
Jam 4.45 pagi aku bangun dan sholat subuh. Ayah baru pulang dari masjid. Ibu sedang memasak nasi di dapur. Nanti sebagian ditinggal di rumah sebagian lagi dibawa ke warung. Ibu selalu bawa nasi dari rumah karena kadang kala ada orang yang datang pagi-pagi untuk sarapan.
Mbak Nia dan mas Bayu belum keluar kamar, pasti mereka masih tidur. Salah sendiri selalu pulang larut malam.
Tapi meskipun begitu mereka ngga pernah ninggalin sholat. Hanya saja bangun tidurnya agak malas.
Aku mendekati ibu di dapur.
" Buk, nanti aku ke warung agak siang ya. Mau jalan-jalan ke Car Free Day. Boleh kan ?" Aku minta ijin pada ibu. Ibu menoleh ke arahku.
"Kamu ini kok mesti lho, tiap hari Minggu ada saja acaranya. Sudah tahu kalau hari libur itu warung ramai. Mau nonton apa sih ? " Ibu mulai sewot.
" Ya ngga tentu Bu. Kadang ada senam bersama, kadang ada dangdut, ada kuda lumping. Yang pasti ada jajanan tradisional Bu. Acaranya baru berjalan sekitar 2 bulan, tiap hari Minggu pagi. Di hari itu kendaraan bermotor ngga boleh lewat kecuali sepeda onthel. Aku belum pernah ke sana cuma baca di Facebook. Makanya hari ini aku pingin lihat Bu, mumpung ada yang mengajak." aku memberi gambaran kira-kira agar ibu berbaik hati mengijinkanku pergi.
" Nanti sepulang dari sana aku langsung ke warung , temanku janji mau mengantar. Boleh kan, Bu ?" lanjutku merayu ibu. Kelihatannya ibu masih keberatan. Ayah yang berada di kamar pun keluar dan angkat bicara.
" Sudahlah Bu, sekali-sekali biarkan Aira pergi mencari hiburan. Lagipula ini kan acara yang baru digelar di kota ini, dia pasti kepingin melihat acaranya seperti apa. Jangan dilarang ini itu dan disuruh ke warung terus, bisa stres nanti . Biarkan dia bergaul dengan teman sebayanya tanpa melupakan tugasnya membantu orang tua."
Ayah mengungkapkan pendapatnya pada ibu. Beliau bicara pelan supaya ibu tidak tersinggung. Memang kalau bicara sama ibu harus hati-hati. Selama ini ibu tidak pernah mau dibantah. Wajar saja karena sekian tahun ibu banting tulang untuk menaikkan ekonomi keluarga. Jadi ibu akan tersinggung jika perkataannya tidak diindahkan oleh anak-anak nya.
" Terserah ! " akhirnya hanya itu yang terucap dari mulut ibu. Aku anggap itu sebuah ijin. Aku tahu diri kok, nanti pulangnya juga langsung ke warung. Aku cukup paham kalau aku tidak seperti teman-teman yang lain.
Nasib kita berbeda, dan aku ngga pernah protes dengan keadaan.
" Nanti kan ada aku Bu, biar pagi ini aku bantu dulu di warung. Kebetulan hari ini kita nggak kemana-mana kok." Mbak Nia juga ikut menimpali.
Nah gitu dong ! Sekali-sekali nggak usah pergi kenapa. Lagian tiap hari ketemu terus ngapain aja sih? Belum juga dilamar. Aku menggerutu dalam hati. Tapi beruntung juga mbak Nia bisa meyakinkan ibu sehingga aku bisa pergi ke Car Free Day (CFD) .
" Ibu berangkat ya , ingat nanti jangan lama- lama dan langsung ke warung ! " pesan ibu.
" Siaap Mom ! " jawabku seraya memberi hormat layaknya upacara bendera.
Setelah ibu dan mbak Nia pergi aku lantas bersiap-siap. Sehabis mandi kupilih baju yang simple untuk kupakai, kaos lengan panjang dan celana jeans yang ngga ketat. Jilbab aku ambil yang berwarna senada dengan warna kaos.
Setelah mematut diri di cermin kuambil tas selempangku. Tak lupa HP aku masukkan ke dalamnya.
Tok tok tok ! Kudengar ada yang mengetuk pintu. Buru-buru kubuka pintu, ada Niko dan Rio yang sudah rapi. Aku memanggil ayah , " Ayah, aku berangkat ya . Assalamualaikum ," seruku.
" Waalaikum salam, hati-hati ! " ayah menjawab dari ruang tengah.
Baik Niko atau Rio nggak ada yang bawa motor. Kita memang sengaja ingin berjalan kaki ke alun-alun kota. Sekarang masih jam 6.30, setengah jam lebih awal dari rencana semula.
Hari Minggu pagi biasanya ngga banyak kendaraan bermotor. Rata-rata mereka berolah raga jalan sehat atau jogging dan mentok ke alun-alun. Apalagi sekarang ada CFD sudah tentu belum puas kalau belum ke sana.
"Jalannya santai aja kali, nggak usah ngebut," tegur Niko padaku. Padahal aku merasa jalanku biasa saja.
"Memang siapa yang ngebut? dari tadi aku jalannya pelan loh," sahutku seraya menolehnya. Tubuh Niko dan Rio tinggi hingga aku harus mendongak jika bicara dengan mereka.
" Kamu ngebut di hati aku jadi aku kewalahan mengejarnya." Niko malah menggombal dan berlari kecil menghindariku. Itu karena tanganku sudah maju untuk mencubitnya.
" Iiihhh. ! Pagi-pagi udah ngegombal sebel deh." Tak urung ia tetap dapat cubitan dariku. Dia malah tertawa-tawa. Rio juga ikut tertawa melihatku yang terus menghujani cubitan pada Niko.
Niko menangkap tanganku agar menghentikan aksiku. Kita berjalan lagi, ia menggandengku.
__ADS_1
" Ehem... hem.. kalau begini aku malah jadi obat nyamuk nih," celetuk Rio di belakang. Ia memperlambat jalannya dan tertawa nyengir meledek kami berdua.
" Sabaaar, nanti di alun-alun kamu tinggal pilih yang mana buat digandeng ha ha ha.. " Niko gantian meledek Rio.
" Sompreet lo ! " teriak Rio sambil menendang botol air mineral yang tergeletak di jalan. Niko tak menggubris gerutuan Rio.
Ia melirikku sekilas kemudian berkata, "Gimana Aira, tanggapan kamu tentang ucapanku kemaren?" ia pun bertanya.
" Ucapan yang mana, perasaan banyak yang kamu ucapkan. " aku tertawa lirih untuk menghilangkan gugup.
" Kemaren kan kamu nanya kenapa akhir-akhir ini aku perhatian sama kamu ,terus aku bilang kalau aku seneng melihatmu tertawa ceria, lincah dan centil." Niko bicara sambil terus berjalan. Tangannya tetap menggandengku.
" Terus aku mesti jawab apa? aku seneng kalau bisa bikin orang lain seneng," ucapku kemudian.
" Maksudku, aku pingin kita bisa setiap hari bertemu , menemanimu, supaya kamu ngga sendirian lagi. Aku suka sama kamu. " Niko menghentikan langkahnya dan menatapku. Aku pura-pura melihat ke arah lain, ngga sanggup menatapnya.
Kucari Rio, ternyata dia sudah jauh di depan kami.
" Apa yang membuatmu suka padaku ? aku kan lebih tua darimu. Kamu masih kelas 2 SMA. Apa kata orang-orang nanti," tanyaku pada Niko.
" Kan aku bilang aku suka kamu karena gayamu yang centil, lincah, ceria dan kekanakan itu yang bikin aku jadi gemes. Kamu ngga terlihat lebih tua dariku, justru malah sebaliknya, lucu dan imut."
Dia malah mengobral rayuan pulau kelapa. Aku berjalan lagi dan ia pun mengikutiku karena belum melepas genggamannya.
" Bukan aku tak menghargai perasaanmu, tapi aku takut menerimamu. Gimana nanti komentar orang-orang. Kamu tahu sendiri bu Tiya selalu sinis padaku kalau kita lagi ngobrol. Apalagi kalau tahu kita pacaran." Aku mengungkapkan perasaanku.
" Ya jangan sampai ada yang tahu, kita diam-diam saja seolah ngga pacaran. Cukup kita berdua dan Rio yang tahu. Anak itu bisa jaga rahasia kok."
Aku masih bimbang. Aku pernah dekat dengan Widi yang notabene usianya lebih matang. Masa sekarang sama Niko yang masih SMA.
" Kok malah melamun nanti kesandung loh." ucapan Niko mengagetkanku. "Udah deh, pokoknya mulai sekarang tiap Malam Minggu atau libur sekolah kita ketemuan di warung mbak Yah. Nggak akan ada yang curiga kan tahunya kita mau jajan." Niko meyakinkanku lagi.
": Ya udah kalau gitu, tapi beneran jangan cerita sama siapapun tentang hubungan kita. Rio juga dibilangi jangan kasih tahu siapapun," pintaku.
" Iya beres ," sahut Niko. Lalu dia mengeluarkan HP nya dan kita saling tukar nomer WhatsAap.
Biarlah kujalani apa yang ada di depan mata. Kalau memang ada seseorang yang ingin dekat kenapa harus kutolak. Untuk apa memikirkan komentar orang sedangkan mereka juga tidak memikirkan perasaanku.
Tak terasa kita sudah sampai di alun-alun.
Dan benar saja semua akses jalan yang menuju area alun-alun ditutup Hanya dibuka satu jalan untuk pejalan kaki dan sepeda onthel. Di sepanjang jalan area alun-alun banyak pedagang makanan/minuman, pakaian,mainan dll.
Dari kejauhan Rio melambaikan tangan. Ia sedang duduk lesehan di dalam tenda yang terbuka.
" Itu Rio, yuk kita ke sana ! kelihatannya ia sedang pesan makanan." Niko menggandeng tanganku.
Kita pun menuju ke tempat itu, ternyata Rio sedang pesan soto ayam. Di depannya sudah ada teh manis.
Aku dan Niko bergabung dengannya.
" Mau makan apa Ra, soto atau bubur ayam ? " tanya Niko.
" Bubur ayam aja deh," sahutku.
__ADS_1
" Oke, kalau gitu aku juga pesen bubur ayam."
Niko memanggil Mbaknya yang jualan dan memesan 2 bubur ayam serta 2 teh manis hangat.
Tak lama pesanan pun datang.
Setelah sarapan kita berkeliling di area CFD ini. Banyak juga yang berjualan. Dan ternyata jajanan yang ada di sini menunya beda dengan yang biasa dijual di pasar atau di warung makan.
Tahu-tahu aku sudah menenteng beberapa kantong jajanan yang belum pernah kubeli karena baru kali ini kutemui.
" Astaga Aira, itu kamu beli makanan segitu banyak memangnya siapa yang mau makan ? " tegur Rio sambil geleng- geleng kepala melihat beberapa kantong plastik yang kubawa.
" Ya aku lah yang makan, kan aku yang beli," sahutku dengan mulut yang masih penuh dengan jajanan.
Tadi memang Niko bilang aku boleh beli apa saja yang aku pingin, nanti dia yang traktir.
Tentu saja aku menolak karena dia saja masih minta orang tua. Meskipun uang jajannya banyak.
" Ya udah mau beli apa lagi, kalau ngga ada kita pulang sekarang nanti kamu dimarahi ibumu." Niko mengingatkanku.
Benar juga ini sudah hampir jam 9.00. Tak kusangka Niko begitu perhatian hingga ia khawatir jika aku dimarahi ibu.
" Udah kok, udah banyak jajanannya. Ini aja belum tahu nanti aku sanggup menghabiskan atau enggak. Paling mentok-mentok masuk kulkas ha ha ha." Aku malah ketawa sendiri.
" Bener- bener kaya anak kecil kamu ! " seru Rio.
" Biarin, habisnya jajanannya enak- enak. Mana aku belum pernah nyoba lagi, paling lihat di TV. Jajanan ala Korea, ala Jepang mana ada di pasar, " kataku bersemangat.
" Justru yang kayak anak kecil gini yang bikin aku suka sama Aira." Niko menyahut sambil tertawa kecil. Ia mengacak kepalaku, mungkin maksudnya ingin mengacak rambutku tapi terhalang jilbab. Aku tersenyum menatapnya.
Niko dan Rio mengantarku sampai warung. Kita tetap berjalan kaki karena jarak alun-alun ke pasar lebih dekat.
_________
Malam ini aku ngga keluar rumah. Sudah kukirim pesan WA ke Niko, toh kita tadi pagi sudah jalan bareng. Besok pagi dia harus sekolah, aku juga mesti bekerja.
Lagipula aku punya banyak stok jajanan yang kubeli tadi pagi. Terpaksa aku membaginya dengan mbak Nia dan mas Bayu karena perutku ngga muat lagi buat menghabiskan.
" Makanya jangan maruk, kebiasaan dari dulu beli jajanan tapi nggak dimakan. Kayak anak kecil yang seharian puasa terus ngumpulin makanan buat buka puasa. Ha ha ha. " Mbak Nia sampai tertawa-tawa meledekku.
" Yee , ini beda lah. Jajanannya juga bukan jajanan biasa , di pasar ngga ada yang jual."
" Ya tapi nggak harus dibeli semua kan, kayak yang makannya banyak. Makan nasi sepiring aja ngga pernah habis." Mas Bayu ikut menimpali. Ini hari Minggu jadi dia di rumah.
" Udah ngga usah pada protes, kalau ngga habis juga kalian seneng kan karena ikut menikmati, weeeekk." Aku menjulurkan lidah gantian meledek kedua kakakku.
Momen seperti ini sudah jarang terjadi karena kesibukan kami masing-masing.
Kami bertiga pun menikmati makanan yang kubeli di CFD tadi pagi.
____@@@________
Bersambung. Jangan lupa vote like dan komentar dong biar penulis tahu jika ada kekurangan.
__ADS_1
see you !