
Setelah mas Raka pulang aku bergegas sholat Isya di kamar Stella. Pukul 21.00 kami sekeluarga pamit sama mbak Tika dan mas Toni. Stella sudah tidur di kamarnya setengah jam yang lalu setelah susah payah kubujuk. Sedari tadi ia terus memintaku agar bercerita tentang mas Raka. Layaknya wartawan infotainment.
" Aku pesan taxi online dulu," ucapku seraya mengambil handphone yang sudah kumasukkan dalam tas selempangku.
" Biar mas Toni saja yang pesan," tukas mbak Tika. Ia tengah menata beberapa kue yang masih tersisa ke dalam kardus makanan, lalu dimasukkannya ke kantong kresek besar.
" Nih bawa pulang, masih sisa banyak tadi," ujarnya sembari mengangsurkan bungkusan itu padaku.
Kami semua duduk di teras sambil menunggu taxi datang. Sepuluh menit kemudian ada suara klakson mobil di luar gerbang.
Din din ! Aku melongok keluar, ternyata taxi yang dipesan mas Toni. Pengemudinya turun lalu menghampiri kami.
" Atas nama Bapak Toni, taxi sudah siap," ucapnya.
" Ya betul Pak," sahut mas Toni.
Kami berlima masuk ke dalam taxi. Ayah duduk di samping sopir. Ibu dan mbak Nia di tengah, memangku Arkana yang tertidur di gendongan tadi. Aku duduk di deretan belakang.
Mbak Tika menyelipkan 2 lembar uang ratusan di tangan ibu. " Buat bayar taxi, dari mas Toni," bisiknya saat ibu hendak menolak. Taxi pun melaju menembus kegelapan malam yang diterangi lampu jalanan.
Sampai di rumah aku langsung ke belakang setelah menaruh tas di meja kamarku.. Di rumah mbak Tika tadi aku belum sempat mandi. Seusai membersihkan diri kurebahkan tubuhku di ranjang. Entah berapa menit kemudian aku tertidur.
Keesokan harinya mbak Sri sudah langsung menagih janjiku yang mau curhat dengannya.
" Nanti dong Mbak kalau sudah lewat jam sarapan. Sekarang kan lagi banyak pengunjung masa kita malah mengobrol," kataku mengingatkannya.
" Maaf suka lupa, habisnya Mbak Aira sering bikin penasaran saja. Suka menggantung kalau ngomong, kayak sinetron bersambung, hehe ! " Mbak Sri terkekeh, sementara tangannya sibuk memasukkan pisang ke dalam wajan seusai dilumuri tepung.
Seperti biasa aku membikin minuman beberapa gelas lalu kutaruh di meja ruang depan. Beberapa pelanggan yang masih lajang saling melempar senyum begitu melihatku. Kebanyakan mereka karyawan toko dan pedagang pasar sekitar warung.
" Hayo kenapa pada senyum-senyum ? " tegur ibu saat mengetahuinya.
" Nggak kenapa-kenapa, cuma seneng aja kalau melihat Mbak Aira. Cantiknya seperti ibunya hehe ! " celetuk mas Heri pedagang pakaian.
" Iya, mungkin dulu bu Wahyu waktu muda juga mirip Aira." Mas Budi menimpali.
" Kalau menurutku sih, lebih cantik bu Wahyu waktu muda daripada Aira sekarang, hahaha ! " seru mas Harun yang dari tadi diam saja.
" Ah dasar Mas Harun aja yang sirik sama aku, huuu ! " balasku sambil mencebikkan bibir.
Yang lain jadi pada tertawa. Dasar mas Harun, aku sudah hampir melayang karena dipuji cowok-cowok , eeh dia malah meledekku. Berasa dibawa terbang terus dibanting. Benar-benar hancur reputasiku sebagai Bunga Warung, hihihi.
" Aku nggak sirik, memang ibumu cantik kok. Tuh lihat hidung ibumu mancung sedangkan kamu pesek, hehe ! " selorohnya lagi sehingga ibu juga ikut tertawa.
__ADS_1
" Bodo ah ! " umpatku kesal lalu masuk ke dapur. Mas Harun meneruskan sarapan sambil menahan tawanya. Seneng banget dia ngerjain aku. Tapi sebenarnya dia baik. Justru karena menganggapku seperti adik makanya dia berani meledekku.
" Mau tebar pesona di hadapan cowok-cowok, eeh malah ada yang ngerecokin. Huuh nasib, nasib, " gerutuku seraya mencomot pisang goreng dan kumakan dengan kasar.
" Hei hati-hati Mbak kalau makan, nanti lidahnya keselip lagi hihi ! " tegur mbak Sri yang sedang menggoreng bakwan.
" Biarin, lagi kesel tuh sama mas Harun. Masa ngatain aku pesek di depan pelanggan yang bujang-bujang itu. Mau ditaruh di mana mukaku," ungkapku lagi.
" Itu tandanya semesta tak mendukung, makanya nggak usah ' caper '. Sudah punya mas Raka yang ganteng, gagah, penyayang." Mbak Sri mengingatkanku.
" Widiih sok-sokan pakai bahasa gaul. Sekali-sekali melirik yang lain nggak apa-apa kali." Aku berkata sambil mengedipkan sebelah mataku.
Mbak Sri cuma geleng-geleng kepala. Ia melanjutkan pekerjaannya, aku keluar untuk membersihkan meja makan.
" Mbak Sri tahu kan tadi malam kita pada foto-foto sama baby Shaka ? " tanyaku. padanya, sambil menaruh cucian di wastafel.
" Iya tahu, aku juga diajak foto sama mbak Atun. Memangnya ada apa? " tanya dia balik. Aku duduk sejenak, kuteguk teh yang tadi kubuat.
" Pinginnya aku juga mau berfoto sama mas Raka dong, sambil menggendong Shaka gitu. Biar seolah kita ini keluarga kecil. Eeh mas Raka nggak mau, malah merokok di teras.
Terus ceritanya aku mau pura-pura ngambeg, kucuekin dia biar merasa bersalah. Dan benar saja, waktu aku ngobrol sama yang lain dia mencuri-curi pandang sama aku lalu melempar senyum. Aku berlagak membuang muka.
Eh ternyata mbak Tika menegurku, kenapa mas Raka kubiarkan duduk sendirian. Ibu juga ikutan menyuruhku mengambilkan minuman buatnya. Jadi merasa menang dia.
" Haha haha ! Memang kalian ditakdirkan berjodoh. Apapun alasannya pasti ujung-ujungnya baikan lagi, mesra lagi. Sudahlah Mbak Aira nggak usah berpikir macam-macam. Pokoknya mas Raka ' debes ' lah." Mbak Sri mengacungkan jempolnya.
" Gede kepala tuh orangnya kalau ada di sini," celetukku.
Aku beranjak ke wastafel lalu kucuci semua peralatan makan yang tadi kutaruh di sini. Mbak Sri juga sudah selesai menggoreng, ia tengah membereskan perabotan yang habis dipakainya.
" Sarapan dulu aah ! " cetusku sembari keluar mendekati ibu yang juga sedang sarapan.
************
Sabtu sore mas Raka langsung mampir ke warung sepulang kerja. Kemarin seharian ia tak muncul karena ada kerjaan tambahan katanya.
" Minum dulu Mas, kok kaya ngos-ngosan gitu," tegurku agak heran. Ia duduk di bangku dapur dan langsung menenggak habis air putih yang kuberikan.
" Tadi begitu keluar dari pabrik langsung lari ke tempat parkir, soalnya kalau nggak buru-buru ambil motornya pasti berdesakan harus antri dulu. Padahal aku pingin cepet-cepet ketemu kamu. Hemmh, hihi ! " paparnya.
" Owalaah mas Raka, memangnya berapa hari nggak ketemu mbak Aira. Sudah kangen aja." Mbak Sri langsung berkomentar.
" Mas Raka lebay deh, malu-maluin aja. Kalau mbak Wiwit mendengar bisa heboh tuh, habis aku diledekin." Kutepuk bahu mas Raka. Dia hanya senyum-senyum saja.
__ADS_1
" Ya mau gimana lagi, masa aku nggak boleh kangen sama calon istriku. Hati kan nggak bisa dibohongi." Ia pun membela diri.
" Tapi nggak perlu sampai lari-lari gitu lah Mas. Aku juga nggak pergi ke mana-mana. Kalau ada yang tidak suka sama kita, nanti pasti komentarnya negatif, aku lagi yang kena." Kuingatkan mas Raka biar lain kali nggak seperti ini.
" Masa sih ? siapa tahu begitu aku datang ternyata kamu pergi. Hayoow ," ucapnya menggodaku.
" Bukannya kamu yang sering kayak gitu. Pamitnya di mana, tahunya di situ. Lagian kalau aku mau pergi pasti aku ngasih kabar, nggak seperti kamu diam-diam," balasku tak mau kalah.
" Sudah sudah, kok malah jadi sahut-sahutan gini. Mbak Aira katanya mau sholat." Mbak Sri menengahi.
" Astagfirullah, hampir lupa. Gara-gara mas Raka sih," tukasku. Bergegas aku masuk toilet untuk wudhu.
" Kok aku yang disalahin," celetuknya santai. Ia mengambil handphone dari tas kecil yang dibawanya.
" Ada WA dari Ardi, tumben dia menghubungku," gumam mas Raka.
" Ardi siapa Mas ? " tanyaku seusai berwudhu.
" Familiku dari keluarga ibu. Nanti malam akux disuruh ke rumahnya, mau rapat sinoman soalnya ada sepupunya yang mau menikah. " Mas Raka menjelaskan.
Kupakai mukena dan segera sholat Ashar karena sudah jam 16.30. Seusai sholat mas Raka ikut masuk ke dalam bilik lalu membaringkan tubuhnya.
" Untung tadi aku buru-buru pulang dan langsung ke sini. Kalau nggak malah batal lagi ketemuan sama kamu. Ternyata tidak sia-sia pengorbananku, huft !" Ia mendengus kasar.
" Kalau memang ada kepentingan nggak ketemu juga nggak masalah kan Mas. Yang penting ngasih kabar."
" Waduuh, sehari nggak ketemu aja aku galau apalagi dia hari, hehehe ! " ungkapnya.
" Tuh kan lebay lagi. Mas aku ini bukan seorang putri raja yang diperebutkan banyak pangeran. Wajahku biasa saja nggak cantik kaya artis, kamu tidak perlu khawatir aku diambil orang, huuu !" kuledek mas Raka yang selalu berlebihan.
" Bagiku kamu yang tercantik di antara semua cewek yang kukenal," ujarnya berbangga hati.
" Terserah deh, apa kata Abang adek mah nurut ajah hahaha ! " kelakarku. Kami tertawa bersama.
" Mbak Aira, aku pulang dulu ya ! " seru mbak Sri dari luar.
" Ya Mbak hati-hati ! " balasku.
________&&&_______
Bersambung ya gaees.. Please vote like n komen.
Love sekebun buat kalian semua.
__ADS_1
Thanks !