
Beberapa bulan kemudian Raka lulus dari kuliah D2 nya. Ia pun mulai mencari info lowongan kerja lewat internet atau kenalannya.
" Rencananya kamu mau kerja di mana ?" tanyaku saat dia mengajakku keluar dan kita duduk di taman kota.
" Kalau ada info lowongan sih apa saja aku siap, sebagai batu loncatan yang penting jangan sampai menganggur." Raka menuturkan keinginannya.
" Sabar saja, kalau kita berusaha pasti ada jalan keluar," kataku memberinya semangat. Menjelang jam 10.00 kita beranjak dari taman. Raka mengantarku lalu langsung pulang.
Sepeninggal Raka ibu menanyaiku," Raka sudah dapat pekerjaan belum, Aira ? "
" Belum Bu." Aku menjawab santai sembari berjalan ke kamar.
" Kalau bisa jangan kelamaan menganggur, nanti malah kebablasan terus malas mencari kerja." Ibu memberi saran. Tapi mungkin juga khawatir.
" Enggak lah Bu, Raka bukan tipe seperti itu. Buktinya waktu masih kuliah saja dia juga berjualan." Aku pun meyakinkan ibu karena Raka jiwanya suka bekerja keras. Selain itu juga penyayang keluarga.
" Semoga saja perkiraanmu benar. Ibu nggak mau kamu punya pacar pengangguran, apalagi sampai menikah. Ayahmu saja sejak nggak mengajar lagi uang pensiunnya nggak mencukupi apalagi yang nganggur," Ibu malah bawa- bawa ayah.
Kasihan ayah selalu diremehkan oleh ibu. Padahal waktu masih sehat ayah juga mengajar dan punya sambilan. Aku tahu dari Mbak Tika dan mbak Rina yang pernah bercerita saat mereka masih kecil.
" Ya Bu, tapi Raka. kan baru sebulan ini lulus kuliah dan dia juga berjualan pakaian. Jadi nggak sepenuhnya menganggur. Aku juga nggak mau punya pacar pengangguran." Kuberi pengertian pada ibu supaya tidak terlalu khawatir.
" Yang berjualan pakaian itu Raka atau pamannya ?" tanya ibu kemudian.
" Kata Raka itu kios milik pamannya. Raka hanya menempati sementara karena pamannya ada bisnis lain di luar kota. Lalu ketika pamannya pulang kiosnya diminta lagi. Karena Raka masih punya beberapa dagangan maka ia menitipkannya sama pamannya, Sesekali kalau libur ia juga ikut berjualan. " Aku pun menjelaskan apa yang pernah Raka ceritakan padaku. Ibu pun mengangguk-angguk.
Hari berganti hari, namun Raka belum mendapatkan pekerjaan. Sore ini ia datang ke rumah dengan membawa bungkusan dalam kantong plastik hitam.
" Bawa apa tuh !" celetukku. Ia menaruhnya di atas meja lalu duduk di sofa panjang. Aku duduk di sebelahnya.
" Ini ada baju sama kaos cowok, barangkali ayah sama mas Joni suka." Raka berkata sembari membuka bungkusan tersebut.
" Maksud kamu, mau menawarkan dagangan apa gimana nih," tanyaku bingung. Raka menghela nafas.
" Bukan nawarin dagangan, lebih tepatnya aku memberi baju buat ayah sama mas Joni. Ini sisa daganganku, karena tinggal sedikit aku bagikan saja. Saudara-saudara lain juga sudah aku kasih." Raka pun menjelaskan maksudnya.
" Tapi kenapa dibagi-bagikan, bukannya kata kamu dititipkan sama pamanmu di kios." Aku bertanya lagi. Perasaanku mengatakan ada sesuatu, tapi semoga nggak ada apa-apa.
__ADS_1
" Iya sih, tapi kemarin waktu bulan puasa kan sudah laku banyak. Ini tinggal beberapa saja, nggak enak sama pamanku, jadi kuambil saja."
" Kenapa nggak kamu borongin ke dia, hitung-hitung dia dapat dagangan murah, kamu juga nggak mikir lagi mau menjualnya ke mana." Aku memberi komentar.
" Sudah kok, tapi dia nggak mau semua. Dia cuma memilih beberapa yang dia cocok dan sisanya kubawa. Aku mengambil 4 potong yang paling bagus buat ayah dan mas Joni barangkali mereka suka."
" Tapi kan bisa kamu tawarkan ke teman-temanmu biar jadi duit, jangan malah dibagikan cuma-cuma. Uangnya bisa kamu buat modal lagi."
" Udah nggak apa-apa, ini juga sisa hanya beberapa potong Yang jadi duit udah banyak, sebagian kutabung. Sekali-sekali aku ngasih bonus buat saudara. Buat keluargamu juga meskipun nggak seberapa." Raka meyakinkanku. Sebenarnya aku kasihan tapi dia nampak bahagia.
" Ya udah kalau begitu aku panggil ibu sama mbak Nia dulu," ucapku kemudian seraya berdiri dan masuk.
Kebetulan lagi pada nonton TV, aku bilang saja sama ibu dan mbak Nia. Ayah masih di masjid, sedangkan mas Joni juga belum pulang.
" Buk, Mbak, itu Raka bawa baju buat ayah sama mas Joni. Katanya sih sisa jualan, barangkali suka," seruku dan mengajak mereka keluar.
" Baju apa sih, coba lihat ! " celetuk mbak Nia dan ibu bersamaan. Mereka pun keluar menemui Raka.
" Ada apa Raka, kata Aira kamu bawa baju buat ayah. " Ibu duduk di sofa. Raka mengulurkan baju dan kaos yang tadi dia keluarkan dari kantong plastik pada ibu.
Mbak Nia menerimanya sambil dibolak balik. " Iya nih bagus. Makasih ya Raka, nanti aku kasih ke mas Joni," ucapnya pada Raka.
" Sama-sama Mbak, tapi maaf ini cuma sisa dagangan. Belum bisa membelikan yang bagus." Raka menangkupkan kedua tangannya.
" Nggak masalah ini sudah bagus kok, tapi kenapa malah dibagikan. Memangnya sudah nggak jualan lagi ? " tanya ibu menimpali. Aku jadi was- was, jangan sampai ibu menginterogasi Raka.
" Nggak Bu, saya mau fokus cari kerja. Nggak enak juga sama paman." Raka memberikan alasan.
Sepertinya, ibu belum puas dengan jawaban Raka tapi mbak Nia langsung mengajaknya masuk. Huuft ! Aman.
________________
" Itu Raka kenapa kok dagangannya malah dibagi-bagikan, kemarin kamu bilang dia masih berjualan. Apa sudah dapat kerja ? " tanya ibu padaku sehabis sarapan. Kami mengobrol di depan, mbak Sri sedang mencuci piring di dapur.
" Nggak tahu lah Bu, kan Raka sudah bilang kalau dia mau fokus cari kerja makanya nggak ngurusin pakaian lagi. Yang dikasih ke orang itu dagangan sisa, dari pada dianggurin kan hitung-hitung sedekah. Kata Raka juga tinggal beberapa potong." Aku menjelaskan semua pada ibu supaya nggak bertanya lagi.
" Lah kalau gitu dia sudah nggak punya dagangan lagi, bagaimana bisa punya uang kalau nggak berjualan ? " Ibu masih saja mencecarku.
__ADS_1
" Katanya sebagian dibeli sama pamannya dan Raka juga masih punya tabungan kok. Nanti kalau ketemu aku coba tanyain lagi deh." Aku beranjak ke dapur, malas berdebat sama ibu.
Kalau sudah urusan materi ibu selalu sensitif. Waktu Raka masih kuliah dan berjualan pakaian, ibu nampak bersemangat jika dia datang. Tapi begitu Raka lulus dan belum dapat kerja, setiap ke rumah selalu diinterogasi. Ibu juga nggak ramah lagi seperti dulu, hanya sekedar basa-basi jika Raka menyapa. Untung ayah masih bersikap baik pada Raka.
Sore hari sehabis sholat Ashar Raka muncul. Tak lupa ia menyalami ibu dan mbak Sri. Kemudian mengajakku duduk di bangku teras warung.
" Tadi aku mengirim lamaran di pabrik air mineral. Kakak sepupuku punya tetangga yang kerja di pabrik itu lalu dia bilang ada lowongan di sana. Ia menyuruhku membuat lamaran lalu dititipkan ke tetangganya tadi. Namanya mbak Evi." Raka menyampaikan kabar baik, aku ikut lega.
" Bismillah, aku mendoakanmu semoga nanti bisa diterima di pabrik," ucapku sembari tersenyum memberinya semangat.
" Aamiin. Aku memang berharap banyak sama mbak Evi, kakakku juga sudah bilang padanya supaya mengusahakan aku agar bisa diterima." Raka menangkupkan telapak tangannya dan memejamkan mata seolah sedang berdoa.
" Oh iya, ada lagi yang mau aku sampaikan. Nenek menyuruhku ke Surabaya, mana tahu pakde di sana mau mencarikan pekerjaan buatku." Degh ! Aku langsung melotot dan menutup mulutku menahan suaraku.
" Apaaa ? Kamu mau ke Surabaya dan ninggalin aku. Bukannya barusan kamu bilang sudah melamar kerja di sini, kenapa harus jauh-jauh." Mataku berkaca-kaca.
" Nenek yang menyuruh aku nggak mungkin menolak, orang tua juga mendukung. Lagian aku juga belum pasti bakal diterima atau tidak di pabrik air mineral itu. Jadi sembari menunggu lebih baik aku ke tempat pakdeku dulu di Surabaya daripada di sini lontang lantung. Aku juga malu sama keluarga kaku." Raka menggenggam tanganku.
Aku mulai terisak. Nggak bisa membayangkan jika harus berjauhan dengan dia. Hampir setahun ini aku selalu bersamanya, bahkan nyaris berpisah karena dia sempat ragu dan mencari gadis lain. Tapi akhirnya dia memilihku dan mau serius denganku.
" Hei kok nangis, aku kan nggak pergi jauh. Surabaya itu kan masih di pulau Jawa, nggak nyebrang laut juga kaleee," selorohnya menghiburku. Aku jadi tertawa sesaat, tapi tetap saja aku sedih.
" Nanti kalau aku kangen gimana ? " tanyaku merajuk. Raka membelai rambutku lalu pipiku. Terahir dipegangnya daguku. " Aira cantik, kamu lupa sekarang jamannya smartphone. Kan kita bisa videocall kalau kangen." Dicubitnya daguku sebelum melepaskannya.
" Tapi jangan-jangan kamu nanti tergoda cewek lain, seperti waktu itu." Kutekuk wajahku dan menyebikkan bibir.
" Ya enggak lah, kan di sini udah ada yang cantik dan imut, masa mau kepincut sama yang lain. Makanya doakan supaya aku diterima di pabrik air mineral biar aku nggak perlu kerja di Surabaya."
" Selalu sayaaang, kalau doa tiap saat kupanjatkan buat keberhasilanmu." Aku menatapnya lembut dan tersenyum.
" Airaaa ! Selesaikan dulu pekerjaannya keburu sore," seru ibu dari dalam. Aku dan Raka bergegas masuk.
****************************
Bersambung ya gaees,, jangan lupa kasih like dan koment. Penulis akan selalu berusaha memberi yang terbaik untuk kalian .
Thanks !
__ADS_1