Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 134 Hari Bahagia


__ADS_3

" Saya terima nikah dan kawinnya, Aira Khairunnisa binti Wahyu Sasmita dengan mas kawin tersebut, tunai ! "


Sambil berjabatan tangan dengan ayah, dalam satu kali nafas mas Raka mengucapkan akad nikah dengan lancar.


" Bagaimana para saksi ? " tanya pak penghulu.


" SAH....! " seru yang hadir di ruangan ini.


Alhamdulillahirobbil alamiin. Semua mengucap syukur karena ijab qabul telah dilaksanakan. Aku mencium tangan mas Raka, kemudian kami juga bersalaman dengan ayah dan ibu. Orangtua mas Raka tidak hadir, hanya ada perwakilan keluarga yaitu mas Adi, pamannya yang berjualan pakaian di pasar. Serta sepupu mas Raka, adiknya Santi yang cowok , karena dia lagi liburan. Dan juga paman yang tinggal di belakang rumah.


Sesuai dengan catatan saat mendaftar, sesudah akad nikah mas Raka membaca taklik atau perjanjian nikah, kemudian menanda tanganinya. Terharu rasanya melihatnya membaca kalimat taklik tersebut.


" Sesudah akad nikah, saya Raka Dewantara berjanji dengan sesungguh hati, akan melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Dan akan mempergauli istri saya Aira Khairunnisa dengan sebaik-baiknya, dst, dst. "


" Buku nikahnya menyusul ya, paling seminggu kemudian, " ujar bapak petugas.


Setelah menyalami para petugas KUA kami pun berpamitan. Para pengantar telah menunggu di luar gedung sejak tadi. Seusai akad nikah tadi mereka memang langsung keluar dan hanya tinggal pengantin, wali dan saksi yang masih di dalam ruangan.


" Tuh dia pengantinnya sudah keluar, yuk pulang yuk ! " seru mbak Nia dan mbak Rina. Mbak Tika tidak ikut karena repot dengan babynya. Begitu juga dengan mbak Risma.


Yang lain naik ke mobil, sementara aku dan mas Raka juga ayah, serta mbak Nia dan Arkana naik delman. Sama seperti saat berangkat tadi. Mas Raka memang sengaja menyewanya karena kebetulan kusir delmannya masih tetangga desa. Tentu saja kami jadi pusat perhatian karena jarang-jarang ada pengantin yang datang ke KUA menaiki delman. Arkana juga girang banget.


" Senang ya Sayang, naik kuda ya ! " seru mbak Nia sambil memeganginya. Si bocil ini nggak mau dipangku, minta duduk sendiri di depan.


Tak berapa lama akhirnya kami sampai rumah juga. Para pengantar sudah sampai dari tadi karena semuanya diminta kembali ke rumah, termasuk pak Yusuf saksi dari kelurahan. Mbak Risma dan mbak Tika menyuguhkan minuman dan makanan kecil.


" Ayo makan dulu, sudah disiapkan kok ! " ajak ibu mempersilakan para tamu.


Di meja makan telah tersaji nasi beserta sayur dan lauk pauk. Bu Hasna dan bu Tiya yang memasak sejak pagi tadi.


" Monggo lho Pak, Bu, silakan dinikmati seadanya," ibu mempersilakan.


Kami berdua ikut menemani para tamu makan. Aku mengambilkan nasi dan lauk buat mas Raka. Sepupunya menggoda kami.


" Ciyee sekarang mau makan aja ada yang meladeni ," celetuknya.


" Iya dong, memangnya kamu jomblo terus." Mas Raka membalasnya.


" Aku kan masih kuliah, belum terpikir buat pacaran apalagi nikah, hehe ! " sahut sepupunya tak mau kalah.


" Makan jangan sambil bercanda nanti keselek ! " tegurku menengahi mereka.


Mas Adi dan paman mas Raka hanya tersenyum.


" Mbak Aira, mas Raka, saya pamit dulu. Masih banyak pekerjaan di kantor ! " ucap pak Yusuf yang tiba-tiba mendekati kami.

__ADS_1


" Oh ya, sudah makan belum Pak Yusuf ? " tanya mas Raka sembari mengambil amplop di saku bajunya.


" Sudah Mas, permisi Assalamualaikum ! " ucapnya seraya berjalan keluar.


" Waalaikum salam, terima kasih banyak ya Pak," Mas Raka menyalaminya sambil menyelipkan amplop.


" Sama-sama, terima kasih Mas," balas pak Yusuf.


Para tamu yang lain juga ikut berpamitan. Tinggal saudara-saudaraku yang tengah sibuk di dapur dan ruang keluarga, melanjutkan tugas masing-masing untuk persiapan hajatan. Aku masih duduk di ruang tamu bersama mas Raka.


" Kamu udah bawa baju ganti kan Mas? " tanyaku menoleh padanya.


" Sudah, tadi kutaruh di kamar kan," sahut mas Raka sambil menggenggam tanganku dan menciumnya.


" Ke kamar yuk ! " bisiknya seraya mengedipkan mata.


" Nggak enak sama yang lain, malu Mas," tukasku berbisik pula.


" Malu kenapa, mereka juga pernah merasakan seperti kita sekarang. Pasti maklum lah, ayo! " bujuk mas Raka lagi seraya menarik tanganku.


Kami pun masuk ke kamar, mas Raka mengunci pintunya kemudian berbalik dan langsung memelukku.


" Mas, nanti kalau ibu menegurku gimana ? Masa yang lain lagi sibuk kita malah di kamar." Kudorong mas Raka agar melepaskan pelukannya.


Namun ia malah semakin mempererat dan mengukungku sampai tak bisa bergerak. " Kamu lupa ya, kita kan baru saja menikah. Ibarat sinetron kita ini pemeran utamanya, masa harus ikut bekerja. Tugas kita ya begini ini, hmm.. mmh.." Ia menciumi seluruh wajahku, sampai tak ada yang luput dari kecupannya.


" Huuuh, baiklah Tuan putri." Mas Raka bersungut-sungut lalu membuka pintu kamar. Kami pun keluar.


Di ruang keluarga nggak ada siapapun, sepertinya mereka lagi di belakang. Babynya mbak Tika tidur di kamar ibu. Arkana lagi main sama Nino anaknya mas Bayu, ditemani kakeknya di teras depan.


" Aku ke teras dulu ya, ada ayah tuh! " kata mas Raka sembari berjalan keluar.


" Aku juga mau ke belakang bantu-bantu yang ringan," cetusku. Aku mencari kakakku yang sedari tadi nggak ada suaranya.


" Di sini semua rupanya," celetukku saat masuk ke dapur. Bu Hasna dan bu Tiya memasak di teras belakang, dengan tungku dari batu bata.


" Eeh, pengantin jangan masuk ke dapur, pamali. Nanti bau asap, sana di kamar saja ! " tegur bu Tiya menggodaku.


" Saya kan mau bantu-bantu juga, Bu," sahutku tersipu.


" Nggak usah, sudah ada yang bantuin. Pengantin duduk saja di depan," sambung bu Hasna. Ibu juga menyuruhku ke depan.


" Sana temani suamimu, kok malah ditinggal ke dapur. Sekarang sudah jadi istri lho kamu, harus melayani suami. Ke mana-mana juga mesti minta ijin suami," ujar ibu menasehati.


" Kan cuma ke dapur, mas Raka juga lagi main sama ponakan-ponakan di depan." Aku berkilah.

__ADS_1


" Pasti karena kamu menolak diajak ke kamar. Hayo ngaku aja ! " seru mbak Rina tiba-tiba.


" Apaan sih Mbak Rina, malu kan siang-siang udah masuk ke kamar," balasku mengelak. " Daffa kok nggak diajak sih Mbak? " lanjutku mengalihkan topik.


" Kan dia sekolah, besok Sabtu dia ke sini sama papanya. Mas Krisna juga belum libur." Mbak Rina memberitahu.


" Sama, Stella juga sekolah. Tapi nanti pulang pasti langsung kemari." Mbak Tika menimpali.


Aku nggak jadi masuk ke dapur. Kuhampiri mas Raka yang lagi mengobrol sama ayah sembari mengawasi dua bocil yang tengah berlarian.


" Kok keluar, nggak jadi bantu-bantu? " Mas Raka menatapku heran.


" Pengantin tidak boleh masuk dapur katanya. Nanti bau asap, hehehe," Kubilangi mas Raka. Ia pun menanggapi dengan tertawa.


_________


Sehabis sholat Isya dan makan malam mas Raka menarikku ke kamar. Aku terkejut, untung yang lain tidak memperhatikan karena sibuk dengan urusan masing-masing.


" Masih sore Mas, buru-buru amat sih," ucapku ketika sudah berada di kamar.


" Sudah jam 8 Sayang, masa dibilang sore. Udah nggak sabar nih ! " cetusnya lantas mendorongku ke dinding kamar. Kedua tangannya mendekapku.


" Tapi yang lain belum pada tidur," elakku mencoba mengulur waktu.


" Tidak usah memikirkan mereka, kamu mau aku mati berdiri karena menahan sesuatu. Lihat tuh di bawah, ada yang meronta," Mas Raka menyeringai sambil menunjuk ke bawah perutnya. Nampak ada sesuatu yang menonjol dari dalam celananya.


Diangkatnya tubuhku lalu dihempaskannya di atas kasur. Ia menindihku dan tidak memberiku kesempatan untuk bicara lagi. Dibungkamnya mulutku dengan mulutnya. Tangan kirinya memegangi tanganku, tangan kanannya mulai bergerak ke tubuhku. Aku tak mengelak lagi.


Setengah jam kemudian kami sama-sama kelelahan. Mas Raka mencium keningku.


" Terima kasih Sayang, ini benar-benar berkesan," bisiknya lembut.


Aku tersenyum meskipun menahan perih di ************ pahaku. " Tapi masih sakit Mas," ucapku sambil meringis.


" Pertama memang sakit, tapi lama-juga enak. Malah minta nambah kamu nanti, hihihi," Mas Raka meledekku.


" Apaan sih, kamu tuh yang ketagihan." Aku tersipu. Mas Raka tertawa geli.


" Hehehe , sekarang malu-malu. Besok pasti menawarkan diri, aw aw.. aduh ! " Kucubiti perut mas Raka yang masih dibalut selimut.


"Sudah ah, keluar dulu yuk. Bergabung sama yang lain. Tapi nanti lanjut lagi ya Sayang," pintanya sambil mengerling nakal.


Kami segera memakai pakaian kembali. Mas Raka keluar lebih dulu. Setelah memakai jilbab instant aku juga keluar kamar.


Kakak-kakakku menatap sambil tersenyum menggodaku. Aku pura-pura cuek dan menyusul mas Raka ke teras depan.

__ADS_1


__&&&__&&&&


Sekian dulu gaes. Tungguin terus ya !


__ADS_2