
Mama Dewi malah menatap putranya dengan tatapan curiga.
"Kau tergoda ya?" Tanyanya. Mendadak Arya jadi salah tingkah. Bukan hanya tergoda, Arya bahkan kesulitan untuk mengendalikan dirinya.
"Em... Tidak... Arya..." Lelaki itu malah tergagap.
"Bilang saja kalau kau tergoda." Sela Mama Dewi sambil tersenyum miring. Sepertinya rencananya sedikit berhasil.
"Rubby. Setiap malam kau harus memakai lingerie itu. Karena Mama sudah membelinya dengan harga mahal, kan mubazir kalau tidak di pakai." Mama Dewi mangalihkan pandangannya pada menantunya yang sedari tadi diam tak mengatakan apapun.
"Tapi, Ma..." Rubby mencoba menolak, namun Arya menyela lebih dulu.
"Ma, Rubby tidak boleh memakai pakaian itu lagi."
Bisa gawat kalau Rubby tiap malam memakai pakaian sexy seperti itu.
"Rubby harus pakai." Seru Mama Dewi.
"Tidak boleh." Timpal Arya.
Terjadilah perdebatan tak penting antara ibu dan anak di pagi hari yang cerah.
* * *
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan toko kue Rubby.
"Rubby, apa kau tak ingin turun?" Tanya Arya yang melihat istrinya hanya duduk diam sambil memainkan jari-jarinya. Sepanjang perjalanan Rubby terlihat seperti itu. Rubby menoleh sejenak kearahnya, lalu menundukkan wajahnya.
"Mas... Apa benar aku terlihat seperti perempuan penggoda semalam?" Tanya Rubby begitu pelan, namun Arya masih bisa mendengarnya.
Sepasang mata itu melebar, ternyata istrinya masih memikirkan perkataannya tadi. Padahal ia hanya asal bicara saja.
"Rubby, bukan begitu maksudku. Aku..."
"Tidak apa, Mas. Memang dasarnya saja aku yang tidak cantik. Jadi mau pakai apapun, tidak akan cocok di tubuhku ini." Rubby lebih dulu menyela. Padahal dirinya hanya menuruti perintah dari Mama Dewi, tapi siapa sangka suaminya malah menilainya seperti itu.
Rubby meraih tangan Arya dan mengecupnya singkat. Segera Rubby keluar dari mobil tanpa berucap apapun lagi, dan meninggalkan Arya yang mematung di tempatnya.
"Apa Rubby tersinggung dengan perkataanku? Tapi aku tak bermaksud begitu."
Arya memijat keningnya, tak di sangka perkataannya malah membuat istrinya itu tersinggung.
__ADS_1
"Kenapa aku malah bicara asal seperti itu?" Sesalnya.
Arya kembali menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana. Tak lama kemudian seorang gadis muda memasuki toko kue Rubby.
"Kak Rubby!" Seru Intan begitu membuka pintu toko.
"Intan? Kau kemari?" Rubby menghampiri Intan, ia sedikit terkejut melihat kedatangan adiknya. Kedua kakak beradik itu saling berpelukan singkat.
"Kau kemari dengan siapa?" Tanya Rubby, ia melongok ke arah luar. Tapi sepertinya adiknya itu datang sendiri.
"Tadi Andika yang mengantarku sampai depan, Kak." Jawab Intan.
"Lalu Andika nya ke mana?"
"Sudah pergi, Kak. Andika kan harus bekerja."
"Ya sudah, ayo duduk dulu." Rubby mengajak adiknya untuk di kursi pelanggan. Karena masih pagi, toko kue itu belum kedatangan konsumen. Dan para pegawai Rubby sedang di dapur membuat kue.
"Kenapa tidak beritahu Kakak kalau kau mau ke sini?" Tanya Rubby sambil meletakan segelas cokelat panas di atas meja.
"Biasanya juga aku kemari tak memberitahu Kakak." Jawab Intan.
"Kau ini... Tapi Ayah dan Bunda tahu kan kau ke sini?"
Rubby tersenyum mendengar pertanyaan Intan. Adiknya itu pasti memikirkan keadaannya sampai harus pagi-pagi datang menemuinya.
"Pernikahan Kakak baik-baik saja, Intan." Jawabnya.
"Em... Kak Arya tidak galak kan, Kak?" Tanya Intan lagi. Rubby malah tertawa kecil mendengarnya.
"Mas Firaz baik, Intan. Kenapa kau menanyakan hal itu?" Rubby balik bertanya.
"Aku hanya takut saja. Kalau ternyata Kak Arya adalah pria yang galak dan suka marah-marah." Cicit Intan.
"Intan, Suami Kakak adalah pria yang baik. Jadi kau tidak perlu khawatir seperti itu. Dan jika Mas Firaz galak sama Kakak, Kakak akan langsung mengadukannya pada Mama Dewi. Kau tahu kan kalau Mama Dewi begitu menyayangi para menantunya?" Candanya.
"Syukurlah kalau begitu. Dari kemarin aku kefikiran terus tentang Kakak." Intan menghembuskan nafas lega.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan Kakak." Rubby tersenyum simpul. Ia tahu kalau Intan begitu menyayangi dirinya.
"Jangan berfikiran yang aneh lagi, okey?" Sambung Rubby mengusap lembut bahu adiknya. Intan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Andika? Dia bukan suami yang galak kan?" Rubby balik bertanya.
"Sama sekali tidak, Kak. Andika sangat baik. Kemarin dan pagi ini Dika selalu menyempatkan waktu untuk melayaniku sebelum berangkat kerja. Kakak tahu kan? Aku mengalami morning sickness yang lumayan parah, dan untungnya sekarang ada Dika di sampingku." Cerita Intan, terlihat binar kebahagian di matanya. Rubby kembali tersenyum, setidaknya Intan memiliki suami yang mencintainya sekarang.
Setelah hampir satu jam mengobrol, Intan akhirnya pamit. Setidaknya wanita muda itu sudah lebih tenang sekarang karena ia tahu pernikahan kakaknya baik-baik saja. Rubby memesankan taksi untuk mengantarkan Intan pulang.
"Intan, kau beruntung bisa menikah dengan lelaki yang mencintaimu. Sedangkan aku, aku hanya merasakan jatuh cinta sendirian. Jatuh cinta pada lelaki asing pada saat pertama kali bertemu dengannya. Walaupun akhirnya kami menikah, tapi Mas Firaz tidak akan pernah mencintaiku." Lirih Rubby sambil memandangi taksi yang mengantar Intan hingga hilang dari pandangannya.
*****
Siang harinya di Coffe Shop Arya.
Andika sudah berdiri di depan ruangan sang Kakak.
Tok, tok, tok. Andika mengetuk pintu ruangan itu. Ia tak melihat kakaknya keluar dari sana sejak datang pagi tadi. Hingga ia berinisiatif untuk datang ke ruangannya walaupun Arya tak memanggilnya.
"Masuk." Sahut Arya dari dalam.
"Selamat siang, Pak Arya." Sapa Andika dengan formalnya.
"Ada apa?" Tanya Arya, rasanya ia tak meminta Andika untuk datang ke ruangannya.
"Apa Pak Arya mau di belikan makan siang seperti kemarin?" Tanya Andika.
"Tidak perlu." Sahut Arya, ia mematikan laptop dan bangkit dari duduknya.
"Pak Arya mau makan siang di luar?" Tanya Andika lagi.
"Kau tidak perlu tahu urusanku, Andika." Arya berlalu begitu saja meninggalkan Andika yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Kenapa Kak Arya? Tak biasanya seperti itu." Gumam Andika.
"Apa mungkin galau memikirkan Mega?" Tanyanya dalam hati.
"Sudah menikah tapi masih memikirkan wanita lain. Dasar Arya Firaz!" Gerutu Dika masih dalam hatinya. Tidak mungkin juga ia berkata seperti itu. Akan bahaya jika ada yang mendengarnya.
* * *
Karena parkiran yang lumayan penuh, Arya memakirkan mobilnya agak jauh dari pintu toko kue itu. Pria itu segera keluar dan masuk ke toko kue tersebut.
"Selamat datang di Rubby Cake's. Tuan mau pesan apa?" Sapa Ria yang kebetulan sedang menjaga meja depan. Arya berjalan mendekat menghampirinya.
__ADS_1
"Apa Rubby ada?" Tanyanya.
"Mba Rubby? Mba Rubby nya sedang pergi, Tuan." Jawab Ria sambil memperhatikan wajah Arya.