Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Siapa Yang Menelepon?


__ADS_3

"Ya, terima kasih." Jawab Arya singkat, Rubby tersenyum sambil menatap sepasang matanya.


"Kenapa Mas Firaz bisa terluka?" Tanya Rubby.


"Tadi di tikungan ada kucing yang tiba-tiba menyebrang. Aku terkejut dan langsung mengerem mendadak sampai akhirnya keningku membentur stir." Terangnya.


"Lain kali hati-hati." Ujar Rubby.


"Tapi ini bukan salahku. Kucing itu yang salah." Timpal Arya.


"Bisa-bisanya Mas menyalahkan kucing." Celetuknya.


"Tapi memang kenyataannya seperti itu."


"Ya, ya. Terserah Mas Firaz saja. Apa sebaiknya Mas Firaz istirahat dulu di sini? Aku yakin Mas Firaz masih merasa pusing." Lebih baik mengalah saja, fikir Rubby. Ternyata suaminya itu tidak mau mengalah dengan seekor kucing.


"Ya sudah, aku istirahat sebentar. Setelah itu kita pulang." Arya menyandarkan punggung, kepalanya memang terasa pusing.


"Baiklah. Aku simpan ini dulu." Rubby beranjak dari sana.


Beberapa saat kemudian, Rubby kembali dengan membawa secangkir teh hangat.


"Ini, minumlah Mas." Rubby meletakan cangkir yang di bawanya di hadapan Arya.


"Terima kasih."


Arya menyesap teh itu sedikit dan meletakan kembali ke atas meja.


"Apa di sini tidak ada pegawai lainnya?" Tanyanya yang baru menyadari kalau sedari tadi ia dan Rubby hanya berdua saja di sana.


"Ada, Mas. Ada tiga orang." Jawab Rubby.


"Lalu mereka ke mana?" Arya mengedarkan pandangannya, tetap tak ada orang lain di toko itu.


"Sudah pulang."


"Sudah pulang? Bukannya kau pemilik toko ini? Kenapa jadi pegawaimu yang pulang lebih dulu?" Tanya Arya heran.


"Apa tidak boleh pemilik toko pulang terakhir?" Rubby balik bertanya.


"Bukan begitu, tapi biasanya pemilik toko pulang lebih dulu." Sahut Arya.


"Tapi aku biasa seperti ini. Pulang paling terakhir setelah memastikan semuanya rapi. Terkadang aku juga sampai malam di sini, memikirkan rencana penjualan untuk besok." Jelas Rubby.


Arya menatap wajah yang di hiasi kacamata itu. Bisa di katakan Rubby adalah tipe wanita yang mandiri. Lebih suka mengurus semuanya sendiri.


"Ayo kita pulang." Ajak Arya.


"Habiskan dulu tehnya." Kata Rubby sambil menunjuk cangkir yang masih tersisa isi setengahnya. Arya menurut, di minumnya teh itu hingga tak bersisa.


"Sudah." Ucapnya sambil beranjak bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Mas Firaz tunggu di mobil saja. Aku mau merapikan ini dulu."


Lagi, Arya menurut saja.


Suara dering ponsel terdengar begitu mengusik Arya yang sudah berada di dalam mobilnya.


Di ambilnya ponsel yang sedari tadi terletak di atas dashboard.


Mega?


Untuk apa Mega meneleponnya lagi? Kenapa juga Mega jadi sering menghubunginya? Padahal dulu Arya yang selalu menghubungi Mega lebih dulu.


"Kenapa tidak di angkat, Mas?"


Arya tersentak, sejak kapan istrinya itu sudah berdiri di samping mobilnya?


"Tidak penting. Ayo cepat masuk." Sahutnya.


Arya menolak panggilan itu, dan mematikan ponselnya. Jangan sampai Mega meneleponnya lagi. Rubby menatap Arya sejenak, kemudian mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil.


Seperti biasa, perjalanan mereka di isi dengan keheningan. Rubby sesekali melirik ke arah suaminya yang nampak begitu serius menyetir.


"Siapa tadi yang menelepon Mas Firaz? Dan kenapa Mas Firaz lebih memilih untuk mematikan ponselnya?"


Pertanyaan itu mendadak menyelinap di benak Rubby.


"Kenapa Mega meneleponku terus? Apa dia tidak ada pekerjaan?" Batin Arya. Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Mas Firaz!" Rubby sedikit mengeraskan suaranya.


"Ya?" Arya akhirnya menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" Tanyanya, yang kemudian kembali fokus pada jalanan.


"Boleh aku bertanya?" Tanya Rubby. Tadi ia juga berfikir untuk mencari bahan pembicaraan dengan suaminya itu agar perjalanan mereka tidak terasa begitu sunyi.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Arya balik bertanya.


"Em... Makanan apa yang Mas sukai?"


"Makanan? Untuk apa kau menyakan hal itu?" Tanya Arya tanpa menoleh.


"Setidaknya aku bisa memasakannya untuk Mas." Rubby menjawab.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Kau sudah lelah bekerja, jadi tak perlu memasak untukku. Lagipula sudah ada pelayan yang memasak." Sahut Arya.


"Tapi kan..."


"Sudahlah Rubby, aku tak ingin merepotkanmu." Sela Arya. Rubby terdiam, niat baiknya malah tak di sambut oleh suaminya. Padahal katanya, masakan seorang istri bisa membuat suami jatuh cinta. Dan tadi pagi Arya juga menyukai nasi goreng buatannya.


Beberapa menit kemudian, mobil Arya sudah memasuki halaman rumahnya.

__ADS_1


"Kenapa diam? Masuklah." Ucap Arya yang melihat istrinya hanya diam di dalam mobilnya, padahal mesin mobil sudah di matikan.


"Iya, Mas." Tangan Rubby membuka pintu mobil dan beranjak pergi dari sana.


Rubby masuk lebih dulu ke dalam rumah.


"Assalamualaikum." Ucapnya.


"Waalaikumsalam." Mama Dewi menyambut salamnya.


"Rubby, kau sudah pulang? Mana suamimu?" Tanyanya.


"Di belakang, Ma." Jawab Rubby sambil tersenyum.


"Arya mengantar dan menjemputmu di toko kue kan?" Tanya Mama Dewi.


"Iya, Ma. Memangnya kenapa?" Rubby balik bertanya.


"Tidak apa. Mama hanya takut Arya menurunkanmu di tengah jalan." Sahutnya.


"Mama ini, selalu berfikiran buruk pada anak sendiri." Sambar Arya yang baru masuk rumah.


"Mama bukan berfikiran buruk, tapi hanya takut saja." Timpal Mama Dewi.


"Itu sama saja, Ma." Tukas Arya.


"Keningmu kenapa, Arya?" Tanya Mama Dewi yang melihat plester di kening putranya.


"Tadi terbentur stir karena aku mengerem mendadak." Jawab Arya. Mama Dewi melebarkan matanya.


"Astaga, Arya! Lain kali hati-hati. Rubby, kau tidak apa-apa kan?" Mama Dewi beralih pada menantunya dan langsung memeriksa tubuh Rubby. Membolak-balikannya, tapi sepertinya tubuh menantUnya itu bersih.


"Rubby baik-baik saja, Ma." Jawab Rubby heran. Suaminya yang terluka, kenapa Mama Dewi malah mengkhawatirkan dirinya?


"Ma, tadi aku sedang menyetir sendiri dan dalam perjalan menjemput Rubby." Arya menjelaskan. Mamanya pasti mengira tadi Rubby bersamanya.


"Oh, Mama kira Rubby sedang bersamamu. Syukurlah kalau kau hanya sendiri." Mama Dewi menghembuskan nafas lega. Arya menganga tak percaya mendengarnya. Apa itu artinya Rubby sekarang lebih penting darinya?


"Mama...." Geram Arya.


"Bukannya itu bagus, jadi menantu Mama tidak terlibat bahaya." Ujar wanita paruh baya itu dengan entengnya.


"Terserah Mama saja." Timpal Arya. Dirinya pasti akan kalah jika berdebat dengan sang Mama. Dan Rubby hanya menyimak percakapan ibu dan anak itu, tanpa ikut bicara.


"Kau sudah berobat? Apa kata dokter? Lukanya dalam tidak?" Tanya Mama Dewi beruntun.


"Telat, Mama. Sekarang baru menanyakan hal itu, sedangkan tadi malah mengkhawatirkan Rubby." Ucap Arya dalam hati sambil menatap datar Mama Dewi. Kemudian menjawab,


"Aku tidak ke dokter, Ma. Tadi Rubby yang mengobati. Lagipula ini hanya luka kecil."


"Oh begitu? Menantu Mama ini memang yang terbaik. Sudah cantik, bisa merawat suaminya lagi." Pujinya yang di balas senyum kaku oleh Rubby. Sepertinya terlalu berlebihan pujian dari mama mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2