Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 113 Nasi Kotak


__ADS_3

" Enak banget baksonya Mas, beli di mana sih? " tanyaku saat kita makan berdua.


" Di seberang jalan depan tempat kerjaku. Tadi baru buka hari pertama, beli satu gratis satu. Aku coba beli sekalian bantuin promo. Kalau enak aku rekomendasikan ke rekan-rekan yang belum nyoba, hehe." Mas Raka mengeluarkan 4 bungkus bakso dari kantong plastik.


" Ini tadi aku beli 2 porsi, kan dapatnya 4 porsi," lanjutnya lagi.


" Kamu baik hati deh Mas, padahal kamu nggak kenal sama penjual baksonya," ucapku kagum.


" Tidak usah memuji nanti bajuku sesak karena badanku melar haha ! Sesama manusia harus saling menolong meskipun kita tidak kenal. Mana tahu suatu saat kita lagi kesusahan eeh mereka datang membantu. Bisa juga lewat orang lain." Mas Raka bicara sambil menunjuk-nunjuk.


" Ya pak ustad, hihi ! " celetukku cekikikan.


" Dikasih tahu malah ketawa, dikiranya aku ngelawak apa." Ia bersungut-sungut sembari meneruskan makan baksonya.


" Habisnya lucu, ngomong sambil nunjuk-nunjuk kaya lagi tausiyah aja, hihihi ! Habisin dulu baksonya baru pidato."


" Sudah habis, nih. Kamu tuh yang makannya lama. Ngunyah aja dihitung 33 kali, haha ! " Ia gantian meledekku sambil menunjukkan mangkuknya yang telah kosong.


" Aku kan keturunan ningrat jadi makannya pelan, nggak kaya kamu makan kaya kuli, wekkk ! " balas ku tak mau kalah.


" Aira, kalau makan jangan sambil bercanda nanti keselek ! " tegur ibu yang sedang mengolah ayam buat besok pagi.


Khusus ayam hanya ibu yang memasak sendiri, karena ibu tidak mau rasanya jadi beda jika dikerjakan tangan lain. Aku atau mbak Sri hanya menyiapkan bumbu dan memotong ayamnya.


Kuhabiskan baksonya lalu kucuci sekalian mangkuk-mangkuknya. Masih ada 2 bungkus bakso yang masih utuh, maksudnya buat ibu sama mbak Sri. Tapi karena sudah sore dan hendak memasak ibu pun menolak. Mbak Sri juga sudah terlanjur pulang.


" Dibawa pulang saja nanti makan di rumah," ujar ibu. Akhirnya kumasukkan saja dua bungkus bakso nya ke dalam keranjang supaya tidak kelupaan.


Beberapa menit berlalu, ibu telah selesai memasak ayam dan mematikan kompor. Aku juga sudah menata apa-apa yang mau dibawa pulang ke dalam keranjang.


" Kamu antar ibu dulu Mas, aku mau bersihin dapur," pintaku sama Mas Raka. Ibu sudah keluar sedangkan Mas Raka masih menungguku di dapur.


" Oke deh, ayo Bu saya antar pulang dulu." Ia mengajak ibu pulang.


Lantai dapur kusapu lalu aku pel , sesudahnya aku mencuci tangan. Sebelum keluar terlebih dulu aku cek kembali kompor dll. Setelah kurasa beres aku keluar lalu mrngunci pintu. Mas Raka kembali lima menit kemudian.


" Kita ke alun-alun dulu yuk ! " ajaknya.


" Oke," Kuikuti saja keinginan mas Raka. Sesampainya di alun-alun kita berhenti sejenak di taman kota sambil menikmati jajanan kesukaanku. Setelah hampir Magrib mas Raka mengajakku pulang.


" Mas Raka mau mandi di rumahku atau mau langsung aja? " tanyaku.


" Sebenarnya mau langsung pulang, tapi gimana ya. Besok kan kita nggak bisa malam Mingguan." Mas Raka menjawab ragu-ragu.

__ADS_1


" Hmm... bilang aja masih pingin berduaan sama aku, hehe. Ya udah yuk ! " ajakku .


Ia pun melajukan motornya menuju rumahku. Saat tiba di depan rumah nampak Ernest dan adiknya tengah menggelar karpet bersama seorang lelaki dewasa. Sepertinya mbak Yuni dan keluarganya juga telah datang. Ernest sempat melihatku namun mas Raka langsung menarik tanganku.


" Kenapa sih Mas, kok buru-buru amat ? "


" Aku udah gerah nih pingin cepet-cepet mandi," katanya seraya melirik ke arah Ernest.


" Ya sudah aku siapin handuk dulu." Aku masuk ke kamar lalu membuka lemari pakaian. Kuambil handuk yang masih bersih lalu kuberikan pada mas Raka. Ia pun melangkah ke kamar mandi.


Ibu yang baru selesai mandi keluar dari kamar lalu mengambil bungkusan bakso dari keranjang.


" Buk, itu di depan sudah mulai sibuk ya, Ernest kok menggelar karpet." Aku bertanya padanya.


" Iya kan mau kendurian, sebentar lagi habis Magrib," tukas ibu sembari menuangkan bakso ke dalam panci kecil.


" Tapi kok kemarin nggak ada masak-masak? " tanyaku heran. Aku sendiri hanya diminta melayani tamu, jadi nggak tahu menahu tentang persiapan masaknya.


" Semua sudah diserahkan sama catering. Mbak Yuni yang mengurusi. Bu Dirja yang cerita sama ibu waktu itu di teras. Tadi juga sudah datang pesanan nasi box buat kendurian." Ibu memberitahu.


" Ooh pantesan dari kemarin masih santai-santai saja. Iya lah orang kaya nggak mau ribet dan rumahnya kotor. Tinggal pesan semuanya beres," selorohku.


" Mungkin juga nggak mau merepotkan tetangga , kan dia sudah bukan warga di sini." Ibu berkata lalu masuk ke dapur untuk memanaskan bakso.


" Nia, ada bakso nih tadi Raka yang beli. Arkana pasti suka,"


Mbak Nia keluar bersama Arkana yang mengintil di belakangnya. Mereka makan bakso di meja makan.


Aku mengambil handuk di kamar. Mas Raka telah selesai mandi. Ia menyisir rambutnya sekalian sholat di kamarku.


" Ayah sudah ke masjid ya Buk ? " tanyaku ketika hendak ke kamar mandi.


" Iya, nanti sekalian ikut kenduri di depan. "


" Oya Buk, ngomong-ngomong siapa yang disuruh mengundang tetangga buat kendurian ? " Aku masih kepo.


" Katanya sih Mas Hari, biasanya juga dia kan. Bu Dirja yang memanggilnya lalu mbak Tatik minta tolong padanya." Mbak Nia yang menjawab pertanyaanku.


" Sudah sana cepetan mandi, tuh Raka sudah menunggu di depan ! " perintah ibu padaku. Aku bergegas lari ke belakang.


Usai memakai baju santai dan sholat aku ke dapur membikin kopi susu lalu kubawa ke ruang tamu.


" Ini kopi susu kubuat dengan penuh cinta untuk mas Raka seorang,hihihi." Kutaruh di atas meja sambil mencandainya.

__ADS_1


" Hmm, sok puitis." Mas Raka mencebikkan bibir. Aku cekikikan melihat wajahnya yang lagi monyong.


" Nggak usah merot-merot gitu Mas, bukannya lucu malah serem tahu, hahaha ! " kuledek dia sambil menahan tawa. Khawatir terdengar sampai depan rumah yang lagi pada tahlilan.


" Siapa yang ngelucu, ini lagi marah tahu nggak ! " ucapnya sambil pura-pura melotot. Aku masih menahan tawaku.


Mas Raka menghentikan aksinya. Ia mengambil kopi susunya lalu meneguknya sedikit demi sedikit karena masih agak panas.


" Gimana rasanya Mas, kalau kurang manis aku tambahin gula."


" Tidak usah banyak-banyak gulanya, kan manisnya ada di kamu, hehe." Ia tersenyum menggodaku. Aku jadi tersipu kalau lagi digombalin.


" Sekarang makin pinter ngegombal, tadinya ngomong sayang aja nggak pernah." Aku mencebikkan bibir.


Aku tahu Mas Raka suka gemes kalau aku monyongin bibir. Dan ketika dia menarikku mendekat padanya tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Ayah masuk membawa dua kardus nasi. Aku langsung bangkit dan mengambil alih kardusnya. Ayah cuma menuruti dan mengulurkannya padaku.


" Aira kaya anak kecil," gumam mas Raka. Aku menjulurkan lidah ke arahnya lalu membawa kardusnya ke ruang makan.


Mbak Nia saja tak kalah heboh denganku, ia juga langsung menyambut nasi kotak bagiannya. Mas Joni berhalangan hadir jadi jatah nasinya dititipkan pada ayah. Beginilah candaan kita jika ayah diundang kenduri. Kebiasaan waktu kecil dibawa-bawa hingga dewasa. Arkana juga ikut berlarian mengikuti ibunya.


Aku mengambil dua kue lalu kubawa ke depan. Kuberikan satu pada mas Raka.


" Buat kamu aja, aku masih kenyang. Tadi udah jajan di taman kota masih ditambah minum kopi susu." Mas Raka menolak.


" Ya udah buat aku aja," cetusku lalu kumakan pula kue yang satu lagi.


" Kamu tadi juga udah makan pempek sama batagor kan," celetuk mas Raka sambil memperhatikan aku makan.


" Kan ini lagi proses Mas, katanya aku disuruh makan banyak biar gemuk, " sahutku tanpa menolehnya.


Tak disangka Mas Raka mencubit pipiku. " Auw ! sakit Mas. Kok nyubit sih, huuuh! " seruku spontan karena kaget.


" Habis gemes lihat kamu makan kaya gitu, dijejal terus nggak ada jedanya."


" Huuuh, kamu mah lihat aku ngapain aja selalu gemes. Alasan mau cium aku kan ? " kugoda dia sambil mengerlingkan mata.


Mas Raka menggumamkan sesuatu. Pasti dia mau memeluk dan menciumku tapi khawatir terlihat oleh orang-orang di rumah bu Dirja. Nampaknya ada sebagian yang masih mondar mandir.


Aku geli melihatnya


_______________


Sudah dulu ya say, biar makin penasaran hehe !

__ADS_1


__ADS_2