
Janda tapi perawan, itulah status baru yang di sandang seorang Rubby Az Zahra. Sedih? Kecewa? Tentu saja. Bahkan hingga beberapa minggu berlalu hanya Rubby habiskan untuk mengurung diri dan menangis di dalam kamarnya.
Mama Dewi juga sempat mengunjungi Rubby dan meminta maaf pada keluarga besannya tentang keputusan yang Arya ambil secara sepihak. Ayah Bakti dan Bunda Maya mencoba mengerti hal itu, memang tidak mudah berada dalam posisi Arya.
Sejak saat itu Arya dan Rubby juga sudah tidak pernah bertemu lagi.
"Rubby, sampai kau akan seperti ini?" Tanya Bunda Maya yang melihat keadaan putri sulungnya nampak kacau. Rubby hanya menggeleng, sementara tangannya masih mencoret-coret buku tebal kesayangannya. Gadis itu duduk di lantai kamarnya, dengan mata yang terlihat sembab.
"Rubby!" Panggil Bunda Maya karena Rubby masih saja fokus pada bukunya. Namun Rubby tidak megindahkannya, tapi tak berapa lama kemudian.
"Akhirnya jadi juga!" Rubby bersorak, begitu sebuah gambar wajah sketsa wajah
Arya berhasil di buatnya.
"Rubby!" Suara Bunda Maya sedikit menyentak, membuat Rubby menoleh ke arahnya.
"Apa Bunda?" Tanyanya.
"Kenapa kau terus membuat sketsa wajah Arya? Apa kau lupa kalau Arya sudah menalakmu?" Tanya Bunda Maya sedikit gundah. Tiap hari Rubby hanya menghabiskan waktunya untuk membuat sketsa wajah mantan suaminya saja.
Rubby terdiam, kilat bening nampak kembali di matanya yang terhalang kacamata.
"Rubby hanya merindukannya, Bunda... Apa salah kalau Rubby membuat sketsa wajah Mas Firaz?" Tanya Rubby dengan suara bergetar, panggilannya pada Arya tetap tidak berubah.
Bunda Maya menghela nafas berat, ia bisa mengerti perasaan Rubby. Rubby tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dirinya juga tidak pernah dekat dengan pria. Dan Arya satu-satunya pria yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta saat pandangan pertama. Itu menjadikan Rubby begitu sulit melupakan Arya. Tapi Bunda Maya juga tidak tega melihat keadaan Rubby sekarang.
Bunda Maya menangkup wajah putrinya.
"Rubby, Arya menalakmu karena dia ingin kau bahagia dengan kehidupanmu yang baru, bukan seperti ini..." Lirihnya.
"Tapi, tapi kebahagiaan Rubby ada padanya Bunda... Cukup berada di sisinya... Rubby sudah merasa bahagia..." Lirih Ruby dengan suara yang tersendat-sendat sementara bulir bening sudah mengalir di wajah cantiknya.
"Rubby tidak peduli bagaimana keadaanya. Mau tidak bisa melihat atau sekalipun Mas Firaz tidak bernyawa lagi, Rubby tetap mencintainya." Sambungnya. Bunda Maya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Rubby, tidak baik mencintai seseorang sampai berlebihan seperti ini. Kau punya kehidupan sendiri, kau punya keluarga yang menyayangimu. Kau tahu? Ayah, Bunda, Intan, Andika, dan Mama Dewi sedih melihat keadaanmu sekarang. Kami menyayangimu, Rubby. Kami ingin kau bangkit kembali, kami ingin melihatmu menjalani kehidupan barumu. Apa kau tidak menganggap kami sama sekali? Apa hanya ada Arya di dalam fikiranmu, hingga kami sama sekali tidak ada artinya untukmu?" Ucap Bunda Maya panjang lebar sambil menatap lekat sepasang mata putrinya.
__ADS_1
Rubby terdiam. Benar yang di ucapkan Bundanya, beberapa waktu ini hanya Rubby habiskan untuk meratapi nasib pernikahannya yang telah berakhir. Sementara keluarganya silih berganti mencoba untuk menghiburnya, tapi Rubby sama sekali tidak pernah mengindahkannya.
"Bunda, maafkan Rubby. Rubby terlalu terlarut dengan kesedihan Rubby sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian." Ucapnya sambil menggenggam jemari Bunda Maya.
"Rubby akan memulai kehidupan baru Rubby, Bunda." Bunda Maya tersenyum mendengarnya. Ia melabuhkan satu kecupan sayang di kening Rubby.
"Bunda mohon jangan bersedih lagi. Bunda tidak tega melihatmu seperti ini."
"Maafkan Rubby, Bunda." Bunda Maya menarik tubuh Rubby dalam pelukannya.
"Rubby akan mulai kehidupan baru Rubby. Tapi boleh Rubby minta satu hal?" Tanya Rubby yang masih berada dalam dekapan Bundanya.
"Apa yang kau minta?" Tanya Bunda Maya.
"Jangan minta Rubby untuk menikah lagi."
_
_
_
Seseorang dengan raut wajah penuh rasa bersalah kini tengah menatap sosok yang duduk di hadapannya. Pria itu terlihat berbeda, tidak seperti dulu lagi. Walapun matanya terbuka, pasti hanya kegelapan yang di rasakannya.
"Untuk apa kau ke sini?" Tanya Bara dengan dinginnya. Berusaha menutupi rasa penyesalan yang sebenarnya tengah menggerogoti hatinya.
"Bagaimana kabarmu?" Arya balik bertanya. Ada senyum tipis di wajahnya.
"Tidak usah berbasa-basi, Arya. Apa sebenarnya niatmu datang ke sini? Apa kau ingin membalas perbuatanku? Kau tenang saja, aku sudah siap menerima vonis apapun yang akan di putuskan hakim nanti." Ucap Bara.
"Aku hanya ingin tahu keadaanmu. Bagaimana? Apa kau sudah merasa lebih baik karena telah membalas rasa sakit hatimu padaku?" Tanya Arya dengan tenangnya. Bara menatap sejenak teman lamanya itu, kemudian membuang pandangannya. Lelaki itu melihat Mama Dewi yang duduk tak jauh dari mereka berdua. Terlihat Mama Dewi hanya menatap datar pada dirinya.
Wanita paruh baya itu pasti sakit hati dengan perbuatannya yang sudah menyebabkan Arya tidak bisa melihat. Tapi demi Tuhan, Bara benar-benar khilaf saat melakukan itu. Dirinya di kuasai oleh amarah yang membuatnya gelap mata dan nekat berbuat itu semua.
Namun saat menyadari apa yang telah di lakukannya, Bara merasa sangat menyesal. Hingga akhirnya ia memilih untuk menyerahkan diri.
__ADS_1
Dan kini mereka bertiga sedang berada di kantor polisi. Tadi Arya meminta pada Mama Dewi untuk mengantarnya ke sana. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Bara, dan tentunya atas persetujuan Mama Dewi.
Bara begitu terkejut dengan Arya yang tiba-tiba saja datang menemuinya. Di kiranya Arya tidak akan pernah mau menemuninya lagi mengingat betapa jahat perbuatannya pada sahabatnya itu.
"Tidak ada yang merasa lebih baik saat seseorang itu sadar telah membuat kesalahan, apalagi kesalahan itu sangat fatal." Jawab Bara jujur. Arya kembali tersenyum.
"Kau menyesal?" Tanya Arya. Bara menatap sahabat lamanya, tenggorokannya seakan tercekat membuatnya tak mampu untuk bicara.
Hanya karena merasa terobsesi pada Rubby, ia jadi meleceh-kan gadis itu. Ya, kini Bara menyadari bahwa dirinya hanya terobsesi pada Rubby, bukan cinta yang sebenarnya. Bukannya meminta maaf, dirinya malah membuat kesalahan yang lebih fatal. Membuat sahabatnya itu tidak bisa melihat. Dan kini lautan bersalah seakan menenggelamkannya. Andai waktu bisa di ulang, dirinya akan memilih untuk tidak bertemu dengan Mega hari itu. Lebih baik dia mati karena tertabrak mobil daripada di tolong Mega dan terkena hasutan wanita itu.
"Aku minta maaf, Bara. Aku sudah menyakitimu dengan menikahi wanita yang sudah lama kau cintai. Tapi demi Tuhan, aku tidak tahu kalau kau menyukai Rubby sejak lama."
Bara tercengang mendengar ucapan Arya, kenapa juga dia harus meminta maaf? Padahal Bara yang lebih bersalah padanya.
"Aku juga mau mengucapkan terima kasih padamu. Karena saat dulu dirimu mengatakan kalau kau menyukai Rubby, di sana aku mulai menyadari perasaanku pada Rubby."
Bara semakin tercengang, bisa-bisa Arya mengucapkan terima kasih padanya? Kenapa Arya tidak memaki dan memarahinya?
"Bara, hari ini aku memutuskan untuk mencabut laporanku. Kasus ini akan di tutup. Kau akan bebas."
Seketika Bara terperangah, apa katanya tadi? Mencabut laporan? Bebas?
"Arya... Kau..."
"Aku sudah memikirkan semuanya. Kau memang bersalah dalam hal ini, tapi aku juga salah. Kau telah menjalani hukuman selama dua bulan ini, dan aku juga telah menjalaninya. Dan aku rasa, aku tidak berhak memberimu hukuman karena aku bukan siapa-siapa."
Arya bangun dari duduknya, sedangkan Bara hanya mematung di kursinya.
"Mama..." Panggilnya. Mama Dewi langsung menghampirinya dan meraih tangan putranya.
"Sudah selesai, Arya?" Tanyanya.
"Sudah, ma. Ayo kita pulang." Ajak Arya.
"Iya." Mama Dewi memandang ke arah Bara sejenak, sebelum membawa Arya pergi dari sana.
__ADS_1
*****