
Sepeninggal Mas Raka kututup pintu pagar rumah dan berbalik hendak masuk.
" Ciyee yang barusan berduaan sama pacar, udah lupa tuh sama yang depan rumah, ha ha ! " seru Ernest yang muncul tiba-tiba dari balik pagar.
" Eh ngagetin aja kamu ! memang yang di depan rumah apaan, pagar apa tanaman. " Aku berlagak tak tahu.
" Ya aku lah! Nggak tahu kan dari tadi aku nungguin kapan pacarnya mbak Aira pulang."
Haah, nggak salah dengar nih ." Yaaah, mas Rakanya sudah pulang tuh! Memang kamu ada perlu apa sama dia ? " tanyaku sambil membuka lagi pintu pagar.
" Bagus lah, aku nggak ada perlu kok sama mas Raka, cuma pingin ngobrol sama mbak Aira." Ernest bicara sekenanya, ternyata cuma pingin mengobrol sama aku.
" Huuuh, awas ya kubilangin nenek kalau kamu nggak belajar malah godain mbak Aira, " balasku.
" Belajar terus kapan nyantainya, udah satu jam lebih aku pegang buku sama pulpen."
"Oh ya Dek, hampir lupa. Besok malam minggu ikut rapat sinoman ya, di rumah kak Agus. Nanti bareng sama aku berangkatnya. "
" Tapi aku belum kenal sama kak Agus, rumahnya yang mana sih ? "
" Ya makanya besok ikut biar kenal juga sama yang lain. Rumah kak Agus di seberang jalan dekat gapura." Kubujuk Ernest supaya bersedia.
" Besok deh aku ikut. Tapi kok nggak pakai undangan sih Mbak? " tanya dia lagi
" Biasanya ada, tapi kamu kuberitahu dulu biar nggak bingung besok kalau dapat undangannya. Sudah ah aku mau tidur," kataku lalu berbalik dan menutup pintu pagar
" Oke makasih Mbak," balasnya juga sambil menutup pintu pagar rumahnya.
__________
Suasana warung makan agak tenang. Begitu pula saat belanja di pasar tadi juga tak begitu ramai. Maklum saja karena ini hari Jumat.
" Mbak Aira, handphonenya bunyi tuh ! " seru mbak Sri dari dapur. Aku baru membersihkan meja makan ruang depan.
" Makasih Mbak," Ucapku seraya masuk dan mengambil handphone di dalam bilik tempat sholat.
Mas Raka mengirim pesan WhatsApp. Mungkon dia habis sholat Jumat.
[ Sayang, nanti sore aku jemput ya ]
Langsung kubalas saja karena dia masih online.
[ Boleh Mas. Tapi tumben biasanya kalau hari Jumat nggak ke sini ]
[ Kali ini beda dong, besok kan kamu ada acara. Jadi malam ini sebagai gantinya. Nanti aku pulang lebih awal soalnya ]
[ Oke deh, terserah kamu aja. Memangnya kita mau ke mana sih ]
[ Kita keliling kota saja gimana. Sudah lama kita nggak keluar kan, bosan cuma duduk ngobrol di rumah ]
[ Kirain mau ke mana, pakai ngasih kabar sekarang. Biasanya juga langsung muncul di sini ]
[ Iseng aja pingin ngechat kamu. Ini lagi makan berkah Jumat, selesai sholat tadi dapat jatah nasi bungkus. Lumayan kan, dapat dua lagi 😄 ]
[ Wah asyik dong ]
__ADS_1
[ Oke sampai nanti ya. Mau lanjut makan dulu. Bye ]
Aku tersenyum, kutaruh handphone di atas meja kecil.
" Kenapa Mbak, setiap habis dapat WA pasti senyum-senyum. Dari mas Raka kan ? " tebak mbak Sri.
" Yes, seratus buat kamu ! " sahutku sambil mengacungkan jempol.
" Ada kabar apa? " tanyanya kepo.
" Bukan hal penting, tapi kalau sama dia dibikin jadi sesuatu. Tahu sendiri kan mas Raka suka lebay, hahaha ! "
" Mbak Aira bisa saja, awas lho aku bilangin mas Raka."
" Nggak apa-apa. Paling juga nanti dia makin ge er."
****
Jam 15.30 mas Raka sudah tiba di sini. Berarti satu jam lebih awal dari hari biasa. Dia duduk di bangku teras sambil menyelonjorkan kaki dan mengipas-ipas wajah dengan topinya.
" Minum dulu Mas," kuberikan segelas air putih dingin padanya. Glek glek glek, ia meneguknya sampai tak ada sisa.
" Makasih ya. Langsung segar nih, tadi panas banget. Pulang jam 3 sore malah panas. Kalau jam 4 udah agak adem udaranya. Huuft ! "
" Duduk aja dulu di situ. Aku mau melanjutkan pekerjaan di dalam. Sudah hampir selesai juga, soalnya tadi nggak begitu ramai. "
Kusarankan Mas Raka menunggu di teras. Ia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas ranselnya.
" Apa tuh Mas, buat aku ya." Mataku bersinar melihat benda berbentuk kotak yang dibungkus kantong plastik hitam.
" Yaah nasi kotak, kirain kejutan apa gitu buatku, hehe ! " Aku terkekeh geli sendiri.
" Ya buat kamu aja kalau mau. Kan aku dapat dua, tapi beda menunya. Yang satu nasi gudeg udah kumakan tadi, yang ini lontong opor. Mau nggak ? " Mas Raka memperlihatkan isinya yang menggugah seleraku. Paket lontong opor komplit dengan sambal goreng ampela ati dan telur juga krupuk.
" Kita makan berdua yuk," ajakku lalu menarik tangannya supaya masuk.
Kita duduk di ruang depan karena sudah nggak ada pembeli. Mas Raka meminta sendok di tanganku lalu ia menyuapiku. Mudah-mudahan mbak Wiwit nggak keluar, kalau dia tahu pasti kita digodain.
Ibu dan mbak Sri menyaksikan kita dari dapur sambil tersenyum. Lalu cuma geleng-geleng kepala. Mbak Sri mengambil alih tugasku yang hampir selesai tadi.
" Aku pamit ya Mbak, pingin disuapin juga sama mas Jarwo di rumah, hihihi." ujarnya ketika hendak pulang duluan.
" Nyindir nyindir, nggak bisa lihat orang seneng aja huuuh ! " balasku sambil mencebikkan bibir.
Mbak Sri keluar sambil cekikikan. Tapi kok dia seperti masuk ke toko mbak Wiwit. Dasar tukang gosip, awas besok !
Dan benar saja, mbak Wiwit tiba-tiba muncul. " Nah lo, sore-sore malah asyik suap-suapan. Tuh bantuin ibu di dapur ! " serunya menggoda kami.
" Tugasku sudah selesai, tinggal menunggu masaknya opor. Sirik aja kalian ya ! " celetuk ku pura-pura marah.
Mbak Wiwit meletakkan gelas dan piring kotor yang dibawanya. Lalu meletakkan uang di sebelahnya.
" Aku juga mau tutup aah ! Pingin disuapin juga sama mas Heri, hahaha ! " Ia tertawa ngakak lalu keluar.
Mas Raka cuma diam dan tersenyum bila digodain sama mbak Wiwit ataupun mbak Sri. Justru aku yang sibuk menyahuti mereka.
__ADS_1
Setengah jam kemudian ibu sudah selesai dan aku juga sudah membereskan bekal yang mau dibawa pulang.
" Ibu pulang dulu sama mas Raka," saranku yang langsung disetujui ibu. Keranjang juga sekalian dibawanya.
Sepuluh menit kemudian mas Raka sudah membunyikan klakson motornya.
" Ayo naik Tuan Putri ," ajaknya dengan mengganti namaku.
Aku langsung menghenyakkan pantatku di jok belakang. Mas Raka langsung tancap gas.
" Kita lewat pedesaan aja, sambil melihat pemandangan. Hawanya juga sejuk kalau sudah sore begini," ajaknya.
" Heemh," ucapku lirih. Kutempelkan dagu di bahu kanannya.
Melewati alun-alun dan taman kota, mas Raka terus melajukan motornya ke arah barat. Makin lama deretan rumah dan toko di sepanjang jalan berganti dengan pepohonan.
Sekitar setengah jam kita sampai di suatu tempat yang banyak pohon pinus di pinggir jalan. Di sawah-sawahnya sedang ditanami tembakau yang baru tumbuh sekitar setengah meter lebih.
" Sejuk ya Mas, keringat langsung hilang kena semilir angin hehe," ucapku senang.
Aku belum pernah ke tempat ini meskipun sebenarnya tak terlalu jauh dari tempat tinggal. Tentu saja karena dulu hari-hariku hanya diisi dengan sekolah dan ke warung makan. Tidak ada waktu buat main-main.
" Seger kan udaranya, pemandangan juga bagus. Berbeda sama di kota. Kamu suka kan ?" tanya mas Raka.
" Suka banget Mas, baru sekarang aku tahu tempat ini," ucapku jujur.
" Masa sih, kalau gitu kita berhenti di sini ya. Biar kamu puas menikmati suasana di sini."
Mas Raka menghentikan motornya agak jauh dari jalan raya. Kita duduk di rerumputan yang masih hijau segar Tidak seperti yang di alun-alun yang sudah terinjak-injak banyak orang, hehe.
Ia merangkul pundakku, kepalaku dibawanya ke bahunya.
" Pejamkan mata dan hirup udara dalam-dalam. Nanti akan tercium bau rumput yang segar."
Kuturuti ajakannya. Kupejamkan mata dan perlahan kuhirup udara. Memang terasa bau-bau rumput muda. Namun makin dalam kuhirup kok, ada bau mirip kotoran hewan. Makin lama makin tajam.
Kubuka mataku, astaga ! Ada sapi yang tengah lewat bersama bapak-bapak paruh baya. Mas Raka tertawa ngakak.
" Permisi Mbak, Mas, mari," sapa orang itu. Kaki berdua mengangguk, mas Raka masih menahan ketawa.
" Kamu ngerjain aku ya Mas, iih iih !" kupukuli lengannya.
" Aduuh, hahaha. Padahal tadi sudah kelihatan kalau sapinya mau lewat sini, kamu kok bisa nggak tahu. Ya udah kukerjain aja hahaha ! "
Aku makin geregetan, kupukuli lagi dan kucubiti pinggangnya. Mana tadi bapak yang menuntun sapi juga seperti menahan senyum.
" Sudah yuk pulang, udah mulai dingin nih. Jam berapa coba." Aku mengambil handphone di dalam tasku. Hampir pukul setengah enam. Tapi langit masih terang, matahari baru akan tenggelam. Maklum kita berada di pegunungan sehingga matahari nampak jelas terlihat.
Setelah membersihkan pakaian dari rumput yang menempel kita beranjak dari tempat ini.
*********************
Sekian dulu ya gaees. Tinggalin komentar dan like sebanyak2 nya, okey !
Love sekebun buat kalian, makaciih.
__ADS_1