Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Mengucap Kata Talak


__ADS_3

Andika begitu senang mendapat kabar kakaknya telah sadar, ia langsung menuju rumah sakit sepulang dari tempat kerjanya.


"Assalamuala'ikum." Ucap Andika sambil membuka pintu ruang rawat Arya.


"Waalaikumsalam." Jawab Arya yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidurnya.


"Bagaimana keadaan Kakak? Kakak baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" Tanyanya beruntun sambil duduk di samping Arya.


"Tidak. Kakak baik-baik saja. Terima kasih Dika, kau sudah menolong Kakak. Kakak fikir kakak tidak akan selamat hari itu." Ucap Arya tulus.


"Tidak perlu berterima kasih, Kak. Bukan memang sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong?" Andika menatap lekat sang kakak. Sebenarnya ada terselip kesedihan di hatinya melihat keadaan Arya sekarang tapi ia tak ingin menunjukkannya di depan Arya.


"Andika, Kakak titip coffe shop dan juga rumah makan untuk sementara ini padamu."


"Iya, Kak. Aku akan mengurusnya nanti."


"Semua datanya ada di laptopku."


"Iya, Kak. Kakak tenang saja, Kakak tidak perlu memikirkan itu dulu, yang penting sekarang Kak Ary harus cepat pulih. Em... Kak Rubby ke mana?" Tanya Andika yang baru menyadari kalau mereka hanya berdua.


"Rubby keluar sebentar, sedang membeli minum." Jawab Arya.


"Oh..." Andika menarik nafasnya dalam.


"Kau kenapa, Dika?"


"Akh, tidak. Memangnya aku kenapa?" Andika balik bertanya, suara sudah terdengar berbeda.


"Dika..." Tangan Arya terangkat, hendak menyentuh adiknya. Andika meraih tangan itu.


"Kakak... Maaf..." Lirih Andika, luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahannya.


"Dika kenapa minta maaf?" Tanya Arya bingung, rasanya adiknya tidak membuat kesalahan sama sekali.


"Aku terlalu lama untuk menemukan Kakak hari itu..."


"Sudahlah, Dika. Semua sudah terjadi, dan kau tidak bersalah sama sekali."


"Bagaimana dengan Kak Arya nanti?"


Terlihat Arya tersenyum simpul, ia tahu Andika begitu menyayanginya walaupun adiknya itu menyebalkan.


"Memangnya kenapa? Kakak baik-baik saja. Kakak hanya tidak bisa melihat. Jangan cengeng begitu, kau ini laki-laki dan sebentar lagi akan menjadi Ayah." Ucapnya seolah tanpa beban, Andika memandang iba padanya.

__ADS_1


Apa katanya tadi? Hanya tidak bisa melihat? Jelas itu akan mempengaruhi kehidupannya nanti, semua akan terlihat gelap. Andika sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana kakaknya menjalani hari-harinya nanti. Pasti akan sangat menyiksa.


"Andika, semua ini ujian dari Tuhan. Dan kita hanya perlu ikhlas untuk menjalaninya."


_


_


_


Setelah seminggu menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Arya di izinkan pulang. Perban di matanya pun sudah di buka. Walau ada beberapa bekas luka di wajahnya, tapi bagi Rubby suaminya itu tetaplah tampan. Apapun yang terjadi pada Arya, tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta Rubby padanya.


Rubby begitu bahagia karena akhirnya bisa tinggal bersama suaminya kembali. Andika dan Rubby yang menjemputnya, sementara Mama Dewi menunggu di rumah.


"Dika, kita ke rumah Ayah Bakti dulu." Ucap Arya yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Ke rumah Ayah? Kukira kita akan langsung pulang?" Andika balik bertanya. Menoleh pada Arya dan Rubby yang duduk di kursi penumpang.


"Em... Tidak. Ada yang ingin ku katakan pada Ayah dan Bunda." Jawab Arya.


"Apa yang Mas ingin katakan pada Ayah?" Tanya Rubby yang duduk di samping Arya.


"Nanti juga kau akan tahu." Jawab Arya dengan senyum tipisnya.


Sepanjang perjalanan Rubby melingkarkan tangannya di lengan suaminya dan menyandarkan kepala di bahunya. Rasanya begitu nyaman. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Arya, seolah takut dilepaskan. Dan Arya sesekali mengusap kepala Rubby yang tertutup hijab.


Andika yang melihatnya di balik kaca spion dalam, senyum-senyum sendiri.


"Maafkan aku, Rubby. Mungkin ini terakhir kalinya kita dalam posisi seperti ini." Batin Arya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit mereka akhirnya sampai. Ayah Bakti dan Bunda Maya sempat terkejut melihat kedatangan anak dan menantunya. Padahal nanti dirinya dan Ayah Bakti akan mengunjungi Arya di rumahnya.


"Kenapa kalian tidak memberitahu kami akan kemari dulu?" Tanya Bunda Maya sambil meletakan minuman di depan tamunya dibantu oleh Rubby.


"Kak Arya yang bilang mendadak, Bunda." Andika menjawab.


"Padahal nanti Ayah dan Bunda akan datang ke rumahmu." Tambah Bunda Maya.


"Maaf, Bunda sebenarnya ada yang ingin Arya sampaikan pada Ayah dan Bunda." Ucap Arya, Rubby menatap suaminya. Apa yang sebenarnya hendak disampaikan Arya? Sepertinya sesuatu yang serius. Ia mengambil duduk di samping Arya sedangkan Bunda Maya duduk di samping suaminya.


"Ada apa Arya?" Ayah Bakti bertanya.


"Ehm." Arya berdehem sebelum bicara, mencoba untuk menguatkan hatinya.

__ADS_1


"Ayah, Bunda. Sekarang kondisi Arya seperti ini, Arya tidak bisa melihat lagi. Saat masih bisa melihat pun Arya nyatanya tidak mampu menjaga Rubby dengan baik, apalagi sekarang." Arya menjeda ucapannya.


Raut wajah penuh tanya terlihat di wajah Ayah Bakti, Bunda Maya, Rubby dan juga Andika. Ke mana arah bicara Arya?


"Selama menikah, Arya belum bisa membahagiakan Rubby. Arya hanya bisa membuatnya sedih, dan Arya tidak mau membuat Rubby bertambah sedih dengan keadaan Arya sekarang. Arya juga tidak mau menjadi beban untuk Rubby." Lagi, Arya menjeda ucapannya.


Mereka terdiam saling memandang mendengar perkataan Arya.


"Sesuai pesan Ayah dulu, Arya melamar Rubby secara baik-baik dan sekarang Arya juga akan melakukan hal yang sama. Arya mengembalikkan kembali Rubby kepada Ayah dan Bunda."


DEG


Rubby mematung di tempat duduknya. Arya menarik nafasnya dalam, kemudian berucap.


"Rubby Az Zahra, aku membebaskanmu dari pernikahan ini. Aku menjatuhkan talakku padamu. Ku kembalikan kau kepada orang tuamu."


Kata itu terucap dari mulut Arya dalam satu tarikan nafas. Rubby seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya, tak lama bulir bening terlihat mengalir di wajah Rubby.


"Mas Firaz..."


Ayah Bakti dan Bunda Maya saling menatap, sementara Andika menatap tak percaya pada kakak lelakinya.


Bukannya hubungan mereka sudah membaik? Kenapa sekarang Arya malah menalak Rubby?


"Rubby, maafkan aku. Selama kita menikah, hanya kesedihan yang kuberikan padamu. Ku harap, setelah kita berpisah kau akan menemukan kebahagiaanmu."


Tenggorokan Rubby seakan tercekat, ia tak mampu untuk bicara. Hanya bulir bening yang memenuhi netranya dan membasahi wajahnya.


"Arya, kenapa kau melakukan ini?" Tanya Ayah Bakti dengan nada kecewa.


"Maaf kalau sudah membuat Ayah dan yang lainnya kecewa. Tapi ini keputusan yang sudah Arya ambil. Arya tidak ingin lagi membuat Rubby bersedih." Jawab Arya yang kemudian bangun dari duduknya.


"Andika, ayo kita pulang. Ayah, Bunda, Rubby, Arya pamit. Assalamuala'ikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Ayah Bakti dan istrinya, mereka memandang nanar punggung Arya yang menjauh.


Rubby seolah baru tersadar, Arya sudah tak lagi ada di hadapannya.


"Mas Firaz... Mas...!" Rubby berteriak dan berlari ke arah pintu, namun mobil Arya sudah menjauh.


"Mas...!" Tubuh Rubby luruh di lantai, hatinya hancur berkeping-keping. Tak di sangka Arya akan menceraikannya, dengan begitu mudah lelaki itu mengucap kata talak.


*****

__ADS_1


__ADS_2