
"Arya, Rubby? Kalian di sini? Kapan kalian sampai?" Tanya Dokter Malik, pria itu mencoba bersikap biasa saja.
"Ya, kami sampai sejak kalian berdua pandang-pandangan." Jawab Arya apa adanya, entah jujur atau menyindir. Dokter Malik melebarkan matanya, sedangkan Indah nampak tersipu dan menundukkan wajahnya. Kenapa juga tadi dirinya malah pandang-pandangan dengan dokter itu.
"Mas!" Rubby meremat tangan suaminya.
"Kenapa? Aku benar kan? Kita sedari tadi berdiri di depan pintu, sedangkan mereka..."
"Auch!" Arya memekik karena tiba-tiba Rubby menginjak kakinya cukup keras.
"Kenapa kau menginjak kakiku?" Tanyanya.
"Makanya jangan bicara terlalu jujur." Tukas Rubby. Arya mengerjap-ngerjapkan matanya, dirinya hanya bicara jujur, apa itu salah?
"Ehm, Arya, Rubby. Aku permisi dulu." Ucap Dokter Malik menghentikan perdebatan suami istri itu.
"Kau mau ke mana?" Tanya Arya.
"Tentu saja bekerja. Aku masih ada kunjungan pasien." Jawab Dokter Malik.
"Aku permisi." Pamitnya dan berlalu dari sana.
Rubby melangkah mendekat ke arah Indah.
"Indah, bagaimana keadaanmu? Kakakmu bilang, semalam kau kecelakaan?" Tanya Rubby, ia bisa melihat beberapa anggota tubuh Indah yang terluka.
"Aku baik-baik saja, Rubby. Terima kasih kalian sudah bersedia untuk datang." Jawab Indah.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, kenapa kau bisa kecelakaan?" Tanya Rubby.
"Ya semalam aku tidak fokus menyetir, hingga menabrak pagar pembatas jalan." Jawab Indah.
"Lain kali hati-hati." Rubby membelai rambut Indah dengan dengan sayang, dan itu membuat Indah tersentuh. Rubby masih bersedia bersikap baik padanya.
"Oh ya, Kak Indra mana?" Tanya Indah, karena ia hanya melihat Arya dan Rubby saja yang datang.
"Kami tidak tahu, ku kira Tuan Indra sudah kembali kemari setelah dari tokoku." Jawab Rubby. Indah menggeleng.
"Kak Indra belum kembali." Jawabnya.
"Em... Sebenarnya ada yang ingin ku katakan pada kalian." Ucap Indah kemudian, ia menatap sepasang suami istri itu bergantian.
"Ada apa, Indah?" Tanya Rubby.
"Sudahlah, Indah. Tidak perlu di bahas lagi." Sahut Arya yang sudah enggan membahas kejadian kemarin.
"Tapi Kak Arya mau memaafkanku kan? Aku tidak bisa tenang jika Kak Arya belum memaafkanku." Timpal Indah, gurat menyesal tercetak jelas di wajahnya.
"Iya, Indah. Aku memaafkanmu. Tapi jangan di ulangi lagi, karena istriku cemburu dan menuduhku yang tidak-tidak." Jawab Arya membuat Rubby menoleh langsung ke arahnya.
"Aku menuduh apa?" Tanya Rubby pada suaminya.
"Kau menuduhku menikmati pelukan Indah kan?" Arya balik bertanya, Rubby langsung menepuk keningnya.
"Tidak perlu di bahas, Mas." Rubby menggeram, lagi-lagi suaminya kelewat jujur.
__ADS_1
"Rubby, kau jangan salah paham. Kak Arya sama sekali tidak begitu, dia bahkan langsung marah saat itu." Jelas Indah, Rubby tersenyum pelik.
"Maaf aku sudah membuat kalian salah paham." Lanjut Indah.
"Tidak apa-apa, Indah." Sahut Rubby.
"Hah, sekarang bilang tidak apa-apa. Sedangkan semalam kau marah padaku." Batin Arya.
"Kak Arya, Rubby. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji akan belajar melupakan perasaanku pada Kak Arya. Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga kalian, bagaimanapun Rubby adalah temanku. Dan aku tidak ingin menyakitinya." Ucap Indah tulus.
"Kami sudah memaafkanmu, Indah. Sudah jangan di fikirkan lagi, kita lupakan semuanya." Ucap Rubby dengan senyum simpul di wajahnya.
"Kau masih mau menjadi temanku kan?" Tanya Indah penuh harap.
"Tentu, kau gadis yang baik. Siapa yang tidak mau berteman denganmu?" Rubby balik bertanya, membuat Indah tidak bisa untuk tidak tersenyum. Gadis itu mengulurkan tangannya, Rubby menyambutnya. Keduanya saling berpelukan.
"Lihat itu, mereka malah berpelukan. Padahal mereka baru saling mengenal, tapi mudah sekali akrab." Batin Arya.
"Apa aku boleh ikut?" Tanya Arya membuat Rubby menoleh tanpa melepas pelukan mereka.
"Ikut ke mana?" Tanya Rubby.
"Ikut berpelukan." Jawab Arya sambil memasang tampang polosnya.
"Mas!"
*****
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKENYA YA, UNTUK SUPPORT AUTHORNYA 😊