Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Intan Melahirkan


__ADS_3

Seorang pria terlihat menemui Dokter Malik di rumah sakit.


"Kau yakin akan melakukan ini?" Tanya Dokter Malik pada pria yang duduk berhadapan dengannya.


"Ya, aku yakin." Jawabnya.


"Kau tentu tahu konsekuensinya kan?" Tanya Dokter Malik lagi. Pria itu mengangguk.


"Tentu saja aku tahu." Jawabnya.


"Dan kau akan tetap melakukannya?"


"Ya, aku ingin menebus semua kesalahanku padanya." Jawab pria itu dengan yakinnya. Dokter Malik menatap instens pada pria itu, memastikan pria itu benar-benar yakin dengan keputusannya.


"Baiklah kalau begitu. Kita akan melakukan tindakan ini secepatnya." Sahut Dokter Malik diiringi anggukan. Terlihat pria itu tersenyum simpul.


Sedangkan di ruangan lain di rumah sakit itu...


"Andikaaaa!!!" Teriak Intan, Andika langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Iya, sayang." Andika menggenggam tangan istrinya.


"Sakit..." Intan menangis sambil terus meringis, merasakan rasa sakit yang teramat sangat pada perutnya.


"Sabar sayang. Kau harus kuat, anak kita sebentar lagi akan lahir." Andika mengusap-usap kening istrinya yang sudah banjir dengan peluh.


"Tapi sakit sekali rasanya..." Rengek Intan di sela tangisnya.


"Kau pasti mampu, Intan. Aku ada di sini, kau bisa lampiaskan rasa sakitmu padaku. Kau boleh menggigitku, mencakarku, atau memukulku." Ucap Andika yang sebenarnya juga tidak tega melihat keadaan intan yang sudah sangat kacau karena kesakitan.


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu..." Intan menangis kencang, dan hanya meremat-remat tangan suaminya.


Sedangkan di luar ruangan, Rubby duduk menunggu. Rubby bisa mendengar dengan jelas tangis dan teriakan Intan. Dia tidak ikut masuk karena hanya seorang yang di izinkan untuk menunggu di ruangan itu.


"Apa sesakit itu rasanya?" Rubby bergidik membayangkan rasa sakit yang tengah adiknya rasakan.


"Apa nanti kalau aku melahirkan, Mas Firaz juga akan menemaniku?" Fikiran Rubby malah melanglang ke mana-mana.


"Astagfirullah, Rubby. Apa yang kau fikirkan?" Rubby menepuk keningnya, menyadari fikiran konyolnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu berharap lebih. Mas Firaz tidak akan pernah kembali padamu." Lirihnya.


Sejak pertemuan di taman itu Rubby dan Arya tidak pernah bertemu lagi. Walaupun beberapa kali ia datang berkunjung ke rumah Mama Dewi, tapi dirinya sama sekali tidak pernah melihat sang mantan lagi karena Arya hanya mengurung diri di kamarnya.


"Rubby!" Suara panggilan itu membuyarkan lamunan Rubby. Ada Ayah Bakti dan Bunda Maya yang baru saja datang.


"Rubby, bagaimana Intan?" Tanya Bunda Maya yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Intan masih di dalam, Bunda. Dokter bilang Intan baru pembukaan 7, Andika yang menemaninya." Jawab Rubby.


"Tapi tidak ada masalah dengan Intan kan?" Kali ini Ayah Bakti yang bertanya.


"Dokter bilang, Intan baik-baik saja, Ayah. Kita tunggu pembukaannya lengkap dulu, baru Intan bisa melahirkan normal." Terang Rubby mengikuti kata dokter yang menangani Intan tadi.


"Syukurlah kalau begitu." Ayah Bakti dan istrinya menghela nafas lega.


Tadi Intan sedang berkunjung ke toko kue Rubby. Ia ingin menikmati chesse cake yang ada di sana. Tapi baru dua suap cake yang masuk ke mulutnya, mendadak perut Intan terasa sakit. Karena takut Intan akan melahirkan terlebih lagi usia kandungannya sudah sembilan bulan, akhirnya Rubby membawa adiknya ke rumah sakit. Ternyata Intan sudah mengalami pembukaan dan sudah siap untuk melahirkan. Rubby juga langsung menghubungi Andika agar segera datang ke sana.


*****

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊


__ADS_2