
Keesokan harinya aku menemui bu Diyah di kantor selesai kegiatan belajar mengajar.
Beruntung beliau belum beranjak pulang.
Tok tok tok ! Aku mengetok pintu.
" Masuk, " sahut bu Diyah dari dalam.
" Selamat siang Bu," sapaku. " Selamat siang." Bu Diyah pun membalas salamku.
" Ada apa Bu Aira? " tanya beliau kemudian.
Aku pun mengemukakan keinginanku untuk mengundurkan diri dari sekolah ini. Semula bu Diyah agak keberatan, tapi setelah kuungkapkan alasan akhirnya beliau menerima keputusanku.
Namun tidak menutup kemungkinan jika aku akan masuk kembali.
Setelah menyalami bu Diyah aku masuk ke kelas. Mbak Murni, Bu Riris dan Bu Heni tengah menikmati makan siang.
" Ada apa Bu Aira, kok menemui Bu Diyah ? " tanya bu Riris.
Aku masih berdiri dan berkata,
" Emm... . teman-teman, aku mau pamit. Tadi aku habis minta ijin sama bu Diyah mau resign dari sini. Jika selama ini aku punya salah pada kalian aku minta maaf ya." Mataku berkaca-kaca saat berpamitan pada mereka.
Serentak mereka pun terkejut, apalagi mbak Murni. Ia langsung menghampiriku. " Ada apa Aira, kok tiba-tiba kamu ingin keluar dari sini? " mbak Murni menanyaiku.
" Mbak Murni, maaf jika aku mengecewakan Mbak Murni. Aku sangat berterima kasih Mbak sudah mengajakku bekerja di sini. Tapi aku kasihan sama ibu, aku mau fokus membantu di warung karena hanya tinggal aku yang ibu harapkan." Aku menghela nafas. " Aku nggak mau ibu kecapekan dan jatuh sakit," lanjutku.
" Kalau memang itu sudah jadi keputusanmu, Mbak hanya mendukung saja. Semoga usaha ibu lancar dan kelak kamu bisa meneruskannya." Mbak Murni memberiku semangat.
" Aamiin," sahutku.
Kemudian aku menyalami ketiga rekan kerjaku selama ini. Kami berpelukan dan menitikkan air mata. Meskipun hanya beberapa bulan bersama tapi mereka sudah seperti kakak buatku.
___________
Hari-hari selanjutnya aktifitasku hanya berangkat ke pasar, membantu ibu di warung makan. Tapi aku tidak berangkat bersama ibu karena aku harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Setelah selesai sekitar jam 7.00 baru aku menyusul .
Pagi ini ketika aku sedang menikmati teh hangat dan bakwan jagung masuklah dua orang lelaki berseragam. Mereka melihatku dan tersenyum.
" Pagi Aira, tumben kelihatan. Ngga mengajar ya? " sapa salah satunya. Aku tertegun sejenak menatap mereka. Ooh ternyata Arya dan temannya yang waktu itu pernah berkenalan denganku. Mereka pun memesan 2 porsi nasi brongkos dan 2 gelas teh manis hangat.
" Pagi juga, ini kebetulan lagi libur." aku menjawab asal saja. " Kok tahu kalau saya mengajar? " tanyaku sambil membuatkan teh untuk mereka.
" Ibu yang cerita , waktu saya menanyakanmu kenapa nggak pernah kelihatan di warung." Ia pun menjelaskan.
Rupanya dia sering makan di sini tapi nggak ketemu karena aku bekerja. Kok ibu ngga pernah bilang padaku. Apa karena ibu kurang suka ?
" Ooh gitu, kamu sering sarapan di sini ya ? " tanyaku kemudian. Kutaruh 2 gelas teh di meja.
" Tiap hari, berharap ketemu sama kamu. Tapi kata ibu kamu sudah bekerja di TK jadi nggak pernah ke warung." Arya menceritakan apa yang ia tahu.
" Uhuk... uhuk , mulai deh rayuan gombal," celetuk cowok di sebelahnya. Kulihat nama yang tertera di baju seragamnya ,Saiiful. Arya menyikut lengan Saiful. " Sirik aja lo ! " sahutnya.
" Aira bantuin mbak Sri tuh ! " seru ibu memanggilku seraya menyodorkan 2 porsi nasi pesanan Arya dan Saiful. Aku beranjak mengambil piring dan gelas kotor di meja dan kubawa ke dapur.
Arya dan Saiful pun segera menyantap makanannya tanpa bicara lagi.
__ADS_1
Mbak Sri masuk hendak mencuci piring dan gelas kotor tadi.
" Mbak , memang beneran cowok yang tadi itu sering ke sini ? " tanyaku pelan pada mbak Sri.
" Kalau yang kulitnya putih itu hampir tiap hari, kadang sendiri kadang sama temannya yang agak hitam itu tadi. " Mbak Sri menjawab pertanyaanku. Yang dimaksud berkulit putih itu pasti Arya.
" Terus, apa dia suka nanyain aku? " tanyaku lagi.
" Pernah sih, tapi setelah ibu menjelaskan kalau mbak Aira bekerja di sekolah TK dia ngga tanya-tanya lagi. Tapi setiap makan di sini matanya ke sana kemari seperti mencari-cari mbak Aira."
Aku mengangguk-angguk. Mbak Sri melanjutkan pekerjaannya. Aku keluar sambil membawa piring bersih dari rak.
Dalam hati aku bertanya apa maksud Arya sering menanyakanku. Apa dia naksir aku ?
Ah tapi aku sudah punya Niko, ngapain mikir cowok lain. Kutepis pikiranku tentang Arya.
Mumpung belum ada pembeli lagi aku keluar dan masuk ke toko mbak Wiwit.
" Eeh Aira, tumben sekarang kamu berangkatnya pagi terus.. Memangnya sudah nggak kerja di TK ? " tanya mbak Wiwit. Aku sedang mengambil coklat di stoples.
" Aku resign Mbak, soalnya kan mbak Nia udah nggak bisa bantu ibu di warung, jadi aku yang gantiin. Kalau cuma berdua sama mbak Sri kadang pekerjaan jadi keteter." Aku menjelaskan alasanku.
" Iya juga sih, kalau pagi kan ramai. Ibu nggak bisa melayani pembeli sendirian, harus ada yang bantu bikin minum. Aku aja kadang mau minta teh harus bikin sendiri he he he.., " cerita mbak Wiwit.
Aku menyerahkan uang lima ribuan dan keluar dari toko. Ada pembeli di warung dan aku pun masuk untuk melayani. Hari ini warung agak ramai dari biasanya.
Hingga menjelang Ashar barulah aku bisa beristirahat sejenak. Aku membuat teh panas. Mbak Sri mencuci lap-lap kotor dan alat- alat dapur.
Setelah menyeruput teh aku membersihkan meja dan menyapu lantai. Setelah itu kita sholat bergantian sembari menunggu matangnya daging ayam yang akan digoreng esok pagi.
Pukul 5 lebih sedikit kita bersiap pulang.
********
Sampai di tempat kebetulan mbak Yah baru selesai melayani pembeli.
" Eeh mbak Aira, kok lama nggak pernah ke sini? " sapa mbak Yah .
" Iya Mbak, kadang pulang dari warung sudah capek. Habis mandi sholat terus ketiduran, kadang belum sempat makan malam ," jawabku memberi alasan.
" Wedang rondenya dibawa pulang aja Mbak, 2 bungkus ya! " pesanku.
" Sama gorengannya 10 biji, " lanjutku lagi.
Mbak Yah menyiapkan pesananku.
" Niko juga jarang ke sini, kalau Rio masih sesekali nongkrong di teras bu Tiya. Kadang mampir ke sini.." Mbah Yah membuka percakapan lagi. Aku hanya mengiyakan saja.
Mbak Yah menyebut nama pada Niko dan Rio karena mereka berdua seumuran dengan anaknya.
Tempo hari Niko mengirim pesan via WA kalau dia sedang persiapan ujian kenaikan kelas. Tentu saja aku maklum dan tak ingin mengganggunya.
" Lagi mau test kenaikan kelas mungkiin, jadi sibuk belajar, " kataku seakan menebak-nebak. Nggak mungkin aku cerita kalau Niko telah mengirim pesan padaku.
Tapi tanpa kuduga mbak Yah malah berkata, " Masa sih, Rio yang mau ujian saja masih tenang- tenang gitu kok. Masih sering keluar rumah, nongkrong sama anak-anak sini. "
" Beda lah Mbak. Niko kan anaknya serius, kalau Rio masih suka keluar bandelnya. " aku berkelakar sedikit, dalam hati agak terpengaruh ucapan mbak Yah tadi.
__ADS_1
" Kalau kata bu Tiya, Niko memang nggak boleh keluar rumah oleh ibunya, biar ngga ketemu sama Mbak Aira. Tapi saya curiga pasti bu Tiya cerita yang enggak- enggak sama ibunya Niko.
Dia memang selalu nggak suka kalau ada gadis cantik yang banyak disukai pemuda di sini, soalnya anak perempuannya pada kuper nikahnya juga udah pada tua ha ha." mbak Yah bercerita sampai tertawa sendiri.
Aku tertawa kecil, tapi tak urung memikirkan perkataan mbak Yah. Apa benar Niko dilarang orang tuanya ketemu aku ? Apakah benar bu Tiya yang mengadukannya?
Apa salahku, aku ngga berbuat macam- macam yang sekiranya merugikan dia.
Mbak Yah menyodorkan pesananku. Setelah ku bayar aku beranjak keluar dan pamit. Di teras rumah kak Vicky nampak beberapa cowok yang lagi ngobrol termasuk Rio.
" Aira tunggu ! " Rio berjalan cepat menghampiriku. Kuhentikan langkahku, " Ada apa? " tanyaku pada Rio.
" Kemaren aku ketemu Niko, dia bilang saat ini ngga bisa ketemu kamu karena tiap mau keluar ibunya selalu tanya macam-macam. Terus kebetulan kakak sepupunya juga lagi ke sini jadi dia harus menemani ke mana pun." Rio pun bercerita tentang Niko.
" Tapi kok dia ngga ngasih kabar sama aku. Telfon atau paling nggak WA kek !" sahutku.
" Dia bilang ngga bisa. Kakak sepupunya itu selalu mengikuti ke mana saja. Kadang handphone juga dipegang sama kakaknya." Rio menjelaskan lagi.
" Memang kakak sepupunya itu cowok apa cewek sih, kok sampai segitunya mencampuri privacy sodaranya ? " ujarku.
" Perempuan, tapi dari dulu mereka memang akrab. Usianya seumuran sama kamu, masih kuliah di Undip Semarang."
" Ooh gitu. Ya udah tolong kalau ketemu Niko sampaikan salamku," pesanku pada Rio. Kemudian aku teruskan langkahku untuk pulang.
Sampai di rumah kebetulan mbak Nia dan mas Joni juga sudah pulang. Kutaruh gorengan di meja makan. Aku mengambil mug bergambar zodiakku dan kutuang wedang ronde ke dalamnya.
" Wedang rondenya kok ada dua, yang satu buat siapa Ra? " tanya mbak Nia. Kelihatannya dia kepingin. " Buat ibu, " jawabku.
" Ibu sudah ngantuk buat kamu aja Nia" Ibu menyahut dari dalam kamar. Mbak Nia tersenyum dan langsung ke dapur mengambil gelas dan piring untuk wadah gorengan yang kubeli.
Kita bertiga menikmati jajanan murah meriah ini sambil nonton televisi.
********
Hari-hari pun berjalan, semakin hari aku merasa semakin jauh dengan Niko. Aku sedikit kesal juga kenapa dia nggak punya prinsip. Meskipun ibunya melarang atau pun sepupunya selalu mengikutinya, kalau dia memang masih peduli sama aku tentu berusaha untuk menghubungiku.
Berbanding terbalik, hubunganku dengan Arya dan Saiful juga makin akrab. Hampir tiap hari mereka pesan makanan serta minuman dan aku mengantar ke kantor mereka yang letaknya hanya 100m dari warung makanku. Aku memang memberikan nomer WA pada pelanggan dan kita melayani delivery order untuk yang berada di lingkungan pasar dan sekitarnya.
Satu hari Saiful melihat kalung kulit yang kupakai, kalung dari Niko. Aku tengah mengantarkan pesanan nasi plus ayam goreng buat mereka berdua.
" Aira, kok kamu punya kalung kulit ? Coba lihat dong." Ia memintaku melepasnya. Setelah kulepas dia mengamati kemudian memakainya.
" Kupinjam dulu ya, besok kukembalikan, " pintanya.
" Tapi jangan lama-lama, itu kalung hadiah dari teman dekatku," pesanku mewanti- wanti.
" Iya jangan khawatir, kita kan tiap hari ketemu." Saiful meyakinkanku. Sebenarnya aku keberatan dia meminjam kalung itu, tapi sudah terlanjur dipakai mau gimana lagi. Setelah mereka membayar pesanan nasinya aku segera kembali ke warung.
" Kok lama nganternya, jangan kebanyakan bercanda. Kerjaan di sini masih banyak." Ibu menegurku.
" Anu Bu, tadi mereka bayar pakai uang seratus ribu. Aku nggak bawa uang jadi aku tukarkan dulu tadi, jadi lama. " Terpaksa kukarang cerita daripada terus diomeli. Kumasukkan uang yang kubawa tadi ke laci.
Aku masuk ke dapur dan membuat teh hangat. Masih agak dongkol sama Saiful tadi, main rebut kalung itu. Padahal Arya yang lebih dulu kenal aku saja nggak pernah celamitan sama barang-barangku. Semoga saja besok Saiful mau mengembalikan. . Aku khawatir Niko tahu jika aku tak memakai kalung tersebut.
____&&&&____
bersambung ya gaeess.
__ADS_1
vote like n komen please !