Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 123 Mendaftar


__ADS_3

" Aira wooy ! Katanya mau bantuin mbak Nia malah berduaan terus. Tadi malam masih kurang niih ! " teriak Eva dari ruang tengah.


Sudah kayak tarzan saja tuh anak. Aku hendak membuka mulut namun mas Raka mencegahku .


" Nggak usah ikutan teriak, sudah sana masuk bantuin mereka. Aku mau sholat Ashar di rumah sembari mencari informasi tentang syarat-syarat mendaftar pernikahan. Nanti aku akan minta ijin libur kalau semua syarat sudah lengkap, lalu kita daftar sekalian. Lebih cepat lebih baik kan."


" Baik Mas, aku menunggu kabar dari kamu aja. Tadi mbak Sri juga nyaranin gitu," kataku.


" Oke kalau gitu aku pulang sekarang," kata Mas Raka kemudian melangkah ke ruang tengah.


" Mbak aku pamit ya, ayo mbak Eva ! " ucapnya pada mereka berdua.


" Oh iya Dik Raka, makasih ya! " balas mbak Nia. Eva pun menyahut dan melempar senyum.


Aku mengantar Mas Raka sampai depan pagar. Setelahnya aku sholat Ashar sekalian.


" Pada haus nggak nih," Kutanyai mbak Nia sama Eva seusai aku sholat.


" Sudah tahu nanya, bikinin minum gih. Dari tadi Eva belum kuambilkan, terlanjur pegang ini jadi kelupaan, hehehe," sahut mbak Nia tanpa menolehku.


" Iya nih, beliin es dawet atau ronde gitu. Sama gorengan sekalian," celetuk Eva.


" Ya udah, aku beliin di mbak Yah. Mau ikut nggak," Kutawari Eva yang sedang memperhatikanku.


" Memangnya mbak Yah jualan dawet juga ya, ikut ah ! Bentar ya mbak Nia, aku sama Aira mau jajan dulu. Nanti mbak Nia aku bungkusin dawetnya sekalian." Eva pamit sama kakakku.


" Oke, tapi aku minta ronde aja yang anget. Kalau dawet es aku nggak berani, nggak tahan dinginnya, " pesan mbak Nia.


" Dawetnya ada yang anget juga kok, nanti dibungkus saja semua. Sama gorengan juga." Aku berkata lalu mengambil uang di kamar.


Aku dan Eva keluar menuju warung mbak Yah." Eh tumben nih mbak Aira sama mbak Eva bisa barengan. Biasanya pada sibuk sendiri-sendiri," sapanya begitu kita tiba di warungnya.


" Iya Mbak, kebetulan ini pas libur lagi persiapan mau KKN. Aira juga tadi pulang lebih awal." Eva membalas sapaannya dan memberi alasan.


Aku melirik ke rumah kak Vicky, nampak bu Tiya sedang menyapu teras. Saat melihatku ia pun mendekati kami.


" Mbak Yah, dari tadi kok bau bunga. Ternyata ada calon penganten to, hehehe." Bu Tiya menggodaku.

__ADS_1


" Apa iya Bu Tiya, benerkah mbak Aira ? " tanya mbak Yah penasaran.


" Ya bener lah, orang bu Wahyu yang cerita sama saya, " lanjut bu Tiya.


" Iya Mbak Yah, do'ain lancar ya ! " kataku pelan.


" Oh pasti, tak do'ain semoga Mbak Aira diberi kemudahan ,sehat dan pernikahannya berjalan lancar, aamiin.. " ucap mbak Yah.


" Aamiin, " balasku dan Eva serempak.


" Sekarang mau beli apa nih, tapi tunggu karena ini baru mau buka jadi belum tak siapin semua," lanjut mbak Yah.


Aku pun memesan 2 dawet hangat dan 1 es dawet buat Eva, serta gorengan komplit. Bu Tiya sudah kembali ke teras rumahnya meneruskan aktifitasnya.


Mbak Yah menyiapkan dawet terlebih dulu sembari memasukkan gorengan. Sambil menunggu matang kami bertiga mengobrol. Jam segini warung belum begitu ramai karena mbak Yah baru bersiap-siap.


" Niko sekarang di Semarang Mbak, tinggal sama mertuanya. Kalau di sini rumahnya sempit istrinya nggak mau. Sesekali dia pulang menengok orang tuanya, tapi istri sama anaknya nggak ikut." Tiba-tiba saja mbak Yah bercerita tentang Niko. Eva dan aku saling tatap lalu tersenyum simpul.


" Oh gitu ya. Mungkin kalau di sini ibunya malu, anak kesayangan yang dibanggakan sekarang malah momong anak. Udah gitu belum siap punya cucu kali," cetusku asal. Suka kesal saja kalau mendengar kabar tentang Niko, apalagi ibunya.


Mbak Yah ikut tertawa. Ia pun membungkus beberapa gorengan pesananku. Setelah membayar kami segera kembali ke rumah karena sudah cukup lama meninggalkan mbak Nia.


" Lama amat sih, bantuin bikin cendol atau adonan bakwan sih," celetuk mbak Nia begitu kita masuk rumah. Kalau lagi kesal pasti gitu bahasanya, hihi.


" Sorry, maklum baru mau buka jadi belum siap. Ini tadi baru gorengan pertama, nunggu minyaknya panas segala. Mana tadi bu Tiya nimbrung aja, jadi tambah lama." Aku bersungut menjelaskannya.


" Iya tuh, begitu ada Aira langsung mendekat, nggodain bau bunga, bau bunga." Eva menimpali.


" Untung Arkana lagi digendong sama ayah. Tuh sekarang tidur di kamar kakeknya." Mbak Nia menyambung. Tangannya masih memegang peralatan membuat mahar.


" Sudah jadi lagi ya Mbak? " tanyaku sambil berjalan ke meja makan. Eva langsung mendekatinya dan membantu menggunting perekat.


Kutuang dawet di gelas-gelas besar, lalu gorengannya kutaruh di pinggan.


" Nih minum dulu biar segar," tawarku seraya menaruh dawet dan gorengan di hadapan mereka berdua.


Mbak Nia menghentikan aktifitasnya kemudian mencicipi dawetnya. Begitu pun Eva dan aku.

__ADS_1


" Baru jadi dua paket sama yang baru selesai ini. Lama bikinnya tahu, ini aja tadi Eva udah bantuin menggunting kertas kartonnya. Kalau aku sendiri paling baru jadi satu paket, soalnya sambil mengurusi Arkana juga."


" Sekarang istirahat dulu minum dawet sama makan gorengan, nanti dilanjut lagi," saranku. Kami pun menikmati gorengan yang masih anget ditambah minum dawet yang cendolnya dari tepung beras.


Menjelang Magrib ibu pulang bersama mas Raka. Aku malah nggak tahu jika dia menjemputnya. Eva juga pamit pulang. Mbak Nia beranjak ke kamar, lalu kuberesi peralatannya buat dipakai besok lagi. Tadi sudah jadi 2 paket, masih kurang 3 paket lagi. Rencananya mau dijadikan 5 paket sama mbak Nia.


" Duduk dulu Mas, kubuatkan teh ya," ajakku pada mas Raka.


" Aku langsung pulang saja, kan banyak yang harus diurus. Kamu juga siap-siap, besok minta surat pengantar ke RT sama RW lalu ke kelurahan. Aku juga sudah ijin kantor mau mengurus pendaftaran nikah kita. " Mas Raka menolak ajakanku.


" Baik lah, berarti besok mas Raka jemput aku ya," pintaku.


" Iya dong, habis dari kelurahan terus kita ke kecamatan. Kamu siapkan dulu surat pengantarnya, nanti aku kirimi syarat-syarat pendaftarannya ke WA ." Ia mengingatkan lagi.


Aku mengiyakan, kemudian ia pun berlalu dengan motornya.


_____________


Seusai membersihkan rumah dan mandi serta sarapan roti, kubuka lemari besar di ruang tengah. Di situ ayah menyimpan beberapa dokumen keluarga. Semalam mas Raka sudah mengirim syarat-syarat pendaftaran nikah, dan pagi ini akan kusiapkan lebih dulu.


" Sarapan dulu Aira," ujar ayah dari ruang makan. Beliau hendak minum kopi sambil menikmati kue yang dibawa mas Joni tadi malam.


" Nanti saja Yah, tadi udah minum coklat hangat sama makan roti. Sekarang aku mau minta surat pengantar ke pak RT dulu." Aku beranjak dari depan lemari setelah mengambil beberapa berkas untuk kufotocopy.


" Nggak usah buru-buru, diteliti lagi berkas yang mau difotocopy. Kalau ada yang kurang malah repot bolak balik ke rumah."


" Aku sih santai Yah, mas Raka yang suka nggak sabaran. Suruh pagi-pagi, suruh cepat-cepat," gerutuku.


Tapi yang kukatakan memang benar kok, buktinya kemarin siang dia nggak mau lama-lama di sini. Sorenya habis mengantar ibu juga langsung pulang. Pasti mau buru-buru ini buru-buru itu. Setahun lebih berhubungan aku jadi hafal dengan kebiasaannya.


_________&&&&______


Sekian dulu, masih bersambung ya.


Tetep vote like dan komennya, jangan lupa thanks.


.

__ADS_1


__ADS_2