Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Jangan Pecat Saya


__ADS_3

"Tapi aku kasihan dan merasa bersalah dengan Kak Rubby. Seharusnya Kak Rubby menikah dengan lelaki yang mencintainya dan mereka menikah berdasarkan cinta. Bukan karena terpaksa..." Ucap Intan, terlihat kesedihan di matanya.


"Kita tidak tahu bagaimana ke depannya, semoga saja Kak Arya akan jatuh cinta pada Kak Rubby. Dan akhirnya mereka berdua saling mencintai." Andika mencoba menghibur sang istri. Ia tak ingin Intan terus-terusan memikirkan hubungan kakaknya dengan Rubby. Karena bagaimanapun Intan sedang hamil, seharusnya Intan lebih memikirkan kandungannya.


"Ya semoga saja. Dika, apa kau tidak bisa membantu mereka?' Tanya Intan penuh harap.


"Membantu bagaimana?" Andika balik bertanya.


"Bantu mereka supaya dekat." Jawab Intan. Andika terlihat berfikir. Membuat sang kakak dekat dengan wanita bukanlah hal yang mudah.


"Akan ku usahakan." Jawabnya. Senyum lebar tercetak di wajah Intan mendengar jawaban suaminya


"Tapi aku tidak janji." Sambung Andika yang membuat senyum Intan lenyap seketika.


"Andika!" Intan menekuk wajahnya, bibirnya cemberut. Suaminya itu menyebalkan sekali.


"Ya, ya. Akan ku usahakan. Aku cuma bercanda." Andika menarik tubuh Intan ke dalam pelukannya.


"Kau jangan terlalu memikirkan mereka. Ingat, ada calon anak kita di dalam perutmu. Dia juga perlu perhatian darimu." Ucap Andika sambil mengusap lembut punggung Intan. Intan mengangguk pelan di dalam pelukan suaminya.


"Aku hanya ingin Kak Rubby juga mendapat kebahagiaan, mendapat cinta dari suaminya. Agar pengorbanannya untuk kita tidak sia-sia." Lirih Intan. Andika mendaratkan kecupan di pucuk kepala Intan.


"Tenanglah, Intan. Semua akan indah pada waktunya." Ucapnya.


_


_


_


Arya dan Rubby sudah siap untuk berangkat kerja.


"Apa sebaiknya Mas di rumah saja? Aku bisa ke toko naik angkot." Tanya Rubby, ia benar-benar khawatir pada suaminya itu.


"Tidak Rubby, aku banyak pekerjaan." Sahut Arya sambil membuka pintu mobilnya.


"Tapi Mas..." Rubby terlihat ragu.

__ADS_1


"Sudah Rubby, cepat masuk." Sela Arya, Rubby pun menurut.


Beberapa menit kemudian. Arya menghentikan mobilnya ketika sampai di toko milik Rubby. Toko itu masih terlihat sepi, sepertinya para pegawai di sana belum ada yang datang.


"Mas mau mampir dulu?" Rubby melepaskan sabuk pengamannya.


"Tidak, aku langsung ke coffe shop saja." Sahut Arya.


"Hati-hati di jalan, Mas." Seperti biasa, Rubby mengecup singkat punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil. Arya hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun. Ia kembali melajukan mobilnya.


Setelah beberapa menit, Arya tiba di coffe shopnya. Terlihat para pegawai di sana sedang sibuk beres-beres.


Sambil terus memijat dahinya yang kembali terasa pusing, Arya melangkah memasuki tempat itu. Karena terus menunduk Arya tak memperhatikan jalan yang di lewatinya.


SRET.... BRUK !!!


"Auch!" Pria itu terpeleset tepat di depan ruangannya. Lutut dan tangannya terasa sangat sakit karena membentur lantai dengan cukup keras saat menahan tubuhnya saat akan jatuh tadi.


"Pak Arya?!" Andika begitu terkejut melihat sang kakak yang sudah mendarat di lantai dengan posisi tertelungkup. Ia langsung melempar kain pel nya.


"Pak Arya tidak apa-apa?" Bukannya membantu kakaknya berdiri, Andika malah hanya berjongkok di depan Arya.


"Kenapa kau diam saja?!" Bentak Arya kesal. Andika langsung tersadar, dan membantu kakaknya itu untuk bangun.


"Apa ada yang sakit, Pak? Atau ada tulang Pak Arya yang patah? Apa perlu kita ke rumah sakit?" Tanya Andika beruntun. Arya memejamkan matanya, menahan rasa kesal di hatinya.


"Tidak perlu! Bantu aku ke ruanganku." Serunya.


"I, iya Pak." Andika memapah Arya untuk masuk ke ruangannya. Dan mendudukkannya di sofa yang tersedia di sana.


"Benar Pak Arya tidak mau di bawa ke rumah sakit?" Andika bertanya lagi. Sedangkan Arya menatap tajam padanya.


"Tadi kan aku sudah bilang tidak perlu. Setelah kau selesai mengepel, langsung kembali ke ruanganku!" Seru Arya, Andika menelan salivanya. Sepertinya atasan sekaligus kakaknya itu benar-benar marah padanya.


"Iya, Pak." Jawabnya takut.


"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Arya kesal, karena Andika masih saja berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Eh... Iya, Pak. Saya permisi." Andika langsung memutar langkahnya dan meninggalkan ruangan itu.


"Kenapa ada-ada saja? Ck, tangan dan kakiku sakit sekali." Keluh Arya.


_


_


_


Jari-jari itu terlihat mengetuk-ngetuk meja, menatap orang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan membunuhnya. Sementara yang di tatap hanya bisa menyeka peluh dingin yang mengalir di dahinya sambil merapalkan doa dalam hati.


"Semoga Kak Arya tidak memecatku, semoga Kak Arya tidak memecatku..." Mantra itu Andika ucapkan terus dalam hati. Walaupun Arya adalah kakaknya, tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. Dan pasti kakaknya itu akan bersikap seprofesional mungkin.


"Andika Farzan...." Suara itu membuat Andika bergidik.


"Jangan pecat saya, Pak. Saya mohon, jangan pecat saya. Istri saya sedang hamil, kami sedang memerlukan banyak biaya untuk melahirkan nanti." Andika menyela lebih dulu sebelum Arya sempat bicara, ia memohon dengan wajah memelas sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Arya menganga tak percaya melihatnya. Adiknya itu hanya akting atau benar-benar takut di pecat?


"Aku belum selesai bicara." Tukas Arya.


"Tapi Pak Arya tidak memecat saya kan? Karena kejadian tadi juga bukan sepenuhnya salah saya. Pak Arya saja yang jalannya tidak lihat-lihat, dan saya juga sudah memasang tanda lantai licin. Tapi Pak Arya tidak melihat itu." Ujar Andika panjang kali lebar. Arya kembali tercengang, berani sekali pegawainya itu menyalahkan dirinya. Walaupun semua itu benar adanya.


Ingat, seorang atasan selalu benar. Dan bawahan yang selalu salah jika di tempat kerja.


"Jadi kau menyalahkan aku?" Tanya Arya dengan datarnya pun dengan tatapannya. Andika menelan salivanya dengan susah payah, kakaknya akan terlihat mengerikan jika sudah dalam mode datar begitu.


"Ti... Tidak, Pak." Andika tergagap.


"Saya yang salah, Pak. Saya yang salah, Pak." Imbuhnya.


"Sebagai hukumannya, gajimu bulan ini di potong tiga puluh persen." Ucap Arya yang membuat Andika seketika membelalakan matanya.


"Tiga puluh persen, Pak?" Tanya Andika lemas.


"Dan di tambah dua puluh persen lagi, karena kau kemarin sudah membuat para orang tua kita salah paham denganku dan juga Rubby." Ucap Arya lagi.


"Kak, kenapa masalah pribadi di sangkut pautkan dengan pekerjaan?" Andika langsung melayangkan protes. Bahasa formalnya hilang seketika. Arya melipat tangannya di depan dada. Kembali menatap tajam pada adiknya itu.

__ADS_1


"Kalau aku tak ingat kau adikku dan Intanmu itu sedang hamil, aku langsung memecatmu saat ini juga, Andika!" Bentaknya, Andika terjingkat kaget, nyalinya langsung menciut.


"Kau sudah bekerja ceroboh tadi, dan membuatku terjatuh! Sekarang kau pilih mana? Gajimu di potong lima puluh persen atau angkat kaki sekarang juga dari tempat ini?"


__ADS_2