Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Tidak Boleh!


__ADS_3

"Maaf ya, Kak." Intan menggenggam tangan Rubby.


"Intan, jangan minta maaf terus. Kakak malah jadi tidak nyaman. Lagipula ini bukan salahmu sepenuhnya." Ujar Rubby membalas genggaman adik perempuannya.


"Memang sudah takdir Kakak menikah dengan Mas Firaz." Sambungnya.


"Yang jelas hubungan kami sudah membaik." Rubby tersenyum simpul.


"Kak, kalau ada apa-apa, tolong cerita padaku. Kakak jangan memendamnya sendiri."


"Iya, Intan." Keduanya saling berpelukan.


Sementara itu di kamar Rubby, Arya membuka lemari hendak menyimpan kemeja yang akan besok dipakainya untuk bekerja agar tidak kusut. Tapi sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah buku terlihat terselip di antara pakaian istrinya.


"Buku itu..." Arya ingat, buku itu adalah buku yang dulu hendak dibacanya saat hari pernikahannya tapi tiba-tiba saja Rubby merebutnya.


"Sebenarnya apa isi dari buku itu?" Arya terlihat penasaran.


"Kalau aku membacanya, apa Rubby akan marah?" Arya jadi galau sendiri, antara rasa penasaran tapi takut jika Rubby akan marah kalau ia melihat isi dari buku itu.


Klek, pintu kamar terbuka. Rubby kembali ke kamarnya.


"Mas Firaz sedang apa?" Tanya Rubby sambil menghampiri suaminya yang berdiri mematung di depan lemari yang terbuka.


"Aku baru saja menyimpan kemejaku di sini." Jawab Arya menunjuk ke arah kemejanya yang tergantung di sana.


"Rubby, boleh aku tanya sesuatu?" Tanyanya kemudian.


"Ada apa, Mas?" Ruby balik bertanya.


"Buku itu, apa isinya? Apa aku boleh melihatnya?" Tanya Arya, kini tangannnya menunujuk ke arah buku bersampul tebal tersebut. Rubby mengikuti arah yang di tunjuk suaminya. Matanya langsung terbelalak.


"Tidak boleh!" Reflek Rubby berteriak dan menutup lemarinya, Arya menautkan kedua alisnya.


"Kenapa ekspresimu selalu seperti itu jika menyangkut buku itu?" Tanya Arya heran.


"Pokoknya Mas tidak boleh melihatnya! Kalau Mas melihatnya, aku akan marah." Seru Rubby tanpa mempedulikan pertanyaan suaminya.

__ADS_1


Buku itu penuh dengan gambar sketsa wajah Arya, mau menjawab apa dirinya jika nanti Arya bertanya? Apalagi setahu Rubby, Arya belum tahu kalau itu adalah sketsa wajahnya. Nanti di kiranya dirinya mempunyai pria lain di hatinya.


"Ya sudah aku tidak akan melihatnya." Daripada berdebat, Arya memilih untuk mengalah dan pergi dari sana, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ayo tidur Rubby, ini sudah malam." Ujar Arya membuyarkan lamunan Rubby.


"Iya, Mas." Rubby ikut membaringkan tubuhnya di samping Arya.


Mereka menatap kosong pada langit-langit kamar, sibuk dengan fikirannya masing-masing.


"Aku jadi semakin penasaran apa dari isi buku itu." Batin Arya.


"Apa aku buang atau bakar sekalian saja bukunya? Tidak, tidak. Aku sudah susah payah membuatnya selama enam bulan. Tapi bagaimana jika Mas Firaz melihatnya nanti?" Batin Rubby.


Sedangkan di tempat lain, seorang pria tengah memandangi sebuah cincin emas putih yang berhiaskan permata di atasnya. Cincin yang sangat cantik, nampak berkilau di bawah sinar lampu. Cincin yang sengaja di pesannya untuk seseorang yang sangat istimewa.


"Rubby, kau pasti akan menyukai cincin ini. Dan sebentar lagi kau akan resmi jadi milikku." Ucapnya.


"Dan jika kau menerimaku, tanpa menunggu lama aku akan langsung menikahimu." Pria itu tersenyum sambil membayangi wajah gadis pujaannya.


Pagi harinya


Seperti biasa Andika sibuk di dapur membuatkan sarapan untuk istrinya.


"Apa setiap pagi selalu seperti ini?" Tanya Mama Dewi heran ketika melihat putra sedang memasak, sedangkan Intan begitu setia menunggunya. Bunda Maya memang sengaja mengajak Mama Dewi ke dapur untuk melihat kelakuan pasangan muda itu.


"Ya, Andika selalu melakukannya karena Intan selalu memintanya." Jawab Bunda Maya.


"Aku tidak tahu kalau putraku itu bisa memasak." Kata Mama Dewi.


"Andika berinisiatif untuk belajar memasak saat Intan ingin makan masakannya." Ujar Bunda Maya. Mama Dewi mengangguk-anggukan kepalanya, merasa bangga dengan putra keduanya. Walaupun usianya masih muda, tapi Andika selalu mementingkan perasaan istrinya.


"Setidaknya Andika menjadi suami yang bertanggung jawab dan juga pengertian pada istrinya. Sayangnya Arya belum bisa seperti itu." Mama Dewi membuang nafas berat. Kenapa Arya tidak bisa seperti Andika? Putra sulungnya itu kenapa sulit sekali dekat dengan istrinya. Sudah lebih dari sebulan menikah mereka bahkan belum melakukan hubungan suami istri.


"Jangan di bandingkan dengan Arya. Andika dan Intan sudah saling mencintai saat menikah, sedangkan Arya dan Rubby? Mereka baru bertemu tapi langsung kita nikahkan. Tapi setidaknya Arya tidak berbuat kasar dan menyakiti Rubby. Itu sudah cukup sebagai awal yang baik untuk hubungan mereka." Ujar Bunda Maya, ia mencoba mengerti posisi Arya dan Rubby. Jika mereka belum bisa dekat, itu juga bukan salah mereka sepenuhnya.


Dan sebenarnya Ayah Bakti dan Bunda Maya sudah tahu bagaimana hubungan Arya dan Rubby, karena diam-diam Mama Dewi selalu memberi laporan tentang hubungan anak dan menantunya. Hal yang sama juga Bunda Maya lakukan, melaporkan pada Mama Dewi bagaimana tingkah laku Andika dan Intan di sana.

__ADS_1


"Ya, aku paham. Tapi Rubby kan cantik, apa Arya tidak tergoda saat satu ranjang dengan Rubby?" Mama Dewi penasaran. Tanpa dirinya tahu, Arya pernah menahan diri mati-matian untuk tidak menerkam istrinya saat Rubby mengenakan lingerie darinya.


"Belum saatnya." Sahut Bunda Maya.


"Sudah, lebih baik kita sarapan saja. Tadi aku sudah membuat sarapan lebih dulu bersama Rubby." Lanjut Bunda Maya sambil menarik tangan Mama Dewi.


"Kau sudah membuat sarapan? Kenapa tidak mengajakku? Aku kan bisa ikut membantu?" Tanya Mama Dewi beruntun.


"Kau tamu di sini." Sahut Bunda Maya singkat.


"Iya, tapi kan..."


"Sudah. Kau duduk saja." Bunda Maya memaksa Mama Dewi untuk duduk di kursi.


"Ke mana suamimu dan para anak pertama kita?" Mama Dewi heran tidak ada seorang pun di meja makan.


"Mungkin mereka masih di kamar. Aku panggil suamiku dulu." Bunda Maya beranjak dari sana.


"Andika, cepat!" Seru Intan yang baru datang dari arah dapur.


"Iya, sebentar." Andika membawa sepiring nasi goreng buatannya.


"Cepat, aku dan anakmu sudah lapar." Rengek Intan sambil duduk di samping ibu mertuanya. Sedangkan Mama Dewi hanya jadi penonton, kelakuan pasangan muda itu seolah menjadi hiburannya pagi ini.


Tak lama kemudian Arya dan Rubby ikut bergabung.


"Selamat pagi semua." Sapa Rubby.


"Pagi, Kak!" Balas Intan dengan mulut penuh makanan. Ibu hamil itu sudah memulai sarapannya lebih dulu.


Rubby dan Arya duduk saling berhadapan dengan Andika dan Intan. Mata Arya melirik piring Intan, kenapa makanan di piring ibu hamil itu terlihat berbeda?


"Intan, kenapa sarapanmu berbeda?" Tanya Arya.


"Oh ini memang khusus untukku, Kak. Andika yang memasaknya." Jawab Intan.


"Andika memasak?" Arya tercengang, mengalihkan pandangannya pada Andika.

__ADS_1


"Sejak kapan kau bisa memasak?" Tanyanya.


__ADS_2