
Andika menganga mendengar pertanyaan aneh dari istrinya.
"Intan, tidak semua suami mengalami sindrom seperti itu. Mungkin hanya beberapa saja. Kenapa juga kau jadi meragukan cinta suamimu? Apa kau tidak lihat apa yang sudah di lakukan Andika selama ini untukmu? Masa iya kau masih mempertanyakan cintanya?" Ucap Bunda Maya mencegah perdebatan putri keduanya dengan suaminya. Intan terdiam sejenak. Benar juga yang di katakan Bundanya.
"Tapi Intan kan ingin Andika juga merasakan apa yang Intan alami selama hamil Bunda." Kata Intan kemudian.
"Intan, apa tidak cukup bagimu merepotkan Andika setiap hari selama kau hamil?" Kali ini Ayah Bakti yang bertanya. Intan kembali terdiam, tak menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Intan, aku mencintaimu. Dan untuk soal sindrom, itu juga bukan kehendakku. Masa iya aku harus di paksa? Kan tidak mungkin. Seandainya bisa, aku juga ingin menggantikanmu." Ujar Andika, Intan melirik sejenak ke arahnya.
"Maaf." Kata Intan pelan.
"Sudah, jangan di perpanjang. Kita sebaiknya segera makan, sebelum makanannya menjadi dingin." Potong Mama Dewi. Karena sedari tadi mereka malah bicara saja, dan melupakan makanan yang sudah terhidang di meja.
"Rubby mau tunggu Mas Firaz. Kalian makan duluan saja."
"Ya sudah." Mereka mulai menyantap makanannya. Beberapa menit kemudian Arya datang dengan semangkuk mie di tangannya. Ia ingin kembali ke meja makan, tapi di urungkannya.
"Mas Firaz mau ke mana?" Tanya Rubby yang melihat suaminya berjalan melewati mereka.
"Aku mau makan di ruang tamu saja, Rubby." Jawab Arya sambil terus berjalan.
__ADS_1
"Sudah Rubby, sebaiknya kau makan di sini saja. Arya pasti masih mual makanya dia tdak kemari." Kata Mama Dewi membuat Rubby hanya bisa patuh.
Arya menikmati mie instannya seorang diri.
"Hah! Niatku ingin makan malam di luar bersama istriku. Tapi malah berakhir dengan aku yang makan mie instan seorang diri."
Arya menghembuskan nafas kasarnya ke udara dan kembali menikmati mienya.
"Sebenarnya ada apa dengan diriku ini? Tadi aku mual karena aroma coklat panas dan sekarang aku mual gara-gara sup ayam?"
_
_
_
"Kira-kira apa yang ingin para orang tua bicarakan? Rasanya kita sedang tidak ada masalah?" Tanya Arya pada Andika yang duduk di sampingnya. Andika mengendikkan bahunya, ia pura-pura tidak tahu. Sedangkan para istri mereka sedang asik bermain dengan baby Dikta di atas lantai yang di alasi dengan karpet bulu. Bayi yang sudah berusia delapan bulan itu belum tidur dan masih aktif saja, padahal ini sudah cukup malam untuk ukuran anak kecil sepertinya.
"Nanti juga Kakak tahu kalau para orang tua sudah bicara." Jawab Andika sekenanya. Tak lama kemudian, Ayah Bakti datang bersama istri dan besannya.
"Arya, Andika." Panggil Ayah Bakti pada kedua menantunya.
__ADS_1
"Iya, Ayah." Sahut kedua pria itu bersamaan.
"Bagaimana dengan rumah tangga kalian? Apa baik-baik saja, atau sedang ada masalah?" Tanya Ayah Bakti sambil menatap kedua menantunya bergantian. Andika menyenggol lengan kakaknya. Mengisyaratkan agar Arya menjawab lebih dulu.
"Arya dan Rubby baik-baik saja, Ayah." Jawab Arya.
"Syukurlah kalau begitu. Andika?" Ayah Bakti beralih pada menantu yang satunya.
"Dika dan Intan juga baik-baik saja, Ayah. Ayah kan bisa lihat sendiri." Jawab Andika.
"Bagaimana dengan kehamilan istrimu?" Tanya Ayah Bakti lagi.
"Dika rasa tidak ada masalah, Ayah." Jawab Andika. Ayah Bakti menganggukkan kepalanya. Dan Beralih pada Arya.
"Kalau kau, Arya?" Tanyanya. Terlihat Arya mengerutkan keningnya.
"Hah? Maksud Ayah?" Arya tidak mengerti apa yang di tanyakan Ayah mertuanya. Rubby yang mendengar itu segera pindah posisi duduknya ke samping sang suami yang semula berada di bawah.
......................
JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊
__ADS_1