Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 66 Aku Bukan Cadangan


__ADS_3

Saat tiba di warung aku bersikap seolah tak ada apa-apa. Baru setelah makan siang aku cerita sama mbak Sri.


" Apaaa ? Raka mengkhianati Mbak Aira, masa sih Mbak." Mbak Sri berseru dan membelalakkan matanya ketika kuberitahu soal Raka.


" Sssssttt jangan keras-keras nanti kedengaran ibu." Kukode mbak Sri supaya mengecilkan suaranya. Ia pun menutup mulutnya. " Belum pasti juga sih, mana tahu itu teman kampusnya," lanjutku.


" Katamu tadi mereka baru saja kenal, masa sama teman kampus kenalnya baru sekarang." Mbak Sri menyanggah ucapanku.


" Kampus itu gede Mbak Sri, muridnya banyak kelasnya juga banyak. Meskipun satu kampus belum tentu saling kenal kalau nggak satu jurusan . " Mbak Sri manggut-manggut saat kujelaskan.


" Lebih baik Mbak Aira tanya langsung saja sama Raka daripada menduga-duga," sarannya kemudian.


" Maksudku juga begitu, tapi kalau untuk saat ini aku masih kesal jadi malas buat ngechat dia apalagi mengobrol."


Seusai berkata aku keluar untuk mengambil piring-piring kotor. Untung aku segera kembali jadi mbak Sri nggak kewalahan mencuci sendiri.


"'Kalau sudah selesai terus belanja ya, Aira. Tadi mbak Sri belum sempat karena dari pagi pembeli terus menerus," pesan ibu.


Usai mencuci piring aku bergegas belanja sebelum keburu sore. Saat kembali kulihat motor Raka ada di depan warung, dan ia tengah duduk di bangku panjang yang ada di teras. Melihatku Raka langsung melempar senyum khasnya, tapi sayang kali ini nggak bikin aku meleleh. Seketika senyumnya terhenti karena aku memasang wajah masam.


" Kok aku dicemberuti, ada apa sih ?" tanya dia saat aku hendak masuk ke warung. Ia mengikutiku ke dapur. Kutaruh belanjaan di meja dapur lalu aku keluar lagi dan duduk di bangku teras.


" Aira, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kamu kenapa ? " Raka duduk di sebelahku. " Kata Winda tadi kamu ke rumah ya, maaf tadi aku lagi mengantar nenek ke rumah saudaranya di desa sebelah. Pasti karena ini kamu jadi cemberut gitu. " Ia tersenyum lagi.


" Salah, nggak usah kepedean. Justru karena kamu nggak ada, aku jadi tahu kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku." Aku berkata tanpa menatapnya.


" Hei, tunggu tunggu... ini ada apa sih ? Memangnya aku menyembunyikan apa." Raka kelihatan bingung.


" Tanya sama dirimu sendiri, ada nggak yang kamu belum ceritakan ke aku ? " Kutatap wajah Raka, apakah ekspresinya berubah. Benar saja, ia langsung tertawa.


" Ooh itu, kamu ingin dengar ceritaku saat aku ke Jogja kemarin. Kan sudah kubilang aku ada acara sama teman-teman kampus, silaturahmi sama beberapa dosen juga."


" Sudah itu saja, nggak ada yang istimewa ? " tanyaku seraya menatap matanya. Kucari kebohongan di wajahnya, tapi nggak terlihat. Kenapa dia bisa sesantai ini sih, dasar !

__ADS_1


" Nggak ada lah, memang kenapa sih ? Kamu kok... jadi aneh gini. Oh aku tahu, pasti tadi Winda cerita macam-macam sama kamu makanya kamu jadi ngambek kaya gini Iya kan ? " Raka mencoba mengira-ira penyebab perubahan sikapku.


" Winda nggak cerita apa-apa, nggak usah nyalahin dia," ucapku datar.


" Ya terus ada apa, oke aku minta maaf kalau memang aku punya salah, tapi apa ? Tolong jelasin biar aku tahu salahku apa." Raka meraih kedua tanganku dan menggenggamnya. Kucoba melepaskan tapi Raka menguatkan genggamannya.


" Beneran kamu mau tahu," tanyaku lagi. Ia menganggukkan kepala, lalu mengendurkan tangannya. Dasar cowok, sudah ketahuan masih saja bersikap seolah nggak ada sesuatu.


" Ira itu siapa ? " tanyaku tegas, nggak perlu mengulur waktu lagi Raka nampak terkejut sejenak, tapi kemudian wajahnya biasa lagi


" Aira, bantuin mbak Sri dulu. Kerjaan masih banyak ini sudah hampir Ashar ! " seru ibu dari dalam. Raka yang hendak bicara pun mengurungkan niatnya. Aku segera berdiri dan masuk. Raka juga ikut masuk.


" Kok Raka nggak dibuatkan minum sih dari tadi," lanjut ibu mengingatkanku.


" Nggak apa-apa Bu biar nanti saya ambil sendiri." Raka menimpali ucapan ibu.


Beberapa menit kemudian dia melibatkan diri dalam kesibukan kami. Untung sudah nggak ada pembeli lagi sehingga pekerjaan jadi cepat selesai. Pukul 5 sore kami bersiap pulang setelah tadi sholat Ashar bergantian.


" Aku jalan kaki aja sama ibu," cetusku sebelum Raka membuka suara. Pasti dia akan mengantar ibu terlebih dulu seperti biasa.


" Kenapa Aira, biasanya juga Raka mengantar ibu dulu baru kamu. Kalau mau jalan kaki ya jalan saja sendiri biar ibu membonceng Raka." Ibu menimpali. Wajahnya nampak kesal padaku.


" Ya sudah ibu pulang dulu sama Raka," ucapku langsung sebelum ibu mengomel lagi.


Tak berapa lama mereka berdua sudah hilang dari penglihatanku. Aku mempercepat langkahku biar lekas sampai rumah, minimal jika Raka kembali aku nggak perlu berlama-lama duduk di motornya.


" Hei ! kok sudah sampai di sini, cepet amat jalannya." Raka menyeringai heran. Ia memutar balik motornya dan aku segera duduk di jok belakang tanpa, menjawab komentarnya barusan.


" Kok diam saja sih, masih marah ya." Raka membuka percakapan sambil melajukan motornya.


" Yang seharusnya nanya itu aku, karena kamu belum menjelaskan siapa itu Ira," sahutku ketus. Raka bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin dia menggerutu karena aku masih marah padanya.


Nggak lama kemudian kami sampai di rumah. Aku langsung turun dan masuk, lalu membersihkan diri dan sholat. Sepertinya Raka juga ke masjid bersama ayah. Sesudahnya kubikin teh panas buat Raka. Kutaruh di meja ruang tamu lalu aku duduk tanpa bicara sepatah pun.

__ADS_1


" Boleh aku menjelaskan sekarang ? " tanya Raka pelan. Ia mendekat padaku. " Silahkan," jawabku singkat.


" Kamu tadi buka HP yang lagi kucharge ya, lalu membaca chatinganku sama Ira. Sebenarnya itu nggak boleh lho, membuka HP tanpa seijin yang punya." Raka membahas tentang HP nya yang kubuka tadi siang.


" Kok malah membalikkan kesalahan. Oke sorry kalau aku lancang membuka HP kamu, tapi itu juga nggak sengaja karena Winda bilang mau mencabutnya kalau sudah penuh. Lalu aku bilang biar aku saja karena aku memang habis sholat di kamarmu.. Tapi menurutku ini bukan kesalahan fatal kan. Sekarang kamu jelasin siapa itu Ira. Kenapa kamu sampai bela-belain mau mengantarnya ke terminal bus." Aku mengungkapkan uneg-unegku sejak tadi siang.


" Aku minta maaf, sebenarnya kemaren aku dan teman-teman satu jurusan berkumpul dan makan bersama. Terus lanjut silaturahmi ke beberapa dosen. Kebetulan ada yang mengajak teman dari jurusan lain, di antaranya Ira. Nggak tahu kenapa kita enjoy aja mengobrol berdua dan setiap diskusi bersama selalu klop pendapatku sama pendapatnya. Dia merasa cocok denganku sampai curhat segala macam, lalu dia mengutarakan rencananya menengok orang tuanya di Jakarta. Dia menawariku ikut serta ke sana, tapi aku bilang nggak bisa. Dia nampak kecewa, terus aku bilang saja kalau aku akan mengantarnya sampai terminal." Raka menjelaskan panjang lebar tanpa kusela sedikitpun kalimatnya. Ia berhenti sejenak dan menyeruput tehnya yang hampir dingin.


" Terus, kenapa nggak jadi mengantarnya. Kan enak bisa berduaan di taxi, lalu sampai terminal kamu mengantarnya masuk ke dalam bus, cipika cipiki, lalu saat busnya berangkat kamu melambaikan tangan, persis film India. Preeeet.... " kusindir Raka lalu kujurkan lidahku meledeknya dengan sinis.


" Hehehe, rencananya memang begitu, tapi Winda keburu telpon menanyakan kapan aku pulang. Soalnya nenek ada acara di tempat saudara dan minta supaya aku yang menemani. Padahal nenek nggak pernah mau dibantah jika menghendaki sesuatu, makanya aku memilih pulang." Dengan tenang dia bercerita, seolah nggak ada yang salah dibalik ceritanya.


" Jadi karena nenek, bukan karena ingat aku kamu membatalkan janjimu sama cewek itu. Lantas apa arti kebersamaan kita yang sudah hampir 3 bulan ini., sementara kamu menjalin hubungan juga dengan cewek lain. Tadi aja kamu bilang nggak ada yang istimewa, nyatanya punya niat buat ninggalin aku."


" Bukan begitu, justru saat aku pulang aku jadi ingat kamu. Makanya aku nggak berniat menghubunginya lagi karena aku sadar aku sudah punya kamu." Raka meyakinkan aku.


" Ooh, berarti kemarin kamu berniat serius sama dia, kok bisa kamu ya. Jadi selama ini kamu anggap aku apa, sekedar pengisi waktu atau pelarian karena habis putus sama pacar. Setelah ketemu yang lain terus aku ditinggal, begitu ? " suaraku meninggi karena saking kesalnya.


" Ssstt jangan teriak-teriak, iya iya aku ngaku. Tadinya memang sempat kepikiran buat lebih dekat lagi sama Ira, soalnya kupikir kamu belum serius sama aku. Jadi apa salahnya aku juga mendekati cewek lain, mana tahu kamu hanya menganggapku teman lalu bosan sama aku."


" Astaga, ternyata pikiranmu serendah itu. Kamu pikir aku menyempatkan waktu bersama kamu, bahkan kadang nggak bisa tidur sebelum tahu kabar kamu, lantas aku hanya menganggapmu teman. Kamu jadikan aku cadangan, tega kamu ya, '" kuhujani tubuh Raka dengan beberapa kali cubitan.


Sekalipun aku sangat kesal padanya. tapi aku nggak begitu sedih atau menangis. Padahal yang dia lakukan jelas keterlaluan. Aku terus saja nenyerangnya dengan cubitan-cubitanku yang kata teman-temanku dulu selalu sakit banget.


" Aduuh aduuh, sudah dong sakiit. Aku minta maaf deh, kan tadi aku bilang kalau aku sadar aku sudah punya kamu. Jadi aku pilih kamu." Raka membela diri.


" Nggak percaya, jangan-jangan besok terulang lagi deketin cewek lagi," celetukku.


" Enggak lah, anggap saja kemarin itu aku khilaf. Aku sudah yakin kamu serius sama aku, aku juga mau serius. Nggak akan meragukan kamu, nggak akan menyakitimu." ucap Raka sambil menggenggam tanganku dan mengecupnya. Aku tersipu, untung nggak ada yang melihat


**************************


Bersambung ya gaes.

__ADS_1


Penulis mohon maaf sekali lagi karena akhir2 ini selalu telat up date karena sedang banyak pekerjaan yang tak bisa ditunda. Mungkin ke depannya akan makin giat lagi. Tetap ikuti kisah Aira dan Raka ya,.. thanks.


__ADS_2