Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 127 Irit apa Pelit


__ADS_3

" Sekarang lagi banyak orang hajatan lo Ra, makanya kalau bisa pesan undangan dari sekarang. Kalau sudah mepet biasanya mereka ngga mau terima order soalnya sudah banyak yang antri." Mbak Nia memberi saran.


" Tadi ibu sama mbak Nia juga sempat membahas resepsi kamu sama Raka. Akad nikah kan hari Kamis, tapi resepsinya kita ambil hari Minggu saja gimana. Biar semua bisa berkumpul kalau pas hari libur." Ibu mengutarakan rencananya.


" Terserah ibu saja gimana baiknya, yang penting akad nikah tetap di hari dan tanggal itu. Biar keluarga mas Raka tidak kecewa." Aku menurut.


" Ya sudah besok kamu bilang sama Raka, biar dia menyampaikan sama keluarganya. Kalau mereka mau mengadakan resepsi sendiri juga nggak pa pa. Tapi disini kita adakan hari Minggu." Lanjut ibu lagi.


Keesokan harinya saat jam makan siang kuhubungi mas Raka via WhatsApp.


[ Mas, kapan kita pesan undangan. Kata mbak Nia jangan mepet harinya, takutnya nanti nggak keburu. Soalnya seminggu sebelum hari H juga harus sudah disebarkan ] Kirim.


Sembari menunggu balasan dari mas Raka lebih baik aku sholat dulu lalu lanjut makan siang. Belum usai makan siangku handphoneku berbunyi.


" Hapenya bunyi tuh Mbak," celetuk mbak Sri yang sedang mencuci piring.


Kutaruh sendok makan yang kupegang lalu beranjak mengambil hape di bilik tempat sholat. Balasan dari mas Raka. Kubuka chat sambil meneruskan makan siangku.


[ Pernikahan kita masih sebulan lebih kan, tidak usah buru-buru pesan undangan. Paling tak sampai seminggu juga jadi. Aku kan kemarin baru aja ijin kerja ]


[ Tapi kata mbak Nia sama ibu, bulan ini lagi musim nikah lo Mas. Makanya kalau nggak jauh-jauh hari pesan nanti percetakannya nggak mau terima karena sudah penuh ]


[ Begitu ya. Kalau hari Minggu aja gimana, kan aku tidak perlu minta ijin ke kantor ]


Aku diam sejenak, menghitung kira-kira masih berapa hari lagi. Lalu aku ingat sesuatu.


[ Oh iya Mas, kata ibu besok resepsinya mau diundur saja. Tapi akad nikahnya tetap tgl 9 Mei. Berarti masih agak longgar kalau pesan undangannya Minggu besok ]


[ Diundur gimana maksudnya, kan udah sepakat kemarin. Udah pendaftaran juga ]


[ Kan aku bilang resepsinya yang diundur, akad nikahnya tetap hari itu. Kamu nanti ke sini deh, ibu mau membicarakan sesuatu ]


[ Oke, nanti sepulang kerja aku langsung ke warung. Sudah dulu ya, aku mau makan siang ]


[ yuk bye ] Sepertinya mas Raka sudah menutup handphonenya.


Kusudahi makan siangku lalu kutaruh piringnya di wastafel. Mbak Sri yang baru saja selesai mencuci menoleh dan hendak bicara sesuatu.

__ADS_1


" Biarin aja nanti kucuci sendiri," celetukku sebelum ia membuka suaranya.


" Baru mau ngomong, aku kan baru aja selesai nyuci piring," sahutnya.


" Ya udah, sekarang mbak Sri makan aja," usulku. Aku pun keluar mengambil piring kotor yang masih tersisa di meja depan.


" Kamu sudah bilang sama Raka belum, soal resepsi yang kita undur." Ibu bertanya padaku.


" Sudah, nanti sore kusuruh dia kemari," sahutku. Kutaruh piring kotor di wastafel dan kucuci sekalian.


Sore jam 4 lebih 15 menit mas Raka sudah tiba di depan warung. Ia langsung masuk ke dapur dan minta air putih padaku. Glek glek glek !


" Makasih ya, tadi begitu jam pulang aku langsung cabut ke sini, padahal biasanya aku minum dulu ambil dari galon." Ia menyeka mulutnya sambil bernafas lega.


" Makanya jangan suka buru-buru, kebiasaan tuh. Untung tujuannya kemari, coba kalau ke tempat lain yang bukan warung. Apa mau langsung minta minum ? " selorohku.


" Oh ya nggak mungkin. Kalau di tempat lain tentu aku nggak buru-buru, weeekk ! " kelakar mas Raka.


" Huuuh ngeles aja," balasku geregetan. Ibu masuk ke dapur seusai melayani pembeli.


" Iya Buk, nanti saya sampaikan sama keluarga di rumah," jawabnya.


" Kalau akad nikahnya kita menuruti kalian yaitu tgl 9 Mei hari Kamis. Tapi resepsi di tempat kami akan diadakan hari Minggu saja, tgl 12 Mei. Pertimbangan kita, kalau hari Minggu itu hampir semua orang libur kerja. Jadi bisa kumpul semua, saudara ,tetangga dan teman-teman kerja.


Kalau di tempatmu mau resepsi hari Kamis juga tidak mengapa, kami tetap mendukung." Ibu menjelaskan banyak pada mas Raka.


" Kemarin saya sudah diskusi sama bapak dan ibu di rumah, kami mau syukuran saja kok. Katanya bapak nggak ada biaya, soalnya adik-adik saya sedang butuh biaya banyak buat masuk SMP dan kenaikan kelas. Jadi untuk resepsinya kita serahkan pada ibu dan bapak serta Aira saja, kita tinggal ngikut, hehehe. " Mas Raka menyampaikan rencananya, ia agak tersipu.


" Oh begitu, ya sudah berarti kira sepakat resepsi hari Minggu tgl 12 Mei, ya kan Aira ? " Ibu menegaskan lagi.


" Iya Buk, hari Minggu saja. Aku mau mengundang teman-temanku juga, kalau hari Minggu tentu mereka libur." Aku pun menyetujuinya. Mas Raka juga mengangguk .


_____________


" Katanya baru pertama menikahkan anak, tapi kok nggak mau keluar biaya. Alasan adiknya juga butuh biaya. Padahal kalau kita memang niat membiayai anak pasti ada saja rejeki, percaya sama yang Maha Kuasa. Apalagi kerabatnya bu Harti itu banyak yang kaya raya, tentunya kalau nyumbang juga banyak." Ibu mengatakan pada mbak Nia dan ayah tentang keluarga mas Raka. Aku tengah menyisir rambut sehabis sholat Isya.


" Yang bener Buk, jadi mereka nggak mau mengadakan acara di rumahnya. Terus semuanya diserahkan sama kita, gitu. Memang mereka ngasih mas kawin berapa, heeh ! " sambung mbak Nia ketus. Aku pun keluar dari kamar.

__ADS_1


" Acaranya cuma syukuran. Tanya tuh sama Aira, tadi Raka menyampaikannya pada ibu di warung. Habis itu dia pamit pulang," kata ibu lagi.


" Iya, boro-boro ngasih uang buat mas kawin. Buat acara syukuran aja mungkin minta sama mas Raka. Itu barang -barang yang buat mahar juga mas Raka sendiri yang beli. Ibunya cuma belikan baju gamis, terus neneknya nambahin kain batik.


Belum lagi cincin sama uang, mas Raka bela-belain menabung dari uang gajinya. Kemarin katanya uangnya belum cukup jadi menunggu gajian bulan ini, hehehe." Aku menceritakan kegigihan mas Raka.


" Pantas saja setelah lamaran Raka nggak pernah ngajak kamu keluar. Rupanya lagi nabung buat nikah, hihihi ! " kelakar mbak Nia.


" Ya mau gimana lagi, orang tuanya nggak mau tahu. Apa-apa pakai uang sendiri, waktu kuliah juga nggak pernah minta uang jajan karena sudah punya penghasilan dari berjualan pakaian." Aku menambahkan.


" Iya, sudah tahu begitu kok sekarang nikah nggak diapa-apain. Istilahnya digelindingkan, ibarat bola dibiarkan mau menggelinding ke mana." Ibu sampai memcebikkan bibir mengatakannya.


" Sudah lah, kita terima saja. Mungkin mereka ingin irit pengeluaran, apalagi itu adiknya katanya juga lagi butuh biaya." Ayah pun menimpali. Sedari tadi beliau hanya mendengarkan sembari menikmati kopi.


" Terima sih terima, cuma kasihan saja sama si Raka. Dulu waktu Bayu menikah kita juga mengadakan resepsi meskipun sederhana. Ini mereka kok tega ya," kata ibu yang masih tak habis pikir.


" Ibu saja kasihan apalagi aku. Aku rasa ibunya kena pengaruh bapaknya. Soalnya kata mas Raka, awal mau lamaran itu bapaknya kurang setuju. Dia ingin mas Raka membalas budi ke orangtuanya dulu karena sudah dikuliahin. Kalau sudah menikah bapaknya khawatir mas Raka lupa sama orangtua dan hanya memikirkan istrinya. Begitu alasannya." Akhirnya kuceritakan pada keluargaku tentang sikap ayahnya mas Raka.


" Oalaah, nyekolahkan anak kok minta balas budi. Kok ada ya orang seperti itu," celetuk ibu sampai geregetan.


Tiba-tiba Arkana terbangun, mbak Nia masuk ke kamar hendak menidurkannya kembali. Beberapa saat kemudian ia pun keluar lagi.


" Mbok sekalian tidur Nia, kalau ditinggal nanti terbangun lagi," tegur ayah seraya berjalan menuju kamarnya.


" Masih menunggu mas Joni Yah, kalau tidur malah kebablasan nanti," sahut mbak Nia.


" Ibu juga mau tidur ah," ujar ibu mengikuti ayah.


Aku masih menemani mbak Nia. Entah mengapa belum mengantuk.


___________


Bersambung gaes.. makasih udah ngikutin terus cerita ini.


Hangan lupa vote, like dan komennya ya !


Lope u pull .

__ADS_1


__ADS_2