Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 52 Ulang Tahun


__ADS_3

Raka duduk menyandar di kursi. " Terus terang tadi aku langsung kaget begitu kakakmu bilang, Aira pergi. Gimana enggak ? Kemarin-kemarin nggak ada tanda kalau kamu punya pacar. Apalagi kamu sendiri bilang kalau aku main ke sini nggak ada yang marah. Eh tahunya tiba-tiba pergi sama cowok lain." Raka mengungkapkan perasaannya ketika dikerjai tadi.


Aku masuk ke dalam membuat teh manis untuknya." Nih minum dulu, biar nggak tegang lagi."


Kuletakkan gelas tehnya di depan Raka. Ia langsung mengambil dan meminumnya perlahan, lalu wajahnya tersenyum lega.


" Nonton yuk ! " ajaknya. " Ah, kemarin filmnya nggak bagus, membosankan. Malah asyik makan kacang nggak fokus nonton film, " celetukku.


Tiba-tiba aku tertawa sendiri teringat saat Raka kusuapi plastik. " Ha ha ha ! "


" Kok malah ketawa sendiri, buruan ganti baju nanti telat nontonnya," cetus Raka.


" Ganti jilbab aja kok, tunggu sebentar ya ! " Aku beranjak ke kamar mengganti jilbab sekalian mengambil tas selempang dan handphone.


" Buk, Yah, aku pergi dulu ya ! " Aku pamit sama ibu dan ayah.


" Hati-hati, pulangnya jangan sampai malam ! " pesan ayah. " Beres, Yah ! " sahutku seraya keluar.


Raka masuk ke ruang tengah dan pamit terlebih dahulu sama ayah dan ibu.


Sampai di gedung bioskop Raka langsung membeli tiket karena film akan segera diputar.


" Aku beli minuman sama snack dulu ya !" cetusku.


" Nggak usah, kamu tunggu di sini biar aku yang beli minuman." Raka melarangku.


" Nggak apa- apa biar cepat, keburu filmnya mulai," ucapku meyakinkannya. Tapi Raka tetap mencegahku. Bergegas ia membayar tiket lalu menuju kantin. Setengah berlari ia kembali dan menggandeng tanganku untuk masuk ke gedung bioskop.


" Huuft ! " Raka mengenduskan kasar nafasnya. Beruntung filmnya belum mulai, di layar baru menayangkan iklan.


" Coba tadi aku yang pergi ke kantin, kamu nggak perlu capek ke sana kemari." Aku menyayangkan sikap Raka.


" Aku nggak tega membiarkan kamu berdesak-desakan dengan orang lain." Ia mengungkapkan alasannya.


" Tapi tadi kan nggak banyak orang di kantin." Aku masih belum puas dengan jawabannya. Tapi Raka tetap pada pendapatnya. " Tetap saja berdesakan, kan tadi lihat sendiri makin banyak orang di sana," balasnya lagi.


Akhirnya aku memilih diam daripada berdebat. Nampak di layar film sudah mulai diputar. Pantas ramai pengunjung soalnya ini film Indonesia yang baru-baru ini diiklankan di televisi. Pemerannya juga aktor yang lagi naik daun.


" Kok diam, marah ya ? " tanya Raka mengusikku. " Enggak, lagi fokus nonton. Kan filmnya udah diputar. " Aku menyangkal dugaannya.


" Maaf ya, aku cuma pingin nyenengin kamu. Kan aku yang mengajak, jadi kamu tinggal menikmati dan nggak perlu capek-capek. Biar aku saja."


" Iya nggak apa-apa, terima kasih ya sudah mengkhawatirkan aku, sudah nyenengin aku," kataku sambil melempar senyum. Raka mengangguk dan menggenggam tanganku.

__ADS_1


" Oh iya, aku baru ingat. Hari ini aku ulang tahun lho." celetuknya tiba-tiba.


Aku menoleh menatapnya. " Oya ? Selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, sehat, dan tercapai apa yang dicita-citakan." Kuucapkan selamat dan menyalaminya.


" Terima kasih, kadonya mana ? " Raka menanyakan kado dariku sambil tersenyum- senyum.


" Yach belum ada dong, kan baru tahu sekarang kalau ulang tahun." sahutku.


Raka mengerling, ia mengedipkan sebelah matanya seraya menunjuk pipinya. Aku sempat kaget lalu melotot padanya.


" Huuu maunya, nakal kamu ! " Kucubit lengannya. Ia pun meringis sambil mengusap-usap bekas cubitanku.


" Galak, kaya macan, " bisiknya di telingaku. Tapi wajahnya tak lepas dari senyum.


" Biarin," balasku. Aku kembali mengarahkan pandangan ke layar bioskop.


" Udah ah jangan berisik, nggak enak sama penonton lain. Nanti mereka terganggu." kataku.


" Memang kenapa, mereka tuh nggak peduli sama kita. Di dalam gedung bioskop sudah biasa hal kaya gini." terang Raka.


" Tapi bagaimana pun kita harus punya etika." ucapku lagi. Pandanganku fokus ke layar, aku tak menghiraukan Raka lagi. Sepertinya ia tahu kalau aku lagi serius menyimak adegan demi adegan dari film yang tengah diputar.


Setelah film berakhir kami pun keluar lewat pintu belakang gedung. " Mau makan apa ? " Raka menawariku.


" Nggak ah, masih kenyang." Kali ini aku menolak ajakannya. Kasihan aja dia terus-terusan menraktirku, padahal dia sendiri masih minta orang tua.


" Iya tapi nggak usah sering-sering nraktir aku. Simpan saja uangnya buat keperluan kuliah." Aku menolak halus.


" Ya udah kita ke taman kota aja, nanti beli jajanan di sana." Akhirnya Raka nggak memaksaku lagi. Ia pun melakukan motornya ke arah taman kota di alun-alun.


Ternyata di sini masih ramai orang berlalu lalang sambil membeli jajanan. Bahkan anak-anak juga masih nampak bermain-main, padahal ini sudah hampir jam 21.00. Mungkin karena cuaca cerah.


" Duduk di situ yuk ! " Raka mengajakku duduk di bangku panjang yang masih kosong. Ia menghampiri pedagang bakso goreng alias basgor dan sempol ayam. Tak berapa lama ia kembali membawa 2 kantong plastik dan sebotol air mineral.


" Kita makan ini aja." Ia mengulurkan satu kantong plastik berisi sempol dan satu berisi basgor berikut botol air mineral. Kemudian kita pun makan sama-sama sembari mengobrol.


" Sudah jam sepuluh, pulang yuk ! " ajakku seusai kita menghabiskan jajanan tadi. Raka meneguk air mineral dan mengulurkan padaku. " minum dulu," pintanya. Kuteguk sampai habis sisa air mineral dalam botol.


"Sebentar lagi deh, biar makanannya turun dulu," ucapnya seraya mengusap wajah. " Tapi udah malam, nanti aku ditegur sama ibu, " kataku mengiba.


" Nggak bakal dimarahi, nanti aku yang bilang sama ibu atau ayah kalau beliau menegurmu." Raka meyakinkanku.


" Ayolah, ini kan ulang tahunku. Sekali-sekali agak lama berduaan. Anggap aja ini kado buatku, hehehe." Ia pun berkelakar. Ulang tahunnya dijadikan alasan buat berlama-lama denganku.

__ADS_1


" Oke tapi jangan lama-lama, aku takut. Tuh yang lain udah pada pulang, udah sepi." Aku menunjuk ke sekitar taman. Para pedagang juga sudah pada pulang.


" Bagus dong kalau sepi, kan dunia milik kita berdua, haha ! " Raka tertawa. Ia bangkit untuk membuang sampah plastik bekas jajan.


" Awas ya kalau macam-macam." Aku pura-pura mengancamnya. Dia kembali duduk di sampingku. Beruntung masih ada beberapa pasang muda-mudi yang tengah mengobrol.. Sejujurnya aku takut kalau hanya kita berdua di sini.


Menjelang jam sebelas malam aku memaksa Raka untuk pulang. " Siap Tuan Putri," selorohnya. Kami pun beranjak dan segera meninggalkan taman.


Sampai di depan rumah aku buru-buru turun dan membuka pintu. Raka mengikutiku di belakang. " Kok sampai malam ? " tegur ayah. Rupanya beliau masih duduk di ruang tamu.


" Ayah kok belum tidur? " tanyaku. " Ayah menunggu kamu, ibumu yang meminta," kata ayah.


Raka masuk lalu mencoba bicara pada ayah. " Maaf Pak, tadi ada acara penting jadi pulangnya agak telat." Ternyata Raka menepati janjinya untuk menjelaskan pada ayah jika aku ditegur.


" Ya sudah, tapi lain kali jangan diulangi. Nggak baik anak gadis pulang malam-malam. Malu kalau dilihat tetangga." Ayah menasehati kami.


" Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Raka menyalami ayah sekaligus pamit. Kubuka pintu dan ia pun keluar. " Hati-hati ya," pesanku. Ia mengangguk dan segera berlalu.


Pintu kukunci lagi lalu aku ke kamar mandi untuk membasuh tangan dan kaki. Ayah sudah masuk ke kamarnya. Aku pun masuk ke kamar dan berganti baju tidur.


____________


Selepas sholat subuh Eva mengirim pesan WA.


[ Jalan-jalan ke CFD yuk , udah lama nggak ke sana ]


[ Sorry bestie, kayaknya aku nggak bisa ]


[ Yaa kok nggak bisa, memang kenapa. Kan minggu -minggu kemarin kita nggak pernah ke sana ]


[ Tadi malam aku pulang kemalaman. Kalau sekarang aku ke CFD nanti kesiangan pergi ke warung. Bisa diomeli habis-habisan sama ibu ]


[ Yaah payah kamu. Lagian ngapain aja sampai pulang kemalaman. Kalian nggak berbuat macam-macam kan 😜 ]


[ Huush sembarangan aja kalau ngomong. Memangnya aku cewek apaan 😠 ]


[ Hahaha sorry... sorry 😄 ]


[ Udah ah aku mau bersih-bersih dulu ]


Kuakhiri chat ku dengan Eva. Kulipat mukena dan sajadah lalu kusampirkan di kursi. Kubereskan kamar tidur kemudian sesudahnya aku keluar untuk nenyapu lantai di semua ruangan.


Sengaja aku melakukan ini supaya ibu luluh dan tidak membahas soal tadi malam.

__ADS_1


***************************


Sudah dulu ya gaess ! Masih ada kelanjutannya loh. Makanya ikuti terus kisah Aira dan Raka.


__ADS_2