
Semenjak Arya menolak kuajak kondangan aku jadi malas ketemu dia. Saat berpapasan di jalan aku hanya menyunggingkan senyum atau melambaikan tangan. Itu kulakukan karena aku kesal tapi mau marah juga nggak bisa.
Sebenarnya nggak sedikit cowok yang berusaha mendekatiku. Awalnya datang untuk makan besoknya mulai pedekate. Tapi ibu senang karena jadi tambah pelanggan. Aku juga menanggapi biasa saja.
" Kamu itu jangan suka ketus sama pembeli, bisa bisa warung ibu jadi sepi kalau pemilik warungnya nggak ramah." Ibu menasehatiku kala itu.
" Bukan begitu, Buk. Kalau mereka bersikap wajar tentu aku ramah, tapi kalau ngerayu ya nggak kutanggapi lah." Aku pun membela diri.
" Tapi mereka kan hanya menggoda , wajar kan laki-laki kalau melihat perempuan muda seperti itu.. Bukan berarti suka beneran." lanjut ibu.
" Tapi ada yang terus-terusan merayuku,Buk. Meski begitu sikapku juga biasa saja kok, nggak ketus nggak marah. Aku juga tahu mereka ke sini sebagai pembeli. Hanya saja aku tetap waspada jangan sampai mereka berlaku kurang ajar." Aku menegaskan lagi.
Bukannya aku ge er, tapi memang di antara mereka ada yang terang-terangan mengajak aku jalan atau nonton. Ada juga yang minta nomer WA. Bahkan ada seorang pria paruh baya yang ngebet mau menjadikan aku istri. Kalau yang ini ibu tahu soalnya orangnya sering terang-terangan bilang sama ibu.
" Ibu tahu kan sama oom oom yang sering ke sini dan menggodaku itu? " tanyaku mengingatkan ibu.
" Yang katanya boss kopi itu, yang mau memperistri kamu kan ? " tukas ibu .
" Iya, tempo hari dia membujukku lagi mau mengajak jalan ke mall. Jelas saja kutolak. Eeh kok tiba-tiba dia nyolek daguku sambil bilang, iih geregetan banget, tiap diajak kok nggak pernah mau. Terang aja aku kaget." Ibu sama mbak Sri malah tertawa tergelak mendengar ceritaku.
" Udah gitu katanya dia mau ngasih modal aku buat buka toko pakaian kalau mau jadi istrinya. Katanya dia belum pernah nikah meskipun usianya sudah 35 th." Ku lanjutkan ceritaku. Ibu dan mbak Sri masih belum berhenti tertawa.
" Iya Ibu ingat, dia pernah bilang pada Ibu pingin punya istri yang masih muda, cantik dan pintar. Minimal guru TK. Mentang- mentang ibu sempat cerita padanya kalau kamu pernah jadi guru TK. " Kami semua jadi terbahak-bahak membicarakan kelakuan ABG tua itu . Ha ha ha !
___________
Sekarang sudah memasuki bulan Agustus. Kemarin ayah memberikan secarik kertas undangan padaku.
" Aira, ini ada undangan rapat Karang Taruna, tadi ada yang menitipkan ke sini."
Aku nggak begitu antusias terlibat dalam kegiatan Agustusan karena nggak ada teman yang diajak bareng. Ada yang kuliah,ada yang sudah menikah. Apalagi sekarang sudah ada generasi baru karang taruna, aku jadi merasa paling tua.
" Malas, Yah. Yang ikut Karang Taruna sekarang masih kecil-kecil, masih SMA. Nanti aku paling tua deh ! " tukasku seraya menaruh kertas itu di meja.
" Jangan begitu, justru kamu sebagai senior harus bisa memberi contoh pada yunior. Kamu kan juga masih remaja." Ayah menasehatiku.
" Memang sih, Yah. Tapi aku nggak ada teman yang diajak berangkat bareng. Eva lagi kuliah, yang lain rumahnya ngga se RT dengan kita. " Aku meyakinkan ayah, berharap ayah memaklumiku.
Ayah nggak membujukku lagi. Beliau pun keluar dan duduk di teras sambil menikmati kopi dan kacang bawang favoritnya. Aku masuk kamar dan membuka handphone. Aku chat Eva.
[ Hai bestie ! Tumben 2 minggu nggak pulang ]
[ Iya, lagi ngerjain tugas dari dosen killer. Kalau nggak segera kukumpulkan bisa bisa aku dapat nilai C. ] [ Kamu kenapa, gabut ? ]
[ Iya, tuh ada undangan rapat remaja di rumah mas Hari. Malas datang aja, teman-teman cewek yang seusia kita udah pada di luar kota. Kalau cowoknya sih memang udah pada tua tapi masih aktif. ]
[ Kok ngga di rumah kak Vicky ? memang rencananya mau mengadakan acara apa , kayaknya udah mepet waktunya kalau mau pentas seni ]
[ Ya enggak lah, sepertinya ini rapat mau membahas lomba untuk anak-anak. Kak Vicky masih pengantin baru tentu lagi sibuk bulan madu he he... terus mas Hari yang inisiatif mau mengadakan lomba biar Agustusan tahun ini nggak sepi kaya tahun kemarin. Sepertinya dia ambisi pingin menggantikan kak Vicky jadi ketua Karang Taruna ]
[ Oh ya, baguslah daripada nggak ada yang mengurus ]
[ Iya juga sih.. apalagi anak-anak sudah pada bertanya kapan ada lomba. ] Tak sengaja aku menguap.
[ Sudah ngantuk, aku tidur dulu ya 🥱 ]
[ Huuuu , baru aja seneng ada yang menemani bikin tugas biar nggak sepi. Malah sudah bilang mengantuk ]
__ADS_1
[ Sorry . sorry.. besok kalau mau begadang hubungi aku biar aku temani sambil mengobrol. Kalau sekarang udah bener-bener mengantuk nih 🙏😊 ]
[ Iya.. iya met bobok sayaaaang 😘😜 ]
Kuakhiri chatinganku dengan Eva. Mataku langsung terpejam karena saking ngantuknya.
__________
Tahun ini kembali nggak ada acara Agustusan di kampungku, seperti tahun kemarin. Masih mending ada lomba anak-anak yang diadakan mas Hari. Sayangnya aku nggak sempat menonton karena nggak mungkin meninggalkan warung yang makin ramai saat bulan Agustus.
Hanya saja saat pembagian hadiah aku malah bisa ikut menyaksikan karena anak-anak hanya berkumpul di depan rumah mas Hari. Kuajak mbak Nia karena dia merasa bosan di rumah terus.
" Nah gitu dong mbak Aira sekali-sekali ikut gabung sama kita. Sudah lama juga nggak pernah muncul, sejak Widi meninggal kan ? " Mas Hari langsung berkomentar saat aku datang.
" Enggak,Mas.Aku sudah nggak mengingat-ingat yang telah pergi. Aku nggak pernah bergabung bersama kalian karena memang lagi sibuk. Sekarang aja aku bisa ke sini karena dekat rumah." Aku menjawab komentarnya.
Rumah mas Hari masih satu RT denganku hanya berjarak 3 rumah. Itu makanya aku pingin ikut bergabung, tapi hanya sekedar menonton bukan untuk membantu. Aku memberi kesempatan pada adik-adik yang masih SMA agar mereka merasa dibutuhkan.
Usai pembagian hadiah mas Joni menjemput mbak Nia. Ia baru saja pulang dari toko. Pasti ibu atau ayah yang memberi tahu jika mbak Nia bersamaku. Dan mungkin mas Joni khawatir hingga langsung menjemputnya.
" Mau beli wedang ronde dulu atau pulang ?" Mas Joni menawari kami.
" Mau dong, nanti dibawa pulang saja Mas ! " jawab mbak Nia dengan girang, mirip anak kecil ditawari mainan.
" Aku mau langsung pulang saja, sudah ngantuk banget, " kataku.
" Oh ya sudah, kami duluan ya? " Mereka pun berjalan berdua seperti ABG lagi pacaran.
Sampai di rumah aku membasuh kaki kemudian beranjak tidur. Beberapa hari ini aku bisa tidur lebih awal. Bawaannya cepat mengantuk, mungkin karena kecapekan. Beberapa hari ini warung makin ramai mungkin banyak yang belanja keperluan untuk acara Agustusan.
________
" Selamat pagi, Bu. Pagi mbak Aira," sapanya sok ramah.
" Selamat pagi, Mas." Ibu menjawab dengan tersenyum ramah. Aku hanya melempar senyum tanpa membuka suara.
" Mbak Aira, tolong buatkan kopi susu dong ! " pintanya padaku.
Aku masuk ke dapur membuat minuman pesanannya kemudian kuantarkan ke mejanya.
Ketika aku menaruh gelas di meja tiba-tiba dia mencubit tanganku. " Aww ! " Spontan aku melotot, bukan karena sakit tapi kaget.
Dia malah nyengir melihatku yang cemberut. Aku nggak berani marah padanya karena sedang banyak pembeli di sini. Apalagi dia juga ke sini sebagai pembeli. Aku masih sabar.
" Pinjam gelas satu lagi dong, ini kopinya kepanasan." Ya Tuhan ! rewel bener sih Oom Boss .
Aku masuk lagi dan menyuruh mbak Sri yang keluar..
" Mbak, tolong ambil gelas kosong terus kasihkan ke si boss kopi itu ! " Mbak Sri melakukan apa yang kuminta. Lalu ia masuk lagi.
" Entah benar atau tidak dia itu boss. Setahuku kalau boss tentunya makan di restauran, bukan di warung kecil seperti ini." Aku berbisik sama mbak Sri.
" Nggak tahu juga, ngakunya sih dia suka membeli kopi hasil panenan para petani. Terus dia menjualnya lagi ke pabrik."
" Oh, itu istilahnya pengepul." Aku menerangkan pada mbak Sri.
Aku nggak berani keluar selama si boss kopi masih ada. " Mbak Sri, biar aku yang meneruskan goreng bakwannya, mbak Sri yang membuatkan minum." Aku minta gantian sama mbak Sri. Ia pun keluar untuk mengambil piring2 kotor.
__ADS_1
Tapi ketika mbak Sri masuk lagi dia bilang Oom Boss memanggilku. Duh mau apalagi sih ?
" Udah biarkan saja," ucapku.
Memang Oom itu kalau sedang makan ada saja yang diminta. Mana kalau bicara suka dimanja-manjain lagi, sok akrab gitu. Terus gaya bahasanya juga sok gaul.
" Aira , ini Mas nya mau bertanya sesuatu sama kamu ! " seru ibu dari luar.
" Ya , Buk." Akhirnya aku pun keluar karena ibu yang memanggil.
" Panggil Mas Sidik saja, nama saya Sidik." Widiih, dia memperkenalkan diri.
Ibu senyum-senyum seraya melirikku. Pasti ibu menertawakannya. Meskipun dia menyebalkan tapi aku nggak pernah bisa marah, malah mau ketawa saja kalau melihat kelakuannya. Ibu juga begitu.
" Ada yang bisa saya bantu Oom , eeh...Mas ?" tanyaku kemudian. Katanya mau bertanya kok malah ngelihatin aku saja.
" Eeh.. iya.. anu.. mau tanya. Ini saya lagi sariawan terus obatnya apa ya ? " Dia bicara sampai gelagapan seraya memegang bibirnya.
Makanya jangan kebanyakan berkata gombal, kataku dalam hati.
" Oh itu, minum larutan penyegar atau vitamin C," jawabku singkat.
" Kalau begitu tolong belikan dong, saya nggak tahu beli di mana." Eh, malah menyuruhku lagi.
" Belikan di apotik Aira ! " seru ibu menimpali.
Ibu gimana sih malah ikut- ikutan. Kalau sudah ibu yang menyuruh aku tak bisa menolak.
Cak Sidik, eeh mas Sidik menyodorkan lembaran 50 ribu padaku. Aku masuk ke dapur dulu mencuci tangan. Di dalam rupanya mbak Sri tengah mencuci piring sambil tertawa tertahan. Kutepuk bahunya.
" Kalau mau tertawa nggak usah ditahan ! " seruku seraya melotot pura-pura kesal.
Pasti mbak Sri menertawakanku.
" Mbak Sri saja yang beli," pintaku memohon.
" Nggak ah, kan yang disuruh Aira." Mbak Sri tertawa lagi mengejekku. Awas ya !
Aku segera keluar supaya tugasku meladeni Cak Sidik ini lekas selesai. Kenapa harus ke apotik, mungkin mbak Wiwit juga menjualnya. Aku pun masuk ke tokonya.
" Mbak, punya larutan penyegar nggak ? " tanyaku .
" Ada, memang buat siapa ? " mbak Wiwit balik bertanya.
" Itu ada pelanggan yang suruh belikan." Aku menjawab cepat supaya mbak Wiwit nggak bertanya lagi. Bisa gawat kalau sampai dia tahu. Aku bakal diledek habis-habisan nanti.
Setelah membayar dan menerima kembalian aku masuk ke warung dan menyerahkan botol larutan pada Cak Sidik, eh mas Sidik.
" Kembaliannya buat Mbak Aira saja," katanya kemudian.
" Enggak ah, Terima kasih." Kutaruh uang kembaliannya di meja.
Aku nggak mau menerima uang yang nggak seberapa. Nanti dia menganggapku mudah diberi imbalan dan dia bisa merendahkanku.
********************
Pasti penasaran kan menanti kelanjutannya ? ikuti terus ya novel ku.
__ADS_1
please kasih vote like dan komen.. Biar penulis makin semangat dan bisa bikin cerita lebih menarik.
thank's !