
Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya melihat sang suami yang makan begitu lahap.
"Kau mau?" Tanya Arya karena Rubby sedari tadi memperhatikannya. Wanita berkacamata itu menggeleng.
"Kenapa Mas tidak bilang kalau suka manisan, aku bisa membuatkannya untuk Mas." Ujarnya.
"Biasanya aku juga tidak suka, Rubby. Tapi entahlah, hari ini rasanya manisan ini sangat enak." Sahut Arya. Satu potongan buah terakhir baru saja di makannya.
"Sudah habis, Mas mau beli lagi?" Tanya Rubby.
"Tidak perlu, Rubby. Aku takut sakit perut." Arya beranjak membuang wadah bekas makannya ke tempat sampah.
"Kita mau ke mana lagi?" Tanya Rubby setelah Arya kembali ke tempat duduknya.
"Kau maunya ke mana? Aku ikut saja." Arya balik bertanya.
"Em..."
"Kakak!" Andika dan Intan ikut bergabung bersama mereka, menghentikan Rubby yang baru akan bicara.
"Kalian dari mana?" Tanya Rubby.
"Hanya berkeliling saja, Kak." Jawab Intan.
"Hei lihat, keponakanku sudah bangun." Rubby meraih baby Dikta ke dalam gendongannya. Bayi mungil itu tertawa senang.
"Kak Arya, Kak Rubby. Kami titip baby Dikta dulu sebentar ya." Kata Andika yang langsung menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana.
Arya dan Rubby saling pandang, jadi Andika kemari hanya untuk menitipkan anaknya?
"Cih, dasar Andika. Bilang saja ingin berduaan dengan Intan. Sungguh Ayah yang tidak bertanggung jawab." Arya menggerutu.
"Sudahlah, Mas. Tidak apa-apa, hitung-hitung kita belajar jadi orang tua." Rubby mengecupi pipi gembul bayi laki-laki itu.
"Ya kau benar." Arya mencubit gemas pipi keponakannya, membuat bayi itu kembali tertawa.
"Wah... Hot Daddy!" Celetuk Indah yang baru datang bersama suaminya, Dokter Malik langsung cemberut mendengar istrinya berkata seperti itu.
"Indah, jangan memuji pria lain." Ujarnya kesal.
"Aku hanya bilang Hot Daddy saja. Tidak ada yang salah kan?" Indah membela diri, Arya memutar bola matanya malas melihat sepasang suami istri itu.
"Sebaiknya kalian pergi, aku pusing mendengar kalian berdebat terus." Keluh Arya menatap datar keduanya.
"Kak Arya ini, aku kan ingin di sini." Sahut Indah yang kemudian duduk di samping Rubby.
"Di mana Mei dan Kakakmu?" Tanya Rubby.
__ADS_1
"Mereka sedang di pinggir sungai yang ada di ujung sana." Jawab Indah.
"Halo baby Dikta, sebentar lagi Dikta punya teman lho. Nanti kita main bersama ya." Ucap Indah sambil menoel-noel gemas bayi itu.
Sementara Arya dan Dokter Malik saling menatap.
"Berhentilah cemburu padaku, Dokter Malik. Rasanya itu tidak nyaman untukku." Kata Arya.
"Tidak bisa." Sahut Dokter tampan itu membuat Arya mengerutkan keningnya.
"Indah sudah menjadi milikmu, dia juga sudah hamil anakmu. Apa yang kau takutkan?" Tanya Arya.
"Aku cemburu karena aku mencintainya." Jawab Dokter Malik.
"Seandainya aku memuji istrimu, apa kau tidak cemburu?" Lanjutnya.
"Silakan saja, aku tidak akan cemburu." Timpal Arya membuat Rubby dan Indah menatap dua pria itu bergantian.
"Karena aku tahu, Rubby hanya mencintaiku jadi Rubby tidak akan terlena dengan pujian dari lelaki lain." Ucap Arya dengan percaya diri. Ia langsung merangkul bahu istrinya.
"Tuh, Kak, dengar. Walaupun aku memuji Kak Arya, tapi tetap kau pemilik hatiku." Timpal Indah.
"Ya, ya. Akan ku coba." Sahut Dokter Malik pasrah. Tapi tetap saja seorang Arya menjadi momok menakutkan untuknya. Sudah dua wanita yang ia sukai, dan keduanya menyukai Arya.
"Ke mana orang tua bayi ini?" Tanya Indah yang kembali fokus pada baby Dikta.
Hingga senja menjelang akhirnya mereka kembali berkumpul dan saling berpamitan.
"Heh, kau ini benar-benar Ayah yang tidak bertanggung jawab. Meninggalkan anak begitu saja, bilangnya hanya sebentar tapi pergi hampir dua jam." Gerutu Arya begitu Andika dan istrinya datang.
"Maaf, Kak. Aku lupa waktu jika bersama istriku." Jawab Andika dengan entengnya.
"Maaf Kak Arya, Kak Rubby sudah merepotkan." Ujar Intan mengambil alih putranya dari gendongan Rubby.
"Tidak apa, Intan." Jawab Rubby sambil tersenyum.
"Tuh Kak Rubby saja tidak keberatan." Sambar Andika yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak.
"Yang lain ke mana, Kak?" Tanya Intan karena hanya ada Arya dan Rubby saja di sana.
"Baru saja pulang." Jawab Rubby.
"Ya sudah, ayo kita pulang." Arya melemparkan kunci mobilnya pada Andika, untung saja ia refleks menangkapnya.
"Kenapa di lemparkan padaku?" Tanya Andika bingung.
"Kau yang menyetir." Jawab Arya singkat yang langsung menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Hah, enak sekali dia menyuruhku." Celetuk Andika saat Arya sudah menjauh.
"Sudahlah Dika, ayo kita pulang. Kak Arya masih baik mau mengantar kita." Kata Indah menaruh kembali putranya ke dalam stoller.
"Iya, iya." Sahut Andika sambil melangkah mendorong stoller putranya.
_
_
_
Malam harinya.
Sebuah pernikahan yang sangat sederhana telah di gelar di kediaman Bara. Tidak ada gaun mewah ataupun deretan makanan di meja prasmanan. Hanya ada sepasang pengantin dan juga beberapa orang saksi.
Tapi itu tidak membuat pengantin wanita bersedih, justru dirinya bersyukur masih ada pria yang mau menerima dirinya.
Mega, wanita itu tampil begitu biasa. Hanya dengan gamis dan hijab berwarna putih. Begitupun dengan Bara yang hanya menggunakan kemeja berwarna senada.
"Kita sudah sah menjadi suami istri, jika kau butuh sesuatu katakan padaku. Aku akan melayanimu semampuku." Ucap Mega, saat ini mereka sudah berada di kamar.
"Tentu saja." Jawab Bara.
"Bara, apa kau masih ada kesempatan untuk bisa melihat lagi?" Tanya Mega.
"Iya, Dokter Malik bilang aku masih bisa kembali melihat jika ada donor kornea untukku. Dia juga bilang akan memberi tahuku jika sudah ada pendonor." Terang Bara.
"Kenapa? Kau mulai merasa menyesal?" Lanjutnya yang mulai berfikir buruk.
"Tidak, Bara. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan selalu berada di sampingmu. Karena kau suamiku sekarang." Tanpa segan Mega memeluk tubuh pria itu.
"Ini malam pengantin kita, kau ingin melakukannya sekarang atau kau ingin menundanya?" Tanya Mega dengan berbisik. Padahal tidak ada orang lain di dalam kamar itu. Hanya mereka berdua.
"Tapi aku tidak bisa melihat, bagaimana aku melakukannya?" Tanya Bara bingung.
"Kau tenang saja. Aku akan membantumu." Mega kemudian menarik tangan suaminya menuju tempat tidur.
"Bagaimana kalau aku membuat kesalahan?" Bara terlihat ragu.
"Aku akan menuntunmu. Lagipula setiap manusia pasti punya insting dan naluri masing-masing untuk yang satu ini."
Mega mendorong pelan tubuh Bara hingga lelaki itu terbaring. Ia melepaskan pakaiannya sendiri kemudian mulai melepaskan kancing kemeja suaminya.
"Aku yang akan memimpin, dan kau tinggal menikmati saja." Bisik Mega sebelum memulai permainannya.
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊