
"Janji apa?" Tanya Rubby heran. Rasanya ia tidak berjanji apa-apa pada suaminya.
Arya menatap Rubby sejenak. Istrinya itu pasti lupa.
"Mas Firaz!" Pekik Rubby karena tiba-tiba saja Arya memeluknya.
"Tadi pagi kau bilang padaku, aku boleh memelukmu kalau aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Mega. Dan sekarang urusanku dengan Mega sudah selesai. Jadi aku sudah boleh memelukmu." Bisik Arya tepat di telinga Rubby.
Rubby mematung di tempatnya. Rupanya Arya masih mengingat ucapannya pagi tadi. Tapi akhirnya ia ikut melingkarkan tangannya di tubuh Arya, membalas pelukannya. Mata keduanya terpejam, merasakan kehangatan yang begitu nyaman.
"Aku mencintaimu, Rubby." Ingin rasanya Arya mengucapkan kata-kata itu. Tapi dirinya takut kalau Rubby nyatanya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, dan hubungan mereka kembali canggung seperti awal pernikahan dulu. Lebih baik seperti ini saja. Setidaknya Rubby tahu kalau dirinya berarti untuk dirinya.
Setelah beberapa menit pelukan keduanya terlepas. Arya menatap dalam sepasang mata Rubby yang terhalang kacamata. Kemudian ia mendaratkan kecupan singkat di kening Rubby.
"Kau istriku, wanita yang sangat berarti untukku." Ucapnya.
"Apa maksud dari ucapan Mas Firaz? Apa itu artinya Mas Firaz mencintaiku? Tapi sepertinya tidak. Mas Firaz tidak mencintaiku, dia tidak mengatakan cinta padaku. Dia hanya bilang kalau aku berarti untuknya."
"Kenapa?" Tanya Arya yang melihat istrinya menggeleng pelan lalu mengangguk seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa. Apa rencana Mas hari ini?" Rubby mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah. Aku belum punya rencana. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Usul Arya.
"Jalan-jalan ke mana?" Tanya Rubby dengan semangat. Selama ini Arya jarang sekali mengajaknya jalan-jalan berdua. Paling hanya pergi berkunjung ke rumah Ayah Bakti saja.
"Terserah kau mau ke mana." Jawab Arya.
"Bagaimana kalau ke taman? Kita makan es krim?" Usul Rubby dengan mata berbinar. Dari dulu ia selalu ingin seperti orang-orang yang mengajak pasangannya ke taman dan makan es krim bersama. Terlihat sederhana namun baginya sangat romantis.
"Makan es krim di taman?" Arya mengerutkan keningnya. Kenapa istrinya tidak meminta pergi ke mall dan belanja sepuas hati seperti para wanita kebanyakan?
"Iya. Mas mau kan?" Tanya Rubby sorot matanya penuh harap, takut jika suaminya itu menolak.
"Tentu. Kita sarapan dulu, setelah itu kita pergi." Jawab Arya. Senyum mengembang di wajah Rubby.
"Terima kasih, Mas." Ucapnya.
_
_
_
__ADS_1
Taman kota terlihat ramai dengan pengunjung, mungkin karena hari ini hari libur. Arya dan Rubby baru saja tiba di sana.
"Tamannya lumayan ramai. Apa Mas tetap mau turun?" Tanya Rubby ragu. Ia takut suaminya merasa tak nyaman nanti.
"Tidak apa-apa. Ayo kita turun." Arya membuka pintu dan turun dari mobilnya.
"Apa kau ingin langsung makan es krim atau jalan-jalan dulu?" Tanya Arya.
"Kita jalan-jalan dulu saja. Ayo kita ke sana." Rubby menarik tangan Arya. Lelaki itu menurut saja.
Taman kota cukup itu luas, dan sebagian besar pengunjung di sana pasangan muda-mudi atau membawa keluarganya. Ada banyak anak kecil sedang berlarian dan bermain gelembung sabun. Rubby senang sekali melihatnya. Gadis itu memang menyukai anak kecil.
"Hanya melihat anak kecil berlarian sudah membuatnya bahagia?" Arya bertanya-tanya dalam hati, karena binar kebahagian nampak jelas di wajah istrinya. Dan sedari tadi senyum tak lepas dari wajah Rubby.
"Kenapa hal sesederhana itu bisa membuatmu bahagia? Kau benar-benar istimewa, Rubby."
Setelah puas berkeliling taman, mereka istirahat di salah satu kedai es krim yang berada di taman itu.
"Mas mau es krim apa? Biar aku yang pesankan." Tanya Rubby.
"Em... sama kan saja dengan pesananmu." Jawab Arya yang terlihat bingung. Dirinya jarang sekali makan es krim, jadi tidak tahu ada varian apa saja.
"Baiklah. Aku pesankan dulu ya." Rubby beranjak menuju tempat pemesanan.
"Astaga, Dika! Kau mengagetkanku saja!" Seru Arya, untung saja dia tidak jatuh dari kursinya.
"Hehe..." Andika tertawa memasang wajah polos tanpa dosa.
"Kakak sedang apa di sini?" Tanyanya yang ikut duduk bergabung bersama Arya.
"Ini kedai es krim kan? Tentu saja aku kemari untuk makan es krim." Sahut Arya.
"Oh begitu? Tapi rasanya aku jarang sekali melihat Kakak makan es krim? Kakak kemari dengan siapa?" Tanya Andika.
"Jangan bilang Kakak kemari dengan Mega?" Lanjut Andika sambil menatap curiga pada kakaknya sendiri.
"Kau ini, kenapa selalu berfikiran buruk pada kakakmu sendiri?" Tukas Arya kesal.
"Aku kan hanya menebak." Sahut Andika dengan entengnya.
Arya melayangkan tatapan datarnya. Kenapa juga harus bertemu adiknya di sini?
"Andika..." Intan datang bersama Rubby dengan masing-masing membawa dua mangkuk es krim.
__ADS_1
"Sayang, duduk sini." Andika bangun dari duduknya dan menyiapkan satu kursi untuk istrinya duduk.
"Cih, sok perhatian sekali.'' Arya mencibir.
"Jadi suami memang harus seperti ini. Memangnya Kakak, tidak ada romatisnya sama sekali pada istri sendiri." Balas Andika.
"Kalau kau memang perhatian, seharusnya kau yang memesan es krimnya bukan istrimu yang sedang hamil." Timpal Arya.
"Itu kemauan Intan sendiri. Jadi aku tidak bisa menolak." Jawab Andika.
"Kakak juga sama, seharusnya Kakak yang memesan bukan Kak Rubby." Sambungnya.
"Aku tidak tahu varian rasa es krim." Jawab Arya singkat.
"Ya? Seorang Arya Firaz tidak tahu varian rasa es krim? Kampungan sekali." Celetuk Andika.
Arya membelalakan matanya, sedari tadi Andika tak henti membuatnya kesal.
"Kau bilang apa?" Tanyanya datar. Andika menelan salivanya, sepertinya kakaknya itu sudah mulai emosi.
"Tidak." Jawab Andika singkat.
"Mas sebaiknya cepat dimakan es krimnya, sebelum mencair." Ucap Rubby menjadi penengah, menghentikan perdebatan tak penting kakak dan adik tersebut. Arya masih menatap tajam pada adiknya, sedangkan Andika pura-pura tak melihatnya.
Mereka berempat mulai menikmati es krim masing-masing.
"Aku tidak menyangka akan bertemu kakak di sini." Ucap Intan.
"Ya, Kakak juga. Apa kalian sering kemari?" Tanya Rubby.
"Tidak sering, Kak. Jika ada waktu saja." Sahut Intan. Sementara para suami hanya menyimak percakapan para istri.
"Oh ya Kak Rubby. Apa Kak Rubby bertemu Mega kemarin?" Tanya Andika tiba-tiba. Arya kembali menatap tajam padanya. Kenapa harus membahas Mega lagi?
"Iya kami bertemu kemarin di toko kue." Jawab Rubby sambil tersenyum.
"Lalu apa yang Mega katakan?" Tanya Andika penasaran.
"Em... Mega bilang, dia mau membeli kue untuk kekasihnya." Rubby menjawab apa adanya.
"Mega bilang seperti itu?" Tanya Andika, Rubby mengangguk.
"Kak Rubby tidak sakit hati?" Rubby hanya tersenyum sambil melirik ke arah suaminya mendengar pertanyaan Andika.
__ADS_1