
Tok. Tok. Tok.
"Arya, ini Mama." Seperti biasa, sebelum masuk kamar putranya Mama Dewi selalu mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Iya, Ma. Masuk saja." Arya menyahut.
"Arya, Mama bawakan makan malam untukmu." Mama Dewi duduk di samping putranya.
"Ma, kenapa Rubby masih datang kemari?" Tanya Arya tiba-tiba, menghentikan gerakan tangan Mama Dewi yang hendak menyuapinya.
"Rubby hanya mengantarkan kue untuk kita, Arya." Jawab Mama Dewi.
"Lalu kenapa Rubby menangis?" Tanya Arya.
"Kau dengar?" Mama Dewi balik bertanya.
"Ya." Jawab Arya.
"Lalu bagiamana menurutmu, Arya?" Tanya Mama Dewi.
"Bagiamana apanya?" Arya tidak mengerti.
"Semenjak kau menalak Rubby. Bukan bahagia yang Rubby rasakan, tapi hanya kesedihan. Apa kau tidak berniat untuk rujuk kembali dengan Rubby?" Tanya Mama Dewi penuh harap. Arya menggeleng.
"Tidak. Biarkan seperti ini saja." Jawabnya.
"Kau tega membuat Rubby terus bersedih?"
"Rubby hanya perlu waktu, Ma. Oh ya, tadi Andika bilang. Kalau ada pria yang menyukai Rubby."
__ADS_1
"Siapa?"
"Dokter Malik, dokter yang merawat Arya waktu itu."
Mama Dewi tercengang mendengarnya.
Dokter Malik? Dokter itu tampan dan juga masih muda.
"Apa Rubby juga menyukainya?" Tanya Mama Dewi, Arya mengendikkan bahunya.
"Arya tidak tahu, Andika hanya mengatakan ada pria yang menyukai Rubby." Jawab Arya.
"Dari sini Mama bisa paham kan? Kalau ada pria yang jauh lebih baik dari Arya yang menyukai Rubby. Dia juga seorang dokter, sedangkan Arya? Arya bukan siapa-siapa, Ma. Arya hanya seorang lelaki biasa yang kini tidak bisa melihat lagi. Mungkin juga masih banyak pria di luar sana yang menyukai Rubby. Dan Rubby hanya perlu waktu untuk membuka hatinya untuk pria lain." Arya menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan, rasa sesak memenuhi hatinya mengatakan hal itu.
"Jangan berkata seperti itu, Arya. Kau pria Mama. Kau lelaki yang luar biasa." Mama Dewi mengusap bahu putranya.
Mama Dewi mulai menyuapi putra sulungnya, walau sudah beberapa kali Arya mengatakan bisa makan sendiri, tapi Mama Dewi selalu bersikeras untuk menyuapinya.
_
_
_
"Kenapa Rubby sulit sekali di dekati ya?" Gumam seorang pria yang tengah memandang keindahan malam dari kaca jendela apartemennya.
"Sepertinya aku harus berbuat nekat. Agar Rubby tahu kalau aku benar-benar menyukainya."
"Ya, sepertinya memang harus begitu." Ucap Dokter Malik sungguh-sungguh. Dia akan membuat kejutan untuk gadis berhijab itu.
__ADS_1
_
_
_
Malam berikutnya.
Andika baru saja sampai di rumah istrinya. Terlihat sebuah mobil juga memasuki halaman rumah Ayah Bakti. Andika mengerutkan keningnya melihat siapa yang baru turun dari mobil tersebut.
"Dokter Malik?" Gumamnya heran.
"Hai, Andika!" Sapa Dokter Malik, mereka memang cukup mengenal satu sama lain. Karena Andika sudah beberapa kali bertemu dengan Dokter Malik saat berkunjung ke toko kue Rubby.
"Dokter kemari? Ada apa?" Tanya Andika bingung.
"Aku hanya ingin berkunjung saja." Jawab pria tampan itu. Andika terdiam sejenak, untuk apa juga pria itu berkunjung ke rumah mertuanya. Bukannya Rubby sudah menolak permintaannya kemarin.
"Boleh aku ikut masuk?" Tanya Dokter Malik membuyarkan lamunan Andika.
"Akh, iya. Silakan Dok." Jawab Andika yang sebenarnya merasa ragu mengajak sang tamu.
"Assalamualai'ikum." Andika mengucap salam sambil mengetuk pintu. Tak perlu menunggu lama pintu itu langsung terbuka.
"Waalaikumsalam." Seorang wanita muda berperut buncit menyambut kedatangannya.
*****
Jangan lupa likenya
__ADS_1