
" Aku tadi habis mengantar istri dan anakku ke Semarang. Lagi kangen sama orangtuanya, pingin menginap di sana." Niko menjawab pertanyaanku barusan.
" Woi, jangan ngobrol aja ayo kerja ! Tuh tamunya udah pada datang lagi ! " seru Anto lagi pada Niko.
" Iya iya, sirik lo ! " balas Niko seraya berdiri.
Sehabis Magrib tamu memang mulai berdatangan lagi. Sebagian besar tamu adalah para tetangga atau famili jauh. Kami panitia dibuat sibuk keluar masuk meladeni makanan dan minuman. Kak Vicky, mas Hari dan Mas Yadi yang bertugas mengecek persediaan makanan dan minuman yang disajikan di meja.
Di atas jam 8 malam baru lah tamu berkurang. Sebagian panitia ada yang beristirahat sambil merokok, ada yang bercengkerama. Hanya beberapa yang masih melayani 1-2 orang tamu, itu pun tamu keluarga.
" Adik-adik, monggo silakan makan malam dulu berhubung sudah tidak ada tamu," kata kak Agus yang menyempatkan diri menemui para sinoman di belakang.
" Calon pengantin dilarang masuk dapur, nanti bau sangit, haha! " celetuk kak Vicky yang langsung disambut tawa oleh mas Hari dan mas Yadi.
Aku duduk menyendiri sejenak. Kubuka hape dan melihat ada pesan dari mas Raka. Setelah berbalas chat beberapa saat, tahu-tahu di sebelahku sudah ada teman-teman cowok yang usianya 2-3 th di bawahku. Ada Rinto, Jerri, Andre, Dani dan Ardian. Mereka sedang membicarakan Ernest yang katanya sok jaim. Hadeewwh !
" Mbak Aira nggak bisa ketemuan sama mas Raka dong ya," celetuk Andre adiknya mas Hari.
" Sekali-sekali nggak pa pa kan, tiap hari udah sering ketemu," balasku dengan tersenyum.
Saat santai begini kita saling mengobrol membentuk kelompok sendiri. Novi, Erna dan Nanda ada di meja depan. Kak Vicky, mas Hari dan mas Yadi ngobrol dengan kak Agus.
Kulihat Niko sedang berjalan menuju kemari. Ia duduk di kursi sebelah kiriku dan ikut bercengkerama dengan yang lain.
" Kamu kapan menikah Aira ? " tanya dia menoleh padaku.
" Setengah tahun lagi, InsyaAllah,"jawabku. Pandanganku tetap pada teman-teman yang tengah bercanda dan saling meledek.
" Niko, kamu sudah punya anak kok masih ikut sinoman sih. Tuh anakmu nangis, hahaha ! " celetuk Dani, anaknya memang agak bandel.
" Anaknya lagi di Semarang di tempat neneknya." Aku menimpali ucapan Dani.
" Biarin, aku kan masih pantas jadi pemuda, hehe! " balas Niko tak mau kalah. Ia pun tidak tersinggung rupanya.
" Masih muda kok buru-buru nikah, nggak bisa mengontrol diri." Aku berkomentar, setengah menyindir Niko.
" Namanya juga kebablasan," sahutnya santai seakan hal seperti itu wajar.
" Katanya nggak boleh pacaran sebelum masuk kuliah." Aku mencebikkan bibir.
__ADS_1
Kami pun mengobrol serius. Ini kesempatanku buat menumpahkan kekesalanku padanya setelah dia menyakitiku waktu itu. Sejak kita putus baru sekarang aku bisa bertemu dan bicara dekat dengannya.
Sampai akhirnya kusinggung soal study tour sekolahnya ke Bali yang pernah ia ceritakan sebelum berangkat. Waktu itu kita bertiga dengan Rio sedang makan bakso.
" Yang katanya mau ke Bali, lalu nawarin aku minta dibeliin oleh-oleh apa di sana. Heeh, tahu-tahu nggak ada kabar kelanjutannya. Jangankan oleh-oleh, sejumput pasir pun tak sampai ke tanganku." Aku bersungut-sungut saat mengucapkannya, tapi tidak benar-benar marah.
" Iya maaf, waktu itu memang aku tidak pernah ada kesempatan buat ngabarin kamu," sahutnya dengan tersenyum dan tetap santai.
" Huuuh alasan, mana mungkin tidak bisa, memang kamu nggak punya hape? Mau bilang kalau handphone kamu selalu dipegang kakak sepupumu itu. Apa dia mengikutimu terus sampai kamu tidur hingga tidak ada celah sama sekali buat kamu untuk sendiri ? " cecarku lagi.
Aku terus menyudutkannya dengan mengungkit sikapnya dulu yang mengabaikanku. Suaraku sedikit agak keras biar teman-teman ikut mendengar, tapi gaya bicaraku santai tidak emosi.
" Bukan begitu, waktu itu kan aku lagi persiapan mau test kenaikan kelas juga." Niko mencoba menjelaskan.
" Jadi yang bener yang mana ? Kata Rio ada kakak sepupumu yang mengikuti ke mana pun kamu pergi. Tapi setidaknya kamu bisa kirim kabar lewat whatsApp.
Katanya kamu sayang, tapi nggak pernah mempedulikan perasaanku. Seenaknya sendiri menggantungkan hubungan. Setiap aku kirim WA tidak pernah dibalas. Giliran aku minta putus baru kamu balas dan bilang kalau orang tua melarang pacaran. Kamu nggak punya prinsip, sama sekali nggak ada niat untuk mempertahankan hubungan."
Niko tidak membalas kalimatku. Ia hanya diam tapi tetap tersenyum. Mungkin dia membenarkan apa yang kukatakan.
" Mbok sudah jangan diungkit lagi, itu kan sudah lewat, sudah masa lalu." Ardian yang duduk di sebelah kananku tiba-tiba ikut bicara. Ia seolah membela Niko.
Ardian pun terdiam. Tidak ada yang berani berkomentar karena mereka lebih muda dariku.
" Tuh Nik, dengerin tuh. Makanya jadi cowok jangan plin plan, hihihi ! " celetuk Jerry.
Yang lain ikut tertawa, ada juga yang bertanya-tanya karna tak tahu jika dulu aku pernah dekat dengan Niko.
" Oke teman-teman, sekarang kita kumpul di depan sambil makan malam. Habis itu kita pamit karena besok masih ada tugas lagi." Mas Hari memanggil kami.
Obrolan kami terhenti , cowok-cowok langsung menuju serambi depan rumah kak Agus. Sementara aku dan teman -teman cewek berjalan di belakang. Niko mensejajari langkahku.
Seusai makan bersama dan berbasa basi dengan tuan rumah kami semua pamit. Tak lupa kak Vicky mengingatkan besok pagi harus datang jam 10.00.
Aku pulang bersama Andre dan Jerry. Novi tampak masih sinis padaku. Beda dengan Erna yang selalu baik padaku. Aku sih tak peduli, toh usianya di bawahku.
________
Aku memutuskan untuk tidak ke warung ibu karena jam 10.00 sudah harus tiba di rumah kak Agus.
__ADS_1
" Mbak Aira sudah siap ?" tanya Ernest saat aku hendak memakai sepatu di teras.
" Sudah, ini tinggal pakai sepatu," sahutku seraya memakainya, lalu mematut diri di depan kaca jendela. Lima menit kemudian mas Hari muncul dan menungguku di depan pagar.
" Yuk Aira, kita berangkat ! " ajaknya. Tanpa menyahut aku berjalan ke arahnya diikuti Ernest.
Sampai di rumah kak Agus kita disuruh sarapan lebih dulu sebelum ke Gedung Serba Guna. Selesai makan beberapa rekan panitia sudah ada yang menuju gedung resepsi.
" Aira, kamu di sini dulu ya. Bantuin aku melayani tamu keluarga yang baru datang," pinta Niko yang muncul dari ruang tamu. Aku sendiri masih duduk di teras samping rumah, base camp kita sejak kemarin.
" Oke siap ," sahutku seraya menghampirinya.
Di ruang tamu ada kerabat jauh yang baru datang. Karena semua panitia sudah pindah tempat ke gedung resepsi maka Niko memintaku melayani mereka.
Tapi ternyata ada seseorang yang dari tadi mengikutiku yaitu Novi. Ngapain nih anak tiba-tiba baik, kemarin aja sinis. Sebenarnya dia memang baik, mungkin kemarin dia terpengaruh Ninik yang suka suudzon sama orang lain.
" Aku bantuin ya Mbak," ucapnya ketika aku menata makanan kecil buat tamu.
" Silahkan," sahutku singkat.
Niko membawa beberapa gelas minuman dari dapur dan memintaku menyertainya ke ruang tamu untuk menyuguhkan.
Seusai menata meja makan dan mempersilakan tamu untuk menyantap hidangan, aku dan Niko menyusul teman-teman ke gedung resepsi. Novi mengikuti dan berjalan di sisiku.
" Ke mana saja kalian, kok baru muncul. Niko mentang-mentang istrinya lagi nggak di rumah lalu mendekati Aira terus dari tadi malam, hahaha! " Anto langsung menggoda kami begitu tiba di tempat para panitia berkumpul.
" Biarin, gangguin aja kamu." Niko menjawab santai seperti biasa.
Kami berkumpul di luar gedung bagian belakang. Kulihat Ernest duduk sendiri di kursi paling ujung. Ia memandangiku yang datang bersama Niko. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
" Aku cari dari tadi Mbak, dari mana sih ? " tanya dia heran.
" Tadi ada kerabatnya tuan rumah yang baru datang dari luar kota. Sebelum ke sini ya kita suguhi dulu lah. Niko memintaku menemaninya melayani tamu-tamu itu."
" Oh gitu." Ernest melirik Niko sesaat. Lalu kembali menoleh padaku dan bertanya tentang tatacara resepsi pernikahan di sini.
******************
Tunggu lanjutannya ya gaes.
__ADS_1