
Di dalam bis Raka memilih tempat duduk yang berisi 3 kursi supaya kita bertiga bisa duduk dalam satu deretan. Mbak Santi duduk dekat jendela, aku di tengah dan Raka di pinggir.
" Kamu sudah lama jalan sama Raka ? " tanya Santi. Aku menyebutnya Santi saja nggak usah pakai ' Mbak'.
" Belum lama sih, baru sebulan lebih," jawabku seraya melirik ke Raka. Rupanya dia tertidur.
" Oh gitu, kalian satu sekolah ? Atau kenal di pasar? " lanjutnya lagi.
" Enggak, aku sekolah di SMA Negeri , 1 tingkat di atasnya Raka. Sebenarnya dari dulu kita sudah saling tahu karena ibuku berjualan di warung makan tak jauh dari kiosnya bu Harti. Tapi waktu itu kita masih SMP belum saling kenal. Baru sekitar 2 bln yang lalu kita bertemu lagi lalu Raka menemuiku di warung makan." Aku menceritakan awal mula hubunganku dengan Raka.
Santi juga bercerita tentang hubungannya dengan keluarga Raka. Ternyata dia enak diajak mengobrol. Sepanjang perjalanan dia tak henti berbicara, sampai aku terkantuk-kantuk mendengarkannya.
Satu jam lebih beberapa menit perjalanan kita akhirnya sampai di Jogjakarta. " Kita makan dulu aja yuk ! Sekalian ngadem, nyari warung yang nggak begitu ramai."
Santi mengajak ke sebuah warung ' Bakso dan Es ' yang berada di ujung terminal. Tempatnya bersih dan teduh karena di depannya ada pohon besar juga ada taman. Pengunjungnya juga nggak berdesakan hingga kita nggak merasa gerah.
" Aira mau minum es teh atau es campur? " Dia menawariku saat sudah memilih tempat duduk dekat jendela.
" Teh hangat saja," jawabku sembari duduk di sebelahnya. Raka duduk di sebelahku, berhadapan dengan Santi.
." Aku mau es buah saja," kata Raka pada Santi. " Oke kalau gitu bakso 3, teh hangat 1 ,es buah 2 ya." Santi menulis pesanan di secarik kertas yang sudah disediakan di atas meja. Tak lama pelayan datang lalu ia menyerahkan kertas tersebut.
Setelah selesai makan bakso, sembari minum es buah Santi menelpon temannya. " Hallo, jemput aku ya ! Aku di terminal, di warung ' Bakso dan Es ' dekat taman. "
Tak terdengar apa yang dikatakan temannya di ujung telpon. " Oke, aku tunggu ! " sahut Santi lalu ia menutup telponnya dan duduk kembali sambil menghabiskan es buahnya.
" Kita sholat dulu aja, biar mbak Santi menunggu temannya." cetusku. Raka menyetujui. Kami pun bergegas menuju musholla yang ada di terminal ini.
" Habis ini kita ke Malioboro yuk ! " ajak Raka sekembalinya kita dari musholla. Aku mengangguk pelan seraya meneguk tehku. Raka menyendok sepotong buah dari mangkuknya dan menyuapkan ke mulutku. Aku menuruti saja.
" Seger kan, makanya tadi kenapa malah minta teh hangat," katanya lagi. Aku menatapnya. " Kan tadi ibu bilang nggak boleh minum es soalnya aku minum obat anti mabuk," sahutku.
" Minum obatnya kan tadi, ini sudah berapa jam berlalu." Raka masih menyuapiku." Buktinya ini nggak apa-apa kan." Ia meyakinkanku.
" Ya nggak apa-apa orang cuma sedikit, esnya juga udah cair semua. Lagian aku kalau cuaca panas minum es suka pusing. Dari pada kenapa-kenapa cari amannya saja deh." Aku memberikan alasan.
Beberapa menit kemudian temannya Santi datang, seorang cewek yang mengendarai mobil sedan. Ia menyalami kami bertiga. Raka mengangkat tas dan barang bawaan Santi ke dalam bagasi mobilnya. Setelah berbasa basi mereka pun meninggalkan tempat ini.
__ADS_1
" Akhirnya bisa berduaan lagi, setelah kemarin sempat tertunda." Raka berkata sembari merangkul bahuku. Ia mengajakku naik bis kota yang sedang menunggu penumpang. Tak berapa lama bis pun berjalan.
" Awas hati-hati ! " Ia menggandeng tanganku saat bis berhenti di halte jalan Malioboro. Kami pun turun dan berjalan kaki memasuki pasar Beringharjo.
" Lihat- lihat dulu mana tahu ada yang kamu suka," ucap Raka. Ia masih menggenggam tanganku.
" Oh iya, memangnya kamu nggak kuliah kok malah mengantar mbak Santi dan mengajakku. Tahu gitu aku nggak usah ikut kan kamu bisa langsung balik ke kost." Aku sampai lupa menanyakan ini pada Raka, ya Tuhan apakah ia jadi bolos kuliah ?
" Kalau aku kuliah nggak mungkin aku mengajak kamu. Kemarin memang sudah sempat masuk 2 minggu, terus minggu ini ada tugas observasi jadi nggak harus ke kampus tiap hari. " Raka pun menjelaskan yang sebenarnya. Aku jadi lega.
" Oh iya, nanti aku ajak kamu ke tempat kostku. Aku mau menaruh pakaian yang kubawa dari rumah tadi, biar besok bawaannya nggak berat. Nggak papa kan ? " Ia menanyaiku dulu. Mungkin dia mengira aku keberatan.
" Nggak papa dong, aku juga ingin tahu seperti apa kamarmu. Jangan-jangan berantakan, hihi ! " Aku tertawa kecil.
" Enggak lah ya, gini-gini aku juga rajin menata dan membersihkan kamar." Raka membela diri. Ia mengajakku berkeliling Malioboro sembari menggandeng tanganku.
Raka juga mengajakku melihat gedung-gedung di sekitar Malioboro ini. Tak ketinggalan juga ke benteng Van Der Burg, Sesekali kita berhenti untuk berfoto.
Setelah puas berjalan-jalan kita sholat Ashar dulu di masjid terdekat. " Beneran kamu nggak pingin beli sesuatu, kaos apa daster gitu ? " tanya Raka seusai sholat. Kita duduk di teras masjid sembari beristirahat sejenak.
" Nggak usah, bajuku udah banyak. Lagian aku nggak pernah pakai daster di rumah, kayak emak-emak ih ! " Aku menolak tawarannya.
Di dalam bis Raka tak berhenti bercerita. Ia menjelaskan apa yang terlihat di luar selama perjalanan. Begitu juga saat bis melewati depan kampusnya. Ia antusias menunjukkannya padaku.
" Sudah sampai, yuk turun ! " ajak Raka lalu berdiri. Ia mengambil tas ransel yg ia taruh di atas kursi penumpang, berikut tas plastik besar berisi oleh-oleh.
" Yang ini biar aku yang bawa, tas kamu kan udah berat." Aku mengangkat tas plastik berisi oleh-oleh.
" Nggak apa-apa lagi, sudah biasa cowok bawa yang berat-berat. Sini aku saja yang bawa, ransel bisa kugendong kan. Kamu cukup pegang tanganku saja." Raka nggak mengijinkanku membawa tasnya.
Tempat kost Raka berjarak kira-kira 200meter dari jalan raya. Setelah turun dari bis tadi kita berjalan memasuki gang, dan sampailah kita di tempat kost. Ada beberapa kamar di sini, entah penghuninya lagi pada ke mana.
Raka menurunkan ransel dan menaruh tas plastik yang dibawanya. Ia mengeluarkan kunci dari kantung ransel lalu membuka pintu. Aku duduk di kursi teras sementara dia masuk ke kamar.
" Silahkan masuk tuan putri." Ia menyuruhku masuk setelah membereskan kamarnya. Kulepas sepatuku, lalu masuk ke kamar Raka yang sudah rapi dan bersih. Pintu kamar dibiarkan terbuka oleh Raka.
Beberapa teman kost Raka mulai berdatangan. Ada yang baru pulang kerja ada juga yang baru pulang kuliah.
__ADS_1
" Hai Raka, tumben sudah pulang. Eh, ada cewek ternyata ! " celetuk teman yang tinggal di sebelah kamar Raka. Ia melihatku seraya tersenyum.
" Aku masih libur. Oh iya ini temanku, tadi habis mengantar sepupu terus kuajak mampir ke sini." Raka menjelaskan pada temannya.
" Teman apa teman ? " Ia mengerling nakal ke arah Raka. " Iya ini cewekku, mau apa lo ! " seru Raka kemudian sambil melempar sepatunya ke kaki temannya.
" Ha ha ha , ngaku juga akhirnya ! " teriak temannya lalu berlari masuk ke kamarnya.
Raka pun menggerutu mengatai cowok tadi. Aku sempat tersipu juga saat tadi Raka bilang kalau aku ceweknya.
Krik krik krik ! HP ku berbunyi. Kuambil dari dalam tas selempangku dan kubuka. Ada pesan WA dari mbak Nia.
[ Aira kok belum pulang. Ini ibu sudah nanyain dari tadi . Kamu baik-baik saja kan ]
[ Iya Mbak, aku baik kok. Ini lagi di tempat kost Raka naruh pakaian. Sebentar lagi pulang kok ]
[ Ya sudah, ibu khawatir takutnya kamu pusing. Pulangnya jangan malam-malam. ]
[ Oke , ini juga lagi siap-siap pulang .]
Mbak Nia nggak membalas lagi. Kututup HP ku dan kumasukkan lagi ke dalam tas.
" Sudah sore banget, kita pulang yuk ! Ini mbak Nia barusan kirim pesan, katanya ibu sudah nanyain kok aku belum pulang." Aku mengatakannya pada Raka. Ia tengah tiduran di ranjangnya, aku duduk di dekat pintu.
" Ya sudah, tapi aku mandi dulu ya. Kamu mau mandi nggak ? " Aku menggeleng. " Aku kan nggak bawa pakaian ganti. Kamu cepetan mandinya biar nggak kemalaman."
Raka pun bergegas mandi. Ia membawa pakaian ganti sekalian karena nggak mungkin dia memakai baju di kamar. Kan ada aku di sini.
" Aku mengepak oleh-olehnya dulu ya," ucapku. Tanpa menunggu jawaban kumasukkan belanjaan kami tadi ke dalam tas ransel ,setelah lebih dulu mengeluarkan baju-baju Raka. Aku juga menata baju-bajunya ke dalam rak susun di samping ranjang.
" Aira, kamu lagi apa ? " tanya Raka saat keluar dari kamar mandi. " Ini cuma merapikan saja kok." sahutku. Aku masuk ke kamar mandi untuk buang air dan cuci muka dulu biar segar.
" Nanti sholat Magrib di jalan saja ya, biar nggak kemalaman." cetusku .Raka mengangguk. Aku membenahi pakaian dan jilbabku yang berantakan. Sepuluh menit kemudian kami keluar dari kamar kost. Tak lupa Raka mengunci pintunya.
" Don, aku pulang dulu ya. Besok pagi aku sudah balik ke sini lagi." Raka berpamitan sama Doni, temannya yang sedang merokok di teras.
" Hati-hati bawa cewek, hehehe ! " Doni berkelakar lagi. Raka meninju lengannya, Doni pun meringis.
__ADS_1
_________________
Bersambung ya gaes..