Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 78 Kekhawatiran ( POV AIRA )


__ADS_3

Pukul 5.00 sore aku dan ibu sedang berjalan pulang dari warung makan. Cuit cuit ! Handphone ku berbunyi. Karena tanganku membawa keranjang jadi kubiarkan saja HP ku tetap di dalam tas selempangku. Lagi pula itu bunyi pesan WA bukan panggilan telepon.


" HP nya bunyi kok nggak dibuka," tanya ibu heran. " Nanti saja di rumah, cuma pesan WA mungkin dari Raka. Dari pada berhenti, HP nya di dalam tas ini," sahutku sambil terus berjalan. Kriik kriik ! Pesan kedua masuk. Mungkin karena belum kubaca dia mengirim pesan lagi.


Begitu sampai di rumah langsung kutaruh keranjang belanja di samping meja makan lalu aku keluar dan duduk di teras. Kubuka HP ternyata benar Raka yang mengirim pesan WA.


[ Hai Aira cantik, pasti baru pulang dari warung makan ya. Aku juga baru pulang kerja nih )


( Maaf ya sayang, malam ini aku nggak ke rumah dulu. Kan kemarin kita udah seharian ketemu, nggak papa kan 😊 soalnya malam ini aku mau bicara sama keluargaku soal rencana lamaran kita )


Pesan masuk baru 10 menit yang lalu. Segera kubalas.


( Nggak pa pa kok 😊, oh iya tadi aku juga udah bilang sama ibu kalau kemarin kamu melamarku. Dan secepatnya mau melamar resmi bersama orangtua kamu. Betul begitu kan ? Dan ibu juga mau membicarakan sama bapak ) . 1 menit, 2 menit, belum dibaca. Mungkin Raka lagi mandi. Tapi 5 menit kemudian ia membalas.


( Bagus lah, kalau gitu do'ain biar keluargaku juga setuju dengan rencana kita. Nanti aku kabarin lagi. Udah dulu ya, bye see you 😘😍 )


Raka nggak datang malam ini. Aku bisa tidur lebih awal. Kalau ada Raka aku mesti menemaninya mengobrol, kadang aku sudah mengantuk dia belum mau pulang. Kalau nggak dia mengajakku ke rumahnya, aku mesti berbasa basi dulu sama orang tua dan kakek neneknya, dan yang paling bikin kesal aku harus menahan kantuk sebelum sampai rumah. Tapi tetep saja, kalau nggak ketemu Raka aku kangen beraaat. Hehehe !


" Aira, kok nggak mandi. Sebentar lagi magrib lho ! " tegur ayah dari ruang tamu.


" Ini baru mau masuk, Yah," sahutku lalu bangkit dari tempat duduk dan masuk ke dalam rumah. Ayah berbalik masuk lagi hendak bersiap ke masjid. Semoga keluarga Raka mendukung rencananya untuk melamarku. Bukan nggak mungkin, sekalipun mereka baik di depanku mana tahu di belakangku mereka nggak suka.


Aku segera membersihkan diri lalu sholat. Seperti biasa sambil menunggu waktu Isya aku rebahan di sofa depan televisi. Arkana lagi main di karpet ditemani mamanya.


" Raka nggak ke sini, Ra ? " tanya mbak Nia. " Nggak, kemarin udah pergi seharian juga. Sesekali ada waktu buat sendiri nggak harus berdua terus. Lagi pula kita kan belum nikah." sahutku sambil menatap ke televisi.


" Heleeh, tumben bicara begitu. Biasanya kalau nggak diapelin mukanya ditekuk terus. Diajak ngomong juga jawabnya ketus." mbak Nia meledek.


" Itu kan dulu, sekarang mah enggak. Kan udah diikat hihihi ! " celetukku sambil mengikik dan menutup mulut.


" Diikat gimana maksudnya," tanya dia lagi penasaran. " Ada deeh ! " sahutku seraya mengambil remote TV dan memilih channel. Mbak Nia menggerutu. " Huuh sok yes kamu." Ia mengataiku.

__ADS_1


" Kemarin katanya Aira dilamar sama Raka waktu diajak ke Jogja." Ibu yang mendengar obrolan ku dengan mbak Nia menimpali dari kamar.


" Apa Buk, Aira dilamar, yang benar Ra ? " tanya mbak Nia sambil mengangkat Arkana dari karpet lalu memangkunya. Aku mengangguk mengiyakan. Ibu keluar dari kamar lalu bergabung bersama kami di sofa ruang keluarga.


" Lalu kapan lamaran resminya," tanya mbak Nia lagi. " Kata Raka sih dalam bulan ini, dia mau berembug dulu sama keluarganya. Makanya malam ini dia nggak datang." Aku menjelaskannya.


" Kalau mereka sudah siap, sebaiknya Raka mengabari dulu yang mau datang berapa orang. Jadi kita bisa mengira-ira jumlah hidangannya. Kalau sampai kurang kan malu." Ibu memberi saran kepadaku.


" Iya Buk, itu bisa kusampaikan sama Raka nanti. Kita tunggu saja kabar dari dia." Aku menyetujui saran ibu.


Setelah sholat Isya aku menunggu kabar dari Raka namun dia belum juga mengirim pesan. Mau WhatsApp duluan takutnya mengganggu jika dia sedang serius membahas hal ini dengan keluarganya. Lebih baik aku tidur dan menunggu kabarnya besok.


_____________


" Mbak Aira ! " Bu Harti memanggilku ketika aku lewat depan kiosnya hendak belanja. Sengaja lewat sini karena aku mengharap jika beliau akan bercerita sesuatu. Aku pun mendekati kiosnya.


" Ada apa bu Harti ? " tanyaku dengan tersenyum semanis mungkin.


" Tidak Bu, memangnya kenapa kok nggak mau sarapan ? Apa sudah kesiangan lantas buru-buru berangkat ? " tanyaku balik.


" Justru dia berangkat pagi-pagi sekali. Mungkin dia masih marah sama bapak jadi buru-buru meninggalkan rumah sampai nggak mau sarapan pula." Bu Harti menceritakan duduk persoalannya.


Tentu saja aku terkejut, sebab Raka nggak pernah melewatkan sarapan apalagi hendak berangkat kerja. Dan mengapa juga dia bilang mau sarapan di sini tapi ternyata tidak. Bu Harti bilang dia marah sama bapaknya, apa ini tentang rencananya melamarku.


" Mungkin ada tugas penting yang harus dikerjakan pagi-pagi. Ya sudah nanti saya WA Raka kalau pas jam istirahat Bu," kataku kemudian. Bu Harti mengangguk. Aku pun meninggalkan tempat ini dan menuju ke kios mbak Sumi.


Sekembalinya dari belanja aku masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan Raka. Dia memang pernah bercerita tentang dia dan ayahnya yang nggak pernah bisa sepaham. Jika sedang mengobrol ada saja hal yang membuat mereka berdebat karena nggak ada yang mau mengalah.


Selepas ibadah Dzuhur aku tetap di dalam kamar sejenak. Kuambil handphone hendak mengirim pesan WA ke Raka.


[ Hallo Raka, lagi istirahat kan. Sudah makan belum ? ] Beberapa detik kemudian Raka membalas pesanku.

__ADS_1


[ Sudah Cantik, tumben kamu hubungi aku. Kangen yaa, baru juga sehari nggak ketemu 😊 ]


[ Tahu aja kalau aku kangen 😊😍 .. Oh iya tadi aku ketemu ibu kamu. Katanya kamu berangkat pagi-pagi banget dan nggak sarapan. Memang ada tugas penting sampai harus berangkat pagi ]


[ Nggak juga, lagi pingin berangkat pagi aja biar bisa menikmati udara pagi. ]


[ Oh gitu, tapi kenapa kamu bilang mau sarapan di tempatku nyatanya enggak. Lantas sarapan di mana ]


[ Oh itu, tadi aku asal ngomong. Sebenarnya memang niatnya mau makan di tempat kamu tapi aku lupa kalau kamu pasti belum datang. Nggak asyik kan, Jadinya aku makan di warung gudeg 😊 ]


[ Tapi beneran kamu nggak ada masalah, biasanya juga berangkat kerja jam 7.00 ]


[ Ada sih, nanti deh aku cerita. Sepulang kerja aku langsung ke warung saja ]


[ Masalah apa sih, apa soal rencana lamaran ]


[ Nanti saja kalau kita ketemu baru aku cerita semuanya. Kalau lewat WA atau telepon nggak leluasa. Sudah ya aku mau sholat dulu bye 😍😘


[ Oke deh, aku tunggu 😍 ]


Kututup handphone lalu kutaruh lagi di atas sajadah. Kira -kira Raka mau cerita apa ya, kok aku jadi khawatir. Jika benar kata bu Harti, Raka bertengkar dengan ayahnya, semoga tidak ada hubungannya denganku. Meskipun aku nggak yakin, sebab tadi malam kan Raka bilang mau membicarakan soal rencana lamaran.


Aku keluar kamar berniat mau cerita sama mbak Sri, tapi dia lagi di depan membersihkan meja makan dan diajak ngobrol sama ibu yang tengah makan siang. Lebih baik aku juga makan dari pada menunggu orang selesai ngobrol.


___________$$$____&&&___


Bersambung. Mohon maaf ya up date agak lama karena penulis sedang berlebaran hehe.


Tak lupa penulis mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.


Tetep vote like dan komen ya.. thanks !

__ADS_1


__ADS_2