
"Semua yang Rubby katakan benar, aku tidak pernah peduli padanya." Arya menghentikan langkahnya dan mengusap kasar wajahnya.
"Apa yang harus ku lakukan agar Rubby mau memaafkanku?" Tanyanya pada diri sendiri. Terlihat seseorang berjalan mendekatinya.
"Kak Arya!" Panggil Intan yang melangkah menghampirinya.
"Intan? Kau datang dengan siapa?" Tanya Arya sambil tersenyum tipis, seolah baik-baik saja.
"Dengan Andika, Kak. Tadi sekalian Andika berangkat kerja. Kak Arya sudah bertemu dengan Kak Rubby?"
"Akh, iya. Tadi Kakak sudah menemuinya. Kakak titip Rubby ya? Kakak harus bekerja."
"Iya, Kak Arya tenang saja." Intan mengangguk.
"Nanti Bunda akan menyusul kemari." Imbuhnya.
"Ya sudah kalau begitu, Kakak pamit dulu. Assalamuala'ikum."
"Waalaikumsalam."
Intan tersenyum lega, akhirnya kakak perempuannya mau bertemu dengan suaminya. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat Rubby.
_
_
_
"Assalamuala'ikum, Kak... Kakak kenapa?" Intan terkejut begitu membuka pintu, Rubby tengah menangis sesegukan. Ia langsung menghampiri Rubby.
"Kak Rubby, kenapa menangis?" Tanya Intan khawatir. Rubby membuka telapak tangan yang tadi menutupi wajahnya.
"Intan...." Rubby tak menjawab, ia malah menangis di pelukan Intan. Ibu hamil itu jadi bingung sendiri. Intan mengusap-usap lembut punggungnya, berusaha menenangkan sang kakak.
Perlahan Rubby melepas pelukannya, isakannya masih terdengar.
"Kak Rubby, jangan menangis terus. Intan jadi ikut sedih." Tutur Intan dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak kenapa?" Intan duduk di samping Rubby.
"Mas Firaz..." Lirih Rubby.
"Kak Arya kenapa, Kak? Tadi Intan bertemu Kak Arya, Kak Arya bilang kalian sudah bertemu."
"Mas Firaz bilang apa?" Tanya Rubby.
"Kak Arya tidak bilang apa-apa. Hanya menitipkan Kak Rubby pada Intan karena Kak Arya akan pergi kerja." Jawab Intan.
"Sebenarnya ada apa, Kak? Kak Rubby dan Kak Arya baik-baik saja kan?" Lanjutnya penasaran.
"Intan, Kakak sudah merasa tidak layak untuk suami Kakak." Lirih Rubby, bulir bening itu kembali mengalir di wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa bicara seperti itu, Kak?"
"Kakak sudah kotor Intan. Laki-laki lain sudah menyentuh Kakak..."
Intan menggenggam erat tangan Rubby, dan menggeleng pelan.
"Tidak, Kak... Kakak tidak kotor, Kak Arya juga tidak mungkin beranggapan seperti itu..."
"Tapi ini kenyataannya, Intan... Kakak sudah tidak pantas untuk Mas Firaz..."
"Kak..." Kakak dan adik itu saling menatap dalam.
"Kakakku sangat layak untuk Kak Arya. Kakakku perempuan yang selalu menjaga kehormatannya. Kejadian kemarin adalah musibah, kakakku tidak pernah kotor. Dan aku yakin, Kak Arya masih tetap menerima dan menyayangi Kakak." Intan menggenggam erat tangan Rubby, namun Rubby hanya menggeleng pelan dengan sorot mata putus asa.
_
_
_
Setelah satu minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Rubby akhirnya di izinkan untuk pulang.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Rubby?" Tanya Mama Dewi sambil menatap menantunya.
"Iya, Ma..."
"Kenapa? Apa kau tidak betah tinggal di rumah Mama?" Mama Dewi terlihat kecewa.
"Bukan seperti itu, Ma... Rubby hanya ingin tinggal bersama Ayah dan Bunda dulu." Jawab Rubby.
"Tidak, ma. Rubby rasa dia juga tidak akan peduli." Jawabnya.
"Rubby, kenapa berkata seperti itu?"
"Bukannya Mama tahu bagaimanan sikap Mas Firaz selama ini padaku?" Rubby balik bertanya.
"Tapi bukannya hubungan kalian sekarang sudah membaik? Saat kau tidak sadar selama tiga hari, Arya begitu setia menemanimu. Dia tidak pernah meninggalkanmu. Arya begitu menyesal dengan apa yang sudah terjadi padamu. Dia bahkan sering menangis. Kau pasti tahu, kalau air mata pria itu sangat tulus. Mama tidak pernah melihat Arya sesedih ini sebelumnya." Tutur Mama Dewi.
"Walaupun sudah membaik tapi tetap saja Mas Firaz belum bisa menerimaku."
"Rubby..." Mama Dewi menatap menantunya, berharap Rubby akan berubah fikiran.
"Ma, untuk sementara. Rubby ingin tinggal bersama Bunda dulu..." Rubby memelas. Mama Dewi menghela nafas kecewa.
"Baiklah. Tapi walau bagaimanapun kau tetap harus izin pada suamimu. Mama sudah memberi tahu Arya kau akan pulang hari ini, mungkin sebentar lagi suamimu sampai." Ucapnya.
"Iya, Ma." Rubby mengangguk.
"Boleh Mama tanya sesuatu?" Mama Dewi duduk di samping menantunya setelah selesai mengemas pakaian Rubby.
"Apa yang ingin Mama tanyakan?"
__ADS_1
"Apa kau membenci suamimu?" Rubby terdiam sejenak, kemudian menggeleng.
"Sama sekali tidak, Ma..." Jawabnya.
"Lalu kenapa kemarin-kemarin kau menolak kedatangan Arya?" Tanya Mama Dewi penasaran. Sejak sadar, Rubby tak pernah mau bertemu dengan suaminya meskipun dirinya sudah membujuk menantunya itu.
"Rubby... Rubby merasa...."
Klek, pintu ruangan terbuka. Arya baru saja datang membuat Rubby tak jadi bicara.
"Assalamuala'ikum." Ucapnya memberi salam.
"Waalaikumsalam." Jawab kedua wanita itu. Rubby kembali memasang wajah dinginnya.
"Rubby, aku senang kau sudah di izinkan pulang." Arya melangkah mendekati istrinya dengan senyum bahagia di wajah tampannya, ia tidak peduli dengan sikap Rubby yang terlihat dingin. Sementara Mama Dewi berdiri tak jauh dari mereka, melirik sepasang suami istri itu bergantian.
"Ada yang ingin aku katakan." Ucap Rubby memandang sejenak ke arah suaminya.
"Ada apa?" Arya sudah berdiri di hadapannya.
"Aku ingin pulang ke rumah bunda." Jawab Rubby dengan dinginnya.
"Pulang ke rumah bunda? Kenapa?" Tanya Arya.
"Aku ingin tinggal bersama bunda dulu." Jawab Rubby sambil membuang pandangannya.
"Baiklah, kita akan tingal di sana." Sahut Arya dengan senyum tipis di wajahnya. Rubby kembali menatap pada suaminya.
"Tidak, aku hanya ingin tinggal sendiri di sana." Ucapnya. Arya mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" Tanyanya.
"Mas pasti mengerti maksudku." Tandas Rubby, Arya terdiam sejenak.
"Rubby, kau ingin kita tinggal terpisah?" Tanyanya setelah paham maksud dari perkataan istrinya. Rubby tak menjawab, dan kembali membuang pandangannya. Arya duduk di sampingnya.
"Rubby..." Arya menangkup wajah istrinya, namun Rubby langsung menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" Serunya, Arya tak mempedulikannya. Ia tetap meraih wajah Rubby, membuat gadis itu menatapnya.
"Apa kau begitu marah padaku dan sedang menghukumku?" Tanya Arya begitu lirih.
"Aku sedang tidak ingin bersamamu. Tolong mengertilah..." Pinta Rubby memelas.
"Tapi tidak dengan kita tinggal terpisah..."
Rubby melepasakan tangan Arya yang berada di wajahnya, dan bangkit dari duduknya.
"Aku tidak ingin bersamamu! Aku tidak ingin melihatmu! Aku sedang ingin sendiri!" Rubby berteriak. Arya terjingkat kaget mendengarnya, begitupun dengan Mama Dewi yang sedari tadi menjadi penonton. Ini pertama kalinya Rubby bicara dengan nada tinggi pada Arya.
Arya menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, ia mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Baiklah, aku turuti keinginanmu." Ucapnya dengan nafas tercekat, Ia bangun dari duduknya.
"Tapi biarkan aku tetap mengantarmu. Aku tunggu di mobil." Pria itu kemudian pergi dari ruang rawat. Sementara Rubby terduduk lemas di sisi tempat tidur, dan menutup wajahnya.