Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 20 Hidupku Mulai Berwarna


__ADS_3

Siang harinya seusai murid-murid pulang , aku adukan sama mbak Murni dan yang lain tentang perlakuan Dodi tadi pagi.


" Nggak usah ditanggapi. Dodi itu memang playboy.


Hampir semua guru yang pernah mengajar di sini sudah dirayunya." Mbak Murni bercerita tentang Dodi. Kami mengobrol sambil makan gorengan yang dibeli di kantin istrinya pak Yanto.


" Iya, aku aja waktu pertama masuk ke sini juga dirayu. Untung waktu itu aku nggak menanggapi." ungkap bu Riris sambil mencomot rolade. Kemudian pak Yanto masuk membawakan pesanan kami 4 mangkuk es buah.


Bu Heni punya cerita lain lagi.


" Kalau sama aku dia belum sempat ngajak jalan. waktu itu dia baru tahap pdkt, dengan modus pura-pura mencari bu Diyah. Tapi ketika aku mau ke kamar mandi kok dia mengikuti. Langsung aku ambil sapu dan kupukul. Sampai sekarang dia ngga pernah lagi menyapaku, hahaha. " Bu Heni malah tertawa mengingat kelakuan Dodi.


" Mungkin dia malu, takut atau marah karena kupukul. Saat itu dia belum sempat membela diri soalnya keburu ada murid yang datang," lanjut bu Heni lagi.


" Sama mbak, tadi pagi dia juga mengikutiku ke dalam kelas. Pak Yanto sedang di kamar mandi. Untung aku segera keluar takut dia berbuat macam-macam. Terus ngga lama kemudian ada murid datang." Aku menceritakan kejadian tadi pagi.


" Memangnya dia itu kerja apa nggak sih ? kok tiap pagi momong ponakan," tanyaku kemudian pada mbak Murni. Mungkin dia lebih tahu karena sudah lama mengajar di sini. Sudah kenal baik juga dengan keluarga bu Diyah termasuk Dodi.


" Dia kan punya bengkel motor,ada karyawannya juga. Jadi kalau ke bengkel selalu siang.." Mbak Murni memberi tahu. Kemudian ia pun berpesan agar aku nggak perlu menanggapi kelakuan Dodi.


Aku pun meng iyakan pesan mbak Murni.


Setelah kejadian itu aku nggak mau lagi melihat Dodi. Setiap dia muncul aku selalu menghindar dan memilih mendekati anak- anak. Aku tidak memberi sedikit pun kesempatan dia mendekatiku.


Aku juga ngga pernah lagi berangkat pagi-pagi, khawatir kalau pas sendirian kemudian dia muncul dan berbuat macam-macam.


_________


Beberapa bulan kemudian.


Suatu malam mbak Nia mengajakku keluar untuk membeli nasi goreng. Sudah beberapa hari ini memang ada tukang nasi goreng yang sering lewat kampungku. Tapi dia nggak pernah masuk ke gang rumahku, hanya lewat jalan utama.


Biasanya abang penjualnya mangkal di depan rumah kak Vicky. Di situ juga ada warung mbak Yah karena rumah mbak Yah di sebelah rumah kak Vicky.


Sampai di tempat ternyata masih pada ngantri.


" Antri berapa Pak " tanyaku.


" Masih 5 orang Mbak," jawab bapak penjualnya.


"Kita pesen 2 porsi ya Pak," kata mbak Nia.


" Ya Mbak silahkan duduk dulu." sahut bapak penjual lagi.


Aku duduk di bangku sambil membuka HP. Di teras rumah kak Vicky kulihat Niko sedang main gitar dan bernyanyi- nyanyi bersama teman-temannya. Rumah itu memang sering jadi tempat nongkrong. Pemiliknya dengan senang hati mempersilahkan. Apalagi di sebelahnya ada warung mbak Yah juga, biar rame. Begitu kata ibunya kak Vicky.


Secara kebetulan Niko menengok ke arahku. Ia pun menghentikan petikan gitarnya dan menaruhnya di bangku panjang. Lalu ia pun bangkit dan berjalan menghampiriku.


" Hai ! lagi antri nasi goreng ya." Niko menyapaku dan duduk di sebelahku. Aku mengangguk.


"Sama siapa ? " tanya dia.


"Tuh sama mbak Nia." Aku menunjuk ke arah mbak Nia yang sedang mengobrol dengan mbak Yah di warungnya. Niko melihatnya sekilas lalu ia menengok ke arah penjual nasi goreng.


"Punyaku mana pak Rus? " ia bertanya kemudian menghampiri Abang penjual yang bernama pak Rus.


" Ini lagi dibikin Mas, " jawab pak Rus sambil terus mengaduk nasi bikinannya.


"Lagi ngantri juga ternyata," kataku saat dia kembali duduk di sebelahku.


" Iya, udah dari tadi padahal. Pak Rus suka gitu sama aku suka dilama-lamain." Niko tertawa. kecil. Pak Rus hanya tersenyum mendengar candaan Niko.


"Padahal aku pesan sejak habis magrib lho, hihi. "


Niko meneruskan gurauannya.


"Bohong Mbak, jangan percaya sama mas Niko, " sahut pak Rus seraya memberikan sepiring nasi goreng pada Niko. Aku cuma nyengir menatapnya.


Niko menyantap nasinya sambil mengobrol denganku. Ia terus saja berceloteh membuatku betah mengobrol lama sama dia.


" Kok makannya ngga sama gorengan? " tanyaku menghentikan celotehannya. Ia menggeleng.


" Tadi udah makan gorengan sama minum wedang ronde di mbak Yah. Nanti nggak muat perutku."

__ADS_1


Niko meringis sambil menepuk- nepuk perutnya. Aku pun tertawa dengan tingkah konyolnya.


Wedang artinya minuman.Jadi wedang ronde adalah minuman jahe ditambah berbagai toping untuk pelengkap


" Kamu lucu juga." Aku berkata di sela tawaku.


" Aku lucu cuma di depan kamu," sahut Niko masih tetap meneruskan makannya.


Tak lama pesanan kami sudah selesai. Aku memanggil mbak Nia. Ia menghampiriku dan membayar nasi gorengnya.


" Duluan ya Nik," seruku pada Niko. Ia mengangguk dan melambaikan tangan.


Aku dan mbak Nia pulang. Sampai rumah ibu dan ayah sudah tidur. Kita pun langsung menyantap nasi goreng yang masih panas.


Sesaat kemudian terdengar suara motor. Rupanya mas Bayu yang baru pulang.


" Waah ! lagi pada makan apa tuh, kok sepertinya enak banget ya. Sampai kepedesan gitu ?" serunya sambil memasukkan motor ke ruang tamu. Kemudian dikuncinya pintu.


" Nasi goreng pak Rus. Baru beberapa hari ini keliling di sekitar sini," sahut mbak Nia.


" Kok aku ngga dibelikan tadi ? " Mas Bayu mengingatkan kami.


" Yee, beli aja sendiri. Tuh mangkalnya di sebelah warungnya mbak Yah.Tapi kalau belum pergi lho."


Mbak Nia memberi tahu mas Bayu .


Aku menghabiskan nasi gorengku dan segera masuk ke kamar.


Teringat tadi saat mengobrol sama Niko. Dia bilang bisa lucu cuma kalau di depanku.


Maksudnya apa ya?


Setahuku dia anaknya memang agak kalem, kalau ikut pertemuan remaja juga nggak banyak omong. Makanya tadi aku heran kok dia bisa ngerjain pak Rus.


___________


Sejak mengobrol dengan Niko tempo hari, aku jadi sering ke warung mbak Yah tiap sore. Tentunya sepulang dari warung makan ibuku.


Kadang jajan gorengan atau minum 'wedang ronde', kadang juga menunggu pak Rus lewat.


" Mbak, buatkan wedang ronde 1 ya." pintaku pada mbak Yah. Ia sedang menggoreng tempe tepung.


" Goreng tempenya yang kering lho biar krispi," lanjutku mengingatkannya.


"Ini seperti biasa kan, air jahenya sedikit terus tambahin gula dan air panas." mbak Yah hafal kebiasaanku.


Wedang ronde encer karena aku ngga suka pedas. Jadi tiap beli wedang ronde pasti kutambahi gula dan air panas biar tambah manis dan ngga terlalu pedas.


" Seratus buat mbak Yah," seruku seraya mengacungkan jempol.


" Apa ya enak minum wedang ronde kok encer gitu, justru kalau pedas malah enak bisa menghangatkan badan." Mbak Yah menerangkan.


"Kalau kentel aku ngga doyan Mbak, rasanya pedas2 pahit. Nggak enak," Aku pun memberi alasan.


Di saat debat kecil sama mbak Yah, muncul Niko sambil menenteng gitarnya.


" Aku juga pesen wedang ronde ya Mbak." Ia memesan wedang ronde juga.


" Idih ! Ngikut aja," gurauku. Kubantu mbak Yah mengangkat tempe yang sudah matang biar ngga gosong. Lalu kumatikan dulu kompornya.


"Memangnya ngga boleh kalau aku ngikutin kamu?"


Waduuh ! Bisa gombal juga dia.


" Nggak boleh ! Kalau mau ikut ya sama ibu atau bapakmu ,kamu kan masih kecil hi hi hi. ." Aku tertawa meringis meledeknya.


Mbak Yah menaruh 2 mangkuk wedang ronde di meja. Aku pun segera duduk menhadap meja dan tak lupa mengambil tempe tepung yang baru kuangkat tadi.


Niko pun duduk di sebelahku dan mencomot tempe juga. " Aduuh panas ! " teriaknya. Ia meniup-niup tangannya.


" Makanya jangan ikut-ikutan, kepanasan kan ha ha ha !" Aku tertawa melihat dia meringis kepanasan. Mbak Yah yang tengah melayani pembeli sampai ikut tertawa.


Rio datang dan duduk di samping Niko. Sepertinya tangan Niko sudah nggak panas lagi.

__ADS_1


" Kapan-kapan kita jalan ke Car Free Day yuk ! hari Minggu pagi," ajak Rio. Ia menatap ke Niko dan aku.


" Kamu ajak Eva ya," pintanya padaku. Aku terkejut dengan permintaannya. Niko malah langsung menyetujui usul Rio.


" Ngawur kamu, dia kan kuliah." Aku mengingatkan Rio. Dia sendiri baru kelas 3 SMA.


" Kan hari Minggu libur, dia pasti pulang. Nanti kita jalan bareng. Aku sama Eva, kamu sama Niko."


Niko langsung setuju. Ia menoleh padaku.


" Mau ya Aira, kita jalan ke CFD. Sesekali lah main jangan ke pasar aja." Ia berkata dan tersenyum.


Entah mengapa kalau ketemu Niko aku merasa senang. Seperti ketika sedang bersama Widi.


[ Astaga Aira ! Niko itu baru kelas 2 SMA. Kamu nggak boleh suka sama dia ] Batinku berteriak.


"Aira, kok malah melamun." Suara Niko menyadarkan lamunanku hingga aku tergagap menjawabnya.


" Eng... enggak kok, a.k... aku cuma berpikir, pasti Eva nggak mau kalau kita ajak. Biasanya papanya ngga pernah ngasih ijin." Aku memberikan alasan yang sekiranya masuk akal.


" Kalau kamu sendiri gimana ,mau nggak ?" tanya dia lagi.


" Emm... aku bilang sama ibuku dulu ya, boleh apa enggak. Soalnya kalau hari Minggu warung makan selalu ramai. " Aku menjelaskan padanya.


" Pasti boleh lah, kan kita perginya pagi sekitar jam 7.00.Terus pulangnya sekitar jam 9.00 . Nanti kamu ke pasar setelahnya," saran Niko.


" Atau nanti pulangnya aku antar kamu ke warung makan biar nggak dimarahi sama ibumu. Oke ?" Ia pun menawarkan diri mau mengantarku.


" Oke deh aku setuju. Tapi nggak janji lho ya." Aku menjawab nggak yakin.


Aku ngga mau nanti ada suara-suara miring tentang aku dari para tetangga. Dari kemaren saja ketika aku mengobrol dan bercanda dengan Niko, ibunya kak Vicky keluar dari rumah dan menatapku sinis. Dia juga berbisik-bisik dengan mbak Yah. Entah apa yang dibicarakan sampai harus berbisik. Apa dia ngomongin aku?


" Lho, kok ngga janji gimana sih ? " Niko mencecarku dengan pertanyaan lagi. " Kamu takut bakal digunjing sama tetangga ? Ngga usah peduli sama mereka yang nyinyir. Santai aja kali."


Rupanya Niko tahu apa yang ku khawatirkan. Ia pun meyakinkanku. Benar juga sih, kenapa aku khawatir diomongin tetangga ? Aku kan nggak ngapa-ngapain sama Niko ? Pacaran juga enggak.


" Udah tenang aja, pokoknya hari Minggu pagi kamu ajak Eva jalan-jalan ke CFD. Jangan bilang kalau ada kita berdua. Kalian berangkat dulu nanti kita menyusul di belakang. " Rio yang dari tadi asyik makan gorengan akhirnya memberi solusi.


" Bagaimana besok deh, pokoknya aku minta ijin dulu sama ibuku." kataku kemudian.


...Kuhabiskan wedang ronde dan gorengan tadi....


...Aku beranjak karena tak terasa sudah jam 9.00 malam ...


..." Aku antar ya," kata Niko seraya beranjak juga dari duduknya. ...


..." Nggak usah, tadi aku ke sini sendiri sekarang pulang juga sendiri.," jawabku. ...


" Nggak apa- apa aku antar." Aku tak menghiraukan ucapannya dan terus berjalan pulang. Niko mengikutiku di belakang. Ia mengantarkanku sampai depan rumah.


" Terima kasih," ucapku. Niko pun berlalu.


Aku masuk, rupanya belum pada tidur. Ayah dan ibu serta mbak Nia masih menonton TV. Kulihat wajah ibu seperti menahan marah.


" Dari mana kamu sampai malam begini ? " tanya ibu.


" Dari warung mbak Yah, Bu. tadi udah pamit sama ayah," jawabku takut.


" Jajan di warung kok lama banget. Lagian kenapa mesti dimakan di sana, biasanya juga dibawa pulang. Kaya ngga punya etika saja makan di warung sambil ketawa-tawa sama laki-laki. " Ibu marah padaku.


Dari mana ibu tahu aku di warung ketawa-tawa sama cowok. Apa ada yang bilang padanya ?


Atau jangan-jangan ibunya kak Vicky yang mengadu. Bisa saja dia telfon atau kirim pesan ke HP nya ibu.


Huuh dasar emak-emak nyinyir.


Aku hanya diam dan masuk kamar.


______&&&&&_______


Ikuti terus ya gaeeess... ceritanya makin asyik kan.


Tolong kasih vote like dan komentar biar penulis lebih baik lagi.

__ADS_1


mohon maaf bila kurang berkenan.


__ADS_2