Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 70 Sederhana Tapi Berkesan


__ADS_3

Flash back on.


Nggak sabar menunggu waktu pulang. Semua pekerjaan kuselesaikan dengan cepat. Ibu dan mbak Sri sampai terheran-heran.


" Buru-buru amat Mbak Aira, memang mau diajak ke mana sama mas Raka ? " tanya mbak Sri kepo.


" Nggak ke mana-mana. Pingin cepat pulang aja," sahutku ringan seraya mengambil wudhu lalu sholat Ashar. Setelahnya aku berbaring sejenak karena masih menunggu ayam yang dimasak ibu buat besok. Untung tadi lekas kupotong dan kucuci sehingga bisa langsung dimasak. Paling 15 menit lagi matang.


" Mbak Sri pulang saja dulu, semua sudah selesai kok, " ujarku pada mbak Sri. Ia pun mengambil tasnya lalu pamit sama ibu.


Benar saja, tak berapa lama ayamnya matang dan ibu pun mematikan kompornya. Bergegas kuangkat keranjang belanja yang biasa kubawa. Setelah mengunci pintu kita berdua pulang jalan kaki.


Sampai di rumah buru-buru kutaruh keranjang di dekat meja makan lalu aku masuk kamar.


" Aira kenapa sih lari-larian gitu. Kaya orang kebelet, tapi kok masuknya ke kamar. " Kudengar mbak Nia bergumam.


" Dia buru -buru mau membuka oleh-oleh dari Raka. Tadi Raka pesan supaya dibuka di rumah, makanya dari tadi nggak sabar pingin cepat pulang. " Ibu yang baru tiba pun memberi tahu Mbak Nia alasanku kenapa berlari-larian.


" Halaaah, lebay ! Kalau penasaran tinggal dibuka aja tadi. Ngapain nuruti Raka dibuka di rumah, toh dia juga nggak lihat." Mbak Nia menggerutu.


" Yeee, biarin. Yang namanya cinta itu saling percaya, nggak boleh bohong. Mbak Nia kayak nggak pernah ngalamin aja , dulu kalau dibeliin sesuatu sama mas Joni suka teriak-teriak heboh. " Aku berseru dari kamar nggak mau kalah, ku ingatkan lagi tingkah mbak Nia waktu itu .


Akhirnya dia terdiam. Rasain, dia pikir dia paling bener, nggak bisa lihat adiknya seneng.


.Waww keren ! Dua buah kerudung segi empat berwarna biru tua dan mocca. Ada motifnya sedikit jadi nggak terlalu ramai. Benar-benar sesuai seleraku. Kok Raka bisa tahu ya, seleraku yang seperti ini. Kuambil HP dan ku telepon Raka.


[ Hallo Raka, makasih ya kerudungnya. Baguuus banget, kamu tahu aja seleraku. Apa cuma kebetulan hehehe ] Aku tertawa. Raka langsung menjawab.


[ Ya jelas dong, aku kan tahu betul baju maupun kerudung yang sering kamu pakai. Motif dan warnanya hampir serupa, simpel dan kalem. Berarti selera kamu memang yang seperti itu. ]


[ Ternyata diam-diam kamu perhatian sama aku ya, sampai hal kecil saja kamu hafal ]

__ADS_1


[ Tentu hehehe, kamu suka ya kerudungnya ]


[ Suka bangeeet, makasih sayang ]


[ Udah dulu ya, udah Magrib nih. Besok kan aku mau test dan interview jadi malam ini aku mau ketemu mbak Evi dulu mau tanya-tanya gimana besok ]


[ Iya aku juga mau mandi, bye ] Kumatikan telepon dan kutaruh HP di meja. Bergegas aku wudhu dan sholat.


" Dikasih oleh-oleh apa sama Raka ? " tanya ibu ketika kami sedang makan malam. Aku masuk ke kamar mengambil kerudung dari Raka, ku perlihatkan pada ibu.


" Ini kerudung segi empat, bagus kan Buk. Warnanya juga pas dengan seleraku. Motifnya juga bagus simpel. Kata Raka ini belinya di Jogja ," terangku.


Ibu mengamatinya lalu mengangguk-angguk. " Kok Raka bisa memilih yang sesuai dengan selera kamu. Biasanya laki-laki nggak faham soal beginian." Ibu agak heran juga kenapa pilihan Raka bisa cocok denganku.


" Tandanya dia benar-benar perhatian sama kamu, sampai hal kecil saja dia paham betul." Mbak Nia yang baru menidurkan Arkana ikut menimpali. Dia mengambil kerudung yang dipegang ibu, lalu dipakai di kepalanya sambil mematut di cermin.


" Udah bawa sini nanti kusut. Besok mau kupakai." Kuminta kerudungku dari tangan mbak Nia.


" Yaelah pelit amat, baru dicoba sebentar langsung diambil ." Dia mencebikkan bibirnya.


Sekalipun hanya kerudung segi empat, tapi aku senang. Itu hasil dari dia bekerja di meubel ukir. Oleh-oleh yang sederhana namun cukup berkesan. Karena di saat dia nggak sempat mengirim pesan tapi dia malah ingat membelikan sesuatu untukku. Dan yang bikin terharu lagi, dia tahu yang kumau.


Kupadu padankan dengan blouse yang ada di lemariku. Beruntung aku punya kemeja cewek berwarna biru dan blouse warna krem. Kurasa cocok dipasangkan dengan jilbab segi empat ini.


" Besok aku mau pakai yang warna mocca," gumamku. Lalu kupakai jilbab segi empat warna mocca tadi. Setelah rapi semua aku mengambil HP di atas meja, dan cekrek ! Kuambil foto selfi dengan pose yang manis. Kukirimkan ke nomernya Raka. Send.


Lima menit kemudian, [ Cantik banget ! Makasih ya, kamu suka dan mau memakai pemberianku yang nggak seberapa. Mungkin lain kali aku bisa membelikan yang lebih bagus dan lebih mahal ]


[ Kamu apaan sih, justru aku yang terima kasih karena kamu ternyata selalu memperhatikanku. Bukan soal harga yang kulihat, tapi ketulusanmu. Btw makasih pujiannya 😊😍 ]


[ Sama-sama, pokoknya aku janji. Kalau aku sudah kerja nanti, gaji pertama aku kasih ke kamu . Aku tadi sudah ketemu mbak Evi, pokoknya aku harus pede katanya ]

__ADS_1


[ Iya aamiin, sukur deh. Sudah dulu ya, sukses buat besok ]


Flash back off.


_______________


Beberapa bulan kemudian. Tak terasa hubunganku dengan Raka sudah satu tahun lebih. Kita hampir setiap hari ketemu karena pekerjaan Raka sistem shift sehingga dia punya banyak waktu untuk bertemu denganku. Para tetangga sudah mulai sering menggodaku, kapan nikahnya.


" Raka, kapan kamu mau melamar ku? " tanyaku suatu malam sepulang dari rumahnya. Akhir-akhir ini dia sering mengajakku berkumpul dengan keluarganya.


" Apa kamu sudah siap nikah, aku kan baru berapa bulan bekerja. Tabunganku belum cukup kalau buat menikah." Raka meragukan permintaanku.


" Tapi kan nikah nggak harus ngadain pesta ,yang penting Sah. Masa kita begini-begini terus. Setiap ketemu kita cuma makan, ngobrol sampai malam lalu pulang. Aku udah capek kadang sampai mengantuk tapi masih harus mondar mandir dari rumahmu terus ke rumahku.." Aku berkata setengah kesal karena capek seharian belum istirahat.


" Oh jadi kamu udah bosen sama aku ? " tanya Raka dengan intonasi yang agak keras. Ia menghentikan laju motornya dan menghadap ke arahku.


" Bukan begitu, iih kamu suka salah paham deh. Maksudku kalau kita sudah menikah kan nggak perlu mondar mandir kaya gini. Kalau ngantuk ya langsung tidur. Kamu nggak perlu pulang ke rumahmu, aku juga nggak harus pulang ke rumah. "


" Oh jadi kamu capek mondar mandir, kalau ngantuk mau langsung tidur, gitu." Aku mengangguk pelan. Raka menyeringai," Jadi kamu maunya kita tidur bareng nih ? " ia mengedipkan matanya.


" Iya, eh enggaaak. Gimana sih kamu , maksudku kita bisa tidur bareng setelah menikah. Kalau belum ya harus mondar mandir lagi kayak gini. Aku malu nanti tetangga pada ngomongin dan berpikiran negatif sama kita." Aku berkelit dari sangkaan Raka.


" Biarin aja tetangga ngomong apa, toh kita nggak ngapa-ngapain," tukasnya sembari menyalakan motor lagi. " Yuk pulang, nanti aku ditegur ayahmu kalau kemalaman. Ngobrolnya dilanjut besok." Aku melihat ke layar HP, jam 22.35 wib. Sudah malam, mudah-mudahan orang rumah sudah pada tidur.


Saat sampai di gang dekat rumah Raka mematikan mesin motornya, biar nggak mengganggu tetangga yang telah nyenyak tidur. Tiba di depan teras aku turun dengan wajah cemberut.


" Masih marah ya, aku nggak mau balik kalau kamu masih cemberut gitu. Biar dimarahi ayah ga papa. Dipelototin tetangga juga nggak papa. Digonggong anjing juga nggak papa, disiram... "


" Stop ! Iya iya aku nggak marah, sudah sana balik." Kuusir Raka dengan suara lirih, takutnya ayah atau ibu terbangun.


" Senyum dulu dong," pintanya seraya menyunggingkan senyum. Aku pun tersenyum membalasnya. Ia pun kemudian berbalik pulang.

__ADS_1


_____________________


To be continued gaes... jangan lupa like n komen.


__ADS_2