Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
CDS 140


__ADS_3

"Akh, itu bagus. Artinya Rubby bisa mencukupi nutrisinya dengan tidak pilih-pilih makanan." Sorak Bunda Maya.


Rubby melirik Bunda dan Mamanya bergantian, mereka sepertinya sama senangnya mendengar kalau suaminya lah yang mengalami kehamilan simpatik.


"Oh ya, May. Ada satu lagi yang ingin kami sampaikan." Ucap Mama Dewi kemudian.


"Apa itu, Dew?" Tanya Bunda Maya penasaran.


"Calon cucu kita tidak hanya satu." Jawab Mama Dewi dengan senyum tertahan di wajahnya. Bunda Maya terlihat berfikir sejenak.


"Tidak satu? Apa itu artinya..."


"Calon anak Rubby kembar, Ma." Sahut Rubby.


"Kembar? Masya Allah jadi kau hamil kembar?" Tanya Bunda Maya dengan nada tak percaya.


"Iya, Bunda. Dokter bilang kembar tiga." Jawab Rubby sumringah.


"Sayang sekali lagi selamat, kau bahkan hamil tiga anak sekaligus." Ucap Bunda Maya penuh haru dan kembali memeluk putrinya.


"Wah... Ada apa ini? Kak Rubby dan Mama Dewi ada di sini?" Tanya Intan yang baru saja datang sambil mendorong putranya dengan stoller. Karena sedang hamil muda jadi Dokter melarang Intan untuk tidak membawa beban berat dulu.


"Intan, sini." Panggil Bunda Maya, Intan menurut dan menghampiri mereka yang ada di ruang tamu.


"Kak Rubby tidak ke toko?" Tanya Intan yang duduk di samping Rubby.


"Tidak, Intan. Kakak ada perlu tadi." Jawab Rubby.


"Oh begitu. Ada apa, Bunda?" Intan beralih pada Bundanya.


"Kau tahu, Intan. Kakakmu sedang hamil sekarang."


"Oh ya? A.... Kak Rubby selamat." Intan langsung menghambur memeluk kakak perempuannya.


"Sudah berapa bulan, Kak?" Tanya Intan antusias.


"Baru dua bulan, Intan." Jawab Rubby sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Berarti kita hanya beda satu bulan ya? Kandungan Intan kan sekarang berjalan tiga bulan." Kata Intan.


"Tapi kemungkinan Rubby akan lebih dulu melahirkan di banding kau, Intan." Ucap Mama Dewi.


"Kenapa begitu, Ma?" Tanya Intan bingung.


"Karena Kakakmu hamil kembar, Intan. Tiga bahkan." Bunda Maya menjawab.


"Hah tiga?" Intan tercengang.


"Wah Kak Rubby hebat, sekali jadi langsung tiga." Ucap Intan dengan kekaguman yang tidak bisa di sembunyikan.


"Kenapa Intan tidak hamil kembar juga ya?" Gumamnya.


"Beda bibit, Intan." Celetuk Mama Dewi.


"Kau ini, Intan. Anak yang pertama saja masih bayi begini, ingin hamil kembar." Tambah Bunda Maya, Intan hanya terkekeh.


"Sekali lagi selamat ya, Kak. Semoga lancar sampai lahiran nanti." Intan kembali memeluk Rubby.


"Iya, Intan. Sama-sama, semoga kehamilan kita lancar dan tidak ada masalah."


_


_


_

__ADS_1


Coffe Shop


Tok Tok tok


Suara ketukan terdengar dari balik pintu.


"Masuk!" Sahut Arya dari dalam. Pintu kayu bercat coklat itu terbuka.


"Arya!" Sapa Indra yang datang bersama istrinya.


"Indra, Mei? Kalian kemari? Silakan duduk." Arya bangun dari kursinya dan menuju sofa.


"Iya, Arya. Tadi kami habis dari toko kue istrimu, tapi ternyata Rubby tidak datang ke sana. Kami fikir Rubby ada di sini." Ujar Indra.


"Iya, Rubby memang tidak ke toko hari ini. Tadi Mamaku meminjamnya." Jawab Arya.


"Meminjam?" Sepasang suami istri itu mengerutkan keningnya.


"Eh, maksudku Mamaku meminta Rubby menemaninya." Arya mengoreksi ucapannya.


"Ada apa mencari Rubby? Apa kalian ada perlu?" Tanyanya kemudian.


"Tidak ada, Arya. Istriku hanya ingin bertemu Rubby saja." Indra menjawab.


"Ku kira ada perlu penting, kalian bisa berkunjung ke rumah." Sahut Arya.


"Tidak perlu, Kak Arya. Aku tadinya hanya ingin mengobrol saja dengan Mba Rubby." Timpal Mei.


"Oh begitu? Oh ya kalian mau minum apa?"


"Em... Air putih saja." Jawab Indra.


"Kenapa hanya air putih? Di sini kan banyak minuman?"


"Ya, baiklah." Arya bangun dari duduknya. Kalau hanya ssekedar air putih di ruangannya juga ada.


"Ini, silakan di minum." Arya menghidangkan dua gelas air putih di atas meja.


"Terima kasih." Ucap Indra dan Mei bersamaan.


"Oh ya, Indra. Tadi Bara datang ke rumahku." Ucap Arya setelah duduk kembali di tempatnya.


"Bara?"


"Iya, dia datang bersama istrinya."


"Bara sudah menikah?" Tanya Indra dengan nada terkejut.


"Iya, apa kau bisa menebak siapa yang jadi istrinya?" Arya balik bertanya. Indra menggeleng.


"Siapa?" Tanyanya.


"Mega."


"Kau bercanda, Arya?!" Tanya Indra tak percaya.


"Tidak, aku serius. Bara dan Mega memanag sudah menikah sekitar empat hari yang lalu." Jawab Arya, Indra ternganga mendengarnya.


"Hah, aku tidak menyangka sama sekali jika mereka akhirnya menikah. Jadi ceritanya mantan kekasihku menikah dengan sahabatku sendiri?" Tanya Indra sambil mneggeleng pelan.


"Ya mungkin seperti itu." Sahut Arya.


"Jadi kau sudah tahu kondisi Bara?"


"Maksudmu? Kau juga sudah tahu?" Arya balik bertanya.

__ADS_1


"Iya, aku sudah tahu beberapa waktu yang lalu. Aku menemuinya, dan Bara memintaku untuk merahasiakannya darimu." Jawab Indra. Terdengar Arya menghela nafas berat.


"Aku baru tahu kemarin, Indra. Aku sengaja berkunjung ke rumah makan miliknya tapi ternyata dia tidak pernah datang ke sana lagi. Jadi aku menemui istrinya, dan tidak ku sangka ternyata istrinya adalah Mega." Cerita Arya.


"Bagaimana mereka bisa menikah?" Tanya Indra, karena setahunya Mega berada di Paris.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Arya.


"Lalu bagaimana hubungan kalian sekarang?" Tanya Indra.


"Hubungan kami masih sama seperti dulu. Kami masih berteman." Jawab Arya.


"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya."


"Oh ya, Indra. Bagaimana caranya agar istrimu cepat hamil?" Tanya Arya kemudian.


"Hah?" Indra tercengang.


"Kalian kan belum lama menikah, tapi Mei sudah hamil. Bagaimana caranya?" Arya mengulang kembali pertanyaannya.


"Tentu saja dengan membuatnya, Arya." Jawab Indra yang bingung sendiri dengan pertanyaan temannya.


"Aku dan Rubby juga sudah membuatnya, tapi tak kunjung jadi. Beberapa hari lalu, Rubby sempat merasa sedih karena tak kunjung hamil." Ucap Arya sendu.


"Bersabarlah, Arya. Jika sudah waktunya, pasti istrimu juga akan hamil."


"Sebenarnya aku tidak masalah mau Rubby cepat hamil atau tidak. Tapi Rubby yang kepikiran, apalagi melihat Mei, Indah bahkan Intan sudah hamil." Ujar Arya di iringi helaan nafas berat.


"Mungkin Mba Rubby butuh istirahat." Kata Mei.


"Maksudnya?"


"Selama ini kan Mba Rubby bekerja, mungkin Mba Rubby perlu istirahat dulu agar dirinya tenang dan tidak ada fikiran berat. Biasanya dengan begitu seorang istri akan cepat hamil, Kak." Mei menjelaskan.


"Jadi aku harus meminta Rubby untuk berhenti bekerja? Tapi sepertinya itu sulit." Arya terlihat ragu, karena ia tahu sendiri bagaimana Rubby mencintai pekerjaannya.


"Tidak perlu lama-lama, Arya. Mungkin untuk beberapa bulan saja." Tambah Indra.


"Baiklah nanti akan ku bicarakan pada Rubby." Sahut Arya.


"Oh ya, jangan lupa untuk selalu membahagiakan istrimu." Ujar Indra lagi.


"Contohnya?"


"Beri kejutan untuk istrimu. Tidak perlu mewah, yang penting bisa membuat istrimu bahagia. Contohnya, kau mengajak makan malam yang romantis. Tidak harus ke restoran yang mahal, tapi yang penting istrimu menyukai makanannya." Saran Indra. Arya mengangguk-anggukan kepalanya. Selama ini dirinya memang jarang mengajak istrinya keluar malam hari. Karena sudah lelah di tempat kerja, jadi mereka lebih memilih untuk istrirahat di rumah.


"Ya, nanti akan ku coba. Terima kasih atas sarannya."


"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu." Indra beranjak bangun di ikuti oleh istrinya.


"Kenapa buru-buru?"


"Ini sudah hampir sore, Arya. Lain waktu kita bisa mengobrol lagi." Ucap Indra.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih."


"Kami pamit dulu." Mereka saling bersalaman.


"Assalamuala'ikum."


"Waalaikumsalam."


*****


JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊

__ADS_1


__ADS_2