Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 130 Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Malam harinya mas Raka datang membawa segepok surat undangan berwarna coklat susu, warna yang kami pilih waktu memesan minggu lalu.


" Kok masih rapi gini Mas, belum dibuka ya? " tanyaku heran saat menerimanya.


" Yah kan tadi langsung kutaruh di kamar, terus datang lah si Setyo ngajak ketemuan sama Mario, Doyok, Ferry. Ya sudah kutinggal gitu aja nggak kubuka-buka," cerita mas Raka.


Kutaruh tumpukan undangan tadi di meja. Mas Raka kemudian membukanya. Kuambil satu lalu kubuka dan kubaca isinya.


" Bagus ya Mas, sesuai dengan permintaan kita. Modelnya simpel tapi elegan, warnanya juga kalem, nggak norak hehehe," ucapku puas.


" Kalau menurutku, yang jelas harganya murah. Model lain kan mahal-mahal tuh. Kita kan milih yang sesuai ukuran kantong." Komentar mas Raka.


" Yee, tapi nggak murahan juga kali. Pinter-pinter milih model aja. Buktinya kemarin ada yang harganya mahal tapi modelnya nggak bagus." Aku menyanggah ucapannya.


" Iya deh, kamu emang pintar milih. Sudah sekarang ditulis daftar siapa-siapa yang mau diundang, termasuk teman-temanku juga. Kalau keluargaku nggak perlu pakai undangan, soalnya cuma kerabat dekat yang dikasih tahu."


" Oke sebentar aku ambil buku sama pulpen," cetusku seraya masuk ke kamar.


Beberapa saat kemudian aku sudah berkutat dengan tugasku. Mas Raka menemani sambil sesekali berkomentar atau mengingatkan, khawatir kalau ada yang belum didaftar. Aku juga menulis, sambil mengingat-ingat.


" Ternyata baru bikin daftarnya saja sudah menyita waktu. Soalnya sambil mikir juga sih, takut ada yang terlewat." Aku sedikit mengeluh.


" Kalau capek lanjutkan besok lagi. Yang ngundang bukan cuma kamu kan, kakak-kakakmu juga ada rekan yang mau diundang. Kamu minta daftarnya saja, besok tinggal nulis di kertas label lalu tempelin di surat undangan. "


" Oh iya, kertas labelnya lupa belum beli," celetukku sambil menepuk kepala. Mas Raka mengeluarkan dompet dan mengambil lembaran warna merah.


" Nih, buat beli kertas label," cetusnya seraya menyodorkannya padaku.


" Nggak usah Mas, aku ada kok." Aku nggak mau menerimanya, tapi ia memaksaku.


" Udah ambil, kayak sama siapa. Kalau ada yang mau dibeli lagi, jika uangnya kurang pakai uangmu dulu nanti aku ganti. Oke ! " pesannya.


" Cukup Mas jangan khawatir, makasih ya. Cup cup ! " Kukecup kedua pipi mas Raka.


" Eits, jangan mancing-mancing ya. Ini aku baru mau pamit lho, kamu malam main cium." Ia tersentak kaget karena tak menyangka.


" Mancing apaan, itu ekspresi rasa terima kasihku karena kamu barusan kasih uang, hihihi ! " ucapku sambil tertawa meringis.


" Hmm, biasanya nggak kaya gitu. Kamu lebay ! " celetuk mas Raka.


" Iiih kok malah ngatain lebay sih. Nggak suka ya kalau aku bersikap romantis, " sungutku.

__ADS_1


" Suka dong sayaang, cuma kaget aja tadi. Tumben biasanya kamu nggak pernah nyium duluan, hehe ," Ia pun terkekeh.


" Hari ini luar biasa Mas, hehehe," Aku juga ikutan terkekeh.


__________


Setiap pulang dari warung kukerjakan tugasku menyelesaikan undangan. Aku yang menulis nama di kertas label, mas Raka membantu menempelkannya di surat undangan. Tiga hari kemudian barulah selesai, hehe maklum saja.


" Mau dibagikan kapan sayang, biar aku bantu? " tanya mas Raka tadi malam.


" Nanti lah, kira-kira sepuluh hari menjelang hari H aja. Kalau dibagikan sekarang takutnya yang dikasih lupa nyimpan di mana, saking lamanya haha ! " kelakarku


" Tapi kan membagi undangan nggak selesai sehari sayang, jangan mepet juga," pesannya.


" Ya makanya 10 hari sebelumnya kita udah mulai gerak. Maksimal kurang seminggu harus sudah terbagikan semua undangannya." Aku menjelaskan rencanaku.


Sementara ibu juga menghubungi mbak Rina, mbak Tika dan mas Bayu agar mereka datang kemari untuk membahas rencana pernikahanku. Tentunya ibu dan ayah butuh dukungan material dan spiritual dari ketiga kakakku tersebut.


Malam ini kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga. Mas Raka sengaja tak datang karena kuberitahu jika kita mau rapat keluarga.


" Jadi rencananya besok akad nikah akan dilaksanakan hari Kamis tgl 9 Mei. Sedangkan resepsinya hari Minggu tgl 12 Mei." Ibu menyampaikan pada ketiga kakakku. Ayah hanya ikut mendengarkan, dalam hal ini ibu yang lebih banyak berperan.


" Kenapa akad nikahnya nggak hari Sabtu atau Minggu sekalian. Kok nanggung amat, hari Kamis." Mbak Tika mengomentari.


" Jangan bicara begitu. Yang menentukan hari dan tanggalnya itu kakeknya si Raka. Tentunya kita harus menghargainya dong." Ibu menjelaskan.


" Oh gitu. Kalau yang nentuin resepsinya mereka juga kah, atau keluarga kita. Kok nggak diterusin aja hari Kamis sekalian," tanya mbak Tika.


" Kalau itu ibu yang nentuin. Biasanya kan kalau resepsi kebanyakan hari Minggu. Sebagian besar orang pasti libur, jadi bisa datang semua. Tujuan kita kan memang mengumpulkan saudara." Mbak Nia ikut menjawab.


" Betul, apalagi di pihaknya Raka katanya nggak mengadakan resepsi. Cuma syukuran biasa katanya. Semuanya diserahkan pada kita." Ibu menambahkan.


" Waah, enak bener mereka. Semuanya diserahkan pada kita, lah memangnya mas kawinnya berapa puluh juta? " komentar mas Bayu pula.


" Mas kawinnya mungkin tidak sebanyak yang kalian bayangkan. Mas Raka berjuang sendiri dari awal, orangtuanya hanya bersedia ngadain syukuran. Yang lain mas Raka harus berusaha sendiri. Ia bela-belain hidup irit karena uang gajinya dia kumpulin buat biaya nikah. Lagian aku juga pinginnya yang sederhana kok, tak perlu yang mewah." Akupun buka suara tatkala ada yang menyinggung soal mas kawin.


" Iya sorry, kalau seperti itu ceritanya aku paham. Aku juga laki-laki dan pernah ada di posisi Raka. Hanya saja ibu tidak tega pada akhirnya juga nambahin modal buat mas kawin, hehehe ! " sahut mas Bayu.


" Sudah tidak usah membahas itu, pokoknya semua anak ayah dan ibu kita perlakukan sama. Itu sudah jadi tanggung jawab orangtua menikahkan anaknya. Tentunya sesuai dengan kemampuan kita, iya kan Bu ? " Ayah pun akhirnya angkat bicara.


" Betul Yah," sahut ibu sembari menyiapkan makan malam di meja makan. Aku menuangkan minuman dan menata kue di piring.

__ADS_1


Suasana kembali tenang. Kami pun mulai menyusun rencana dari persiapan hingga pelaksanaanya. Siapa-siapa yang akan dilibatkan dan dimintai tolong.


" Sebisa mungkin jangan semuanya diserahkan ke WO ya. Kalau ada yang bisa dikerjakan sendiri nggak usah minta bantuan. Urusan konsumsi juga kita ada tukang masak nggak perlu pesan katering." Ibu berpesan pada kami.


" Benar, misal dekorasi itu biar Vicky dan rekan-rekannya yang ngerjain," sambung mas Bayu.


" Kalau dekorasi, kata mas Raka mau dikerjakan sama teman-teman tetangganya," usulku.


" Oh ya sudah kalau begitu. Biar nanti Vicky kusuruh bantuin yang lain." Mas Bayu menyetujui usulku.


" Rias pengantinnya sama bu Bonita saja Buk, yang dekat. Pastinya murah juga karena masih tetangga," pintaku sama ibu.


" Tapi ibu kan dari dulu selalu minta tolong Bu Mutia, sudah kenal dari dulu. Waktu mbak Rina nikah kan sama dia. Mbak Tika dan aku juga sama bu Mutia." Kali ini mbak Nia yang menyahut.


" Sudah lah kamu tidak usah usul macam-macam. Tahunya beres saja. Dulu mbak Rina sama mbak Tika juga nggak ikut campur waktu mau nikah. Semuanya sudah diurusi sama ibu. Kamu malah ikutan mengatur," seloroh mbak Tika.


" Jamannya beda Mbak, anak muda jaman sekarang nggak kaya dulu, harus kreatif. Buktinya waktu mbak Nia nikah dia minta ini itu juga dituruti sama ibu.


Kalau aku kan nggak minta yang aneh-aneh, justru mengusulkan yang sekiranya murah. Bu Mutia memang teman ibu, tapi nyatanya kemarin waktu merias mbak Nia tarifnya mahal. Gelangnya mbak Nia sampai dijual." Aku menjawab agak emosi.


Kalau sudah ada yang menyinggungku, kubuka saja hal yang memalukan yang pernah terjadi. Mbak Nia jadi ikutan kena, ia hanya diam menunduk. Mbak Tika juga tak membalas ucapanku.


" Sudah sudah, nggak usah mengungkit yang telah berlalu. Kita sekarang lagi bermusyawarah bukannya berdebat. Aira benar, kalau semuanya ibu yang mikir terus tugas kita apa. Ayah dan ibu sudah tua, saatnya kita anaknya yang menggantikan tugas mereka mengurusi adik kita. Toh ini yang terahir. " Mas Bayu menengahi.


" Rina, Tika, benar kata Bayu. Kalian ibu undang ke sini tentunya ibu juga butuh bantuan kalian. Ibu nggak mungkin menanggung sendiri biaya pernikahan Aira." Ibu mengutarakan maksudnya.


" Ibu tenang saja, tempo hari Risma sempat bilang sama aku. Kalau bisa kita bertiga patungan untuk membantu biaya pernikahan Aira. Toh kita nanti di sini beberapa hari, ikut makan juga di sini. Semua itu pakai uang kan, hehehe.. Bawa happy aja nggak usah pada tegang gitu." Mas Bayu mencairkan suasana. Yang lain ikut tertawa juga.


" Oke aku setuju. Siapa sih yang nggak pingin membantu orang tua," cetus mbak Rina kemudian.


" Aku juga nggak masalah. Pokoknya besok di pernikahan Aira kita kumpul bareng, kita senang-senang. Bisa silaturahmi juga dengan kerabat ayah dan ibu yang lama nggak ketemu. Maafin mbak Tika ya Ra, kalau tadi sempat salah paham," timpal mbak Tika pula.


" Sama-sama Mbak, aku juga minta maaf sama semuanya. Udah ngerepotin kalian," ungkapku.


" Nggak ngerepotin kok adikku," ucap mbak Rina seraya mendekat dan memelukku. Mbak Tika ikutan memelukku. Ayah dan ibu hanya tersenyum menyaksikan kami.


" Ayo sekarang kita makan malam dulu, barusan sayurnya diangetin sama Nia." Ibu mengajak kami ke ruang makan.


______________


Bersambung ya.. jangan lupa vote like dan komen.

__ADS_1


Ditunggu terus ya, makaciiih.


Lope lope lope !


__ADS_2