Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 146


__ADS_3

Setelah pembicaraan dan beberapa nasihat di terima dua pasang suami istri itu, mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Kapan kau tahu kalau kau sedang hamil, Rubby?" Tanya Arya yang sudah duduk bersandar di tempat tidur sedangkan Rubby tiduran di pangkuannya.


"Hari ini." Jawab Rubby.


"Tadi sebenarnya Mama mengajakku ke klinik. Mama curiga aku tengah hamil karena aku bilang selera Mas Firaz yang tiba-tiba berubah." Jelasnya.


"Oh begitu? Jadi sebenarnya tadi kalian ke klinik unuk memeriksakan kehamilanmu?"


"Iya, Mas. Aku sendiri tidak sadar, kalau aku sedang hamil. Tapi untungnya Mama Dewi sudah menyadari itu. Mas tahu, aku tadi begitu bahagia melihat calon anak-anak kita." Ucap Rubby yang kemudian beranjak bangun.


"Aku ambil fotonya dulu." Rubby mengambil sesuatu dari laci meja riasnya dan menunjukkannya pada Arya.


"Mas lihat? Ada tiga kantung janin di sana. Dan mereka sedang tumbuh dalam rahimku."


Arya menatap haru dan meraba foto usg itu, terlihat ada tiga bulatan kecil di sana.


"Terima kasih, Rubby. Terima kasih karena kau telah bersedia menjadi istri dan ibu dari anak-anakku." Satu kecupan hangat mendarat di kening Rubby.


"Tentu aku bersedia, karena aku mencintaimu, Mas."


"Aku juga mencintaimu, Rubby."


Keduanya saling berpelukan hangat.


"Kau tahu, Rubby? Tadi sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam di luar." Ujar Arya begitu pelukannya terlepas.

__ADS_1


"Oh ya?"


"Ya, tadi Indra dan Mei datang ke coffe shop. Kami sempat bertukar cerita..." Anders mulai bercerita.


"Dan Indra akhirnya memberi saran untuk memberi kejutan untukmu. Aku sadar selama ini tidak pernah memberi apa-apa untukmu." Ucap Arya di akhir ceritanya, sorot matanya berubah sendu.


"Kata siapa Mas tidak pernah memberi kejutan untukku?" Rubby menangkup wajah suaminya.


"Mas ingat? Dulu pernah memberiku mawar putih?" Lanjutnya. Arya tertawa pelan mendengarnya. Rubby masih ingat ternyata dirinya pernah memberikan mawar putih. Saat itu Arya merasa bersalah pada Rubby karena menyebut istrinya seprti perempuan penggoda saat memakai lingerie.


"Itu karena aku merasa bersalah padamu, Rubby." Ucap Arya.


"Hm... Pada saat itu Mas Firaz masih mode dingin, tidak hangat seperti sekarang." Sahut Rubby.


"Kau tidak tahu saja, Rubby. Malam itu aku benar-benar menahan diriku agar tidak tergoda dan menerkam dirimu." Kata Arya di selingi tawanya.


"Tentu saja, mana ada seorang pria tidak tergoda melihat wanita cantik dan berpakaian seksi tidur satu ranjang dengannya? Apalagi kita suami istri. Ingin sekali aku menyerangmu malam itu." Jawab Arya jujur. Wajah Rubby merona, mendengar sang suami memujinya cantik.


"Lalu kenapa tidak Mas lakukan?" Tanya Rubby sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Karena aku tidak ingin kau beranggapan aku hanya menjadikanmu pelampiasanku saja. Apalagi saat itu aku merasa belum ada cinta di antara kita." Jawab Arya.


"Padahal aku sudah mencintaimu sejak lama, Mas." Sahut Rubby.


"Kan aku tidak tahu, kau juga tidak mengatakan apapun padaku." Timpal Arya.


"Aku ini wanita, Mas. Tidak mungkin aku mengatakan lebih dulu kalau aku mencintaimu. Itu akan memalukan untukku. Dan seharusnya Mas Firaz bisa merasakannya tanpa aku harus mengatakannya." Ucap Rubby.

__ADS_1


"Aku tidak peka tentang hal seperti itu, Rubby." Arya kemudian beranjak bangun.


"Mas mau ke mana?"


"Mengambil sesuatu." Arya berjalan menuju lemari, dan mengambil sesuatu dari sana.


Netra Rubby membelalak melihat apa yang diambil suaminya.


"Mas mau apa dengan buku itu?" Tanya Rubby yang melihat Arya mengambil buku tebal miliknya.


"Tidak perlu memasang tampang seperti itu, Rubby. Aku sudah tahu semua isi dari buku ini." Ujar Arya dengan santainya dan duduk di sisi tempat tidur. Sedangkan istrinya sudah cemberut. Lagi-lagi buku itu yang di bahas.


"Kau lihat di sini? Kau berulang kali menyatakan cinta padaku." Kata Arya sambil membuka dan menunjukkan kata cinta padanya yang Rubby tulis di sana.


"Mas..." Rengeknya.


"Kenapa?"


"Sudah jangan dilihat." Rubby hendak mengambil buku itu, tapi Arya mencegahnya.


"Tapi aku ingin melihatnya." Rubby semkain cemberut, tapi Arya dengan santai masih membuka tiap halaman dari buku itu. Ia memandang salah satu gambar sketsa wajahnya yang ada di sana.


"Kau tahu, Rubby? Aku merasakan perasaan yang aneh saat melihatmu waktu membuat gambar sketsa seperti ini." Ucapnya.


......................


JANGAN LUPA LIKE dan KOMEN UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊

__ADS_1


__ADS_2