Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Buku Rahasia Rubby


__ADS_3

Pria itu kemudian mendudukkan tubuhnya di sisi tempat tidur. Ia menurut saja, lagipula ia bingung harus membantu apa.


Rubby membuka lemarinya, dan mulai mengemas pakaiannya. Pakaiannya memang tidak banyak, karena memang Rubby jarang membeli baju.


Arya memperhatikan gerak gerik istrinya, tapi netra Arya tiba-tiba tertuju pada rak buku Rubby yang terdapat banyak buku di sana.


Arya bangkit dari duduknya dan mendekati rak buku itu. Diambilnya sebuah buku, buku resep masakan ternyata. Karena tak tertarik, Arya meletakan kembali buku itu, dan mengambil buku yang lainnya. Sebuah buku dengan sampul tebal berkancing menarik perhatian Arya. Ia membolak-balikkan buku itu, sepertinya bukan buku tulis biasa. Namun ketika Arya hendak membukanya, suara Rubby mengejutkannya.


"Mas Firaz!" Pekik Rubby.


Arya terkejut karena tiba-tiba saja Rubby merebut buku yang sudah berada dalam genggamannya.


Wajah Rubby terlihat memucat, dengan cepat Rubby menyembunyikan buku itu di balik punggungnya, Sementara jantungnya berdetak tak karuan. Bagaimana jika tadi Arya melihat isi dari buku itu?


"Kenapa? Ada apa dengan buku itu?" Tanya Arya heran. Itu hanya sebuah buku, tak seharusnya Rubby sampai bersikap seperti itu. Fikirnya bingung.


"Ah, itu... Buku ini..." Rubby tergagap, takut salah menjawab. Sedangkan Arya menatapnya curiga.


"Buku yang penuh dengan cerita rahasiamu?" Tanya Arya yang mulai mengerti.


Biasanya wanita suka menulis rahasianya pada sebuah buku bukan?


Mau tak mau Rubby mengangguk. Buku itu memang penuh dengan gambar sketsa wajah pria rahasianya dan juga curahan hatinya.


"Maaf, aku sudah lancang." Arya melangkah dan duduk kembali di tempat tidur Rubby.


"Maaf, Mas. Bukan seperti itu maksudku. Aku...." Rubby jadi merasa tak enak. Tak seharusnya ia bersikap seperti tadi. Suaminya itu pasti kaget dan curiga kepadanya.


"Sudahlah. Lagipula aku yang salah." Tukas Arya.


Rubby masih terdiam di tempatnya berdiri, ia jadi merasa serba salah. Buku itu masih berada dalam genggamannya.


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Apa kau sudah selesai mengemas barang-barangmu?" Tanya Arya sedikit kesal karena Rubby hanya diam saja.


"Eh iya." Rubby kembali pada kegiatannya semula. Dan ia menyimpan buku itu di dalam lemari pakaiannya.


Beberapa saat kemudian...


"Sudah selesai?" Tanya Arya.


"Ya, Mas." Jawab Rubby. Arya melirik koper kecil yang ada di samping Rubby.

__ADS_1


"Hanya segitu barang yang kau bawa?" Tanya Arya lagi.


"Iya, Mas." Rubby mengangguk.


"Ya, sudah. Ayo kita turun." Ajaknya.


Sepasang pengantin baru itu menuruni tangga, dengan Arya yang membawa koper milik Rubby. Mereka kembali ke ruang keluarga, para orang tua mereka masih berkumpul di sana.


"Kalian sudah selesai?" Tanya Mama Dewi sambil menatap heran pada anak dan juga menantunya.


"Ya, Rubby tak membawa banyak barang." Jawab Arya.


"Kenapa Mama melihatku seperti itu?'' Tanya Arya ketika melihat tatapan aneh dari sang mama.


"Kenapa kalian tak melakukan sesuatu dulu?" Tanya Mama Dewi.


"Melakukan apa, Ma?" Tanya Arya dengan tampang polosnya. Mama Dewi menepuk keningnya, masa iya Arya tak mengerti maksudnya.


"Dewi, mereka berdua masih sama-sama polos sepertinya. Tadi kan kau yang bilang sendiri kalau Arya juga bukan pria yang suka macam-macam." Ucap Ayah Bakti.


Arya menatap mamanya dan Ayah Bakti bergantian. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan?


"Aku lupa, Bakti." Sahut Mama Dewi.


"Di mana Dika?" Tanya Arya.


"Di kamar istrinya. Sedang membantu Intan merapikan kamarnya." Jawab Mama Dewi.


"Oh, ya. Bagaimana dengan resepsi? Kalian ingin mengadakan resepsi di mana?" Tanya Bunda Maya. Arya dan Rubby saling memandang. Mereka sendiri belum berfikir sampai ke sana.


"Kami belum memikirkan tentang itu, Bunda." Jawab Rubby.


"Bagaimana kalau kami yang mengurusnya?" Tanya Mama Dewi.


"Ya, terserah Mama saja." Jawab Arya. Ia sebenarnya tidak tertarik dengan acara seperti itu, hanya menghabiskan waktu dan membuat lelah saja.


Tak lama kemudian Andika dan Intan datang dan bergabung kembali bersama mereka. Penampilan Intan terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.


"Ehm, sepertinya para adik lebih handal di banding kakaknya." Celetuk Mama Dewi. Wajah Intan kontan merona. Mama Dewi tahu saja jika mereka berdua melakukan sesuatu di kamar tadi.


"Mama jangan menggoda istriku. Lihat, wajah Intan jadi semerah tomat karena ucapan Mama." Timpal Andika. Arya menatap mama dan adiknya bergantian.

__ADS_1


"Ma, sebenarnya apa yang ingin Mama katakan?" Tanya Arya yang masih bingung.


"Kak Arya tidak mengerti?" Andika balik bertanya. Arya menggeleng.


"Kakakmu masih polos, Dika. Tidak sepertimu." Tukas Mama Dewi.


"Sebentar lagi juga Kakak akan mengerti." Sahut Andika.


Arya malah makin mengerutkan keningnya, ia benar tak paham dengan maksud adik dan mamanya itu. Begitupun dengan istrinya.


Sementara itu, Ayah Bakti dan Bunda Maya hanya bisa tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa jadi terbalik seperti ini? Para adik yang justru usianya lebih muda malah lebih berpengalaman di banding kakak-kakaknya.


"Ini sudah sore, sebaiknya kita pulang." Mama Dewi bangun duduknya.


"Benar kalian tidak menginap di sini?" Tanya Bunda Maya sekali lagi.


"Iya, May. Lagipula di rumah masih banyak yang harus di bereskan." Jawabnya.


"Hem... Baiklah."


"Kau mau ke mana?" Tanya Arya yang melihat Andika ikut bangun juga.


"Tentu saja aku ikut pulang ke rumah. Aku harus mengambil barang-barangku dulu." Jawab Andika.


"Ah, ya. Kakak lupa."


"Dewi, Arya. Kami titip Rubby ya? Tolong jaga dia. Dan jika Rubby membuat kesalahan tolong tegur secara baik-baik dan jangan di marahi." Ucap Bunda Maya. Sebenarnya ia juga masih belum rela putri sulungnya itu pergi meninggalkannya.


"Kalian tenang saja. Bagaimanapun juga Rubby adalah putriku sekarang, aku akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Dan jika Arya berani menyakiti Rubby, aku akan langsung mengusirnya dari rumah." Jawab Mama Dewi sambil melirik ke arah Arya.


"Mama, aku tidak pernah menyakiti perempuan." Elak Arya.


"Bunda, kita harus percaya pada Dewi dan Arya. Mereka pasti akan menjaga putri kita dengan baik." Ucap Ayah Bakti. Bunda Maya mengangguk.


"Jaga dirimu ya sayang." Ucap Bunda Maya sambil menarik Rubby ke dalam pelukannya.


"Iya Bunda." Rasanya Rubby tak dapat berkata-kata. Hanya netranya saja yang nampak berkaca-kaca. Bunda Maya menciumi wajah Rubby. Putrinya kini harus tinggal terpisah dengannya.


"Bunda, aku akan menjaga dan memperlakukan Rubby dengan baik." Ucap Arya.


"Ya, Arya. Bunda percayakan Rubby padamu."

__ADS_1


Sedangkan Ayah Bakti tidak mengatakan apapun lagi. Tadi siang dirinya sudah berpesan pada Arya, dan ia yakin Arya masih mengingatnya.


* * *


__ADS_2