Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Tidak Cemburu


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain.


Intan nampak begitu menikmati sepotong cake coklat dengan disuapi Andika.


"Bagaimana Intan, apa enak kuenya?" Tanya Rubby yang ikut duduk bergabung bersama kedua adiknya.


"Sangat enak, Kak. Kak Rubby memang hebat jika masalah membuat kue." Sahut Intan sambil mengangkat dua ibu jarinya. Ibu hamil itu semakin mengembang saja di usia kandungannya yang sudah menginjak tujuh bulan.


"Kalau begitu, habiskan." Ucap Rubby.


"Tentu, Kak."


Rubby tersenyum melihat Intan yang makan begitu lahap.


"Setidaknya adikku bahagia bersama suaminya, walaupun pernikahanku harus kandas." Batinnya.


Dua bulan yang lalu toko kue Rubby beroperasi kembali. Rubby merasa memiliki tanggung jawab pada para pegawainya dan juga para pelanggannya. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka toko kue itu kembali. Meskipun awalnya sulit, karena tidak bisa di pungkiri bayang-bayang kejadian buruk itu kadang terlintas di fikirannya.


Tapi Rubby berusaha untuk melawannya, dirinya harus menjadi wanita yang kuat dan tidak terjebak dengan trauma. Rubby juga tidak ingin terus-terusan bersedih dengan perceraiannya. Ia sudah berjanji pada Bunda Maya. Rubby juga berusaha menerima keputusan Arya, walau tidak bisa di pungkiri dalam hatinya terus berharap Arya akan kembali padanya.


"Rubby..." Sebuah suara membuat ketiganya menoleh. Seorang pria berpenampilan rapi dan berwajah tampan menghampiri meja mereka.


"Dokter Malik?" Rubby bangun dari duduknya.


"Hai Rubby, boleh aku ikut bergabung?" Tanya Dokter Malik dengan sopan, Rubby mengalihkan pandangannya pada kedua adiknya seolah minta persetujuan.


"Tidak apa-apa Kak kalau Dokter Malik mau bergabung bersama kami." Intan menjawab.


"Silakan, Dok." Rubby kembali duduk di kursinya dan Dokter Malik duduk bersebrangan dengannya di samping Andika.


"Bagaimana kabarmu, Rubby?" Tanya pria itu sambil menatap intens Rubby.


"Baik." Jawab Rubby singkat, gadis itu menundukkan pandangannya. Merasa tidak nyaman dengan tatapan Dokter Malik padanya. Sedangkan sepasang suami istri muda tetap fokus pada cakenya.


"Em, Rubby boleh aku datang ke rumahmu?" Tanya Dokter Malik membuat gadis berhijab itu terperangah begitu juga dengan Intan dan Andika.


"Untuk apa Dokter datang ke rumahku?" Tanya Rubby.


"Aku ingin mengenal keluargamu. Aku ingin bersilahturahmi." Jawab Dokter Malik dengan tenangnya, sementara manik mata di balik kacamata itu bergerak gelisah.


"Maaf Dok, tapi ku rasa itu tidak perlu." Jawab Rubby yang kemudian bangun dari duduknya.


"Aku permisi, aku masih banyak pekerjaan." Pamitnya. Andika dan Intan saling menatap sedangkan wajah Dokter Malik berubah sendu.


"Sabar, Malik. Kau pasti bisa mendapatkannya."

__ADS_1


"Ehm, Dokter Malik." Panggil Intan membuat lelaki itu menoleh padanya.


"Maaf untuk sikap Kak Rubby barusan. Kak Rubby memang seperti itu." Ucap Ibu hamil itu merasa sungkan.


"Tidak apa. Mungkin aku yang salah bicara atau terlalu cepat untuk mengambil langkah." Jawab Dokter Malik dengan senyum tipis di wajahnya.


"Maaf Dok, kalau boleh tahu apa Dokter menyukai Kak Rubby?" Kali ini Andika yang bertanya.


"Ku rasa tidak ada pria yang tidak menyukai Rubby." Jawab Dokter tampan tersebut.


Malik Pratama, atau Dokter Malik. Seorang pria berusia dua puluh delapan tahun, berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit swasta. Dia juga yang dulu menangani Arya. Pada saat pertama kali melihat Rubby yang sedang menunggu Arya, dirinya merasa tertarik dengan gadis itu. Walaupun tahu Rubby adalah istri dari pasiennya, tapi itu tidak menyurutkan niatnya untuk mencari tahu tentang Rubby.


Dan bagai sebuah keberuntungan untuknya saat tahu Arya telah menceraikan Rubby. Itu artinya kesempatan untuknya mendapatkan Rubby jadi terbuka lebar.


Setelah Rubby membuka kembali toko kuenya, Dokter Malik mencoba mendekatinya dengan alasan membeli kue di toko itu.


Belakangan ini ia mencoba mengajak Rubby berbincang walaupun hanya dengan waktu singkat. Tapi itu sudah cukup untuknya, ia juga mencari informasi dari para pegawai Rubby.


Rubby adalah wanita yang selalu menjaga jarak dan juga sulit untuk dekat dengan pria.


Itu informasi yang Dokter Malik dapatkan. Dan itu membuatnya semakin tertantang untuk mendapatkan Rubby.


_


_


_


Tok. Tok. Tok


"Masuk!"


Andika membuka pintu kamar Arya, dilihatnya kakak lelakinya itu sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Andika memtuskan untuk berkunjung ke rumahnya setelah tadi mengantar Intan pulang lebih dulu.


"Kak!" Panggilnya.


"Ada apa, Dika? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?" Tanya Arya.


"Ini bukan tentang pekerjaan, Kak. Ada yang ingin Dika sampaikan." Sahut Andika.


"Tentang apa?" Tanya Arya.


"Kakak tahu?" Andika duduk di samping Arya.


"Tidak." Arya menggeleng.

__ADS_1


"Ck, makanya aku mau memberi tahu." Sahut Andika berdecak.


"Apa yang ingin kau beri tahu?"


"Dokter Malik."


"Dokter Malik? Siapa dia?" Arya balik bertanya, dirinya memang tidak mengenal pria itu.


"Dokter yang menangani Kakak dulu." Jawab Andika.


"Kenapa dengannya?"


"Em... Sepertinya dia menyukai Kak Rubby." Ucap Andika, Arya malah tersenyum mendengarnya.


"Lalu kenapa kalau dia menyukai Rubby? Itu haknya." Ucap Arya dengan tenangnya membuat Andika tercengang.


"Kak Arya tidak cemburu?" Tanyanya.


"Cemburu? Untuk apa? Apa kau lupa, kalau Kakak dan Rubby sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi? Jadi untuk apa cemburu?" Arya balik bertanya. Andika sedikit kesal mendengarnya.


"Apa Kakak tidak ada niat sedikitpun untuk kembali pada Kak Rubby?"


Arya mengusap wajahnya dengan sebelah tangan dan membuang nafas berat.


"Dika, matamu masih berfungsi kan? Apa kau tidak lihat keadaan Kakak sekarang? Apa kau fikir Kakak masih pantas untuk bersanding dengan Rubby?" Tanya Arya.


"Tapi Kak, Kak Rubby masih mengharapkan Kak Arya untuk kembali. Aku sering mendengar Kak Rubby menangis sendiri di tengah malam sambil terus menyebut nama Kak Arya."


"Dika, Rubby hanya perlu waktu untuk melupakan ini semua. Rubby berhak mendapatkan kebahagiaannya, dan yang jelas bukan dengan aku yang berada di sisinya." Ucapan Arya seketika menyulut emosi Andika.


"Kenapa Kak Arya jadi lemah begini? Mana Kakakku yang dulu? Jangan hanya karena Tuhan mengambil pengelihatannya, Kakakku jadi mudah menyerah seperti ini!" Seru Andika namun masih dengan intonasi suara yang rendah.


"Lalu kau ingin Kakak melakukan apa? Mengajak Rubby rujuk kembali? Dan setelah itu Kakak hanya menjadi beban untuknya karena Rubby harus selalu melayani Kakak, begitu?!" Timpal Arya.


"Kak..."


"Rubby memiliki kehidupannya sendiri, Dika. Kau tentunya tidak lupa, di awal pernikahan aku hanya bisa membuatnya bersedih. Kehidupannya dulu mungkin jauh lebih baik sebelum dia menikah denganku. Apa salah jika Kakak ingin Rubby kembali pada kehidupannya yang dulu?"


Andika bergeming, sebenarnya ia hanya ingin Rubby dan Arya bersatu kembali. Karena tanpa sengaja dirinya selalu mendengar suara isak tangis di kamar Rubby. Wanita itu pasti tersiksa dengan keadaannya, walaupun akhir-akhir ini di luar Rubby sudah terlihat tersenyum kembali.


"Yang aku ingat, Kakakku pernah bilang. Kalau dirinya tidak akan membuat Kak Rubby menangis lagi. Tapi sekarang, karena keputusannya Kak Rubby selalu menangis setiap malam." Tandas Andika, pemuda itu bangkit dari duduknya.


"Aku permisi, Kak." Pamitnya.


...****************...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2