
Malam harinya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Ayah Bakti, karena Rubby merindukan masakan Bundanya. Begitu sampai mereka langsung di sambut oleh Bunda Maya dan menikmati makan malam bersama. Sedangkan Andika dan Intan menginap di rumah Mama Dewi bersama bayi mungil mereka.
"Rubby, bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Bunda Maya di sela makannya.
"Tanda apa, Bunda?" Rubby balik bertanya.
"Tanda kehamilan, sayang. Ini kan sudah satu bulan pernikahan kalian, barang kali sudah ada yang jadi." Jawab Bunda Maya. Rubby mnegerjap-ngerjapkan matanya kemudian melirik ke arah suaminya yang ternyata tengah meliriknya juga.
"Em, belum Bunda." Jawabnya.
"Bunda, ini baru sebulan. Biarkan mereka menikmati masa pengantin baru dulu." Ayah Bakti ikut bicara.
"Bunda kan hanya tanya, Ayah. Bunda juga tidak meminta Rubby dan Arya untuk cepat-cepat punya anak. Barang kali Rubby sudah ada tanda kehamilan, kita kan jadi bisa menjaganya." Ujar Bunda Maya.
"Rubby, Arya jangan salah paham ya." Lanjut Bunda Maya mengalihkan pandangannya pada anak dan menantunya. Rubby dan suaminya mengangguk.
"Tidak apa, Bunda. Kami mengerti." Sahut Rubby sambil tersenyum.
Selesai makan malam mereka kembali ke kamar masing-masing.
Arya duduk di sisi tempat tidur. Sedangkan Rubby menuju meja riasnya untuk membuka hijab dan kacamatanya.
"Rubby, kemarilah." Panggil Arya. Rubby menurut, ia langsung menyelesaikan acara menyisir rambutnya dan menghampiri suaminya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Rubby yang sudah berdiri di hadapan suaminya. Arya tersenyum, dan menarik tangannya hingga Rubby jatuh di pangkuannya.
__ADS_1
"Mas!" Pekik Rubby terkejut, ia hendak bangkit tapi Arya menahannya.
"Apa yang kau lakukan di depan cermin, kenapa lama sekali?" Tanya Arya yang mulai mengusak wajahnya di leher Rubby, persis seperti anak kucing yang manja pada induknya.
"Aku kan ingin berhias dulu, supaya terlihat cantik di depan suamiku." Jawab Rubby, ia meringis geli karena Arya mulai mengecupi lehernya.
"Itu tidak perlu, Rubby. Bagaimanapun kau sudah terlihat cantik mataku." Jawab Arya yang masih fokus dengan kegiatannya.
"Hah, suamiku sudah mengeluarkan rayuan mautnya..."
"Apa salah memuji istri sendiri?" Tanya Arya, Rubby menggeleng dan memejamkan matanya menikmati sentuhan suaminya.
"Mas Firaz..." Suara manja Rubby terdengar saat Arya meninggalkan jejak di sana. Kemudian ia mengangkat wajahnya hingga keduanya saling bertatapan. Di belainya wajah cantik istrinya.
"Sepertinya kita harus bekerja keras agar bisa secepatnya memberi cucu untuk orang tua kita." Ucap Arya, Rubby menangkup wajah suaminya.
"Mungkin kita harus melakukannya beberapa kali." Sahut Arya.
"Itu memang maumu, Mas." Timpal Rubby mencubit hidung mancung Arya.
"Memangnya kau tidak mau?" Tanya Arya yang makin merapatkan tubuh mereka hingga tak ada jarak.
"Tentu tidak. Aku tidak akan menolak." Jawab Rubby dengan senyum menantangnya. Wanita itu membelai rambut hitam Arya dan menyatukan bibir mereka berdua. Sementara jemari Arya mulai membuka kancing piyama Rubby satu persatu hingga terbuka seluruhnya. Dan terjadilah apa yang harus terjadi.
_
__ADS_1
_
_
Jika Arya dan Rubby sedang memadu kasih, sementara itu di sebuah rumah mewah lainnya...
Seorang gadis sedang menikmati pemandangan langit di malam hari, senyum tidak lepas dari wajahnya mengingat kembali pertemuannya siang tadi dengan lelaki pujaannya. Akhirnya setelah bertahun-tahun dirinya bisa kembali bertemu dengan Arya.
"Indah, kau belum tidur?" Tanya Indra yang baru masuk ke dalam kamar adik perempuannya.
"Aku tidak bisa tidur, Kak. Aku teringat terus wajah Kak Arya." Jawab Indah tanpa mengalihkan pandangannya. Indra mendengus dan mengusap wajahnya kasar. Arya, Arya, Arya! Kenapa nama itu yang terus di sebut adiknya? Padahal Indah tahu kalau Arya sudah lama menjalin hubungan dengan Mega, tapi tetap saja adiknya itu tidak menyerah saja dan melupakan Arya.
"Kak, siang tadi aku bertemu dengan Kak Arya, dan Kakak tahu? Wajahnya sama sekali tidak berubah." Ujar Indah dengan mata berbinar.
"Kau bertemu dengan Arya?" Tanya Indra heran.
"Ya tadi siang aku ke coffe shopnya." Jawab Indah membuat Indra ternganga mendengarnya.
"Jadi tadi siang kau menemui Arya? Astaga Indah..." Indra hanya bisa menggeleng mengetahui tingkah adiknya. Tadi siang Indah hanya bilang padanya ingin makan di luar, saat Indra menawari untuk mengantarnya, Indah menolak dan ingin membawa mobil sendiri.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" Tanya Indah sambil memasang tampang polosnya.
"Tentu saja salah, tidak seharusnya kau menemui Arya. Arya juga pasti tidak mengenal dirimu."
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊