Cinta Dalam Sketsa

Cinta Dalam Sketsa
Apa Yang Kau Buat?


__ADS_3

Saat di toko bunga, Arya terlihat bingung. Tidak tahu apa bunga kesukaan Rubby, dan matanya tertuju pada bunga mawar putih. Dulu ia sering memberikan bunga seperti itu pada Mega.


Daripada bingung, akhirnya Arya mengambil bunga yang sama. Jika Rubby tak menyukainya, ia akan mengajak Rubby ke toko bunga itu dan membiarkan gadis itu memilih sendiri.


Sungguh tak romantis sekali pemikirannya.


Tapi untungnya Rubby menyukai bunga yang di bawanya.


*****


Malam harinya di kota yang terkenal romantis...


Seorang gadis cantik menatap hampa pada langit Paris yang nampak gelap, tak ada satu bintang pun di sana. Sepasang tangan melingkar di pinggang rampingnya.


"Audrey, ini sudah malam. Apa kau tidak ingin tidur?" Bisik Thomas tepat di telinganya.


"Aku belum mengantuk." Jawab Mega. Bibir lelaki itu mulai menyusuri bahu Mega yang terbuka.


"Thomas.... Hentikan." Pinta Mega sambil menggerakkan bahunya, berharap bibir itu menjauh. Rasa geli itu membuatnya bergidik. Thomas kemudian melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Mega hingga mereka berdiri berhadapan.


"Apa kau tak ingin menghangatkan ku malam ini?" Jemari besar Thomas mulai menyusuri wajah cantik Mega. Mega memejamkan matanya merasakan sentuhan Thomas. Namun tiba-tiba wajah Arya melintas di fikirannya.


Arya... Apa jadinya dengan hubungan mereka kalau kekasihnya itu tahu dirinya sudah melampaui batas seperti ini? Pria itu pasti akan sangat kecewa padanya. Pria sebaik Arya tak seharusnya ia khianati.


Mega meraih tangan nakal yang mulai menyentuh titik sensitif di tubuhnya itu.


"Thomas, aku sedang tidak ingin..." Belum sempat Mega meneruskan ucapannya, detik itu juga Thomas langsung mengangkat tubuh gadis itu.


"Thomas, apa yang kau lakukan?!" Pekik Mega terkejut.


"Kau tidak boleh menolakku, Audrey!" Seru lelaki paruh baya itu. Ia menghempaskan tubuh Mega ke atas ranjang dan langsung menerkam Mega dengan buasnya.


Mega hanya bisa pasrah dengan perlakuan Thomas. Padahal sudah biasa dirinya dan Thomas melakukan hal ini. Namun sekarang rasanya ada sedikit penyesalan menyelinap di hati kecilnya.

__ADS_1


"Arya Firaz, aku merindukanmu. Kau satu-satunya pria yang tak pernah berniat untuk merusakku..." Batin Mega menjerit.


*****


Satu bulan telah berlalu....


Pernikahan Arya dan Rubby nyatanya masih berjalan di tempat, walaupun keduanya sudah merasa tidak canggung lagi. Mungkin karena setiap hari bersama.


Rubby menjalani perannya sebagai istri dengan baik. Tiap hari Rubby selalu melayani keperluan Arya, mulai dari menyiapkan pakaian dan makanan. Dan Arya tetap melakukan tugasnya, mengantar jemput istrinya ke toko kue. Tapi tetap saja Arya dan Rubby menjaga jarak.


Rubby juga tak memakai kembali pakaian sexy dari ibu mertuanya atas permintaan Arya.


"Kau tidak perlu memakai baju tidur dari mama lagi. Nanti kau bisa masuk angin jika memakai pakaian setipis itu setiap malam." Alasan yang Arya lontarkan saat itu. Rubby hanya menurut dan percaya saja. Ia tak tahu jika itu hanyalah alasan yang di buat-buat oleh Arya.


Tidak mungkin juga Arya jujur padanya, kalau ternyata dirinya menahan diri mati-matian untuk tak menerkam istrinya saat istrinya itu mengenakan pakaian sexy tersebut.


Sedangkan Mega, wanita itu masih terus menghubungi Arya. Dan beranggapan hubungannya dengan Arya masih baik-baik saja. Rubby pun tak ingin memikirkannya, walaupun ia beberapa kali mengetahui hal itu. Ia juga tak pernah menanyakan pada Arya kenapa Mega masih menghubunginya. Ia akan menunggu sampai nanti suaminya yang mengatakan sendiri apa alasaannya.


*****


"Masih pagi, nanti saja aku memasaknya." Gumam Rubby saat melihat jam yang terpasang di dinding.


Walaupun Arya sudah melarangnya untuk memasak, tapi tiap akhir pekan Rubby selalu menyempatkan diri untuk memasak. Lagipula suaminya tak pernah menolak makanan yang di buatnya.


Rubby berjalan menuju meja kerja Arya. Diambilnya selembar kertas dan juga pensil. Dengan serius, gadis berkacamata itu mulai mencorat-coret kertas yang ada di atas meja.


Setelah beberapa menit, coretan itu akhirnya berbentuk sebuah sketsa. Sketsa wajah yang selalu ia gambar dulu setiap harinya.


"Ternyata aku masih bisa membuatnya." Rubby beranjak dari duduknya begitu selesai. Ia memandangi sketsa wajah itu sambil tersenyum. Wajah yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta ketika pertama kali bertemu.


"Apa yang kau buat?"


Rubby terkejut mendengar suara yang sangat di kenalnya. Refleks ia berbalik dan melihat suaminya yang sudah berdiri di belakangnya, masih dengan pakaian olahraganya.

__ADS_1


Padahal sudah beberapa menit yang lalu Arya berada di depan pintu kamarnya dan memperhatikan Rubby yang nampak begitu serius dengan kertas dan juga pensilnya.


"Bukan apa-apa, Mas." Rubby menggeleng pelan dan menyembunyikan kertas itu di balik tubuhnya. Arya malah menatapnya curiga, apalagi tadi Rubby sambil tersenyum memandangi kertas itu.


"Aku hanya ingin melihatnya." Arya mencoba mengambil kertas itu.


"Tidak boleh, Mas..." Rubby masih berusaha untuk menyembunyikannya, namun Arya tak menyerah. Melihat tingkah istrinya, dirinya menjadi semakin penasaran.


Rubby mencoba melarikan diri, namun naas ia malah menginjak baju gamisnya sendiri. Karena takut terjatuh, Rubby meraih tangan Arya. Namun ternyata Arya juga kehilangan keseimbangannya. Dan keduanya akhirnya terjatuh dengan posisi Arya di atas tubuh istrinya.


Bukannya segera bangun, Arya malah terdiam memandangi wajah polos tanpa make up yang berada di bawahnya. Netra Arya seolah mengabsen tiap inchi bagian wajah Rubby. Rubby hanya membeku, melihat tatapan mata itu.


"Kak Rubby..."


Suara lirih itu membuat keduanya menoleh. Nampak Intan dan Andika berdiri di ambang pintu dengan wajah terkejut. Pintu kamar memang tidak tertutup saat Arya masuk tadi.


Sepasang suami itu langsung tersadar. Gelagapan, Arya segera bangkit dari atas tubuh istrinya. Rubby pun langsung berdiri merapikan hijab dan kacamatanya.


"Kakak! Kalau mau melakukan hal seperti itu seharusnya kunci pintu dulu. Dan jangan di lantai, kasihan Kak Rubby!" Seru Andika.


Arya membulatkan matanya lalu berjalan menghampiri adiknya. Sedangkan Rubby masih berdiri di tempatnya dengan rona di wajahnya. Memalukan sekali rasanya, seperti tertangkap basah. Padahal mereka berdua tidak melakukan apapun, hanya berebut selembar kertas.


PLAK!


Satu tepukan mendarat mulus di lengan Andika membuat pemuda itu meringis.


"Sakit, Kak!" Keluhnya.


"Makanya jangan bicara sembarangan!" Sembur Arya.


"Aku dan Rubby tak melakukan apa-apa." Sambungnya.


"Tidak usah mengelak, Kak. Tadi aku dan Intan melihatnya sendiri." Timpal Andika, sambil melirik ke arah istrinya, seolah minta dukungan. Intan mengangguk-anggukan kepalanya. Siapapun yang melihat langsung kejadian tadi pasti akan berfikir sama seperti Andika dan Intan.

__ADS_1


Senyum usil terbit di sudut bibir Andika, sepertinya ia harus memanfaatkan kesempatan ini.


__ADS_2