Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 135 Raja dan Ratu Sehari


__ADS_3

Sehari sebelum resepsi pengantin wanita melakukan acara Siraman. Begitu juga aku sore ini. Bu Bonita sudah datang sejak jam 1 siang. Ia langsung minta disiapkan air satu ember besar, sementara ia sendiri mempersiapkan bahan untuk perlengkapan siraman. Ada bunga mawar, daun pandan dan entah apa lagi, ditaburkannya ke dalam ember berisi air tersebut.


" Mbak Aira tolong bajunya dilepas lalu pakai kain ini dililitkan di badan, sebatas dada. Pakai dalaman juga nggak apa apa," perintah Bu Bonita padaku.


" Maaf Bu, saya kan berjilbab. Masa cuma memakai kain sebatas dada? " tanyaku malu-malu.


" Oh kalau begitu siramannya di belakang saja, dan hanya keluarga yang boleh menyaksikan. Nanti yang mengambil gambar juga keluarga saja." Ia pun memberi alternatif lain.


Ibu dan ayah beserta kakak-kakakku menyetujui usulnya. Setelah semuanya siap acara siraman segera dimulai. Mbak Risma yang bertugas mengambil gambarnya.


" Baiklah, pertama saya dulu yang memandikan mbak Aira dengan air bunga ini. Terus nanti dilanjutkan oleh ibu, bapak dan saudara-saudara secara bergantian. Dimulai dari yang tertua." Bu Bonita memberi pengarahan.


Kemudian ia menyuruhku membasuh muka terlebih dahulu supaya tidak kaget saat diguyur air nanti.


Aku membasuh muka dan tubuh bagian atas. Setelah itu bu Bonita mengambil air bunga dengan gayung panjang, lalu mengguyur tubuhku dari atas kepala lalu turun ke bawah hingga kaki, sampai 3 kali.


" Sekarang ibu dulu yang pertama, diguyur 3 kali ya Bu Wahyu," pintanya pada ibu.


Ibu melakukan sesuai petunjuk dari bu Bonita. Kemudian dilanjutkan oleh ayah, mbak Rina, mbak Tika, mas Bayu dan terakhir mbak Nia.


" Acara siraman sudah selesai, sekarang saya minta pak Wahyu mendampingi mbak Aira sampai ke kamar. Bapak di depan lalu mbak Aira di belakang pegangan pundak bapak. Saya ikat pakai selendang ya. Ini ceritanya bapak sedang menggendong putrinya yang baru selesai mandi." Bu Bonita memberi instruksi selanjutnya.


" Siap Bu, saya sudah paham. Ini ke empat kalinya saya melaksanakan seperti ini, karena putri saya ada empat, hehehe." Ayah berkata sampai terkekeh. Yang lain pun tertawa mendengar gurauan ayah.


Kami berjalan ke kamar. Setelah melepas selendang ayah pun keluar, sementara aku berganti pakaian. Kupakai kaos oblong sama celana leging saja karena nanti akan dibalut kain batik dan mengenakan kebaya. Kata bu Bonita malam nanti aku akan menjalani Malam Midodareni.


" Sudah siap Mbak Aira, yuk kita mulai ! " cetusnya kemudian sembari mengeluarkan peralatan make up berbagai jenis dan ukuran.


Kurang lebih satu setengah jam aku pun selesai dirias dan memakai kain batik serta kebaya modern berbahan brokat berwarna krem. Tak lupa rambutku juga dibalut jilbab berwarna gold yang dihiasi bunga.


" Sudah selesai, cantik sekali Mbak Aira ! " seru bu Bonita memuji hasil karyanya sendiri.


" Kan ibu yang bikin saya jadi cantik," ucapku sembari memandang diriku di cermin. Benar-benar takjub dibuatnya, aku tak menyangka bisa cantik seperti ini.


Ceklek ! Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Nampak mbak Tika, mbak Rina dan mbak Nia sudah berdiri di pintu dengan wajah ceria.


" Wow cantiknya adikku. Sampai pangling lho kita," celetuk mbak Rina.


" Biasa kan, kalau seorang gadis menikah pasti wajahnya jadi ' manglingi ' ." Komentar mbak Nia. Manglingi artinya bikin pangling.


" Iya betul, kita juga pernah mengalaminya kan. " Mbak Tika menimpali.


" Memang benar, ibaratnya seorang gadis yang akan menikah itu auranya keluar. Setelah dirias maka auranya makin terpancar, makanya jadi manglingi.


Kalau begitu sekarang Mbak-mbak yang cantik tolong adiknya digandeng keluar ya, supaya yang lain juga bisa menyaksikan kecantikannya yang seperti bidadari. " Bu Bonita berkata dan meminta ketiga kakakku membimbingku keluar menuju ruang depan.

__ADS_1


" Waah tante Aira cantik bangeet !" seru Stella begitu aku sampai di depan. Ibu yang sedang menerima tamu menoleh dan menghampiriku.


" Yuk salaman sama tamu-tamu ," Ibu membimbingku menemui mereka. Stella mengikuti di belakangku.


" Sudah banyak tamu rupanya," kataku berbasa basi seraya menyalami satu persatu.


Tamu yang hadir hari ini kebanyakan dari tetangga sekitar. Sebagian lagi tamunya ibu ataupun kakakku yang tidak bisa datang saat resepsi besok.


" Tante mau minum nggak, aku ambilin deh." Stella menawariku. Satu-satunya keponakan cewekku yang sedari tadi menemaniku.


" Boleh Sayang, kamu ambil 2 gelas ya. Yang satunya buat kamu," jawabku sambil tersenyum.


" Oke tanteku yang cantik, tapi aku tadi udah minum. Jadi aku ambilin buat tante aja," cetusnya seraya berbalik dan mengambil teh juga snack yang telah tersedia di meja prasmanan.


" Terima kasih ponakan tante yang cantik juga," ucapku ketika ia memberikannya padaku.


Kulihat beberapa tetangga mas Raka tengah sibuk membuat dekorasi panggung untuk pelaminan kami besok. Mas Adi juga ada di sana. Tapi aku tak melihat mas Raka.


Setelah akad nikah Kamis kemarin, Jumat paginya ia pulang karena di rumah ada tamu kerabatnya katanya. Dan sampai Sabtu sore ini aku belum bertemu kembali dengannya. Tadi siang mas Adi dan rombongannya datang kemari tanpanya.


" Permisi, pengantin putrinya mana ya. Ada yang mencari tuh ! " sapa seseorang di belakangku. Aku tengah menatap dekorasi panggung sehingga tak memperhatikan para tamu yang datang. Aku menoleh ke arah suara.


" Hallo Sayang, lagi lihat apaan sih," sapa mas Raka dengan mengedipkan mata menggodaku.


" Iya maaf, nggak ke mana-mana kok. Di rumah banyak tamu kerabatnya ibu, paman Adi yang mengabari mereka." Mas Raka memberi alasan.


" Katanya cuma syukuran tapi kok menerima tamu," tukasku kemudian.


" Yah gimana lagi orang mereka tiba-tiba datang. Tapi ngomong-ngomong kamu cantik banget malam ini. Aku jadi pingin," Ia mengerling nakal.


Aku langsung melotot. " Masih sakit Mas," bisikku seraya kucubit perutnya.


" Auw, makanya jangan cuma sekali. Mesti berulang-ulang biar nggak sakit lagi. Lama-lama enak lho, hemm.. " Mas Raka menaikkan alisnya.


" Hush, udah ah. Itu urusi dulu teman-teman yang lagi ngedekor panggung. Disuguhi makanan atau apa kek." Kuingatkan dia supaya tak lupa memberi pelayanan pada rekan-rekan tetangganya.


" Sudah beres semua sayangku," balasnya sembari beranjak untuk bergabung bersama mereka.


Pukul 20.00 berhubung sudah tak ada tamu aku melepas kebaya dan kain, kemudian mandi dengan air hangat. Setelah berganti pakaian dan sholat tiba-tiba mas Raka masuk.


" Mas Raka, mau ngapain ? " tanyaku sedikit berdebar. Ia tersenyum menyeringai.


" Mau kamu dong," ucapnya dan langsung menubrukku yang baru saja menaruh mukena di sandaran kursi.


" Di luar masih banyak orang," ucapku.

__ADS_1


" Biarin, mereka juga maklum," sahutnya dan langsung mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajahku. Tangannya berkeliaran ke mana-mana.


Tanpa ampun mas Raka melampiaskan keinginannya. Aku hanya pasrah.


__________


Dengan langkah pasti dan diiringi alunan gamelan khas pengantin adat Jawa, aku dan mas Raka berjalan menuju pelaminan yang telah dihias indah tadi malam. Kugenggam tangan mas Raka untuk menutupi rasa gugup.


" Santai saja nggak usah tegang. Ingat ini hari milik kita. Jadi raja dan ratu sehari," bisik mas Raka menenangkanku.


Satu persatu prosesi acara pengantin adat Jawa kulalui sesuai arahan bu Bonita. Beruntung tadi pagi mas Raka telah membeli 2 botol minuman energi buat kita berdua, supaya tubuh kuat jika harus berdiri berjam-jam di atas panggung.


Setelah semua prosesi selesai dilakukan saatnya para tamu undangan yang terdiri para sesepuh kampung dan keluarga untuk makan dan minum.


" Acara selanjutnya kami persilahkan para hadirin untuk menikmati hidangan yang telah disediakan oleh panitia. Sementara pengantin akan berganti busana." Begitu yang Mas Hari sampaikan selaku pembawa acara.


Bu Bonita mengajak kita berdua berganti busana pengantin yang berwarna kuning, sesuai pilihan kita waktu itu. Sesudah membenahi make up kami kembali duduk di pelaminan di atas panggung.


Tamu undangan juga telah selesai makan dan minum , saatnya mas Hari menutup acara. Satu persatu bapak-bapak dan ibu-ibu sesepuh kampung meninggalkan tempat. Keluarga dan kerabat juga membubarkan diri.


" Terima kasih kepada hadirin sekalian yang telah menyaksikan acara inti prosesi perkawinan mbak Aira dan mas Raka. Acara selanjutnya adalah hiburan dan lain-lain." Demikian yang mas Hari ucapkan untuk menutup acara.


" Yah, akhirnya selesai juga acara sakralnya," kata mas Raka sesudahnya. Setelah acara inti barulah tamu undangan dari luar desa berdatangan. Memang sengaja mereka kuundang setelah acara inti.


" Sekarang kita bisa agak santai, tadi kan tegang takut salah mengikuti adat istiadatnya. Kamu kalau capek duduk saja." Mas Raka menyarankan.


" Iya Mas, tahu nggak sih. Aku bahagia banget hari ini. Meskipun capek tapi nggak terasa karena saking bahagianya," ungkapku.


" Tapi jangan sampai kecapekan. Ingat nanti malam masih ada tugas yang lebih berat, hehehe," Mulai lagi dia ngasih kode. Kucubit perutnya, mas Raka hanya meringis karena banyak orang jadi tak berani berteriak.


Akhirnya sampai juga ke titik ini.


Terima kasih ya Allah.


Terima kasih ibu dan ayah.


Terima kasih suamiku, Raka Dewantara.


T A M A T


_______&&&______


Sekian dulu ya gaes. Terima kasih sudah mengikuti novelku.


Akan ada kelanjutan kisah Aira dan Raka dengan judul yang baru ya. Namun untuk sementara ini author ingin rehat dulu.

__ADS_1


__ADS_2