Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Status Tak Jelas


__ADS_3

"Pelan-pelan, Arya." Mama Dewi mengusap lembut punggungnya.


"Maaf Ayah, tapi untuk apa bulan madu?" Tanya Arya yang membuat perhatian orang di sana langsung terfokus padanya.


"Kok malah tanya untuk apa? Ya tentu saja agar kalian bisa menghabiskan waktu bersama pasangan kalian." Sahut Mama Dewi.


"Ma, Arya rasa itu tidak perlu. Lagipula di rumah sama saja." Jawab Arya.


"Diam dulu, Arya. Biar kami para orang tua yang bicara." Tukas Mama Dewi.


"Iya, Ma."


"Untuk resepsi, kalian ingin di laksanakan di mana? Hotel, gedung atau outdoor?" Kali ini Bunda Maya yang bertanya.


"Bagaimana Dika?" Lanjutnya.


"Dika di mana saja, Bunda. Yang penting tempatnya nyaman untuk Intan." Jawab Andika sambil menatap dalam istrinya. Wajah Intan langsung merona dengan senyum mengembang di bibirnya. Suaminya itu baik sekali, selalu memikirkan dirinya terlebih dahulu.


"Oh... Pengertian sekali anak Mama yang satu ini... Selalu memikirkan istrinya." Timpal Mama Dewi sambil melirik ke arah putra sulungnya.


"Tak perlu menyindir, Ma." Gumam Arya pelan.


"Arya, kalau kau bagaimana?" Bunda Maya bertanya pada menantunya yang satu lagi.


"Arya..." Arya beralih menatap pada istrinya. Rubby tersenyum tipis di tempatnya.


"Arya bagaimana Rubby saja, Bunda." Jawabnya kemudian. Rubby terlihat mengerutkan keningnya, kenapa Arya malah melempar pertanyaan itu padanya? Padahal ia akan mengikuti bagaimana keinginan Arya. Sekalipun Arya meminta untuk tak di buatkan resepsi untuk mereka berdua, Rubby akan menurut.


"Rubby, bagaimana, Nak?" Bunda Maya beralih pada putrinya.


"Rubby, Rubby ikut yang lain saja, Bunda. Bagaimana baiknya." Jawab Rubby.


"Ya sudah, kalau begitu bagaimana kalau konsep resepsinya outdoor saja? Kita akan mengadakannya di sebuah taman nanti. Bagaimana?" Kini Ayah Bakti yang bertanya sambil menatap putri dan menantunya bergantian.


Keempat anak muda itu mengangguk setuju.


"Kami setuju saja, Ayah." Jawab Arya mewakili.


"Nah, untuk bulan madu... Kalian akan berangkat begitu acara resepsi selesai. Kalian ingin ke mana?" Tanya Mama Dewi.


"Mama, Intan ingin ke puncak." Sahut Intan cepat.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu Andika dan Intan akan ke puncak." Ucap Mama Dewi. Intan melebarkan senyumnya, calon mama muda itu memang sudah lama ingin berlibur ke puncak, tapi belum pernah terwujud. Mama Dewi beralih pada putra sulungnya.


"Arya, Rubby, kalian ingin bulan madu ke mana?" Tanyanya. Sontak Arya dan Rubby saling menatap.


"Rubby terserah Mas Firaz saja, Ma." Rubby menjawab lebih dulu. Jangan sampai Arya melemparkan pertanyaan itu padanya lagi.


"Arya, kau ingin ke mana? Puncak? Atau kalian ingin ke luar negri? Paris contohnya?" Tanya Mama Dewi beruntun.


Arya seketika memandang datar pada Mamanya. Kenapa juga membawa-bawa nama Paris? Arya tidak akan ke kota itu lagi. Tempat yang sudah membuatnya sakit hati dan juga meninggalkan kenangan buruk untuknya.


"Arya tidak ingin ke luar negri. Lebih baik ke tempat yang dekat-dekat saja. Karena Arya juga tak bisa cuti lama-lama." Jawab Arya.


"Ya... Lalu kalian ingin ke mana?" Tanya Mama Dewi lagi. Arya berfikir sejenak.


"Boleh kami jawab nanti? Arya ingin membicarakannya dulu dengan Rubby." Jawabnya.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama berfikirnya. Karena kami ingin semuanya terencana sebelum acara resepsi kalian bulan depan." Jelas Mama Dewi.


Bulan depan? Kenapa cepat sekali. Kenapa tidak tahun depan saja. Keluh Arya namun hanya dalam hati.


Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan dengan obrolan ringan.


"Kenapa? Kan semuanya masih berkumpul di sini?" Tanya Arya heran.


"Mungkin kalian mau melanjutkan kembali kegiatan kalian yang sempat tertunda tadi?" Goda Mama Dewi.


"Ya, itu benar Arya. Sebaiknya kalian lanjutkan yang tadi." Ayah Bakti ikut menimpali.


"Tidak perlu, Ayah. Nanti saja di lanjutnya" Jawab Arya sekenanya, sementara matanya menatap datar Mama Dewi. Dan terlihat mamanya itu menahan senyumnya.


_


_


_


Arya menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, ia baru saja mengantar kedua mertuanya pulang. Padahal Mama Dewi sudah menawari untuk menginap, tapi mereka dengan halus menolaknya.


Pandangan Arya terlihat menerawang, resepsi? Bulan madu? Dua hal yang Arya tak fikirkan sama sekali. Dulu dirinya pernah berfikiran sampai ke sana, saat masih menjalin hubungan dengan Mega. Tapi sekarang, rasanya ia tak bersemangat sama sekali.


Klek, pintu kamar itu terbuka.

__ADS_1


"Mas Firaz sudah pulang?" Tanya Rubby sambil menghampiri suaminya.


"Ya, seperti yang kau lihat." Sahut Arya sambil beranjak dari tidurnya.


"Mas ingin ku buat kan minum?" Tawarnya.


"Tidak perlu." Arya berjalan menuju meja kerjanya dan mulai membuka laptopnya. Memeriksa laporan penjualan di rumah makan dan juga coffe shopnya. Dan mengacuhkan Rubby yang masih berdiri di tempatnya.


"Mungkin Mas Firaz lelah." Batin Rubby yang melihat Arya malah sibuk sendiri.


Terdengar suara pesan masuk beruntun di ponsel Arya.


Lagi-lagi Mega! Lelaki itu memijat keningnya. Di perjalanan pulang tadi Mega terus menghubunginya, namun tak di angkat. Dan sekarang gadis itu mengirim begitu banyak pesan. Membuat suasana hati Arya yang sedang buruk makin buruk saja.


Sementara Rubby menatapnya sendu, ia tahu jika Mega yang menghubungi suaminya.


"Aku ke bawah dulu, Mas." Rubby memilih untuk keluar dari kamar, membiarkan suaminya berbalas pesan dengan kekasihya.


"Hem." Sahut Arya singkat.


Ia terlihat fokus pada ponselnya membaca beberapa pesan dari Mega. Pesan-pesan mesra yang di tulis Mega nyatanya malah membuat pria itu pusing.


"Sayang, aku akan kembali secepatnya. Karena aku begitu merindukanmu." Tulis Mega di pesan terakhirnya.


"Mega akan kembali? Baguslah. Aku jadi bisa secepatnya mengatakan padanya kalau hubungan kami telah berakhir." Gumam Arya sambil meletakan kembali ponselnya tanpa membalas satu pun pesan dari Mega.


Rubby menuruni tangga, dan duduk di dua anak tangga terakhir sambil menekuk kedua lututnya. Tangannya menyangga dagu, pandangannya sendu.


"Sudah satu bulan pernikahan kami, dan Mas Firaz masih saja berhubungan dengan Mega. Mas Firaz juga tidak pernah mengatakan tentang hubungannya dengan Mega padaku. Bagaimana sebenarnya hubungan mereka? Jika memang mereka masih menjalin kasih, sebaiknya aku pergi saja. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan orang." Rubby menghembuskan nafas berat. Statusnya bagi Arya benar-benar tak jelas. Arya memiliki kekasih, tapi malah menikahi dirinya.


"Rubby, sedang apa kau di sini?" Tanya Mama Dewi yang kebetulan lewat.


"Tidak Ma. Rubby hanya duduk saja." Jawab Rubby sambil melebarkan senyumnya.


"Kenapa tidak di kamar? Suamimu sudah kembali kan?" Mama Dewi ikut duduk di samping menantunya.


"Mas Firaz sedang sibuk dengan laptopnya, Ma. Rubby tak ingin mengganggu."


"Oh, begitu?"


"Ma, boleh Rubby tanya sesuatu?"

__ADS_1


__ADS_2