Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Rubby Marah?


__ADS_3

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Andika masih menatap curiga pada Arya. Arya kembali duduk.


"Tadi tiba-tiba saja Mega masuk ke ruanganku. Aku juga tidak tahu kalau dia sudah kembali dari Paris karena dia tidak mengatakan apapun." Arya menerangkan.


"Dan aku tidak melakukan hal-hal yang ada di fikiranmu itu!" Lanjut Arya dengan penekanan di setiap katanya.


"Benarkah?" Andika duduk di samping Arya. Pemuda itu masih terlihat sangsi dengan ucapan Arya.


"Apa aku pernah berbohong? Kalau kau tidak percaya, lihat saja tayangan ulang di cctv itu." Arya menunjuk cctv yang berada di atas sudut ruangannya. Andika mengikuti arah yang di tunjuk kakaknya. Memang benar ada cctv di sana.


"Sejak kapan ada cctv di ruangan ini?" Tanya Andika bingung. Arya hanya menatapnya datar tanpa menjawab. Rasanya sejak coffe shop tersebut menjadi miliknya, cctv itu sudah berada di sana. Dan juga Andika sudah bekerja lebih dari satu bulan masa tidak menyadari keberadaan cctv itu?


"Ya, Kakak memang tidak pernah berbohong. Tapi Kakak sudah tidak jujur pada istri Kakak sendiri." Lanjut Andika.


"Tidak jujur? Apa maksudmu?"


"Selama ini Kakak masih berhubungan dengan Mega, kalian masih saling menelepon dan juga berkirim pesan. Tapi Kakak bilang hubungan kalian sudah berakhir. Kalau bukan tidak jujur lalu apa namanya?" Andika kembali mencecar Arya dengan pertanyaan yang di rasa begitu menyudutkan bagi pria itu.


"Bukannya Kakak sudah bilang padamu, kalau Kakak belum mengatakan apapun pada Mega?" Arya balik bertanya.


"Justru itu kesalahan Kakak. Seharusnya pada saat itu juga Kakak mengatakan pada Mega yang sebenarnya dan Kakak langsung memutuskan hubungan kalian." Skak Andika.


Arya terdiam, ia hanya bisa memijat keningnya yang terasa pusing. Andika mengalihkan pandangannya.


"Apa itu, Kak?" Tanyanya menunjuk kotak kue yang terletak di atas meja.


"Mega yang membawanya." Jawab Arya. Andika bangun dari duduknya dan melihat kotak itu dari dekat.


"Rubby Cake's? Itu kue dari toko Kak Rubby?" Tanya Andika dengan nada terkejut.


"Ya." Jawab Arya singkat.


"Berarti Kak Rubby sudah bertemu dengan Mega?" Tanya Andika lagi.


"Aku tidak tahu." Jawabnya.


"Seorang wanita membeli kue untuk kekasihnya dari toko kue istri sah kekasihnya? Wah aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Kak Rubby. Apalagi kalau Mega berkata terlalu jauh." Andika kembali berceloteh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Arya yang terlihat berfikir.


"Kakak pasti mengerti apa maksudku. Kak Rubby pasti sakit hati."


Arya kembali terdiam. Dirinya bisa mengerti apa maksud dari perkataan adiknya.

__ADS_1


"Sudah kerja sana. Aku pusing jika kau berada di dekatku." Usir Arya setelah beberapa terdiam. Andika bangun dari duduknya, bagaimanapun ini masih jam kerjanya.


"Dengar Kak, Kakak harus tetap pertahankan Kak Rubby. Jangan tergoda oleh Mega. Karena bagaimanapun Kak Rubby adalah istri Kakak sekarang." Ujar Andika sebelum akhir pergi dari ruangan Arya.


Arya mengusap kasar wajahnya. Tentu saja dirinya akan mempertahankan Rubby, bukan hanya karena Rubby adalah istrinya tapi karena dirinya yang sudah jatuh cinta pada Rubby.


Tadi Arya hanya terkejut saja melihat Mega yang tiba-tiba datang. Ia bahkan belum menyusun kata-kata untuk memutuskan hubungannya dengan Mega.


_


_


_


Sore harinya.


Seperti biasa Arya menjemput istrinya saat pulang kerja. Rubby berlari kecil saat melihat mobil suaminya yang baru saja datang. Tidak seperti biasanya, kali ini Rubby menunggu Arya di depan toko.


"Apa kau sudah lama menungguku?" Tanya Arya begitu Rubby masuk ke dalam mobilnya. Rubby hanya menggeleng sebagai jawaban. Arya kembali melajukan mobilnya. Keheningan langsung tercipta di antara keduanya.


Ekor mata Arya mencuri pandang pada istrinya yang sedari tadi diam. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Biasanya ada saja yang ditanyakan istrinya itu.


"Kenapa Rubby diam saja?" Tanyanya dalam hati.


"Rubby, apa kau baik-baik saja?" Arya bertanya, Rubby menoleh ke arahnya sejenak.


Arya mengerutkan keningnya, tidak biasanya istrinya seperti ini. Suasana canggung tercipta. Jemari Arya mengetuk-ngetuk stir mobilnya, lampu lalu lintas sudah berubah merah di depannya. Ia kembali melirik Rubby dengan ekor matanya.


Dirinya hendak menanyakan tentang Mega, tapi ragu.


"Ehm, Rubby. Apa tadi Mega datang ke tokomu?" Akhirnya Arya memutuskan untuk bertanya. Rubby mengalihkan pandangannya yang sedari tadi fokus pada jalanan.


"Ya. Mega datang ke tokoku. Dia bilang mau membeli kue untuk kekasihnya." Jawabnya.


"Mega juga bilang, kalau kekasihnya sangat menyukai cake red velvet. Sementara aku, aku tidak pernah tahu apa makanan kesukaan suamiku." Lanjut Rubby sambil tersenyum singkat ke pada suaminya.


"Oh ya, bagaimana rasa cake nya, Mas? Lezat kan? Apalagi kalau kekasih kita sendiri yang memberikannya." Tanya Rubby dengan nada menyindir.


"Rubby, aku..."


"Lampunya sudah hijau, Mas." Rubby menyela lebih dulu. Arya melipat bibirnya tak jadi bicara. Sepertinya istrinya itu sedang merajuk, ternyata bisa juga seorang Rubby merajuk seperti itu.


Arya pun jadi lupa menanyakan perihal gambar sketsa Rubby yang Andika bilang adalah sketsa wajahnya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mereka akhirnya sampai. Tanpa berkata apapun, Rubby langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Apa Rubby marah?" Gumam Arya.


"Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau Mega datang hari ini." Arya membuang nafas berat, kemudian menyusul istrinya.


"Assalamua'alaikum, Ma." Ucap Rubby begitu melihat Mama Dewi. Ia mencium punggung tangan Mama Dewi seperti biasa.


"Waalaikumsalam, sayang." Jawab Mama Dewi dengan senyumnya.


"Ma, Rubby ke kamar dulu ya." Pamitnya.


"Iya, Rubby." Rubby langsung menaiki tangga menuju lantai dua. Mama Dewi memandang heran pada menantunya yang sepertinya terlihat berbeda.


"Kenapa Rubby sendiri? Mana Arya?" Gumamnya. Terlihat Arya yang baru masuk.


"Assalamua'alaikum, Ma." Arya mengucap salam.


"Waalaikumsalam. Arya, istrimu kenapa?" Tanya Mama Dewi.


"Memangnya Rubby kenapa, Ma?" Arya malah balik bertanya.


"Kau ini, di tanya malah balik nanya." Timpal Mama Dewi.


"Arya tidak tahu, Ma. Arya ke kamar dulu." Arya tak mengindahkan pertanyaan Mama Dewi dan berjalan menuju kamarnya.


"Ada apa dengan mereka? Kemarin Arya menggandeng tangan Rubby saat pulang, dan sekarang mereka terlihat seperti di awal lagi?" Mama Dewi bertanya-tanya sendiri.


_


_


_


Malam harinya.


Mama Dewi melirik bergantian sepasang suami istri yang duduk di depannya. Mereka sedang menikmati makan malam bersama.


"Mereka ini kenapa ya? Sepertinya auranya berbeda." Batinnya.


"Rubby." Panggil Mama Dewi pada menantunya.


"Iya, Ma?" Sahut Rubby.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Tanya Mama Dewi basa-basi.


"Baik-baik saja, Ma." Rubby menjawab dengan senyum tipis di wajahnya.


__ADS_2