Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 125 Perasaan Ayah


__ADS_3

" Ayah, nanti kita ke KUA ya. Tadi pak Yusuf berpesan kalau pendaftaran pernikahan harus dengan wali nikahnya." Aku menyampaikan pesan pak Yusuf pada ayah. Beliau baru pulang dari masjid.


" Iya. Sekarang kamu makan dulu saja sama nak Raka, habis itu sholat .Ayah ganti baju dulu," ujar ayah.


" Baik Yah. Yuk Mas makan dulu ! " Kupanggil mas Raka di ruang tamu.


" Kamu saja, aku kan udah makan di warung tadi," sahutnya.


" Kalau gitu aku ambilkan minum ya, mau teh apa coklat panas ? " tanyaku menawarkan.


" Siang-siang begini air putih aja lah, aku mau sholat dulu." Ia pun beranjak untuk wudhu.


Usai makan dan sholat kurapikan dulu bajuku, tak lupa memperbaiki make up wajah yang telah pudar sejak tadi pagi.


" Jangan lama-lama Aira, nggak enak sama pak Yusuf yang sudah menunggu." Mas Raka menegurku.


" Hari dan tanggal sudah ditetapkan nak Raka, sudah pasti kan ? " tanya ayah mengingatkan.


" Sudah Pak, tadi saya juga sudah memberitahu ibu di warung. Menurut kakek saya hari yang baik itu, Kamis tgl 9 Mei." Mas Raka memberitahu.


" Bapak sih setuju saja, semua hari baik kok. Karena nak Raka masih ada kakek dan nenek, ya kita menurut saja pada yang lebih tua. " Ayah berkata dengan bijaksana.


" Ayah berangkat dulu sama dik Raka, terus nanti balik lagi jemput Aira," usul mbak Nia yang baru keluar dari kamarnya.


Ayah dan mas Raka yang duduk di teras pun beranjak pergi. Tak sampai lima menit mas Raka sudah balik dan kita pun berangkat setelah pamitan sama mbak Nia.


Sampai di kelurahan mas Yusuf telah siap dengan motornya. Ayah berdiri di sampingnya.


" Kita naik angkot saja atau kamu mau bolak balik mengantar,nak Raka ? " tanya ayah.


Belum sempat mas Raka menjawab pak Yusuf menyela, " Bapak sama saya saja, biar mas Raka tidak perlu jalan dua kali." Ia menawarkan diri membonceng ayah.


" Lho, anda kan sama mas Hari," kata ayah lagi.

__ADS_1


" Tidak Pak Wahyu, cukup pak Yusuf saja. Saya jaga kantor,hehe ! " sahut mas Hari bercanda.


Tanpa mengulur waktu lagi kita berempat berangkat ke KUA. Para pegawainya menyambut dengan ramah. Ayah bahkan langsung menanyakan salah seorang penghulu yang dikenalnya, yang katanya dulu menikahkan mbak Rina dan mbak Tika.


" Oh pak Basuki, beliau sudah pensiun," kata petugas yang sedang melayani kami.


" Nah kan, pantas waktu anak saya yang nomer 4 menikah penghulunya sudah bukan beliau lagi. Saya dua kali bertemu waktu nikahnya anak pertama sama yang kedua." Ayah malah bercerita.


" Ayah sudah, nanti urusannya nggak selesai kalau pak petugas diajak ngobrol," tegurku sebelum ayah makin ngalor ngidul bicaranya.


Kebiasaan ayah jika bertemu orang lain, selalu ingin mengajak ngobrol dan nggak lihat situasi. Maklumlah orang tua, apalagi ayah telah lama pensiun sehingga jarang keluar rumah. Sekali keluar banyak yang ingin diungkapkan.


Sekitar setengah jam petugas menanyai kami dan mencatatnya di buku besar. Hari dan tanggal sudah ditentukan. Ketika petugas bertanya apakah perjanjian nikah akan dibacakan oleh calon suami , aku langsung bilang, " Ya Pak, harus dibacakan ! "


Mas Raka menolehku seraya tersenyum, aku juga tersenyum. Petugas mengangguk setuju dan mencatatnya. Ia menunjukkan perjanjian nikah yang harus dibaca mas Raka nanti sesudah akad nikah.


Bunyinya antara lain, Sesudah akad nikah saya ( nama ) bin ( nama) berjanji dengan sesungguh hati akan mempergauli istri saya sebaik-baiknya dst dst.


Tidak semua calon suami harus membacakan perjanjian tadi, tapi aku menginginkan mas Raka membacanya. Untuk meyakinkan hatiku jika ia bersungguh-sungguh menikahiku dan akan membahagiakanku. Ia pun tak keberatan.


" Terima kasih ya Pak, kami permisi." Pak Yusuf membalas dan berpamitan. Kami semua bersalaman dan meninggalkan tempat ini.


Tiba di depan kelurahan lagi, ayah turun dan berjalan meninggalkanku dan mas Raka.


" Ayah mau ke mana, biar diantar mas Raka sampai rumah. Aku jalan kaki saja ! " seruku memanggil dan setengah berlari kukejar ayah.


" Kamu pulang sana, atau ke warung lagi. Ayah mau ke tempat paman Hardi." Ayah menyuruhku meninggalkannya.


" Tapi mau apa Ayah ke sana ? Kan ibu bilang ayah tidak boleh pergi jauh. Besok kalau mengundang mereka via online saja. " Kucegah ayah supaya tidak pergi.


Paman Hardi adalah adik dari ayah yang rumahnya masih satu kota tapi beda kecamatan dengan kami. Meskipun begitu kami jarang bertemu, hanya jika ada acara penting saja. Paman Hardi seorang pensiunan polisi, punya empat anak. Putra putrinya bekerja di luar kota, di rumah hanya ada putri bungsunya yang belum menikah.


" Paman Hardi itu adik ayah dan rumahnya juga tidak jauh, masih sekota dengan kita. Ayah ke sana juga tidak berniat mengundang, hanya ingin memberitahu dia kalau sebentar lagi tugas ayah selesai.. Semua anak ayah telah menikah. Terserah dia mau hadir atau tidak. " Ayah berkata dengan bangga.

__ADS_1


Tapi aku khawatir kalau ayah benar-benar ke rumah paman Hardi. Soalnya sudah lama ayah nggak bepergian apalagi naik kendaraan umum sendirian. Namun aku tidak bisa mencegah, nggak mungkin juga aku meminta mas Raka mengantarnya. Ayah juga tentu nggak mau. Mungkin ayah kangen dan ingin bersilaturahmi.


" Ya sudah kalau gitu Ayah hati-hati ya. Atau aku pesenin taxi online aja gimana? " tawarku.


" Nggak usah ayah naik angkot saja. Sayang duitnya , kan ayah cuma sendirian ," ujar ayah.


" Terserah Ayah deh, ini buat ongkos kendaraan nanti. Nanti kalau turun nggak usah buru-buru ya, hati-hati pokoknya ! " pesanku lagi.


Aku dan mas Raka berniat menemani sampai ada angkot, tapi ayah menolak dan menyuruhku pergi. Akhirnya kuturuti saja, maklum orang tua. Kami pun pulang ke rumah dulu mengembalikan dokumen keluarga yang tadi kufotocopy.


" Mbak Nia, aku langsung ke warung makan ya. Itu tadi ayah malah mau ke rumah paman Hardi. Sudah kucegah tapi tetap ngeyel, katanya cuma pingin ketemu dan memberitahu kalau sebentar lagi tugas ayah sebagai orang tua selesai. Nggak tahu maksudnya apa. " Kuberitahu mbak Nia agar dia tak mencari-cari. Tak lupa kusimpan lagi dokumen keluarga ke dalam lemari.


" Haduuh ayah ada-ada saja. Mungkin perasaanya sudah lega dan puas, karena kelima anaknya sudah menikah berarti memang tugasnya selesai. Terus sekarang mau mamerin ke paman Hardi, kan Sita belum dapat jodoh sampai sekarang, hehehe ! " sahut mbak Nia sampai terkekeh.


" Iya kali, hehehe ! " balasku juga ikut terkekeh. Sita itu putri bungsunya paman Hardi. Dia sebaya mbak Nia tapi sekolahnya lebih dulu soalnya mbak Nia kan telat.


" Sudah ah aku mau ke warung, " cetusku lalu kutinggalkan mbak Nia yang sedang nonton FTV. Arkana tertidur di sofa.


" Mau ke mana sekarang, kalau ke warung kayaknya tanggung udah sore juga. Ke rumahku aja yuk ! " ajak mas Raka di tengah perjalanan.


" Tapi kalau mereka menungguku gimana? " tanyaku nggak yakin. Takutnya ibu marah kalau aku nggak menyusul ke warung.


" Halah, ibu juga maklum kalau kamu lagi mengurus pendaftaran nikah. Sudah ada mbak Sri kan, " bujuknya lagi


" Oke deh," cetusku lalu kerekatkan pelukanku di pinggangnya. Ia pun menggenggam tanganku di perutnya.


Lega juga akhirnya hari bahagia segera tiba. Tak sabar rasanya duduk di pelaminan bersama mas Raka.


______________


Sudah dulu ya gaes. Author tunggu lagi like dan komennya.


Yang banyak ya say, lope sekebun buat readers .

__ADS_1


Thanks !


__ADS_2