Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 40 Ternyata Kenal


__ADS_3

Ibu menceritakan pada mbak Nia tentang mas Sidik. Tentu saja mbak Nia lantas meledekku.


" Orangnya seperti apa sih mas Sidik itu? jadi penasaran ha ha ! " Tuh kan, mulai deh dia.


" Orangnya itu tinggi, besar, agak hitam. Wajah Rambo tapi hati Rinto, soalnya kalau bicara sok sokan di manis-manisin. Berasa kaya ABG. " Aku menggambarkan sosok mas Sidik pada mbak Nia.


Dia malah makin terpingkal-pingkal.


" Haha.ha....haduuh., makin penasaran. Mungkin dia bicara kaya gitu cuma sama kamu saja, biar dikatain seumuran hahaha. Besok kalau dia datang lagi tolong fotoin, aku pingin tahu orangnya kaya apa." Mbak Nia ada-ada saja. Masa aku disuruh mengambil fotonya.


" Ogah ah ! Baru ketemu saja aku sudah buru-buru pingin menghindar, malah disuruh mengambil gambarnya. Bisa ge er dia." Aku bersungut-sungut mendengar permintaan mbak Nia.


" Tapi aku kan lagi hamil, nanti kalau anakku ileran gimana, hayo ? " ancamnya.


Waah ! Pakai bawa-bawa kata hamil lagi. Tapi tunggu, dia kan cuma lagi mengobrol biasa sama aku bukannya lagi ngidam. Ini pasti akal-akalan mbak Nia biar aku mau mengambil fotonya mas Sidik.


" Memangnya kamu ngidam, orang kita lagi mengobrol biasa terus kamu minta hal yang aneh-aneh. Lagian kalau ngidam kan waktu masih hamil muda, ini sudah besar gitu." Aku menyangkal perkataan kakakku.


" Ya sama saja dong, namanya orang hamil permintaannya harus dituruti. Kalau nggak nanti anaknya ileran. Kamu mau ponakanmu ngeces terus ? "


Aku nggak menjawab ucapannya lagi, percuma berdebat sama orang hamil. Kupasang wajah cemberut biar dia nggak mengoceh terus kaya burung Beo. Mending masuk kamar dan tidur.


Besoknya benar saja, mas Sidik datang lagi ke warung. Untung aku sudah sarapan, kalau belum bisa-bisa malah nggak jadi makan karena hilang selera.


" Assalamualaikum ! " ia mengucapkan salam.Tiap kali datang sapaannya selalu berbeda.


" Waalaikum salam ! " jawab kami bertiga. Kebetulan sudah lewat jam sarapan sehingga hanya ada satu dua orang yang sedang makan di sini.


" Dik Aira, bikinkan Mas Sidik kopi susu ya ! " pesannya. Dia memanggilku Dik, padahal kemarin- kemarin memanggil Mbak.


Tanpa menjawab segera kubuatkan minuman pesanannya lalu kuletakkan di depannya. Sengaja aku berdiri agak jauh darinya karena khawatir dia akan mencubitku lagi.


" Kok ngasih minumnya jauhan gitu, takut dicubit ya ? " ucapnya seraya tertawa menyeringai. Tahu aja nih orang apa yang kupikirkan.


" Eh, enggak kok. Itu lagi goreng tempe nanti gosong." Aku menjawab asal saja. Apa hubungannya takut dicubit sama takut gosong ?


" Tenang saja, Dik Aira itu nggak pantas untuk dicubit. Pantasnya disayang," ucapnya lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya. Ya Tuhan, dasar ABG tua !


Buru-buru aku masuk ke dapur. Sempat kulihat ibu melirikku dengan menahan senyum. Mbak Sri yang tengah mencuci piring pun rupanya sedang menahan tawanya.


" Duuh, yang barusan disayang. Hihihi... " Mbak Sri meledekku.


Cuit cuit ! Handphoneku berbunyi. Kuambil dari dalam bilik tempat sholat. Pesan WA dari mbak Nia. Jangan-jangan dia mau membahas yang tadi malam. Kubuka pesannya, benar saja.


" Aira, jangan lupa loh ! Nanti kalau mas Sidik itu datang tolong difoto. Ingat ya, aku lagi hamil hehe he ! " Sialan mbak Nia, pakai ngancam lagi.


Aku pun keluar dari bilik dan berdiri di depan meja tempat minuman. Dari sini aku bisa melihat mas Sidik yang sedang makan lewat etalase. Ia sendiri nggak menyadari kalau aku sedang menatapnya. Cepat-cepat kubidikkan kamera HP ku ke arahnya. Cekrek ! Dapat.


Kukirimkan fotonya ke nomer WA nya mbak Nia. Di bawahnya kutulis caption. ' Tuh puas- puasin mengamati wajah si Boss kopi 😄 '


Beberapa menit kemudian mbak Nia membalas.


[ Serius ini orangnya ? Sepertinya aku pernah melihatnya ]

__ADS_1


[ Ya bener lah. Memang Mbak Nia melihatnya di mana ]


[ Kalau nggak salah dia sering setor kopi ke tokonya mas Joni. Iya bener, tapi aku nggak tahu namanya karena mas Joni yang sering mengurusi kalau dia menyetor dagangannya ]


[ Berarti kamu kenal juga dong ]


[ Kenal banget sih enggak, cuma tahu. Kan aku jarang berkomunikasi sama dia ]


Belum sempat aku menulis pesan lagi ibu berseru memanggilku," Aira, sini sebentar ! "


Aku letakkan HP di meja dan segera keluar. " Ada apa, Buk ? " tanyaku.


" Eeh ini, Dik Aira. Kalau beli charger handphone di mana ya? " tanya mas Sidik sebelum ibu sempat menjawab pertanyaanku tadi.


" Ya di counter lah, tuh di depan ! " sahutku. Aku menunjuk arah pasar biar dia tahu kalau aku kesal.


Masa mau beli charger aja nggak tahu di mana.


" Tapi masa di dalam pasar sih, Dik Aira ? Setahu saya kan di dalam pasar nggak ada counter." Dia berkata tanpa mengalihkan pandangannya dariku. Pakai senyum- senyum lagi.


" Kalau tahu kenapa masih bertanya ? " ucapku sedikit ketus.


" Aira, yang sopan sama tamu." Ibu berkata padaku setengah berbisik, kemudian masuk ke dapur. " Maaf, Buk," sahutku lirih.


Mas Sidik nampaknya ngga terpengaruh dengan ucapanku barusan. Heran deh, sudah kucuekin tiap hari tapi ia nggak pernah tersinggung.


" Maksud saya kalau misalnya Dik Aira mau mengantar saya ke counter terdekat dari sini. Nanti Dik Aira bisa sekalian melihat-lihat handphone , mungkin pingin ganti yang baru."


What ? Nih orang makin lama makin bertingkah deh. Permintaannya makin aneh saja, mentang-mentang kemarin aku mau jika dia minta tolong. Itu juga kalau bukan ibu yang menyuruh tentu aku nggak mau. Lagi pula hanya ke toko mbak Wiwit.


" Ya sudah kalau hari ini nggak bisa, tapi besok bisa kan? " lanjutnya. Oh my God !


Aku nggak membalas perkataannya dan langsung masuk ke dapur. Mas Sidik memanggil mau membayar makanannya, tapi ibu yang kuminta keluar.


" Heran deh, selama ini nggak pernah lihat itu orang, kok sekarang jadi sering muncul ya. " Aku bicara sama mbak Sri.


" Kan sekarang lagi panenan kopi, makanya dia sering ke pasar menyetor dagangannya. Sebelumnya juga dia pernah ke sini sesekali. Tapi waktu itu Mbak Aira masih mengajar di TK jadi nggak pernah ketemu. Soalnya kalau ke sini pagi mau sarapan." Mbak Sri pun menjelaskan padaku.


" Kamu bicara apa tadi kok mas Sidik langsung pergi ?" tanya ibu yang tiba-tiba masuk dapur.


" Biasa saja kok, tadi kita mengobrol dan aku bicara baik-baik. Misalkan aku galakin juga dia ngga pernah marah."


" Iya tapi jangan sekali pun sampai bicara kasar sama tamu warung, apalagi yang sudah langganan. Dia juga kalau jajan banyak dan nggak pelit." Ibu mengingatkanku lagi.


Aku sih maklum mungkin ibu khawatir kalau dia marah dan nggak mau lagi jajan di warung kami.


" Waktu mbak Nia belum nikah, banyak pelanggan baru yang datang dan suka godain dia. Tapi mbak Nia ngga pernah menanggapi karena Joni cemburuan. Akhirnya satu per satu mereka nggak lagi singgah ke warung.


Padahal dulu waktu mbak Rina dan mbak Tika masih sekolah dan membantu di warung, pelanggan ibu banyak. Mbak Rina dan mbak Tika selalu ramah pada pembeli meski banyak juga yang sering menggoda." Ibu pun bercerita tentang masa-masa dulu.


" Berarti selama musim panen kopi aku masih ketemu terus sama Cak Sidik nih !" seruku. Sabar Aira, sabaar.


" Dan selamat menikmati hehehe! " sahut mbak Sri. Kami berdua tertawa. Mbak Sri tertawa geli tapi aku tertawa miris.

__ADS_1


__________


Beberapa hari berlalu. Sebulan kemudian mbak Nia melahirkan. Bayinya cowok hidungnya bangir mirip mas Joni. Tapi kulitnya putih seperti mbak Nia. Kata ibu kulit dan wajah bayi masih bisa berubah seiring dengan pertumbuhannya.


" Aduh gantengnya cucu Nenek sama Kakek ! " seru ibunya mas Joni. Mereka berkunjung untuk menengok cucu barunya.


" Iya dong, Bu. Ayah ibunya juga ganteng dan cantik." Ayah mas Joni menimpali.


Mbak Rina, mbak Tika dan mas Bayu bergantian menjenguk mbak Nia dan bayinya. Aku senang karena bisa berkumpul kembali dengan mereka. Daffa dan Stella juga nampak girang melihat adik bayinya.


" Adiknya lucu, tapi matanya kok merem terus sih ! " celetuk si kecil Stella.


" Iya, soalnya matanya kecil. Kalau matanya besar pasti bisa melek." Daffa belagak menjelaskan pada adiknya. Ayah dan ibu pun tersenyum menyaksikan kelucuan 2 cucunya.


Rekan- rekan dan para pelanggan mas Joni ada yang datang menjenguk ke rumah ada pula yang hanya menitipkan amplop atau kado buat si kecil pada mas Joni. Seperti sore ini mas Joni pulang dari toko membawa bungkusan tas plastik besar.


" Nia, ini ada titipan kado dari mas Sidik, pemasok kopi di toko kita." Ia memperlihatkan bungkusan tersebut pada mbak Nia yang tengah duduk di sofa, sedang memangku babynya. Sepertinya mbak Nia belum cerita tentang mas Sidik pada mas Joni.


" Dibuka saja, Mas. Penasaran isinya apa kok gede amat." Mbak Nia menyuruh suaminya membuka bungkusannya.


Setelah dibuka isnya sebuah kotak yang masih dibungkus kertas kado. Mas Joni membuka kotaknya teryata isinya seperangkat keperluan bayi. Ada bedak, sabun mandi, krim wajah, shampo bayi dll.


" Wow ! Banyak banget, ini lengkap banget. Kok dia bisa kepikiran ngasih kado seperti ini , padahal dia kan belum beritri. Biasanya yg tahu keperluan bayi kan perempuan yang sudah pernah punya bayi." Mbak Nia berkata dengan heran.


Aku dan ibu juga tak menyangka mas Sidik bisa memberi kado semacam itu.


" Memang kamu tahu dari mana ? Dia itu sudah beristri, anaknya saja 2 kok." Mas Joni memberi tahu kami.


" Haaah ! tapi kata ibu dia itu perjaka tua." Mbak Nia membelalakkan matanya karena terkejut. Begitu juga ibu. Aku sih nggak kaget, karena sudah menduga sejak awal.


" Ibu kenal dengan mas Sidik ? " tanya mas Joni kemudian.


Selanjutnya mbak Nia menceritakan tentang mas Sidik pada suaminya, seperti yang telah diceritakan ibu padanya.


" Maaf aku belum sempat cerita ke kamu, Mas. Karena kupikir ini bukan hal penting."


" Pantas waktu itu dia pernah bilang, dia kenal sama cewek yang masih muda tapi cantik dan pintar. Dan dia ingin menjadikannya istri kedua seandainya gadis itu mau. Begitu katanya. Ternyata gadis itu kamu, Aira. Hahaha ! " Mas Joni malah tertawa.


" Untung saja ibu belum sempat terbujuk sama dia. Bisa- bisa Aira terpaksa jadi istri muda. Hahaha! " Mbak Nia ikut tertawa menimpali.


" Huuu... aku juga nggak bodoh kali. Sudah kuduga dari awal kalau dia pasti sudah beristri. Seandainya belum aku juga ngga ada bayangan punya suami yang tinggi besar sangar kaya gitu." Aku menyangkal perkataan mbak Nia.


" Tapi kan wajah Rambo hati Rinto ! " serunya lagi.


Kita pun akhirnya malah tertawa bersama mengingat kelakuan mas Sidik.


**********"""*********


Sudah dulu ya pemirsaaah. Masih ada kelanjutannya kok.


Author mengucapkan Selamat Tahun Baru 2023


Semoga di tahun mendatang akan ada perubahan positif utk kita semua.

__ADS_1


Ikuti terus kisah Aira ya, sebentar lagi akan ada seseorang yang hadir dan menemani hari2nya.


__ADS_2