Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Tanggung Jawab


__ADS_3

"Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?" Arya balik bertanya. Rubby terkekeh mendengar, benar juga kata suaminya. Yang gratis harus di utamakan


"Sudah, ayo kita masuk. Aku sekalian mau mengecek bagaimana keadaan rumah makan ini selama di urus oleh Andika." Ajaknya yang di jawab anggukkan oleh Rubby. Keduanya melangkah masuk dan langsung di sambut oleh pegawai di sana.


"Selamat datang Pak Arya dan Bu Rubby." Sapa pegawai tersebut dengan senyum ramah di wajahnya. Arya hanya mengangguk dan Rubby membalas senyumnya.


"Tolong bawakan makan siang untukku dan istriku ke ruanganku." Titah Arya pada pegawainya.


"Baik, Pak."


"Ayo, Rubby." Arya menggandeng tangan istrinya menuju ruangannya. Tak sedikit pegawai yang mengalihkan pandangannya pada atasan mereka itu.


"Wah Pak Arya, makin tampan saja setelah menikah." Celetuk salah seorang pelayan.


"Itu tandanya Bu Rubby pandai mengurus suami." Timpal yang lainnya.


"Yah.. Tapi tetap saja aku tidak rela Pak Arya sudah menikah, seharusnya Pak Arya menikah denganku."


"Jangan mimpi!"


"Hidup itu di mulai dari mimpi!"


"Sudah, sudah. Ayo kerja lagi." Seseorang melerai perdebatan tidak penting itu. Mereka akhirnya membubarkan diri dan kembali pada pekerjaan masing-masing.


Sementara di ruangan Arya.


Arya nampak serius membaca berkas laporan penjualan yang ada di tangannya dan Rubby duduk di sampingnya sambil memperhatikannya.

__ADS_1


"Mas." Panggil Rubby.


"Hem."


"Kenapa kita makan di ruanganmu? Kenapa tidak di meja pelanggan saja?" Tanya Rubby, Arya menoleh.


"Tadi kan sudah ku bilang, aku ingin mengecek keadaan di sini." Sahut Arya yang kembali fokus pada berkasnya. Rubby mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya Rubby.


"Tidak perlu, cukup kau duduk di sampingku saja." Jawab Arya membuat Rubby tidak bisa untuk tidak tersenyum. Wanita berhijab itu memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Tok.Tok. Tok. Suara ketukan pintu membuat Rubby ingin mengubah posisinya, namun Arya menahannya pinggangnya dengan sebelah tangan.


"Jangan ke mana-mana." Ucapnya, dan Rubby pun hanya bisa patuh.


Pintu ruangan itu terbuka dua orang pelayan mengantar makanan pesanan Arya. Mereka nampak kikuk melihat posisi Arya yang begitu menempel pada istrinya.


"Permisi, Pak. Kami mau mengantarkan pesanan Pak Arya." Ucap salah seorang pelayan.


"Ya, taruh saja di meja." Sahut Arya. Mereka menghidangkan beberapa piring makanan dan juga minuman di atas meja.


"Ada lagi yang Pak Arya atau Bu Rubby butuhkan?" Tanya pelayan itu.


"Sepertinya tidak. Oh ya bagaimana kondisi di sini saat Adikku menggantikanku?" Tanya Arya sambil menatap serius dua pegawainya. Mereka nampak saling melirik.


"Kondisinya masih seperti biasa, Pak. Penjualan lancar dan tidak ada masalah." Jawab salah seorang dari mereka. Arya mengangguk-angguk kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah, terima kasih." Ucapnya.


"Kami permisi, Pak, Bu." Mereka undur diri.


"Ayo Rubby, kita makan."


"Sebentar, Mas. Aku tanya sesuatu boleh?" Tanya Rubby menghentikan gerakan tangan Arya yang hendak meraih piring.


"Kenapa?" Tanya Arya.


"Apa Mas selalu begitu jika sedang bekerja?" Tanya Rubby.


"Begitu bagaimana?" Arya tak paham.


"Memasang wajah yang serius." Terang Rubby. Ia tadi memperhatikan perubahan wajah suaminya saat bicara pada dua pegawainya.


"Tentu saja Rubby. Jika menyangkut pekerjaan aku tidak pernah main-main. Bagaimanapun juga aku memiliki tanggung jawab terhadap tempat usahaku dan juga para pegawaiku." Arya menjelaskan.


"Kalau aku sendiri tidak serius, bagaimana dengan mereka? Dan aku juga selalu bersikap seprofesional mungkin." Lanjutnya.


"Oh ya? Dengan Andika juga?" Tanya Rubby.


"Ya, Andika juga termasuk. Kau tahu, aku sudah pernah beberapa kali memotong gajinya karena Andika membuat kesalahan." Ucap Arya membuat Rubby menatapnya tak percaya.


"Ternyata suamiku kejam juga ya kalau sudah di tempat kerja."


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2