Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 77 Belum Direstui ( POV RAKA )


__ADS_3

Sepulang kerja aku mengirim pesan WA ke Aira, kalau sore ini aku nggak ke rumahnya. Aku yakin dia nggak akan marah, apalagi kemarin sudah seharian kita bersama di Jogja. Pulangnya juga kuajak ke rumah.


Malam ini keluargaku tengah berkumpul menonton TV ,adik-adikku sedang belajar di ruang depan. Aku berniat menyampaikan keinginanku melamar Aira.


" Pak, Buk, aku mau bicara penting nih," ucapku seraya duduk di sebelah nenek.


" Bicara apa, kaya serius banget." Ibu bertanya agak heran, sambil membereskan pakaian yang baru dijemur tadi siang.


" Emm, aku mau minta restu Ibu dan Bapak, juga Kakek sama Nenek. Aku pingin melamar Aira." Akhirnya terucap juga kalimat itu.


" Oh iya, kapan ? " tanya ibu dan nenek hampir bersamaan. Kelihatanya mereka senang mendengar kabar ini. Tapi lain dengan bapak yang sedari tadi masih menatap televisi. Ekspresi wajahnya langsung berubah tak enak. Sedangkan kakek hanya mendengarkan sesekali menatap ke layar televisi.


" Kalau bisa dalam bulan ini. Aira bilang dia takut jadi gunjingan tetangga, karena hubunganku dengannya sudah setahun lebih dan kita hampir tiap hari bertemu." Ku jelaskan juga alasanku kenapa ingin secepatnya melamar.


" Aira benar, sebagai wanita dia tentu merasa punya beban jika tidak segera menikah padahal tiap hari bersama pacarnya. Pasti ada yang mengggunjing, belum lagi kalau ditanya kapan nikah. Bingung mau jawab apa." Ibu menimpali, lalu berpaling pada bapak.


" Menurut Bapak bagaimana, setuju nggak kalau Raka mau melamar Aira bulan ini." Ibu minta pendapat bapak. Masih dengan menatap layar TV bapak berkata," Apa kamu sudah memikirkan matang-matang tentang rencanamu ini, Raka ? " Bapak masih menyangsikan rencana lamaranku.


" Jangan sampai karena memikirkan kesenangan sesaat kamu nanti menyesal. Kamu kan baru berapa bulan bekerja, belum juga kamu menyenangkan orangtua. Bapak menyuruhmu kuliah hanya sampai D2 saja supaya kamu cepat lulus lalu bekerja. Kalau sudah punya pekerjaan kamu bisa membantu meringankan beban bapak sama ibu.. Adik-adik kamu masih butuh biaya banyak." Bapak melanjutkan kalimatnya panjang lebar.


": Pak, kalau soal itu nggak perlu Bapak ingatkan aku pasti tahu. Tidak ada anak yang nggak ingin membahagiakan orang tuanya. Sekarang aku memang belum bisa membantu, tapi suatu saat jika aku dapat pekerjaan yang lebih bagus aku pasti menyisihkan sebagian untuk kalian." Aku tetap meyakinkan bapak. Selama ini memang beliau selalu tak sependapat denganku, selalu memandangku remeh. Tapi aku tetap menghormatinya dan sebisa mungkin menghindari pertengkaran.


" Tapi kenapa kamu malah mau buru-buru nikah. Kalau sudah nikah kamu harus bertanggung jawab menafkahi istri, menemaninya ke mana pun. Hari-harimu selalu tak lepas dari istri, lalu kapan kamu menyenangkan keluargamu. Itulah makanya bapak sarankan kamu berpikir lagi sebelum melamar Aira," Bapak masih belum menyetujui keinginanku.

__ADS_1


" Kalau pun aku melamar Aira bukan berarti langsung nikah. Aku masih harus menabung dulu dan mempersiapkan segala sesuatunya. Andaikan sudah menikah pun aku nggak mungkin melupakan keluargaku. Bapak jangan langsung menghakimiku, seolah jika aku menikah lalu aku akan lepas dari kalian. Aku rasa Aira juga nggak mungkin seperti itu." Aku menepis kekhawatiran bapak.


" Sekarang kamu bilang begitu, nyatanya kamu mau melamar Aira juga karena dia yang minta kan. Bapak cuma khawatir nanti kamu diatur sama dia, kamu sama Aira kan lebih tua Aira." Astaga, sampai umur dibawa-bawa.


" Aku sama Aira cuma beda setahun Pak, itu nggak bisa jadi alasan. Kalau Bapak nggak mau melamar Aira buatku biar nanti diwakili sama yang lain." Aku malas melanjutkan pembicaraan karena ujung-ujungnya jadi berdebat sama bapak.


Kutinggalkan ruang keluarga lalu mengambil HP dan rokok di kamar, kemudian keluar mencari angin segar. Aku berjalan menuju rumah Doyok temanku. Langsung kuketuk jendela kamarnya karena nggak mau mengganggu orangtuanya. Mereka pasti sudah tidur.


" Raka, ngapain kamu di situ? " tanya Doyok begitu ia membuka jendela. "Sudah nggak usah nanya, bukain pintu aku mau tidur di sini." Aku langsung menyuruhnya membukakan pintu.


" Oke sebentar." Ia pun menutup kembali jendela kamarnya. Aku masuk melalui pintu depan dan langsung ke kamarnya. Kita duduk di lantai yang beralaskan karpet.


" Kenapa lagi kamu, wajah kusut gitu?" tanya Doyok lagi seraya tersenyum geli. Aku menyalakan rokok dan menghisapnya dalam-dalam.


" Biasa, berdebat sama bapak. Nggak tahu ya, dia seperti benci sama aku, anaknya sendiri Mentang-mentang aku pernah melakukan kesalahan. Tapi itu kan dulu waktu masih SMA, semua juga memaafkan, tapi bapak yang jadi berubah sikap. Ada saja yang ingin dia perdebatkan sama aku. Soal kuliah, pekerjaan, dan sekarang masalah Aira juga mau diperdebatkan." Aku berkata dengan kesal.


" Memangnya Aira kenapa, kamu nggak menghamili nya kan," celetuknya sambil nyengir. Kuangkat asbak hendak ku lempar ke tubuhnya, namun urung mengingat orang tuanya yang lagi tidur.


" Sembarangan kalau ngomong, untung asbak ini nggak jadi melayang ke jidatmu." Kutaruh lagi asbak di lantai.


" Ya lalu kenapa," tanyanya lagi. Ia lalu duduk di sebelahku.


" Jadi gini, rencananya dalam bulan ini aku ingin melamar Aira. Tadi aku sudah minta ijin sama ortu, sama nenek kakek. Semua setuju, cuma bapak yang keberatan. Alasannya macam-macam. Sudah ku jelaskan tapi tetap belum mau menerima. Ujung-ujungnya ya, kamu tahu sendiri pasti kita berdebat. Dari pada aku dosa karena melawan orangtua mending aku cabut dari situ." Doyok mengangguk-angguk namun tak berkomentar. Dia malah beranjak dari duduknya.

__ADS_1


" Sebentar aku buatkan kopi dulu, biar nggak kering tenggorokanmu dari tadi bicara terus hehehe ! " Dia terkekeh seraya menuju ke dapur. Lima menit kemudian ia muncul membawa 2 gelas kopi hitam.


" Tapi ngomong-ngomong , beneran kamu mau melamar Aira ? Sudah ngebet nih rupanya." Doyok meledekku. Ia tertawa menyeringai.


" Beneran lah, malahan aku sudah melamar dia secara pribadi. Kemarin aku ajak dia ke Jogja, dan di sebuah taman yang bernuansa romantis aku berjongkok di depan Aira. Aku berkata, Will you marry me. Dan dia dengan senang hati menjawab, ya aku bersedia.." Kuceritakan pada Doyok tentang lamaranku pada Aira kemarin siang.


" Ciyee, kayak di sinetron aja. Terus pakai cincin juga nggak ? " tanya dia ingin tahu.


" Ya belum lah, mungkin besok kalau acara lamaran resmi. Jangan lupa kamu juga mesti ikut." Pintaku pada Doyok. " Bereeees, Kalau ada acara yang semacam ini pasti aku hadir." Ia berjanji.


Sampai larut malam kami berdua mengobrol sambil ditemani rokok dan kopi. Kalau Aira tahu pasti dia akan mengomel, sebab dia nggak suka kalau aku kebanyakan merokok. Tapi karena malam ini aku lagi suntuk maka omongannya kulanggar.


_____________


Pukul. 5.00 pagi aku bangun lalu sholat Subuh di kamar Doyok. Dia sendiri masih ngorok. Seusai sholat aku pulang dan masuk rumah lewat pintu belakang. Bergegas aku mandi dan merapikan diri bersiap pergi kerja.


" Sarapan dulu Raka, masih terlalu pagi kok," kata ibu yang sedang berada di dapur. Bapak masih di kamar, biasanya jam 6.00 baru keluar untuk mandi.


" Nanti saja di warungnya Aira," sahutku lalu keluar mengambil motor. Aku malas bertemu bapak, makanya mending cepat-cepat berangkat.


Namun di jalan aku jadi ingat, Aira kalau berangkat ke warung sekitar jam 7 pagi, sekarang baru jam 6.10. Aku nggak mau mengganggunya. Jam segini dia paling lagi bersih-bersih rumah. Akhirnya aku memutuskan sarapan di warung gudeg. Setelah perut terisi baru aku berangkat ke tempat kerja.


________&&&&&&&_____&&&&

__ADS_1


Bersambung ya gaees. Tolong beri like dan komen ya, biar penulis tambah semangat meneruskan ceritanya


thanks !


__ADS_2