, oke... oke aku bisa. Besok aku ke situ deh. Berarti besok kamu di rumah dong ]
[ Aku besok tetap ke warung , kamu bisa bantuin mbak Nia dulu di rumah. Kan memang yang mau bikin dia ]
[ Ya udah ga pa pa, betewe kok tumben kamu ngechat aku. Memang mas Raka ke mana 😜 ]
[ Nggak ke mana-mana. Nih orangnya di sebelahku, lagi main hape ]
[ Tetep ditungguin ternyata. Ya udah aku mau lanjut nonton sinetron. bye ]
" Huh dasar, kebiasaan ! Menutup chat seenak perut. Aku masih pingin ngobrol dia main tutup saja," gumamku .
" Kenapa sih, habis chating kok malah mengumpat," tegur mas Raka.
" Itu Eva, sembarang mengakhiri obrolan. Suka seenaknya sendiri dia, kalau bukan bestie dari kecil udah kuomeli habis-habisan tuh anak." Aku masih menggerutu.
" Sudah lah tidak perlu marah-marah. Lagian mau ngobrol lama-lama emang aku mau dianggurin ? " Mas Raka protes.
" Iya Mas, aku nggak marah kok. Sudah hapal kebiasaannya," tukasku.
..." Kalau begitu aku pulang ya, soalnya keluargaku juga mau berembug soal pernikahan kita. Jadi aku harus ada di rumah." Mas Raka pamit hendak pulang....
Kuhentakkan kedua lenganku dan juga kepalaku yang terasa berat karena pegal. Mas Raka pun berdiri dan berjalan ke pintu.
" Pamitin ibu sama bapak ya, nggak enak setiap kali pulang aku nggak pamit sama pada mereka," ucapnya saat hendak berlalu dari depan pagar.
" Siip lah, santai saja udah mau jadi menantu ini, hehe ! " gurauku.
Mas Raka hanya tersenyum lalu melesat pergi setelah memcium tanganku.
______________
" Mbak Sri, nanti aku pulang duluan ya. Mau buat maharan sama mbak Nia." Aku memberitahunya pagi ini.
" Benarkah Mbak, syukurlah akhirnya menikah juga. Duuh rasanya nggak sabar melihat mbak Aira duduk di pelaminan." Mbak Sri menanggapiku dengan senang.
" Do'ain aja Mbak, ini lagi persiapan dulu. Bisa sebulan dua bulan beresnya. Masih harus mendaftar dulu kan ? " sahutku.
" Iya dulu juga waktu aku menikah pendaftarannya minimal sebulan sebelumnya, tidak boleh mendadak."
__ADS_1
" Kalau gitu aku sudah harus menyiapkan berkas-berkasnya dong ya. Nanti kalau sudah lengkap baru mendaftar, jadi kan nggak mondar mandir." Kusampaikan ideku pada mbak Sri.
" Iya mending begitu, Minta surat pengantar dulu ke RT/RW lalu ke kelurahan. Terus ke kecamatan baru ke KUA." Ia juga memberi saran.
" Eeh tapi ngomong-ngomong kok maharannya bikin sendiri, nggak pesen aja Mbak? " tanya mbak Sri lagi.
" Irit biaya Mbak, lagian Mbak Nia juga udah sanggup membuatkan. Dia kan pernah diajarin waktu kursus tata rias."
Mas Raka datang setelah Dhuhur. Tadi dia mengirim pesan kalau mau menjemputku. Tak lupa kutawari juga ia makan lebih dulu.
Pukul 3 sore mas Raka mengantarku pulang. Di rumah sudah ada Eva yang ikut membantu mbak Nia merangkai maharan. Nampaknya ada yang sudah jadi, di taruh di meja ruang televisi.
" Waduh yang mau nikah baru datang," celetuk Eva. Ia melongok ke ruang tamu lalu geleng-geleng kepala sembari menahan tawa.
" Hayo kenapa geleng-geleng, senyum-senyum," langsung kutanyai dia.
" Ada deh," sahutnya sambil menjulurkan lidah mengejekku.
" Makanya punya pacar, biar ada yang mengawal ke mana -mana." Kuejek dia.
" Itu yang sudah jadi dipindah ke kamarmu saja Ra, takutnya nanti dipegang sama Arkana. Belum nanti kalau ada Stella," ujar mbak Nia.
" Biar kuangkat," celetuk mas Raka yang muncul dari ruang tamu.
Diambilnya satu kotak mahar yang telah jadi dan dipindahkannya ke kamarku.
" Wow bagus banget. Lebih bagus ini sama punyanya mas Bayu dulu. Mbak Nia ada saja idenya," seruku saat masuk kamar mengikuti mas Raka.
Setelah menaruhnya di meja ia pun keluar dan duduk di ruang tamu. Aku meletakkan tas dan handphone di atas ranjang kemudian keluar menemui mas Raka.
" Gimana Mas, tadi malam apakah sudah ada keputusan dari orangtuamu ? " tanyaku ingin tahu.
" Baru nentuin tanggal dan harinya sih, kakek yang mencari hari baiknya. Padahal menurutku semua hari kan baik,"
" Ya sudah ikuti saja. Pendapat orang tua kan berbeda. Dulu ibu juga mencari hari baik waktu kakakku menikah. " Kuberitahu Mas Raka.
____&&&__&&&___
Sudah dulu ya gaes.. author sudah capek
__ADS_1
Mohon maaf jika ada typo. kasih like(