Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Rubby...


__ADS_3

Menyadari dirinya dalam bahaya, Rubby mencoba lari dan menghindar. Tangannya tanpa sengaja menyenggol kue muffin yang berada di atas meja hingga jatuh dan berserakan di lantai.


Rubby berlari menuju pintu keluar, tapi Bara mengejar dan menarik tangannya hingga Rubby terjatuh. Rubby meringis karena lututnya membentur lantai cukup keras. Bara berjalan melewatinya dan mengunci pintu.


Rasa ketakutan semakin menyelimuti Rubby, ia kembali bangun dan berlari ke arah ruangannya meskipun dengan langkah tertatih. Rubby berusaha mengunci pintu ruangannya, tapi naas ternyata Bara lebih cepat darinya. Lelaki itu mendorong pintu hingga Rubby kembali terjatuh.


"Seharusnya kau tidak menolakku, Rubby." Bara masuk ke ruangan itu.


"Pergi kau!" Seru Rubby. Gadis itu mencoba bangun dan melarikan diri, tapi baru selangkah Bara menarik hijabnya hingga terlepas.


Rambut hitam berkilau itu jatuh tergerai, berikut dengan kacamata Rubby yang jatuh dan pecah terbentur lantai.


Bara membeku, pria itu terkesima melihat wujud asli dari Rubby yang selama ini tertutup hijab dan kacamata. Niatnya yang tadi hanya ingin menakuti dan mengancam Rubby, berubah dalam sekejap. Bara jadi benar-benar ingin memiliki tubuh Rubby!


"Ternyata kau benar-benar cantik. Pantas Arya mau menikah denganmu." Kata Bara dengan seringainya, ia kembali mendekat ke arah Rubby.


Rubby tidak ingin menyerah, ia mengambil benda apapun yang berada diatas meja kerjanya dan melemparkannya pada Bara. Tapi ternyata sama sekali tak berpengaruh bagi pria itu.


Bara menarik tangannya, hingga Rubby menghadap ke arahnya. Rubby mengumpulkan keberaniannya dan dengan nekat ia menendang ke arah kejan*tanan Bara.


Pria itu langsung meringis merasakan rasa sakit dan mulas. Rubby memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Dengan langkah tertatih Rubby berusaha menuju pintu ruangannya, namun lagi-lagi Bara berhasil mengejarnya. Pria itu kembali menarik tangan Rubby dan langsung mencekiknya.


"Berani sekali kau melawanku!" Bentaknya marah.


"Lepaskan..." Nafas Rubby tersengal-sengal, cengkraman Bara di lehernya begitu kuat. Tapi akhirnya Bara melepaskan tangannya saat sadar Rubby hampir kehilangan nafasnya.


Rubby berusaha menormalkan nafasnya, Bara kembali mendekat dan menarik rambutnya.


"Rubby, seharusnya kau merelakan dirimu dengan sukarela, hingga aku tak perlu berbuat kasar padamu." Bisiknya di telinga Rubby. Gadis itu meringis merasakan rambutnya yang di tarik kuat oleh Bara.


"Lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan diriku padamu!" Seru Rubby dengan sisa-sisa tenaganya. Ucapan Rubby ternyata membangkitkan emosi Bara, pria itu langsung menampar Rubby hingga jatuh tersungkur.


Pandangan Rubby terlihat mengabur akibat keningnya tadi sempat membentur meja sebelum terjatuh.


"Mas Firaz... Tolong aku..." Batin Rubby menjerit.


_


_


_

__ADS_1


Arya memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Sudah berkali-kali Arya mencoba menghubungi ponsel Rubby namun tidak di angkat. Pria itu semakin cemas, takut sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


Setelah beberapa menit akhirnya Arya tiba, ia memarkir mobilnya dengan asal dan langsung berlari ke arah toko. Perasaan Arya semakin kacau saat tadi melihat ada mobil Bara yang terparkir di sana.


Arya berusaha membuka pintu depan tapi ternyata terkunci.


"Rubby!" Teriaknya. Arya menggedor-gedor pintu itu namun tak ada jawaban. Akhirnya Arya mendobraknya.


Setelah berhasil masuk, Arya langsung mencari Rubby, pandangannya mengedar namun tidak menemukan sosok yang di carinya.


"Rubby!" Arya bertambah panik saat melihat kotak kue muffin yang berserakan di lantai.


"Rubby!" Berkali-kali Arya memanggil namun tak ada jawaban. Arya hanya menemukan ponsel Rubby yang tergeletak di meja dapur.


Pandangan Arya kembali mengedar dan matanya tertuju pada pintu yang berada di sudut ruangan yang terbuka sedikit. Arya langsung berlari ke sana.


Brak! Di bukanya pintu itu dengan kasar.


Mata Arya terbelalak melihat Rubby yang tergeletak di lantai dengan pakaian yang berantakan dan beberapa luka di wajahnya. Hijabnya sudah terlepas. Bara berdiri di sampingnya, pria itu hendak melepaskan pakaiannya.


Amarah Arya langsung memuncak.


"Ck, kenapa kau sudah datang? Apa Mega tidak bisa menahanmu lebih lama?" Sahut Bara tanpa rasa bersalah.


Tangan Arya terkepal kuat, menatap temannya itu dengan tatapan membunuhnya.


"Lebih baik Rubby menjadi milikku, daripada jadi istrimu tapi kau abaikan." Sambung Bara.


"Brengs*k kau, Bara!" Arya langsung menyerang Bara, memukuli sahabatnya itu tanpa ampun. Keduanya terlibat perkelahian sengit.


Netra Rubby kembali terbuka mendengar suara suaminya. Maniknya menangkap bayangan Arya yang tengah berkelahi dengan Bara.


"Mas Firaz, akhirnya kau datang..." Lirihnya sebelum akhirnya kembali menutup mata.


Bara jatuh tersungkur akibat tendangan Arya. Arya kembali menarik kasar tubuh Bara dan menghimpitnya ke dinding, tangannya mencengkram kuat leher Bara.


"Beraninya kau menyentuh dan menyakiti istriku!" Geramnya.


"Kau lebih memilih untuk membunuhku daripada menyelamatkan istrimu?" Tanya Bara dengan nafas tercekat. Arya tersadar, istrinya lebih butuh pertolongannya


Melihat Arya yang terdiam, Bara langsung mendorong tubuh Arya hingga cengkramannya terlepas.

__ADS_1


"Arya, urusan kita belum selesai!" Lelaki itu langsung melarikan diri. Arya hendak mengejar Bara, namun ia ingat pada Rubby.


"Rubby?" Arya meraih tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri. Ia melihat luka di pelipis, sudut bibir dan juga memar di leher Rubby, hatinya ikut merasa sakit.


"Rubby, bangunlah..." Arya mengguncang tubuh Rubby dengan tangan yang gemetar, namun tak ada reaksi apapun dari Rubby. Mata Arya bergerak mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya, Arya langsung memakaikan kembali hijab Rubby, dan membopong tubuh istrinya menuju rumah sakit.


_


_


_


Di kediaman Ayah Bakti


"Assalamuala'ikum." Andika mengucap salam, pemuda itu baru saja sampai di rumah mertuanya.


"Waalaikumsalam." Jawab serentak keluarganya yang berada di ruang tamu.


"Dika, kau sudah pulang?" Tanya Mama Dewi yang masih berada di sana.


"Tentu saja, Ma. Ini kan memang jam pulang Dika." Sahutnya.


"Dika sudah sampai, tapi kenapa Arya belum menjemputku?" Mama Dewi menggumam. Karena tadi Mama Dewi meminta tolong agar Arya menjemputnya sepulang kerja.


"Kak Arya belum datang? Padahal sejak sore tadi sudah pulang." Tanya Andika bingung.


"Ke mana mereka?"


"Mungkin macet di jalan, Dew." Ayah Bakti menimpali.


"Atau mereka berdua pergi ke tempat lain dulu. Makan malam berdua, mungkin?" Tambah Bunda Maya.


"Mama sudah menguhubungi Kak Arya?" Tanya Andika.


"Tadi Mama sudah meneleponnya tapi tidak di angkat, Rubby pun sama." Jawab Mama Dewi, perasaan takut tiba-tiba menyelinap di hatinya.


"Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan mereka?" Terka Mama Dewi.


"Jangan berfikiran buruk, Dew. Semoga mereka baik-baik saja." Ucap Ayah Bakti menepis dugaan dari besannya.


"Tapi tidak biasanya seperti ini, Bakti. Baik Arya ataupun Rubby pasti akan memberitahuku kalau pulang terlambat." Ujar Mama Dewi, Bunda Maya jadi ikut merasa gelisah.

__ADS_1


__ADS_2