
"Sejak pertama kali melihat Rubby di rumah sakit, saya sudah tertarik dengannya." Ucap Dokter Malik.
Semua orang di sana langsung menatapnya, kecuali Rubby yang malah membuang pandangannya.
"Saya tahu kalau perasaan saya salah, tapi sekarang Rubby sudah berpisah dengan suaminya. Dan saya berniat untuk melamar Rubby."
Semua orang langsung tercengang dengan apa yang di katakan Dokter Malik.
"Melamar?" Ulang Ayah Bakti.
"Iya, Om. Saya ingin melamar Rubby. Bagaimana, apa niat baik saya di terima?" Tanya Dokter Malik. Kini tatapan semua orang beralih pada Rubby yang tadi senantiasa diam sambil menundukkan wajahnya.
"Rubby, apa kau bersedia menerima niat baikku?" Tanya Dokter Malik pada Rubby. Gadis itu terdiam, bola matanya bergerak gelisah. Tidak menyangka Dokter Malik akan langsung melamarnya di depan orang tuanya. Lelaki itu benar-benar nekat ternyata.
"Rubby, tolong di jawab pertanyaan Dokter Malik." Ucap Bunda Maya. Wajah Rubby terangkat, menatap satu per satu orang yang ada di sana, dan berhenti pada Ayahnya. Gadis itu menggeleng pelan.
"Sebelumnya Rubby ucapkan terima kasih atas niat baik Dokter Malik." Rubby menjeda ucapannya, sedangkan Dokter Malik menunggu harap-harap cemas jawaban Rubby.
"Tapi maaf, Rubby tidak bisa menerimanya." Lanjut Rubby, terlihat raut kekecewaan di wajah tampan dokter itu. Dan yang lainnya hanya terdiam, sepertinya mereka sudah bisa menebak jawaban Rubby.
__ADS_1
"Rubby permisi." Tanpa banyak bicara lagi Rubby bangun dari duduknya dan langsung meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Dokter Malik membuang nafas berat, lamaran di tolak begitu saja. Padahal dia sampai berbuat nekat seperti ini, melamar langsung Rubby di depan orang tuanya, tapi nyatanya Rubby malah menolaknya. Apa wanita itu sama sekali tidak terenyuh hatinya? Tiba-tiba saja ada pria yang melamarnya padahal mereka belum kenal terlalu lama?
"Ehm, Dokter Malik." Panggil Ayah Bakti membuat lelaki itu menoleh padanya.
"Iya, Om."
"Saya minta maaf sebelumnya, jika jawaban Rubby tidak sesuai dengan harapan Dokter Malik. Tapi memang untuk urusan seperti ini kami selaku orang tua Rubby akan menyerahkan keputusan penuh pada Rubby, karena Rubby lah yang nanti akan menjalaninya. Rubby sudah pernah gagal dalam berumah tangga, dan kami tidak ingin memaksanya." Ujar Ayah Bakti.
"Iya, Om. Saya bisa bisa mengerti. Tapi apa alasan Rubby menolak saya? Apa kira-kira kurangnya diri saya? Saya akan berusaha untuk memperbaikinya." Ucap Dokter Malik sungguh-sungguh. Ayah Bakti beralih menatap istrinya.
"Baiklah kalau begitu, nanti akan saya tanyakan langsung pada Rubby." Ucap Dokter Malik.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter Malik bangkit dari duduknya
"Eh, kenapa buru-buru? Kami bahkan belum memberi minum." Ujar Bunda Maya yang baru sadar belum memberi minum pada tamunya.
"Tidak apa-apa, Tante. Maaf kalau kedatangan saya sudah mengganggu. Saya permisi, assalamuala'ikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Andika mengantar Dokter Malik sampai depan pintu.
"Em, Andika." Dokter Malik menghentikan langkahnya di ambang pintu.
"Iya, kenapa?" Tanya Andika.
"Apa Rubby masih mencintai mantan suaminya, makanya dia menolakku?" Tanya Dokter Malik. Andika mengendikkan bahunya.
"Maaf Dok, kalau soal itu saya tidak tahu." Jawab Andika. Ia juga tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaan kedua orang itu. Kalau Arya mencintai Rubby tapi kenapa Arya menceraikannya? Dan Rubby, sebenarnya terlihat jelas jika wanita itu begitu mencintai Arya. Tapi entahlah, Andika bingung.
"Ya, sudah. Saya permisi." Pamit Dokter Malik.
"Iya, Dok. Ini sudah malam, hati-hati di jalan."
Andika masuk kembali ke dalam rumah begitu mobil Dokter Malik meninggalkan halaman rumah istrinya.
*****
__ADS_1
Jangan lupa likenya