
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Arya dan Rubby baru saja keluar dari kamarnya, ini pertama kalinya mereka telat turun untuk sarapan. Setelah melakukan sesi ketiga tadi, mereka kelelahan dan terlelap kembali.
"Aku tidak membantu Mama pagi ini." Gumam Rubby sambil menuruni anak tangga.
"Mama pasti mengerti. Kan Mama juga yang menyuruh kita untuk melakukannya." Sahut Arya yang berjalan di belakangnya.
"Apa masih sakit?" Arya memperhatikan langkah Rubby yang terlihat sedikit aneh.
"Hm... Sedikit." Jawab Rubby yang kembali malu-malu.
"Sepertinya kita harus sering-sering melakukannya agar tidak sakit lagi." Sahut Arya, Rubby langsung mendelik. Sepertinya suaminya itu sudah berubah messum.
"Jangan sering-sering, nanti aku capek." Timpal wanita berhijab itu.
"Capek tapi tadi kau malah menggodaku." Sahut Arya dengan nada meledek.
"Mas!"
Plak! Satu tepukan cukup keras mendarat di lengan Arya.
"Sakit, Rubby." Arya mengusap-usap lengannya yang terasa panas.
Kenapa wanita entah itu merasa, gemas, kesal atau senang selalu main tepak-tepuk saja orang di dekatnya?
"Makanya jangan meledekku." Rubby berjalan cepat menuruni tangga, walau langkahnya masih agak sulit.
__ADS_1
"Hei, hei. Kalian ini, kenapa malah ribut?" Tanya Mama Dewi yang berada di bawah.
"Eh tidak, Ma." Sangkal Rubby.
"Ma, maaf. Rubby tadi tidak membantu Mama membuat sarapan." Ucap Rubby merasa sungkan.
"Tidak apa, Rubby. Mama mengerti, kalian pasti lelah." Ucap Mama Dewi dengan nada menggoda pun dengan sorot matanya.
"Oh ya bagaimana semalam? Apa lancar?" Tanya Mama Dewi antusias. Arya dan Rubby saling menatap. Mereka sudah tahu, Mama Dewi pasti akan menggoda mereka.
"Tentu saja, Ma." Jawab Arya singkat sambil menarik tangan istrinya menuju meja makan. Dan Mama Dewi senyum-senyum sendiri.
"Akhirnya anak Mama sudah tidak perjaka lagi!" Serunya setengah berteriak karena Arya dan Rubby sudah menjauh.
"Sudah, ayo kita sarapan mas. Aku sudah lapar." Kini gantian Rubby yang menarik tangan suaminya membawanya duduk di kursi makan.
"Mas mau sarapan apa? Nasi goreng atau roti?" Tawar Rubby.
"Nasi saja. Aku juga lapar berat." Jawab Arya. Rubby segera mengambilkan sarapan untuk suaminya.
"Assalamuala'ikum." Suara Andika dan Intan menghentikan tawa wanita paruh baya itu.
"Waalaikumsalam. Dika, Intan. Kalian kemari?" Tanya Mama Dewi.
"Iya, Ma. Tadi kami jalan-jalan di taman, lalu sekalian kemari." Jawab Intan sambil mencium punggung tangan Ibu mertuanya, Andika pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kalian sudah sarapan?" Tanya Mama Dewi.
"Ini sudah siang, Ma. Tentu saja kami sudah sarapan." Sahut Andika.
"Tapi para Kakak kalian baru turun sarapan." Celetuk Mama Dewi sambil melirik ke arah ruang makan.
"Ya? Apa mereka baru bangun?" Tanya Andika.
"Sepertinya begitu. Mungkin semalam mereka lembur." Jawab Mama Dewi sekenanya.
"Memangnya Kak Arya sudah mulai bekerja lagi, Ma?" Tanya Intan, kerena setahunya Andika masih menggantikan posisi Arya di coffe shop.
"Ini lembur yang lain, Intan." Jawab Mama Dewi merasa gemas dengan menantunya yang satu ini.
"Memang apa yang para Kakak kerjakan hingga harus lembur, Ma?" Tanya Intan lagi yang belum tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Mama Dewi menepuk keningnya dan melirik ke arah Andika, pemuda itu malah tersenyum lebar memamerkan deretan giginya.
"Sama seperti yang kita lakukan setiap malam, Intan." Kini Andika yang menjawab sambil merangkul bahunya. Intan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, sekarang ia tahu apa yang di maksud Mama Dewi.
"Wah, kalau begitu baby Dikta sebentar lagi akan punya teman!" Serunya.
"Aamiin. Semoga saja." Timpal Mama Dewi yang kemudian beralih pada stoller cucunya. Bayi mungil itu nampak terlelap.
"Yah, baby Diktanya tidur. Padahal mau Oma ajak main."
*****
__ADS_1