
Mas Raka menghentikan motornya di depan pagar rumahnya. Kebetulan kakek dan nenek tengah duduk di teras, di depannya ada 2 gelas kopi dan sepiring singkong goreng. Melihat kami mereka berdua langsung tersenyum.
" Itu dia calon pengantinnya datang ! " seru nenek pada kami.
Kusalami keduanya lalu aku duduk di bangku di depan mereka. Mas Raka langsung masuk tapi aku enggan mengikutinya. Nggak enak karena ada kakek dan nenek masa aku nyelonong saja.
" Ini makan singkong goreng, tadi bapak mengambil di kebun belakang ," ucap kakek menawariku sambil menunjuk singkong goreng yang nampaknya masih hangat.
" Makasih Kek, nanti saja," balasku secara halus.
" Kalau mau yang direbus pakai gula aren ada tuh di dalam, bapaknya Raka baru bikin tadi." Kakek menawari lagi.
" Iya nanti Kek, saya icip yang ini dulu." Akhirnya kucomot juga singkong gorengnya tanpa basa basi lagi.
Nenek dan kakek asyik mengobrol, aku ikut mendengarkan sesekali menimpali. Beberapa menit kemudian mas Raka keluar.
" Permisi Kek, saya ke dalam dulu," ucapku seraya beranjak karena mas Raka menyuruhku masuk.
" Kita ke kamar aja yuk ! " ajaknya dengan menggandeng tanganku.
" Nggak enak mas, tuh ada bapak di ruang tengah." Kutolak ajakan mas Raka dan memilih duduk di ruang tamu.
Bagaimana tidak, kalau mau ke kamarnya mesti lewat ruang tengah. Sementara di situ ada bapaknya yang lagi nonton televisi, sudah tentu aku nggak enak hati.
" Ya salaman aja lalu bilang mau sekalian sholat Ashar," ujar mas Raka akhirnya.
" Oh iya ding, perasaan tadi udah sholat di rumah, hehe."
Baru kuingat kalau tadi belum sempat sholat karena waktu jalan ke sini pas azan berkumandang. Aku pun mengikuti mas Raka masuk ke ruang tengah. Bapak menoleh lalu tersenyum saat mengetahui ada aku.
" Eh Mbak Aira, gimana tadi daftarnya lancar kan ? " tanya beliau sembari menikmati singkong goreng juga.
" Lancar Pak," jawabku seraya mengulurkan tangan menyalaminya.
" Ini ada singkong rebus pakai gula merah, namanya bajingan, " lanjutnya menawariku.
" Nanti saja habis sholat, Pak." Aku pun minta ijin ke belakang.
Sementara aku berwudhu mas Raka mengambil mukena di kamar ibunya. Saat aku masuk ke kamarnya ia telah menyiapkan berikut menggelar sajadahnya.
" Mas Raka nggak sholat sekalian ? " tanyaku saat ia hendak keluar kamar.
" Tadi udah waktu kamu ngobrol sama kakek nenek di teras tadi," jelasnya lalu keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
Kulipat mukena seusai sholat, mas Raka masuk. Kuulurkan mukena padanya.
" Taruh dulu di situ," cetusnya lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Kuletakkan mukena di meja, kemudian aku duduk di tepi ranjang. Mas Raka menarikku ke dalam pelukannya. Aku tak bisa mengelak karena dekapannya begitu kuat. Ia menciumi wajahku begitu lama , bahkan meraba tubuhku.
" Mas, jangan lakuin mas," elakku. Aku terus mengingatkannya, namun dia seakan tak mendengar omonganku. Dia masih saja menguasaiku. Sampai akhirnya, tok tok tok !
" Mbak Aira, ini singkong bajingannya. Katanya tadi pingin ! " seru Winda dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
" Oh ya sebentar, ini baru selesai melipat mukena," celetukku asal seraya membenahi pakaian dan jilbabku yang berantakan.
" Huuh ganggu aja," gerutu mas Raka sembari membuka pintu kamarnya. Aku bernafas lega.
" Ini Mbak, kata bapak tadi mbak Aira kepingin. " Winda menyodorkan mangkuk kecil berisi bajingan, yaitu singkong yang direbus dengan gula merah. Serem ya namanya, hihihi .
Ini memang makanan kesukaanku, tapi perasaan tadi aku hanya bilang 'nanti saja Pak' . Kenapa bapak bilang sama Winda kalau aku kepingin. Pasti itu akal-akalan agar aku keluar dari kamar. Mungkin beliau khawatir kami kebablasan. Aku bersyukur untuk hal ini.
" Makasih ya Winda, biar mbak Aira makan di luar aja, " tukasku sambil membawa mangkuk keluar dari kamar.
" Di teras aja yuk ! " ajak mas Raka yang berjalan di belakangku.
Kakek dan nenek sudah beranjak masuk. Aku hanya berdua dengan mas Raka.
Aku memang belum pernah melihat kebun milik kakeknya, makanya penasaran pingin ke sana. Soalnya mas Raka sering membawa buah-buahan yang katanya hasil kebun sendiri.
" Mau sih mau, tapi di kebun banyak nyamuk. Apalagi kalau sore begini," terangnya.
" Nggak masalah, kan pakaianku rapat dari kepala sampai kaki, hehe." Aku tetap ingin ke sana.
" Ya sudah ayo ! " Mas Raka berdiri lalu menggandeng tanganku.
Baru beberapa langkah nampak bu Harti baru pulang dari pasar. " Oh kamu Mbak Aira, mau ke mana to ? " tegurnya pada kami.
" Mau lihat-lihat kebun, Buk," balasku tersipu.
" Aira penasaran ada pohon buah apa saja, soalnya di tempatnya nggak ada. Kampungnya padat rumah, hahaha ! " kelakar mas Raka .
Kami berjalan menuju ke belakang rumah. Ada bangunan kecil mungil, dan di sampingnya ada pohon kelengkeng.
" Ini bangunan apa kok kecil, Mas ?" tanyaku kepo.
Mas Raka bilang ," Oh ini dulu ditempati seorang famili, namun sudah pindah. Sekarang hanya buat gudang , tapi yang bagian belakang buat kandang ayam sama kakek." Aku mengangguk-angguk.
__ADS_1
Sekitar 2 mtr dari pohon kelengkeng ada rumah pamannya, adiknya bapak. Baru di belakangnya lagi terbentang kebun yang menurutku tak terlalu luas juga., kira-kira berukuran 10 x 25 meter.
Tapi ada beberapa jenis pohon seperti singkong, pisang, kelapa, sirsak, rambutan dan beberapa tanaman sayur. Di bagian paling ujung ada pohon bambu, berbatasan dengan kali kecil. Mungkin dulunya memang ini kebun yang sangat luas lalu sebagian dibikin rumah.
" Baru kali ini aku melihat kebun buah di daerah sendiri. Biasanya cuma lihat di kota lain atau di tivi. Di tempatku mana ada, sawah aja sudah dijadikan pemukiman. Jangan beberapa pohon, satu aja belum tentu punya. Paling juga punyanya tanaman hias, hehe."
" Iya juga, padahal tempat ini juga masuk wilayah kota. Entah mengapa masih banyak kebun kosong. Sebagian besar warga juga punya pekarangan yang ada pohon buahnya," papar mas Raka.
" Mungkin karena lokasinya menurun, tak terlihat dari pusat kota. Dari gapura ke sini kan jalannya menurun terus, jadi mungkin dulu orang segan untuk membeli tanah di tempat ini." Aku pun menerka-nerka.
" Bisa juga, soalnya sekarang yang menempati kampung ini rata-rata bukan penduduk asli kota ini, tapi dari Sleman Jogjakarta. Kebanyakan kerabat dari ibuku. Bisa jadi mereka merantau lalu membeli tanah di sini yang masih berupa perkebunan." Mas Raka pun bercerita.
" Mungkin karena belum terjamah jadi harga tanahnya murah. Makanya sebagian warga rumah dan tanahnya luas." Aku menimpali lagi.
" Yuk ah, sudah hampir Magrib. Kuantar pulang ya," celetuk mas Raka kemudian. Bergegas kita kembali ke rumah. Ternyata berasa jauh juga, jarak dari kebun ke depan rumah bisa sampai 30 meter.
" Aku pamit ke dalam dulu Mas," ucapku saat dia menyalakan motornya. Setelah pamit dan bersalaman dengan semuanya aku keluar dan langsung membonceng mas Raka.
Sampai di rumah pas azan Magrib. " Aku langsung pulang ya, besok kerja lagi, " cetusnya.
" Ya Mas, hati-hati ya ! " pesanku. Mas Raka langsung berbalik dan melesat pergi.
Malam harinya, sehabis sholat dan makan malam kurebahkan tubuh di sofa sambil nonton sinetron favorit mbak Nia dan ibu. Tapi aku nggak fokus nonton, hanya numpang rebahan sembari main hape.
" Tadi habis mendaftar di KUA terus ke mana Ra, katanya ke warung tapi tadi ibu pulang sendiri." Mbak Nia menanyaiku.
" Tadi diajak ke rumah sama mas Raka, terus melihat-lihat kebun kakeknya. Wuiih, ternyata banyak pohon buahnya. Yang sering dibawain mas Raka itu memang benar hasil dari kebun." Aku memberitahu.
" Kalau daerah situ memang masih banyak kebun. Dulu kan memang jarang yang mau beli tanah di situ, soalnya lokasinya di bawah, dekat sungai lagi. Meskipun masih wilayah kota tapi tidak banyak diminati. Baru setelah ada pendatang dari luar kota yang membuka lahan di situ, akhirnya tanah di sekitarnya ikut laku. Tapi murah juga, tidak semahal di tempat kita atau yang lain." Ibu pun bercerita.
" Kata mas Raka, sebagian besar tanah di situ yang punya kerabatnya bu Harti. Hanya sedikit yang warga asli, termasuk kakeknya yang memang dari kecil tinggal di situ."
" Memang benar, dulu ibu sama ayah pernah mengontrak di situ waktu mbak Rina masih bayi. Warganya masih sedikit, di sekeliling cuma kebun-kebun. Kalau malam gelap karena jarak rumah ke rumah jauh. Akhirnya nggak sampai setahun kita pindah." Ibu mengenang masa lalu.
" Kamu sudah pesan undangan Ra ? " tanya mbak Nia mengalihkan pembicaraan.
" Belum tuh, kan tadi baru mendaftar," sahutku tanpa menoleh, karena aku fokus ke hape.
" Cepetan pesan, nggak bisa mepet kalau buat undangan." Ia mengingatkanku.
" Iya ya, besok aku bilang sama mas Raka mau pesan kapan. Soalnya tadi aja udah ijin nggak masuk kerja, " tukasku.
______________
__ADS_1
Bersambung ya say...