Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 110


__ADS_3

Keesokkan harinya.


Sebuah mobil putih berhenti tepat di depan coffe shop milik Arya, seorang pria turun dari sana.


"Sepertinya tempat ini sudah banyak berubah." Gumamnya memandang bangunan itu sejenak, kemudian melangkah masuk.


"Selamat datang, Tuan. Mau pesan apa?" Tanya Andika dengan ramahnya.


"Aku ingin bertemu dengan Arya." Jawab Indra.


"Pak Arya nya belum datang, Tuan." Jawab Andika.


"Belum datang?" Ulang Indra.


"Ya Tuan, mungkin sebentar lagi. Pak Arya kan mengantar istrinya dulu." Terang Andika membuat Indra terperangah.


"Istri? Memang Arya sudah menikah?" Tanya Indra sedikit terkejut.


"Pak Arya memang sudah menikah, Tuan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu." Jawab Andika.


"Maaf kalau boleh tahu, Tuan siapa ya?" Tanya Andika.


"Aku Indra. Teman kuliah Arya dulu." Jawab Indra.


"Oh." Andika mengangguk-anggukan kepalanya. Teman kuliah Arya? Apa jangan-jnagan dia Kakak dari gadis yang kemarin? Batin Andika bertanya-tanya.


"Arya menikah dengan siapa?" Tanya Indra kemudian. Pasti dengan Mega, fikirnya.


"Untuk soal itu, lebih baik Tuan tanyakan sendiri pada Pak Arya." Sahut Andika, ia tidak mau terlalu menjelaskan, biar Kakaknya saja nanti yang bicara pada temannya itu.


Indra mendengus, kemudian mengangguk.


"Baiklah, aku akan menunggunya. Aku pesan satu kopi." Indra beranjak dari sana mencari kursi kosong.


"Baik, Tuan."


Tak berapa lama kemudian Arya tiba di coffe shopnya. Ia sedikit terlambat karena tadi mobilnya kehabisan bensin, setelah mengantar Rubby. Untung saja istrinya itu sudah tiba di toko kuenya, kalau tidak pasti Rubby akan memaksa mendorong mobil dengannya.


"Kak!" Panggil Andika.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Arya, tampangnya sedikit berantakan dan terlihat gurat lelah di wajahnya.


"Kakak kenapa? Kenapa kusut begini?" Andika malah balik bertanya.


"Tadi mobilku kehabisan bensin, aku lupa mengisinya kemarin. Jadi aku terpaksa mendorongnya tadi." Arya menjelaskan, terlihat adiknya itu menahan tawa. Mata Arya langsung memicing menatap Andika.


"Berani kau mentertawakan aku, ku potong gajimu 70 persen!" Ancam Arya. Andika seketika ternganga di buatnya.


"Kakak ini, selalu menggunakan potong gaji sebagai ancaman." Timpal Andika.


"Biar kau tidak macam-macam denganku, bagaimanapun aku ini atasmu." Tukas Arya.


"Ya, ya. Pak Arya atasanku. Oh ya, ada yang mencari Pak Arya tadi." Ujar Andika yang baru teringat, bahasa berubah menjadi formal.


"Siapa?" Tanya Arya.


"Namanya Indra, dia bilang teman kuliah Pak Arya." Jawab Andika.


"Indra? Di mana dia?"


"Di sana." Andika menunjuk ke kursi pelanggan yang ada di sudut ruangan. Arya segera menghampirinya.


"Arya!" Kedua pria itu bersalaman dan saling berpelukan singkat.


"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Tanya Arya.


"Aku baik-baik saja. Kau sendiri?" Tanya Indra


"Aku juga baik. Bagaimana kalau kita mengbrol di ruanganku saja?"


"Baiklah."


*****


Indra menghempaskaskan tubuhnya di sofa yang ada di sana. Sednagkan Arya duduk berhadapan denganya.


"Kapan kau pulang dari luar negeri?" Arya bertanya lebih dulu.


"Seminggu yang lalu." Jawab Indra.

__ADS_1


"Oh ya, sepertinya coffe shopmu berkembang pesat." Lanjut Indra sambil mengedarkan pandangan di ruangan yang cukup luas itu.


"Ya, Alhamdulillah. Bisnis coffe shopku berjalan lancar." Sahut Arya.


"Bagaimana dengan coffe shop milikmu?" Sambungnya. Indra mengendikkan bahunya.


"Aku tidak tahu, aku sudah tidak mengurusnya lagi. Kemari aku sibuk mengurus adikku dan sekarang aku mengurus perusahan keluargaku." Jawab Indra.


"Yah, memang kau yang paling sibuk." Timpal Arya. Indra memang paling berada di antra mereka bertiga.


"Bagaimana dengan Bara?" Tanya Indra, wajah Arya langsung berubah suram.


"Aku tidak tahu." Arya menggeleng pelan, Indra menyipitkan matanya. Menatap curiga pada Arya.


"Apa kalian ada masalah?" Tanyanya. Terdengar helaan nafas berat dari Arya, sejak menemui Bara di kantor polisi beberapa bulan lalu ia sudah tidak pernah bertemu kembali dengan Bara.


"Ceritanya panjang, Indra. Dan ku yakin waktumu tidak akan cukup untuk mendengarkannya." Ucap Arya yang malah membuat Indra semakin penasaran, tapi benar apa yang di katakan Arya, dirinya tidak punya cukup waktu.


"Oh ya, sebenarnya niatku kemari untuk menanyakan sesuatu padamu." Ucap Indra yang teringat tujuannya datang ke sana.


"Apa yang ingin kau tanyakan, apa tentang Indah?" Terka Arya. Indra mengangguk.


"Ya, apa Indah kemari?" Tanyanya.


"Ya, sudah dua hari ini dia kemari." Sahut Arya.


"Apa yang di lakukannya?" Indra terlihat penasaran, jangan sampai adiknya itu melakukan hal yang memalukan.


"Memberiku cake red velvet." Jawab Arya apa adanya.


"Lalu?"


"Lalu dia pergi begitu saja." Indra mengerjap-ngerjapkan matanya. Ternyata adiknya hanya memberi cake pada temannya itu.


"Maaf Arya kalau adikku mengganggumu, aku akan menasehatinya nanti supaya tidak datang ke sini lagi."


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊

__ADS_1


__ADS_2